Sunday, October 21, 2012

tepat pukul 09:00 PM


Ku pandang langit pagi di balik kaca bus yang membawaku ke sekolah. Mendung. terasa sekali kalau Kamis ini sangatlah tenang dan damai. Ku tarik nafas panjang, dan ku hembuskan berat. pikiranku melambung dengan keadaan esok hari. Entah mengapa aku merasa sesak. dan tentunya aku merasa hariku takkan sedamai pagi ini.
Langkahku gontai saat aku sudah menapakkan kaki di sekolah. "Besok takkan ada hari libur.", pikirku lagi. Mau tak mau aku juga harus melalui hari ini, esok, dan lusa. Menahan terlebih dahulu rasa yang mendesak dalam hati.
            “Lo masih mikirin besok?”, Tanya Nupi, teman sebangkuku.
            “Ya lo taulah apa yang gue pengen.”, jawabku malas tuk membahas hal itu.
            “Sabar…”, kata Nupi yang sepertinya menyerah menghiburku.
            “Gat au Pi gue nih ngerasanya gimana. Gue pengen nangis tapi ga bisa.”, kataku lemas.
            “Udah lo kalo mau nangis, nangis aja. Gue siap kok jadi ember yang nampung air mata lo, wkwkwk.”, jawabnya masih sempat bercanda.
            “Tai lo, hahaha.”, ledekku garing.

            Hari ini aku lebih banyak diam. Dari yang biasanya aku kesana kemari tak bisa diam, seketika seperti kesambet sesuatu yang aneh aku mendadak menjadi putri Keraton hari ini.
            Istirahat kedua seusai menunaikan kewajiban Solat Ashar, aku menghabiskan waktu di kantin bersama Nupi. Sama sekali tak khawatir ada guru.
            “Hey kelas lo ada gurunya tuh.”, kata Mega yang baru datang dan memberitahu kami.
            “Yaudah biarin, males juga. Lagian gue uda hapalan kok.”, jawab Nupi sambil mengunyah nasi pecelnya.
            “Udah tau besok free?”, Tanya Mega sambil duduk di sampingku.
            ”Eh iya ndut, gue lupa. Besok tuh free, ga ada mapel. Jadi boleh masuk boleh absen deh.”, sahut Nupi dengan santai tapi kata-katanya menyetrum telingaku.
            ”HAH? Yang bener lo? Nggak ah bercanda lo semua.”, jawabku tak porcaya.
            “Gue serius Lin.”, jawab Nupi sambil menatapku serius.
            “Ya kah Meg?”, tanyaku lagi tak percaya kepada Mega.
            “Ciyuuusss..”, jawab Mega dengan gaya menirukan salah satu iklan.
            “YEEEEEEYYYYYYYYYY jadi gue besok bisa berangkat ke stasiuuuuunnnnnn!!!!!!!!!!!”, teriakku girang.
            Hari ini memang hati dan pikiranku dilanda sesuatu yang menyesakkan hanya karena ini sebabnya. Saat aku tau Tio akan berangkat ke Solo tuk menemui kekasihnya dan dia berangkat dari stasiun kota Pasuruan ini, aku kecewa. Kecewa bukan karena kepergiannya namun aku kecewa karena tak bisa mengantarnya walau hanya sampai stasiun saja. Tentu saja kabar dari dua sahabatku ini sangat amat membahagiakanku, Terimakasih Tuhan...
***
Aku:
            Horeee, aku besok libur.. jadi bisa anterin kamu dong ke stasiun
Tio:
            Libur? Ada acara apa?
Aku:
            Iya, guru2ku ada UKG. Jadi besok boleh libur boleh engga
Tio:
            Nggak bolos kan?
Aku:
            Engga mas Tioooo..
Tio:
            Yauda deh terserah kamu
Aku:
            Yey, sip sip :)

***

            Tak kusangka, ada kejutan yang tak mengenakkan hati sore itu..

Aku:
            Mas hisyam, besok free pelajaran kan ya? Jadi bisa libur dooong
Mas Hisyam:
            Kata siapa? Ada mapel lah, UKG nya guru2 udh slsai
Aku:
            Oh ya?
Mas Hisyam:
            Iyalah, hayoo knp?
Aku:
            Gpp, mksh
           
            Bagaikan disambar listrik beribu watt. Aku tercekat, terpaku. Lalu yang tadi itu apa? Ya Tuhan.. badmood melandaku seketika sore itu.

Aku:
            Batal. Besok berangkatnya hati2 ya J
Tio:
            Batal?
Aku:
            Iya
Tio:
            Knp?
Aku:
            Ternyata cuman kabar burung
Tio:
            Yaudah, kmnya ga bsa maksain buat libur jg kan..
Aku:
            Iya

            Ya Tuhan, aku kecewa. Bahkan jika ada kata-kata yang bisa mendeskripsikan lebih dari kecewa, mungkin itu yang aku rasakan sekarang. Sore itu aku memutuskan untuk tidur saja. Kepalaku sudah semakin sesak dengan segala sesuatu yang terjadi hari ini.

***

            Entah kenapa malam ini aku sangat ingin menghubunginya hanya untuk mendengar suaranya sebelum meninggalkan kota ini. Tapi lama kelamaan kuurungkan niatku. Tak enak dan takut emosiku semakin naik. Akhirnya aku memutuskan untuk berdiam diri saja di kamar. Menghabiskan malam itu untuk mengotak atik isi blogku bersama laptop pemberian orang tuaku.
            Ponselku berbunyi, tanda ada seseorang meneleponku. Sejenak aku berfikir, “Mungkinkah ini Tio?”. Ku buka flip ponselku, dan ternyata benar. Tio yang meneleponku. Bagaimana bisa saat aku ingin mendengarkan suaranya dan dia tiba-tiba datang?
            Kutarik nafasku, dan ku jawab. “Halo, assalamualaikum...”, salamku.
            “Waalaikumsalam...” jawabnya di seberang sana. Yang pastinya, suara itu sangatlah melegakan hatiku yang seharian ini sudah terkatung-katung oleh beban yang lumayan.
            “Lagi di mana nih?” tanyanya yang membuatku heran.
            “Lagi di kamar... hehehe”, jawabku dengan cengengesan.
            “Oh yaudah keluar gih.”, katanya tiba-tiba yang membuatku sangat bingung.
            “Hah?”, jawabku tak bisa berkata yang lainnya.
            “Iya nih aku di depan...” jawabnya.
            Aku tak percaya, takut ia hanya mengada-ada hanya untuk menghiburku. Ku buka gorden kamarku daaaannn.. memang benar! Yang ada di luar pagar rumahku itu dia!!!
            Dengan rambut yang berantakan, baju tidur dan jaket yang ku pakai, aku membukakan pagar untuknya. Malu sebenarnya tak sempat merapikan apapun untuk menemuinya dan akhirnya keluarlah bentuk dan wujud asliku. Sungguh aku menahan gelak tawaku yang sangatlah bahagia atas kejutan jam 09:00 tepat malam ini.
            “Udah pada tidur ya?”, tanyanya.
            “Hehehe iyaa, tinggal ayahku yang belum tidur.”, jawabku seadanya.
            “Nih buat kamu.”, katanya ddengan menyodorkan 2 buah eskrim untukku. Sambil tersenyum tentunya.
            “Kenapa dua?”, tanyaku.
            “Iya, buat adek satunya..”, jawabnya sambil tersenyum.
            “Hehehe, makasih yaa..”, kataku berterimakasih.
            “Biar kamu ga galau lagi tuh.”, katanya.
            “Hah? Aku galau kenapa coba.”, jawabku menutupi.
            “Ga jadi libur.”, jawabnya singkat tapi mengena.
            “Hahaha, sudahlah...”, kataku malu.
            Akhirnya ku ceritakan kronologi kebatalanku libur esok hari. Berkali-kali ku hembuskan nafas berat saat mengingatnya akan pergi.
            “Yasudalah, nggak bisa dipaksain juga kan..”, kata-katanya tetap seperti tadi sore.
            “Iyaaa...”, jawabku.
            “Yasudah aku ga lama-lama ya, aku kesini juga sekalian pamit sama kamu.”, katanya berpamitan sambil mengusap-ngusap rambutku.
            “Iyaa, besok hati-hati ya, jangan lupa oleh-olehkan kabar buat aku, hehehe”, kataku tersenyum.
            Ku sodorkan tanganku tanda memintanya bersalaman. Tapi dia hanya melewati badanku dan terus terang aku terlihat sangat bodoh.
            “Eh gimana sih kamunyaaaa..”, kataku heran dan tak terima tentunya.
            Aku menghampirinya lagi dan kembali menyodorkan tanganku.
            “Buat apa? Kayak aku mau pergi jauh aja.”, katanya meledek.
            “Ya tapi kan nggak harus gitu jugaaa..”, jawabku manja.
            Dan tanpa ku sangka tiba-tiba dia memelukku dengan hangat. Tubuhnya yang lebih tinggi dariku membuat kepalaku tak sampai melewati pundaknya. Terlintas dipikiranku, “Ini bukan mimpi kan Tuhan..”, aku tersenyum. Saat ia melepaskan pelukannya, dia memberiku ciuman manis di keningku. Entah aku merasa begitu manisnya malam ini. Ku merasa segala sesuatu yang dilakukannya untukku walaupun hanya sepucuk kukupun bisa terasa sangat istimewa. Kejutan yang tak pernah ku sangka, mungkin kan memberikan mimpi indah di tidurku malam ini.
            Saat melepasnya pergi malam itu, aku tau ku akan bisa menghadapi esok hari. Aku akan tersenyum, karena ia juga tersenyum di sana. Takkan ada yang menyesakkan hati dan pikiranku esok dan seterusnya. Terimakasih Tuhan, aku menyayangimu Dwi Artionus Putra :)

No comments:

Post a Comment