Thursday, October 25, 2012

mengingat mimpi


Entah rasa ini begitu berkecamuk dalam hati. Pikirku tak tentu. berat sekali. Saat impian itu sudah ada di depan mata, saat selangkah lagi mimpi itu akan menjadi nyata. Hari ini tak ada aktifitas yang berat di sekolahku. Tapi entah mengapa hati dan otak ini terasa berat mengingat mimpi itu. Siang hari saat berlangsung pelajaran kimia di kelasku, ayahku menelpon.
            “Halo, assalamu’alaikum.”, sapaku.
            “Waalaikum salam. Mbak, nih ada kamera canon sama nikon. Kalo yang nikon harganya rada miring nih.”, kata ayahku tanpa basa-basi. Jelas aku terkejut untuk sekian detik. Apa harus secepat ini?
            “Hah? Aduh canon aja deh yah. Aku belum tau seluk beluknya nikon.”, jawabku setengah bingung.
            “Oh gitu, yaudah deh assalamu’alaikum.”, kata ayahku langsung mengakhiri telpon.
            Aku masih duduk terpaku. Aku terkejut yang jelas. Ibuku bilang jika kamera itu kan ku dapat saat aku berulang tahun ke 17. Tapi kenapa ayahku bertanya seperti itu? Akankah hari ini? Sekitar 15 menit kemudian, ayahku menelponku lagi.
            “Iya yah assalamualaikum.”, sapaku kembali.
            “Iya mbak waalaikumsalam. Eh ini loh ada yang tipe 1100. Sama punya Mas Anta bagus mana?”, tanya ayahku lagi tanpa basa-basi.
            “Emm, bagus punya mas Anta yah.”, jawabku apa adanya.
            “Wah, malah lebih jelek ya ini.”, katanya.
            “Iya yah..”
            “Yaudah deh mbak ya, assalamualaikum.”, katanya mengakhiri telepon lagi.
            “Oke ayah, waalaikumsalam.”
***
            Cuaca terik siang itu, membuatku merenung sambil melihat pemandangan di balik kaca bis yang membawaku pulang. Semuanya abstrak. Apakah harus secepat ini? Aku memang sangat menginginkan kamera itu. Aku bermimpi bisa melakukan hunting foto pertamaku dengan Batman. Tapi jika kamera itu semakin cepat ku dapatkan, semakin sempit pula waktuku bersamanya. Tuhan tolong aku...

No comments:

Post a Comment