Sunday, April 8, 2018

Our Last Magic Hour (Part 2)


Hari ini akhirnya datang juga. Aku membuka mataku pagi ini dan menyadari bahwa waktuku dengannya tersisa kurang dari dua belas jam.

Ponselku berbunyi, muncul namanya. Ah, my morning call.

“Halo!”, sapaku ceria.

“Hey, my favorite hello. Ceria banget hari ini.”

“Hehehe, iya dong! Eh iya, kita jadi nonton hari ini?”, dasar aku si perempuan sok. Iya, sok tegar. Pura-pura ceria padahal itu hanya topeng penutup segala resah, gundah, dan gelisah.

“Jadi dong! Kan nanti juga sekalian kamu yang anter aku ke stasiun.”, katanya lebih semangat. Aku suka, saat ia lebih semangat dariku. Itu tandanya ia bahagia, meskipun aku tidak.

“Okay. Nanti koper kamu langsung taruh di mobil aku aja, terus baru kita nonton.”

“Siap, sayang. Udah kamu bangun dulu, mandi, dandan yang cantik. Dua jam lagi aku sampe di apart kamu.”

“Yaaay! Okaaay.”

See you later, sayangku.”

See you too, baby!”

Saat dia menutup teleponnya, aku masih terdiam memandang langit-langit apartemenku. Lagi-lagi, turun lagi. Setetes hujan tak diundang dari pelupuk mataku.

***

Bel apartemenku berbunyi. Itu pasti dia!

“Haiii!!! Sini sini.”, sapaku.

“Adik kamu kemana, Sayang?”, tanyanya sembari duduk di sofa tempatku biasa menonton televisi.

“Lagi keluar sama temen-temennya. Eh, kita berangkat sekarang?”

“Tapi kan nontonnya masih jam dua. Aku sih udah makan, kamu?”

“Udah kok, santai aja. Yuk deh!”

Tak lama, kami keluar dari apartemenku, dan menuju basement untuk mengambil mobilku.

Siang itu, kotaku tak begitu cerah. Ada mendung yang menggantung walau tidak teralu pekat. Tidak biasanya, ia menyetir dalam keheningan. Begitu pun aku yang tak banyak mengeluarkan suara. Otakku terlalu sibuk memikirkan bagaimana nantinya aku akan pulang setelah mengantarnya kembali.

“Hei, kenapa diem aja?”, tanyaku memecah keheningan. Aku tidak suka jika suasana sedih ini semakin didukung dengan kesunyian di antara kami berdua.

“Gapapa. Hehehe.”

“Bohong. Kamu mikir apa?”

“Selalu, deh. Hehehe.”

“Jadi, mikir apa?”, tanyaku tetap ngotot.

“Nanti aja deh.”

Aku tak menanyakan apa-apa lagi, pun tak juga menyahut apapun. Aku tahu, ada sesuatu yang ia pikirkan.

Kami tiba di Mall, dan langsung membeli tiket nonton untuk dua orang. Film yang bukan dia banget, tapi dia mau menontonnya, untukku. Waktu kami sebelum menonton masih ada sekitar 30 menit. Kami memutuskan untuk bermain di Timezone. Waktu berlalu begitu cepat, tentu saja. Kurang 10 menit sebelum film dimulai, saldo bermain kami telah ludes. Kami memutuskan untuk masuk ke theater.

***

Film pun dimulai. Namun baru beberapa menit saja, aku kembali tidak bisa menahan air mataku untuk kembali menetes. Lemah, sungguh. Tiga menit awal, ia tidak menyadari apapun. Hingga mungkin suara isakan ku semakin keras hingga bisa terdengar olehnya.

“Hey… why are you crying? Ini belum part sedihnya, tapi kamu udah nangis duluan.”, tanyanya. Telapak tangannya menyentuh pipiku yang sudah sangat basah.

“Ini bukan gara-gara filmnya.”, jawabku.

“Hehe.. iya, aku tau.”, ia menyandarkan kepalaku ke pundaknya. Semakin menjadilah, diriku.

Sepanjang film, aku bisa berhenti menangis, namun bisa juga menangis lagi secara tiba-tiba. Begitu terus hingga filmnya selesai dan aku hanya bisa menatap kosong ke layar besar di hadapanku.

“Oke, yuk.”, ajaknya saat filmnya benar-benar habis. Kami berdua kemudian keluar dari bioskop.

“Kamu nggak laper?”, tanyaku.

“Nanti aja deh, kita cari di stasiun. Aku takut ngga nyampe waktu cetak tiket nih. Serius.”, jelasnya.

“Oke. Kalau gitu kita sholat dulu aja. Baru…”

“Kita sholat di stasiun aja ya, sekalian makan disana. Ini udah sore, aku takut jalanan macet malah ngga sempet cetak tiket.”, baiklah. Ia membuatku menyerah untuk mengulur waktu sedikit lagi dengannya.

“Oke.”, air mataku kembali tak tertahankan. Padahal aku juga tahu ia tak suka aku begini. Ia tak suka aku menangis.

“Kamu tahu sayang, dadaku rasanya panas banget.”, katanya sambil mengelus dadanya.

“Kenapa?”

Ia menghela nafas sejenak, sebelum akhirnya menjawab, “Pertama, aku nggak tau bakal bisa nyampe stasiun buat cetak tiket atau engga. Kedua, aku nggak tau bakal bisa sholat sekalian makan sama kamu atau engga. Ketiga, aku ngga bisa bayangin gimana kalau kamu pulang sendiri dari stasiun.”, jelasnya.

Astaga. Ia berhasil membuatku berpikir lebih jernih dan menghentikan tangisanku. Aku jelas tidak bisa menenangkannya dengan keadaan yang kacau semacam ini.

Kemudian, ku genggam tangannya.

“Oke. Babe, yang perlu kamu pikirin cuma satu. Gimana caranya bisa sampe stasiun dan tiketmu kecetak, udah itu aja. Buat opsi kedua sama ketiga, sudah nggak usah terlalu dipikirin. Aku bisa cari makan sendiri. Dan pulangnya, aku kan tau jalan nyampe ke apart. You don’t need to be worry, sayang.”, kataku menenangkan. Padahal tentu jauh di dalam hati aku tidak bisa begitu saja merelakan waktu kami terpotong.

Dia tersenyum, diciumlah punggung tanganku. Dan kami kembali menyatu dalam senyap.


***

to be continue...

Monday, April 2, 2018

Our Last Magic Hour (Part 1)

Bertemu dengan dia untuk pertama kalinya adalah pertemuan kami yang sangat wajar, bahkan biasa saja. Dulu kami satu sekolah, dan tidak ada istimewa-istimewanya sama sekali. Bahkan kalau bisa dibilang biasa saja. Dia mengenalku, dan aku mengenalnya. Sesederhana itu saja.

Namun bertemu dengan dia untuk saat ini—aku namakan pertemuan yang kedua kalinya—terasa cukup istimewa. Kami bisa dibilang lebih dari sekedar ‘mengenal’ biasa saja. Ada beberapa hal yang bisa membuat kami menjadi lebih dekat dari sekedar teman. Dari beberapa hal tersebut, di antaranya mampu membuatku sering senyum-senyum sendiri. Ah tidak, bukan hanya tersenyum, tapi juga tertawa lepas. Dia lucu, dan mungkin aku juga.

Beberapa bulan belakangan ini, beberapa hari di antaranya ku lalui dengannya. Entahlah, bagiku dia selalu hadir dengan salah satu hal yang aku suka. Dan itu selalu terjadi hingga menjelang waktu perpisahan kami di stasiun sekitar dua bulan yang lalu. Iya, dua kota tempat kami melanjutkan pendidikan cukup membuat kami bisa dikatakan ‘dipisahkan’ oleh jarak. Bukan puluhan, namun sudah ratusan kilometer.

Dari sekian banyak pertemuan kami, tentunya yang paling sedih adalah cerita saat-saat dimana stasiun menjadi perantara perpisahan kami. Iya, sebuah cerita perpisahan antara Surabaya dan Jakarta.

***

Malam ini kami memutuskan untuk makan malam bersama. Destinasinya adalah kedai sushi kesukaan kami.

“Aku tidak mungkin menangis disini.”, batinku. Aku tak berkata apa-apa padanya.

Setelah makanan kami habis, ia mengajakku ngobrol sejenak.

“Hey.”, sapanya padaku, sambil memandang langsung ke mataku.

“Ya?”

“Sedih, nggak?”, tanyanya.

Entah, pertanyaan macam apa itu.

“Tentu.”, jawabku singkat. Aku masih berusaha tidak meruntuhkan pertahananku. Ini masih terlalu awal untuk menangisi segalanya.

“Sedihnya kenapa?”

“Banyak.”

“Apa?”

“Duh, aku nggak suka.”, aku tidak menjelaskannya secara langsung. Aku takut menangis di hadapannya.

Tell me, baby.”, katanya lembut sambil menggenggam jemariku.

“Ya…nanti nggak akan ada yang bisa diajakin jalan-jalan, walau cuman sekedar makan bakso. Nggak ada yang…”, aku mencoba menjelaskan, namun pertahananku gagal. Aku tidak bisa sekuat yang aku inginkan.

Dia mencoba memandang mataku semakin dalam. Tentu kalian pasti tahu apa yang terjadi selanjutnya. Tangisku makin menjadi. Dan aku benci itu. Aku benci menangis di tempat umum, apalagi sambil dia melihatku sekacau itu.

My hometown aint gonna be the same again without you. Kalau aku mau jalan-jalan liat yang ijo-ijo, kalau aku suntuk, aku nggak akan bisa ketemu kamu.”, jelasku terbata-bata sambil mengatur nafas dan derai air yang jatuh dari pelupuk mataku.

“Sayang, look. Coba inget lagi. Akhir kaya apa yang kamu harapin dari aku?”, tanyanya.

“Yang seneng, lah. Yang akhirnya sama kamu. Pokoknya sama kamu.”, jawabku. Terdengar seperti bocah yang tidak ingin berpisah dari boneka kesayangannya. Tapi tidak. Aku bukan bocah, dan dia bukan bonekaku, melainkan kekasihku.

Okay, then. Just remember it, babe. We have the same finish line. Lets consider if we are running on the line that has a finish line, and we are gonna reach it together. Not only you, but also me, us.”, jelasnya. Ini cukup menenangkan, hanya saja tidak meredakan air mataku yang mengalir begitu saja walau aku tak pernah mengizinkan.

Aku masih terdiam menelaah setiap katanya. Walau sedih pada kenyataannya, namun bahagia saat ingat bahwa dia selalu bisa membuatku lebih kuat.

“Just say to yourself.”, katanya.

“Say what?”

“I have to be strong.”

Dengan air mataku yang kembali bergulir, aku mengikuti kata-katanya, “I have to be strong.”

“Good girl, sayang. I love you.”

“Ya, I love you more, babe.”

Senyumku muncul tak lama kemudian. Dia mengikutinya dan matanya berkata seakan, “Gitu, dong… senyum.”

***

To be continue...

Saturday, December 16, 2017

Coco (2017) [Film Review]

Jujur ini kali pertama saya bikin review film. Kemarin-kemarin, bahkan sampai 2x saya nonton film yang menurut saya bagus, saya juga nggak bikin reviewnya. Hehehe.

Jadi, beberapa hari yang lalu saya diajak nonton temen-temen BEM. Nonton “COCO”. Dipenghujung tahun 2017 ini siapa yang nggak tahu film ini, kan.

Coco

Film ini menceritakan tentang seorang anak yang terlahir dari keluarga pembuat sepatu. Bisnis membuat sepatu itu dirintis nenek moyangnya, Mama Imelda karena sakit hati ditinggal suaminya yang lebih memilih musik daripada keluarga. Karena itulah, “musik” dianggap sesuatu yang terkutuk dalam keluarga mereka. Singkat cerita, anak kecil bernama Miguel justru sangat berbakat dalam bermusik. Ia melakukan apa saja agar bisa menjadi musisi. And i know the struggle to be a great musician was real, bruh. Selain perjuangan, film ini juga mengajak penonton buat selalu ingat sama semua orang yang kita cinta. Baik yang masih ada, walaupun yang sudah tiada. Lagu yang jadi soundtrack film ini, judulnya Remember Me, pasti nancep di hati semua orang.

Banyak yang bilang, film ini bagusss banget, bahkan ada yang nonton sampai 2 kali saking bagusnya. But personally, its just good. Pesannya sangat tersampaikan. Apalagi, untuk temen-temen yang berbakat dalam hal musik namun masih terhalang restu orang-orang terdekat, film ini pasti bikin 100% nangis because its sooo related! Buat saya, yang sama-sama berbakat dalam bermusik, tentu film ini samgat relatable. Tapi masih belum terlalu touchy karena alhamdulillah orang-orang terdekat saya masih sangat mendukung.

Karena ini honest review dari saya, jadinya saya mencoba untuk mereview apa adanya, ya. Hehehe. Saya biasanya kasih rating (menurut saya sendiri sih) 1-5

  1. Biasa aja
  2. Okelah
  3. Cukup menarik
  4. Bagus
  5. Bagus banget!!!


Dan untuk Coco, saya kasih 4! Hehehe.

Buat yang belum nonton, buruan!!! Worth to watch banget! :)

Tuesday, December 12, 2017

Hello Job Seekers

Hello, job seekers.
Baru ku sadari, perjuangan kalian sangatlah tertatih.



Tepat hari ini, rasanya salah satu resolusiku di tahun 2017 hampir musnah. Penyebabnya adalah aku masih belum diberikan kesempatan untuk mencicipi dunia kerja. Magang adalah salah satu targetku di tahun ini. Namun sayangnya, hingga detik ini, yang mana sudah masuk akhir Desember 2017, lamaran magangku belum juga ada yang diterima. Sudah ku jalani serangkaian tes yang ada. Namun nihil. Tuhan belum mengatakan "iya" untuk itu.

Ini merupakan yang kedua kalinya aku ditolak. Dulu, yang pertama, aku sudah mengetahui alasannya dan itu masuk akal bagiku. Namun kali ini, belum. Aku tahu itu bukan hak ku untuk tahu. Tapi baiknya, Tuhan tunjukkan sendiri apa penyebabnya. Sudah dua kali aku ditolak, itu berarti sudah kedua kalinya juga mimpiku belum bisa diwujudkan. Menurutku, normal jika aku masih menganggap bahwa segalanya tidak mungkin terjadi. Itu menurutku. Karena tentu, aku masih dalam tahap denial. Dan tiba-tiba.. Terpikirlah di benakku. Bagaimana nasib job seeker di luar sana yang mungkin bernasib lebih kurang beruntung daripada aku? Apakah sebegini susahnya berada di posisi mereka?

Banyak dari mereka yang justru bilang "welcome to the real world, baby.", kepada sesama teman mereka yang baru mengusaikan sidang kelulusannya. Bukan aku tak mengerti artinya, namun sejujurnya aku masih terkesan abu-abu akan maknanya. Ada apa dengan dunia yang sesungguhnya? Apakah dunia memang begitu keras seperti yang dibilang kebanyakan orang? Atau di dunia banyak peperangan yang tak kasat mata? Aku tidak tahu pasti, awalnya. Namun semakin kesini, justru aku semakin merasakan bagaimana makna dari kata demi kata tersebut.

Didukung dengan banyak hal yang menemani hari-hariku saat ini menjalani semester akhir menuju sarjana, seperti sahabat yang mulai jarang bisa ditemui, harus menyelesaikan tugas akhir sendiri, belum lamaran magang yang ditolak kedua kali, membuatku sadar bahwa aku sedang menghadapi pintu masuk dari dunia sesungguhnya. Segala sesuatunya harus ku usahakan sendiri. Sudah tidak bisa bergantung dengan orang lain. Mau tidak mau aku harus melupakan kebencianku akan sendirian. Ya, aku harus berani untuk berjalan sendiri. Aku harus sadar bahwa akulah yang menentukan semuanya di dalam hidupku.



Teman-temanku yang saat ini sedang berjuang di luar sana, aku sedikit demi sedikit memahami bahwa apa yang kalian lakukan saat ini bukanlah hal yang mudah. Aku juga perlahan mengerti bagaimana sulitnya mencari hal bernama pekerjaan. Sehatlah kalian selalu, karena mencari itu butuh kekuatan. Dan semoga.. Allah selalu mendekatkan.

Aamiin.

Friday, December 8, 2017

Kamu Menarik, dan Itu Cukup Untukku

Bagaimana jika kita ternyata bisa jatuh cinta pada pandangan pertama?



Kita serba tidak tahu orang baru mana lagi yang akan kita temui di kemudian hari. Kita juga tidak akan pernah tahu bagaimana orang tersebut akan berperilaku di hadapan kita tepat untuk pertama kalinya. Yang bisa kita ketahui adalah bagaimana kita meunjukkan respon yang sesuai dan tentunya baik untuk mereka.

Terpesona. Itulah yang aku rasakan ketika pertama kali batang hidungnya muncul di hadapanku. Sejak ia membuka pintu kala itu, kedua bola mataku tak lepas mengiringi setiap langkahnya, memperhatikan dari ujung kepala hingga kakinya, sampai akhirnya ia duduk tanpa curiga sedikitpun. Ini baru kali pertama, dan tentu namanya akan menjadi catatan sejarah untuk hidupku.

Berbagai reaksi fisiologis tak beraturan pun muncul. Jika dalam ilmu psikologi, hal itu disebut dengan psikosomatis. Beberapa menit setelah ia mendaratkan dirinya ke posisi duduk ternyaman, giliran ku yang mohon izin untuk meninggalkan ruangan. Alasannya ke toilet, padahal tentunya tidak.

Ini berlebihan, aku tahu. Namun sungguh, aku benar-benar ingin pingsan. Lututku rasanya tak mampu menahan berat tubuhku. Wajahku bersemu merah seperti kepiting rebus ditambah saus asam manis. Telapak tanganku seperti pasca menggengam es batu, begitu dingin. Tapi memang inilah yang terjadi. Aku merasa ada yang berbeda saat melhatnya.

Aku tidak percaya bahwa hal yang semacam ini ada. Jatuh cinta pada pandangan pertama itu nyata adanya. Jangan salah paham. Bukan cinta, namun jatuh cinta. Ia semacam satu-satunya orang yang bisa membuatku percaya akan hal gila semacam itu. Bahkan setelah ia pergi dari tempat kita bertemu saat itu, aku masih tidak bisa lepas dari bayangannya.

Ini kali pertama untukku. Setelah sekian cinta telah ku lewati untuk mengisi beberapa episode drama dalam hidupku, namun ini benar-benar menjadi yang pertama. Aku jatuh cinta dengan gaya yang biasa disebut orang-orang di luar sana. Gila. Buta. Mendadak bodoh. Atau apapun yang lainnya. Aku tidak peduli.



Yang aku tahu kamu sungguh menarik.

Dan aku suka itu.