Friday, November 30, 2012

aku dan hatiku bebas karena sadar :)

satu persatu semuanya menyapa
tak peduli kecil atau besar
semuanya memaksa
serba menekan

seakan tak ikut berfikir
semua menuntutku tuk berfikir
apa arti dari semua ini?
apa maksud Tuhan menunjukkanku semua ini?

berdiri di antara dua pilihan
berfikir tuk suatu permasalahan
diam dan merenungkan
sebuah keputusan besar

kini ku tau arti sebuah keputusan
kini ku tau arti sebuah cacian
bagaimana kerasnya mereka
bagaimana berat memikul mereka

dan sekarang ku umumkan bahwa ku sudah keluar
dari peraduan nan kelam
yang ku selami hanya tuk sekian hari
merenung, berfikir

teman! aku bebas!
aku lega!
kau dengar teriakanku?
kau dengar tawaku juga kawan?

Tuhanku, terimakasih
kau guru hati terbaik sepanjang hidup
banyak memberiku tugas
yang selalu kau beri tau bagaimana cara mengerjakannya

kini saat Kau berikanku tugas
tuk beri sebuah keputusan
Kau mengajariku kembali bagaimana solusinya
Kau sayang padaku Tuhan, ku tau itu

aku bebas karena ku sadar
aku lega karena ku sadar
aku berteriak bahagia karena ku sadar
semua buatku sadar

arti kejahatan ku dapat
arti kebebasan juga ku dapat
Tuhan buatku sadar
semua tak mudah...



waktu terlalu cepat tuk dihitung
biasa saja, lakukan dengan sederhana
Tuhan di sampingmu
jangan takut, Ia takkan kemana-mana :)

Thursday, November 29, 2012

Tak usah kembali!!

tidak, aku tidak bisa
sungguh aku tidak bisa lagi
aku mungkin takkan bisa lagi
menyentuhmu, menatap bola matamu sekalipun

semua itu sia-sia!
entah saat ku rajin lantunkan segala doa
melambungkan angan,
semuanya terasa hanya sebuah penyesalan

dan kini ku sadar
aku bukanlah bayanganmu
datang dan pergi
sekena yang kau mau

ku beri kau cinta
ku beri kau kasih
ku beri kau sayang
semua kau apakan?
kau buang kah?

tahukah kau, kau begitu hebat
kau adalah satu-satunya
yang bisa membuatku menjalani hidup tak total
karna ku merasa mati dalam hidup

tidakkah kau sadar?
kau tidak sadar siapa kau itu?
yang bisanya hanya patahkan perasaan
menumpuk koleksi hati yang sakit
apa itu kegemaranmu, Bung?

kedingingan dalam jiwamu
teduh bola mata indahmu
jelaskan kepada seluruh dunia
jelaskan semuanya itu palsu!

perlukah kau bertanya
dimana aku?
mengapa baru sekarang mencari?
saat seluruh dunia tau kau pembunuh hati!

hei, aku sudah kuat!
harusnya kau tau itu
kan ku tunjukkan padamu bagaimana ku berkata tidak
sebelum kau memintaku kembali ke pelukmu

tidakkah kau tau semua ini begitu sakit?
tak cukup tahunan tuk sembuhkan
ingat segala caramu
mengembalikan cahaya hidupku

berharap ku ingat pertama kali kau mencumbuku
tapi otakku menolak
bak amnesia aku lupa
tak ingat apa-apa

setelah kau ingkari semua janjimu
kau ingin kembali?
jangan. jangan kembali sampai kapanpun
sampai kau sadar siapa kau itu

Rumit!!


awalnya aku mengira akan baik-baik saja
awalnya aku menerka semua takkan rumit
tapi takdir sudah membawa kenyataan yang berbeda
semuanya rumit

saat seorang gadis kecil menatap luas
dunia seakan menghujat
mencaci maki tak terhenti
dengan bahasa yang sangat rumit

kangmas, mengapa kau tergesa
kau tak begitu sabar tuk menatap sang matahari
mengapa kekuatanmu hanya seberkas
kau tak begitu mampu menghadang waktu

keputusan di tanganku
ku tunggu, atau menerima
seseorang semu, atau seseorang nyata
yang ku cintai, atau yang masih hambar

langit luas berawan
angin sepoy menyejukkan
udara dingin menghanyutkan
gemericik air berjatuhan

gadis kecil temukan bunga
sendiri di tepi jalan megah
seakan berikan tanda dan isyarat
ini semua tak rumit!!

melangkahkan telapak kaki
sudut cahaya terang kan bersaksi
semua tak rumit
katakan, katakan semua..

Tuesday, November 27, 2012

Hiruk pikuk kebingungan


                Saat awal ku buka selambu kamarku pagi tadi, ku menerka hari ini pasti sangat panas. Lebih dari biasanya. Suhu ruangan di sekitarku mungkin akan menanjak drastis hingga membuat peluhku bercucuran bak butiran jagung. Dan ternyata? Memang tepat sasaran. Hari ini panas. Lebih panas dari yang ku bayangkan.
                Tanpa ada aktifitas yang berarti pagi itu di kelasku, aku dan teman-temanku setuju memutar film yang lagi hits di bioskop seantero Indonesia. Breaking Dawn 2. Lumayan nobar gratis, pikirku. Film berjalan seru, saat tiba-tiba Fay mengajakku ke belakang.
                “Mil, ke kamar mandi yok.”
                “Fay plis deh, nih film lagi mau klimaks.”
                Dita, menyahut dari belakang.
                “Belom kok. Tinggal aja dulu, keburu ngompol tuh anak.”
                Dengan langkah berat ku membawa badanku beranjak dari kursi yang sedari tadi bak kursi bioskop.
                “Fay ke kamar mandi mana nih?”
                “Terserah lo deh.”
                “Yee, modus yuk.”
                “Biasaan banget lo Mil.”
                “Katanya terserah gue?”
                “Yaya deh.”
                Akhirnya ku ajak Fay ke kamar mandi dekat deretan kelas 12.
                “Yah, dipake orang nih.”
                “Nah emang musti yang itu?”
                “Nggak enak kalo ga ada kloset.”
                “Manja beneeer.. ke samping perpus deh yuk.”
                Sampailah kami di kamar mandi kedua di samping perpustakaan sekolahku. Cukup bersih dan ada kloset juga. Jadi Fay bisa berlama-lama di situ. Lumayan, mungkin saja aku bisa bertemu Baim di sini.
                “Fay Fay! Dia ada Fay!” kataku tak sabar sambil menggedor pelan pintu kamar mandi.
                “Serius lo? Di mana?” jawab Fay di balik pintu.
                “Di musollah tuh, sama temen-temennya.”
                Pintu kamar mandi terbuka. Fay muncul di baliknya.
                “Kerudung gue udah bener?” tanya Fay.
                “Udah unyuk. Yuk cepet balik. Tapi lewat samping aja.” Kataku bergegas.
                Ku lewati tembok menjulang tinggi di sampingku, tapi sama sekali tak menoleh ke arah belaka ng. Yang jelas aku tau ada Baim di sana.
                “Fay gue nggak ngeliat. Lo liat?”
                “Sejauh mata memandang gue nggak ngeliat the big else.
                “Haha yasudah yang penting setidaknya gue udah tau dia dimana.”
                “Dasar modus!”
***
                “Dari mana lo? Ke kopsis yuk.”
                “Jenooong, gue baru aja dari kamar mandi. Baru duduk brayy, harus ya ke kopsis sekarang?” Jenong tak lantas menjawab malah menarik tanganku paksa. Dan aku? Pasrah.
                Sesampai di koperasi aku juga ikut memilih-milih kue kering. Inginku tak beli, tapi tuntutan lambung yang memaksaku untuk membeli beberapa. Di kopsis aku juga bertemu bang Rizal, teman satu kelas Baim. Dan siapa sangka ini mengejutkan.
                “Hai bang.” Sapaku.
                “Nggak.” Jawaban langganannya tiap kali ku sapa.
                “Tauk deh bang.”
                “Haha apaan sih lo. Gue disapa, temen gue di PHPin.”
                “Maksud lo bang?”
                “Ya si Baim. Terima kek. Kasian tuh anak.”
                “Trus gue harus terima dia cuman dengan alasan kasian gitu bang? Apa nggak makin sakit tuh anak?”
                “Lah ya udah lo tolak yang jelas.”
                “Udah kali bang kapan hari.”
                “Alasannya?”
                “Hati gue belum bisa buat dia bang.”
                “Trus, uda berapa lama lo PHP in dia?”
                “Apa? PHP? Gue nggak PHP kali bang.”
                “Trus apa namanya kalo bukan PHP? Kasih harapan kosong?”
                “Bang Rizal engga. Plis deh bang. Gue mana ada niat kaya begitu coba. Balik dulu deh bang.”
                Aku meninggalkan bang Rizal dan temannya yang masih memilih-milih makanan. Sedangkan aku? Bingung setengah hidup. Apa maksud perkataan bang Rizal? Sebegitukah aku pada Baim? Apa aku memanglah Pemberi Harapan Palsu untuk Baim? Tubuhku mendadak dingin. Mulutku terkunci rapat. Jenong yang sedari tadi bingung karnaku tak ku hiraukan.
                Aku tak mau di sakiti orang lain tapi kenapa aku sendiri menyakiti orang lain? Kalimat itu yang terus menyesakkan otakku. Seperti ada yang menyumbat, aku tak bisa berfikir apa-apa. Manusia macam apa aku ini? Egois! Tak berperasaan! Oke ku mencoba setenang mungkin. Tanganku tergerak tuk mengirimkan Baim sebuah pesan singkat.
Aku : kak
Baim : ya dek
Aku : aku mau nanya ke kakak
Baim : iya dek tanya apa
Aku : kakak berasa aku PHP in kah?
Baim : dibilang iya ya iya. Di bilang engga ya engga dek.
                Sungguh! Demi apapun seluruh bebatuan besar seakan runtuh secara bebarengan menimbun hatiku. Apa maksudnya? Aku memang seorang PHP? Oh ya Tuhan! Entah aku sendiri bingung harus menjawab seperti apa pesan itu. Bingung, sesak, dan ah entahlah. Dua sahabatku Jenong dan Fay entah kemana.
                “Halo Fay lo di mana?” ku telepon Fay seketika. Tak peduli pesan singkat yang terakhir ia kirim. Pita suaraku bergetar. Mendadak serak.
                “Di kantin nih.” Jawabnya.
                “Baim Fay...” makin bergetar suaraku.
                “Kenapa? Cepet sini lo.”
                Tak pikir panjang ku tinggalkan semua yang masih berserakan di mejaku. Aku berjalan bimbang menemui Fay. Nafasku seperti orang sesak nafas. Hancur. Bodoh. Dan apapun.
                “Baim kenapa?” tanya Fay penasaran. Nada suaranya memburu bak paparazzi.
                Aku terbata-bata. Kata-kata yang ku ucapkan tak teratur. Rahangku sudah terlalu lemas untuk mengutarakan cerita. Dan pada akhirnya, mataku berlinang. Terasa air mengalir hangat di pipiku.
                “Gue kenapa bodoh sih. Gue jahat. Gue manusia tolol.” Terisak. Ya memang ku katakan itu sambil terisak.
                “Mil lo nangis dulu deh. Yang kenceng sekalian.” Kata Jenong menenangkan. Dia memang selalu seperti itu. Tak suka melihat orang yang tidak totalitas membanjiri pipinya dengan air mata.
                “Mila elo nggak salah. Kalo elo PHP, pasti lo sangat amat respon apa yang dia kasih tapi sekarang gimana? Lo biasa aja kan. Dia berasa lebih Mil.”
                “Gue nggak tau Fay. Bingung.”
                Ditengah hiruk pikuk kebingungan yang melintas di otakku, ada satu pesan masuk. Dari Baim. Sekali lagi dari Baim.
                Baim : waktu juga uda berjalan cukup lama dek tp belum ada kejelasan.
                “Sini deh gue yang bales.” Kata Fay langsung menyamber ponselku.
                Aku : aku udah ngomong jujur kan ke kakak. Apa kurang jelas? Apa aku masih di sebut php kalo gitu caranya?
                Baim : iya udah kalo adek masih nunggu aku lebih baik mundur biar adek bisa konsentrasi sm si dia, aku merasa d ksih harapan tp masih belom pasti dan waktu udah terlanjur berjalan lama.
                Ya. Semakin deras. Semakin deras air hangat yang mengucur dari pelupuk mata bak air bah. Kenapa di tengah usaha selalu ada sedikit keputusan untuk mundur? Kenapa otak lelaki selalu diisi dengan kerumitan? Kenapa lelaki tak suka menunggu? Dan bagaimana wanita yang selalu berjuang hanya dengan cara menunggu bisa lebih sabar? Kenapa tak sedikit dipakai hatinya? Perasaannya? Semua pertanyaan itu belum cukup. Masih banyak rentetan pertanyaan lagi yang benar-benar membuat otakku mau pecah.
                Aku: kakak jam kosong? Ngobrol sebentar yuk.
                Semua takkan selesai hanya dengan berkirim pesan singkat, batin ku.
                Baim : oke. Aku tunggu di samping aula ya.
                “Apaan Mil! Ajak tuh di gedung baru. Kok enak banget elo yang nyamperin.” Jenong nyeletuk. Mungkin ikut terbawa arus. Emosinya ikut terpancing.
                Akhirnya Baim setuju bertemu denganku di tangga menuju gedung baru. Ku lihat dia hanya sendirian, tak bawa pasukan segelintirpun.
                “Duduk kak.”
                Dia masih belum memulai pembicaraan.
                “Kalo nggak ada yang kasih tau kayak gitu, nggak akan aku sms kakak.”
                “Rizal?” jawabku hanya mengangkat sebelah alisku. Aku tak berani menatap bola matanya. Takut takut ia tau ada bekas linangan di mataku.
                “Sebenernya aku juga bingung dek kamu itu PHP in aku atau engga.”
                “Kalo bingung kenapa bilang kayak gitu kak?”
                “Bingung, mungkin yang dibilang Rizal bener.”
                ”Iya oke mungkin yang dibilang Bang Rizal ada benernya. Aku emang PHP.”
                “Bukan gitu dek. Aduh aku bingung jelasinnya.”
                “Ya jangan bingung kak.”
                Banyak kemungkinan yang kuceritakan pada Baim. Jika ini, jika itu. Berharap Baim bisa mengerti tata bahasaku. Berharap Baim tau apa maksud semua kemungkinan itu. Baim bisa menyimpulkan apa sebenarnya yang terkandung dalam kalimat itu.
                “Semua keputusan ada di tangan kamu dek.”
                “Trus maunya kakak gimana?”
                “Aku kasih waktu buat kamu deh. Pikirin mateng-mateng keputusannya.”
                “Kak aku nggak akan kasih keputusan kalo ada waktu yang memaksa aku mikir keras.”
                “Oke nggak usah waktu. Aku bakal tungguin kamu kasih keputusan itu.”
                Aku terdiam. Dalam otakku hanya ada nama Aldi Aldi Aldi. Antara dua pilihan. Menunggu sesuatu yang jelas menyita waktu tapi memang menyenangkan, atau menerima orang baru yang lebih bisa memperhatikanku. Tapi entah hatiku berkata menunggu. Entah kenapa dalam hatiku hanya ada Aldi. Dan entah kenapa juga nama itu tak bisa ku cabut dan ku ganti dengan yang lain.
                “Dek?”
                “Eh iya kak?”
                “Aku ke kelas dulu ya. Ada guru. Daaah. Aku tunggu keputusannya dek.”
                Aku tak menjawab. Yang masih ada di otakku, adalah aku sudah menyakiti orang lain. Orang yang menurutku tak ingin ku sakiti. Aku tak henti menyalahkan diriku sendiri. Kenapa harus orang sebaik dia? Dan kenapa aku bisa bertindak bodoh sedangkan aku tak menyadarinya? Sekelilingku berkata bukan aku yang salah. Tak ada yang salah. Tapi aku sendiri menggugat bahwa yang benar-benar salah aku. Tak ada yang salah karena sekali lagi yang benar-benar salah adalah aku. Bodoh.
***
                Lama ku fikirkan. Lama waktu yang ku habiskan tuk berangan bagaimana memberikan ia keputusan yang baik. Lama waktuku tuk bernaung, dan akhirnyaaa.. ku temukan segelintir kalimat itu. Yang ku harap tak menyakiti hatinya tuk kesekian kali.. Amin..

Monday, November 26, 2012

bintang yang ku lihat malam ini, sendirian...


                Menyusuri jalan yang berpaving sepi di kompleks perumahan, nikmat juga ternyata. Ditemani lantunan lagu Christina Perri, Adele yang mengalun dari kabel kecil earphoneku. Sungguh hobi yang menyenangkan. Di remangnya sinar lampu kompleks ditemani bulan yang sedikit tertutup awan.
                Di taman kompleks yang asri, ku dudukkan tubuhku pada sebuah kursi taman. Jemari tangan kiriku ku benamkan pada saku jaketku. Tidak kurasakan dingin sedikitpun, hanya perintah otak saja yang menyuruhku seperti itu. Malam ini tak seperti malam-malam sebelumnya. Sedikit lebih sunyi dari biasanya saat aku biasa termenung di taman ini. Ku pandang langit yang berawan juga sama. Lebih sunyi. Sinar rembulan juga redup. Sepertinya awan yang menggelayut itu telah menyerap sinarnya.
                Kuputuskan tuk mengundang sahabatku kemari. Sudah lama tak berbincang di senyapnya malam seperti ini.
                “Halo?”
                “Ngga, sibuk nggak? Ke sini dong.”
                “Dimana lo?”
                “Taman.”
                “Oke. Tunggu situ ya.”
                Dasar sahabat paling setia. Dari kecil di sinilah tempatku dan Angga bermain bersama. Seperti saudara kandung. Banyak kesamaan yang kumiliki dengannya.       
                “Kumat lo malem-malem gini ngelamun sendirian.” Kata-katanya terdengar seiring sandalnya menggesek permukaan rerumputan.
                “Ngga ikhlas nih ceritanya?”
                “Yee bukannye gitu. Nggak ngeri ape lu ngelayap sendirian malem-malem gini?”
                “Elu kali yang begitu. Gue mah biasa aja.”
                “Terserah lo deh Nan. Ada apaan lo? Tumben panggil gue. Biasanya kalo uda semedi gini kaga bisa diganggu.”
                “Nggak selamanya kayak gitu kali braayy.. haha”
                “Tapi emang gitu Nan.”
                Sambil menyanyi-nyanyi kecil, ku arahkan sudut pandanganku menjelajahi langit di atasku. Luas sekali. Tapi saat ku mencari bintang, semuanya menghilang. Entah aku juga tak tahu kemana perginya mereka. Apa karena ada awan? Tapi remang cahaya bulan masih bisa terlihat jelas.
                Dan akhirnya, ku temui apa yang menjadikan malam ini beda. Bintang tak ada. Yang biasanya bersemangat menghiasi langit entah lenyap kemana. Tapi tunggu. Ku temukan satu. Hanya satu. Bintang yang bersinar terang. Sinarnya bak sedang berlomba dengan sinar bulan. Jaraknya pun tak begitu jauh dengan bulan. Wow.
                “Ngga, liat itu deh.” Kataku sambil menunjuk bintang itu dengan telunjukku.
                “Apaan?”
                “Bintang itu.”
                “Kan. Kebiasaan deh kalo uda di sini.”
                “Angga gue serius. Bintang itu sendirian.”
                “Trus?” sepertinya Angga mulai kesal dengan kebiasaanku yang tak pernah berubah sedari TK.
                “Kira-kira kesepian gak ya Ngga bintang yang kayak gitu.”
                “Kalo lo jadi dia gimana?”
                “Ya mungkin iya. Kan temen-temen bintang gue yang lain salah satunya elo. Kalo ga ada lo? Sunyi senyap man.”
                “Tapi lo liat nggak itu bintang jaraknya nggak begitu jauh sm bulan?”
                “Uhum. Terus?”
                “Ada kalanya dia sedikit memisahkan diri dari temen-temennya cuman buat sebuah kesempatan yang udah disediain Tuhan.”
                “Maksud lo?”
                “Tuhan mungkin kasih kesempatan sekarang sama dia buat lebih deket sama yang merajai malam, yaitu bulan.”
                “Tapi kalo bulan itu nggak balas mendekat?”
                “Bintang pasti sabar nunggu malam-malam berikutnya. Dia mungkin berfikir Tuhan akan kasih dia kesempatan yang sama lagi di malam yang lain...”
                “Kaya gue yang selalu sabar nunggu Nizam buat hari-hari berikutnya?”
                Angga tertawa. “Urusan hati lo tuh. Gue yakin elo kalo jadi bintang, pasti jadi bintang yang paling terang di langit sana.”
                “Kenapa gitu?”
                “Kayak bintang itu. Terang kan? Dikala cahaya bintang yang lain kayak di serap awan, lo masih tetep kekeuh bersinar biar bisa liat si Nizam.”
                “Bisa aja lo.. hahaha”
                Angga tertawa. Dan tawanya selalu renyah. “Jadi bintang buat orang tu lo dulu ya Nan, jangan kaya gue. Lampu 5watt uda mau keok, apalagi bintang haha.”
                “Hus, ga boleh ngomong kayak gitu.”
                “Hahaha, kenyataan Nan. Kalo elo uda bersinar terang buat orang tua lo, dengan otomatis lo bakal gampang juga menerangi orang-orang yang lo sayangin, termasuk Nizam...”
                “Amin... thanks Ngga.”
                Beruntung sekali Angga tak pernah terpisahkan olehku. Rumah yang bersebelahan. Ibu yang sama-sama kompak. Sifat yang banyak kesamaan, benar-benar membuat kami seperti saudara kandung walaupun terkadang juga bisa menjelma menjadi anjing dan kucing. Dan dia, Angga sahabat bintangku, aku adalah Kinan yang kan menjadi bintang terang, dan Nizam adalah bulan yang temaniku menyinari langit luas.

bintang di langit kerlip engkau di sana
memberikan cahaya di setiap  insan
malam yang dingin ku harap engkau datang
memberi kerinduan di sela mimpi-mimpinya :)

salah satu bagian semangatku, ya KAMU :)


                November-Desember. Musim ujian bagi para pengais ilmu. Perlu dukungan jelasnya. Bukan hanya materiil, tapi juga dukungan moriil sangat diperlukan. Tak terkecuali aku. Kemampuan otak yang menurutku standar, perlu didongkrak dengan dorongan psikis yang besar.
                Ibuku, terimakasih. Terimakasih banyak. Kau adalah pendorong terbesar semangatku. Segala doa yang kau lantunkan untukku. Doamu yang mengharapkanku untuk jadi seseorang yang baik. Doamu yang mengharapkan segala sesuatu yan ku kerjakan semua akan terasa lancar. Dan doamu yang lainnya. Aku berjuang untukmu ibu, ayah. Untuk ssiapa lagi kalau bukan untuk kalian?
                Selain ibu dan ayahku, ternyata ada seseorang di sudut sana yang kata-kata semangatnya bisa meracuni hatiku juga. Walaupun hanya sebuah “have a nice day” kata-kata ajaib itu sudah bisa membuat bibirku tiba-tiba tersenyum. Dan anehnya lagi, aku selalu menyimpan kata-katanya yang itu, atau yang lainnya di dalam otakku. Setiap hari tak pernah ku lewatkan. Kata-katanya selalu awet dalam ingatanku sampai pada akhirnya nanti ia memberiku kata-kata yang serupa atau mungkin berbeda.
                Baginya mungkin biasa. Namun tidak bagiku. Kata-katanya membuatku berfikir. Aku harus siap hadapi hari ini, aku harus bisa membuat orang tuaku bangga akan aku. Entah kenapa kalau orang lain yang katakan seperti itu, sama sekali tak mengena di hatiku. Di hati saja tak mengena apalagi di otak. Umm ralat. Sebenarnya bukan tak mengena sama sekali hanya saja kadar tepat sasarannya itu sedikit. Bagaimana ya? Orang jawa bilang, tidak “srek”. Mungkin begitu.
                Kata siapa aku tidak bahagia saat orang lain menyemangatiku? Tentu aku bahagia. Dengan begitu aku tau mereka juga menyayangiku. Tapi diantara mereka yang menyayangiku, sedikit banyak aku juga ingin ada kamu yang menyemangati. Entah apapun bentuknya. Karena ku yakin apapun darimu, itu pasti manis. Masih ingat? Hehe.. dan jika memang kamu sudah menyemangatiku, hmm semakin bersyukurlah aku. Bersyukur karena ada bagian terpenting dari mereka yang menyemangatiku dan itu, kamu J

yang selalu ku tunggu,
yang selalu ku nanti,
saat kau ada, walaupun tak nyata
hanya untuk sebuah...
"have a nice day" :)

Saturday, November 24, 2012

Ku temukan sosok ayah


                Berjalan sendirian, hanya di temani angin semilir menuju pintu depan rumahku. Awan menggelayut manja di langit. Sedikit redup, namun teduh. Setidaknya suasana sedamai ini sedikit menyibakkan kabut yang menggelayut di benakku.
                ”Assalamualaikum...” ku buka daun pintu itu.
                “Waalaikumsalam. Cintaku sudah pulang.” Jawab ibuku yang sepenuhnya memprioritaskan cintanya untukku.
                Bersyukur sekali mempunyai ibu seperti beliau yang selalu mengerti ada pelangi atau awan hitam yang sedang menggelayut di hatiku setiap saat. Bersyukur Tuhan menganugrahkanku seorang malaikat hebat seperti ibu.
                Daun pintu yang baru saja ku lewati tiba-tiba bersuara gaduh. Ada yang menggedor kasar dari luar. Pasti lintah darat itu lagi, pikirku. Dasar manusia tak punya pri kemanusiaan. Telat sehari bayar kontrakan saja moncong kerasnya itu sudah mengaum.
                “Kau di sini saja sayang, jangan keluar.” Kata ibuku.
                Aku menurut, namun tetap terdiam. Mengawasi ibuku yang mengambil sesuatu ke kamarnya sebelum membuka pintu. Tapi telingaku tetap menolak keras ada suara ribut seperti itu. Aku heran, kenapa pemilik kontrakan rumahku ini betah sekali jadi lintah darat seperti itu. Ku lihat ibuku sudah kembali membawa beberapa lembar uang. Reflek tanganku menahan ibuku yang berjalan cepat-cepat menuju pintu depan.
                “Iya sayang?”
                “Hati-hati bu.”
                Ibuku hanya tersenyum sabar menyatakan ia akan baik-baik saja.
***
                “Ibu kenapa betah sekali sih tinggal di sini?”
                “Tidak ada pilihan lain sayang.”
                “Kita bisa kembali ke rumah ayah. Kebetulan sekarang aku kangen ayah bu.”
                “Hentikan Dinda.”
                “Kenapa? Apa ibu tidak merindukan ayah? Aku tau hati ibu masih jelas tertera nama ayah.”
                “Dinda!”
                Aku menghentikan makanku. Menatap ibu yang mulai kesal dengan perkataanku. Aku pun terdiam. Ibu juga sepertinya menyesal sudah membentakku.
                “Ibu tidak bisa Dinda.” Pahit rasanya saat ibuku mengatakan itu lagi.
                “Tapi aku juga tidak ingin ibu dibeginikan terus oleh rentenir itu.”
                “Biarlah, asal ibu tak kembali dengan ayah.”
                “Ibu, maaf. Aku tak bermaksud seperti itu. Aku hanya tak ingin...”
                “Sudah Dinda, habiskan makananmu sayang.”
                Ibuku beranjak dari kursi makannya, berlalu meninggalkanku dengan sedikit gundah di hatinya. Entah itu sedikit atau tidak, yang jelas ia gundah.
***
                “Aku lelah mas.”
                “Sabar Dinda.” Jawabnya sambil mengelus lembut kepalaku.
                “Perceraian ibu dan ayah membuat gundah selalu cepat datang, membuat pagiku selalu berkabut, dan ah...”
                Jari telunjuknya menyentuh bibirku.
                “Kau lihat banyak anak kecil yang mengamen di perempatan? Atau yang di panti asuhan?”
                “Uhum..”
                “Kau lebih beruntung dari mereka sayang. Bersyukurlah.” Kata mas Reza. Entah mengapa dia selalu bisa menyejukkan hatiku. Batinku.
                “Terimakasih mas.”
                Kusandarkan kepalaku ke lengannya. Berbincang dengannya saja sudah hangat. Ditambah lagi dengan sifat dewasanya. Ku semakin merindukan sosok ayahku, yang ada dalam dirinya. Terimakasih mas Reza, terimakasih sudah menjadi sedikit ayah yang melindungiku dan ibu...

ayah, ku temukan sosokmu
ku temukan walau hanya secuil
dalam dirinya, dalam diri
seorang mas  Reza...

Friday, November 23, 2012

Jika dia itu kamu...

ku termenung sendiri
di kesunyian pagi
di hiasi embun sepi

anganku melayang jauh
menembus kisah
aku dan kamu yang dulu

walau ku tau ada dia
yang temaniku
tapi dia bukan, bukanlah kamu

jika dia itu kamu
yang sayang kepadaku, yang yakinkanku
jika dia itu kamu
ku kan usir sepi ini
jika dia itu kamu

rancangan lirik lagu baru. Galau ya? Memang. Haha :D Coming soon guys ;)

belajar!! #3

Edisi terbaru belajar foto :D


dibalik bulu mata


harap-harap cemas


gelisah


ngakak!!


stay cool


in the middle of crouded


semua mata tertuju kesini

Thursday, November 22, 2012

Aku baik baik saja :)

Tak perlu khawatirkan aku yang sendirian, yang menatap jalan di hadapanku yang panjang membentang. Tak perlu mengkhawatirkan aku yang terlihat memamerkan senyuman indah, karena kau mungin tak bisa merasakan apa senyuman itu palsu, atau bukan. Cukup kau tau aku ada, cukup kau tau aku selalu tersenyum, cukup kau tau selalu ada keceriaan dalam diriku, cukup kau tau cukup kau tau dan cukup cukup cukup. Tenanglah, pada dasarnya aku baik-baik saja. Jauh lebih baik dari yang kau kira :) hehehe

Untuk semuanyaaa, terimakasih. Sudah membuat senyum dan tawaku terkembang setelah seminggu lamanya redup :D hehe. Baru kali ini ku merasakan saat langit muram, hatiku ceria. Saat hujan mulah meitih, aku tertawa lepas. Sejuk, menyenangkan, istimewa. Karna ada kau yang membuatku serba tidak apa-apa. Ada kau yang menjadi alasan dasar aku tuk kuat. Pantang menangis, rapuh, atau apapun yang lainnya. Semua ada kau :)

aku tersenyum
aku tertawa
aku bahagia
aku senang
aku tak gundah
aku tak resah
aku tak rapuh
aku tak lemah
aku kuat
aku tegar
aku bak batu karang dihempas ribuan ombak
dan dari semuanya, ada kau didalamnya :)

yeah Adera - Terlambat, cover by us!!! :D

Demi apaaaa :D ini cover pertamaku yang pertamakali di unggah ke akun youtube! Unyuk badaaaiii :D hahahaha happy watching guys, wish it cool :D hahaha


Adera - Terlambat cover by @bagus_setiyo @LindaRafeby and @RickyeRR :D

Wednesday, November 21, 2012

Rindu ini bagai air bah...

kau manusia, aku juga manusia
kau punya segumpal perasaan, aku juga begitu
kadang sakit, tersayat
tapi kadang berbunga, bahagia

apa kau tau arti rindu?
apa kau pernah merasakannya?
bagaimana rasanya?
nikmat tidak?

untukku rindu tak senikmat masakan ibu
rindu tak semanis gula yang di hampiri semut
tapi rindu malah seperti air mineral
jernih, bening...

taukah kau, kadang rindu bisa seperti air bah
tiba-tiba datang, besar, deras
menghantam apa saja disekitarnya
tak terkecuali relung jiwa

kalau seperti itu, bagaimana rasanya?
sedihkah? bahagiakah?
atau mungkin ada jawaban lain?
katakan, katakan padaku...

nyeri saat ku rasakan rindu ini
tapi bibirku masih bisa berbual hebat
bak aktris di panggung yang megah
panggung sandiwara

ku selipkan namamu dalam doa
tuk sampaikan rindu yang tak tersampaikan
berharap kerikil manis nantinya
darimu, nan jauh di sana...

bersumber dari :
seseorang yang merindu :)

Sifat seseorang berdasarkan warna favorit


Coba telusuri bagaimana dirimu dengan warna-warna yang kau sukai :D

MERAH
  • Berani dalam sikap dan menyuarakan pendapat
  • Suka berada di keramaian dan selalu jadi pusat perhatian
  • Tegas dan memiliki bakat memimpin
  • Tak ragu mencoba tantangan
  • Jika marah, cenderung memberontak
  • Memiliki jiwa sosial yang tinggi, tak segan membantu
PINK
  • Memiliki sifat lembut, penyayang dan manis
  • Tahu cara berpakaian yang bagus
  • Kadang manja tetapi mudah beradaptasi
  • Menyukai hal-hal berbau romantis
  • Sederhana dan suka membantu orang lain
  • Menyayangi orang-orang yang dekat dengannya
BIRU TUA
  • Tenang dan tidak mudah terpancing emosi
  • Memiliki pancaran kecantikan dari dalam
  • Tampak tenang dan angkuh tetapi sebenarnya ramah
  • Orang yang bisa diandalkan
  • Mampu menyelesaikan masalah dengan cepat
  • Serius dan memegang teguh aturan
BIRU MUDA
  • Berjiwa bebas dan santai
  • Ramah dan mudah bergaul dengan siapa saja
  • Tidak takut mencoba hal baru
  • Suka bekerja di belakang layar
  • Emosi sering naik turun/moody
  • Siapapun yang berada di dekatnya akan merasa nyaman
KUNING
  • Ceria dan penuh semangat
  • Senang bercanda
  • Di balik sikap cerianya, menyukai ketenangan
  • Sering ceroboh dan terlalu cepat mengambil keputusan
  • Suka menjadi pusat perhatian
  • Optimis dan memiliki intuisi yang tajam
JINGGA
  • Memiliki ambisi yang besar dalam hidupnya
  • Selalu hangat menerima semua orang
  • Senang menikmati hal-hal baru
  • Merupakan teman yang baik
  • Selalu punya obrolan menarik yang tidak membosankan
  • Memiliki pemikiran yang terbuka
UNGU
  • Tidak ragu menghadapi masa depan
  • Selalu melakukan yang terbaik untuk hidupnya
  • Selera tinggi, menyukai barang mewah dan mahal
  • Tampak misterius tetapi romantis
  • Sulit didekati dan suka menutup diri
  • Mudah belajar hal-hal baru
HIJAU
  • Cenderung tenang dalam bersikap
  • Tidak mudah tersinggung
  • Memiliki sopan santun yang baik
  • Mudah memaafkan orang lain
  • Pemikirannya dewasa
  • Keras kepala
COKELAT
  • Menyukai kesederhanaan
  • Berpegang teguh pada prinsip yang diyakini
  • Kadang kekanakan
  • Setia dan murah hati
  • Kadang tak suka keluar dari zona nyaman
  • Sangat menyayangi keluarganya
HITAM
  • Cuek dan tidak terlalu peduli omongan orang lain
  • Memiliki pendirian yang teguh
  • Secara alami terlahir cerdas
  • Sangat percaya diri
  • Misterius tetapi bersahaja
  • Memiliki pancaran mempesona bagi lawan jenisnya
PUTIH
  • Tidak suka dibohongi
  • Menyukai kedamaian dan tidak banyak omong
  • Tertutup tapi mudah berteman dengan siapa saja
  • Memiliki perasaan yang halus
  • Hatinya tulus, polos dan anggun
  • Merupakan tempat curhat yang baik

Tuesday, November 20, 2012

Adera - Terlambat >> lagu galau tapi ceria :D

Sebagian pasti tau dong siapa Adera. Soloist yang lagunya unyu-unyu badai, dan pasti punya keunikan tersendiri..
see this MV :D


gak hafal? nih langsung sedia lirik :D

andai saja waktu itu tak ku tunda
tuk ungkapkan isi hati kepadanya
mungkin dia jadi milikku bahagiakan hariku
oh tetapi kenyataan tak begitu

di saat ku mencoba merajut kata
dan berharap semua menjadi sempurna
tiba-tiba ada yang lain yang mencuri hatinya
hilang sudah kesempatanku dengannya

terlambat sudah semua kali ini
yang ku inginkan tak lagi sendiri
bila esok mentari sudah berganti
kesempatan itu terbuka kembali akan ku coba lagi

cukup sudah kesalahan kali ini
jangan sampai semua terulang kembali
keraguan dalam hatiku harus ku buang jauh
bila ingin mendapatkan yang terbaik

terlambat sudah semua kali ini
yang ku inginkan tak lagi sendiri
bila esok mentari sudah berganti
kesempatan itu terbuka kembali akan ku coba lagi

pengalaman pahit yang ku jadikan pelajaran
dalam hidup yang tak akan terlupakan
jangan menunda sesuatu untuk dikerjakan
jangan tunda, jangan tunda..

asik ya lagunya? pasti dong :D hehe pesan moral juga nih, bagi yang jomblowan khususnya. ngga usah malu nyatain perasaan. cuman ngomong doang kan? urusan nanti bakal jadi atau engga, pasrah aja, hehehe...

Kangen seseorang di layar ponselku...


                Pagi itu langit cerah, angin juga sepertinya berhembus seirama dengan burung-burung yang berterbangan. Aku tersenyum kecil mensyukuri pagi ini aku masih bisa melihat pemandangan seindah ini, masih bisa memandang jelas wajah ibu yang membangunkanku subuh tadi. Tapi cerahnya kicau burung pagi ini tak bisa tertangkap oleh relung hatiku yang terlanjur keruh, karena merindukanmu.
                Mencoba ceria saat ku tau aku tak begitu. Atau yang ku lakukan itu berpura-pura ceria? Akting di depan para sahabatku? Membohongi diriku sendiri? Apa-apaan aku ini. Aku tau ini bukan aku. Bukan diriku. Aku sadar aku bukanlah tipe seseorang yang suka membohongi diriku sendiri, bukan tipe orang yang suka berpura-pura atau apapun yang lainnya. Hanya satu alasan sebenarnya, aku ingin merasakan keceriaan seperti teman-temanku.
                “Siapa nih? So sweet banget.” Kata temanku berkomentar tentang foto yang ada di wallpaper blackberryku.
                “Hahaha, sesuatu.”
                “Batman?”
                “Itu lo tau.”
                Hampir setiap temanku yang melihat fotoku dengannya, bertanya demikian dan aku juga menjawab dengan jawaban yang sama persis. Saat mereka bertanya, ada banyak rasa yang berkecamuk walau hanya sekejap. Rindu yang semakin menebal secara tiba-tiba. Dadaku berdenyut nyeri dalam sekejap. Dan itu hanya terjadi untuk sepersekian detik dan sisanya? Kembali seperti semula. Normal seperti tak ada apapun.
                Susai solat Dhuhur, aku tetap berdiam diri di musollah mungil itu. Pandanganku tertuju pada satu titik namun kosong. Yang terbayang hanya rasa rindu yang megah terbentang untuknya. Hanya  itu, dan tetap saja itu.
                Temanku, yang faham bagaimana diriku, mencium gelagat aneh bahasa tubuhku.
                “Lo kenapa?”
                “Hah? Kenapa gue?”
                “Ye, gue nanya malah balik nanya.”
                “Haha, gue nggak kenapa-kenapa kali.”
                “Yakin nggak kenapa-kenapa?”
                “Yes I’m sure.”
                “Lo ngelamun, galau lo?”
                “Idih engga.”
                “Engga salah?”
                “Biasa aja. Haha..”
                “Kenapa?”
                “Ini. Gue kangen banget nih.”
                Ku tunjukkan bagian depan ponselku ke hadapan temanku itu. Ku pandangi lagi, dan aku terdiam dengan sukses. Menghirup dan menghembuskan nafas dengan berat. Dan aku juga berhasil mendapatkan tepukan ketegaran dari temanku itu. Fiuhh.. Sabar. Ikhlas. Tenang saja.

wow :D Price Tag cover by Maddi Jane!!

PRICE TAG!!

WOW!! How cutie she is! Her name is Maddi Jane. I found her in youtube. She covered a song from Jessie J that called Price Tag. So fun video guys :D check it out :D

HERE!




Seems like everybody’s got a price
I wonder how they sleep at night
When the sale comes first and the truth comes second
Just stop for a minute and smile
Why is everybody so serious?
Acting so damn mysterious
You got your shades on your eyes and your heels so high
That you can’t even have a good time
Everybody look to their left
Everybody look to their right
Can you feel that? Yeah
We’ll pay them with love tonight
It’s not about the money, money, money
We don’t need your money, money, money
We just wanna make the world dance
Forget about the price tag
Ain’t about the cha-ching, cha-ching
Ain’t about the ba-bling, ba-bling
Wanna make the world dance
Forget about the price tag
We need to take it back in time
When music made us all unite
And it wasn’t low blows and video hoes
Am I the only one gettin’ tired?
Why is everybody so obsessed?
Money can’t buy us happiness
Can we all slow down and enjoy right now
Guarantee we’ll be feelin’ alright
Everybody look to their left
Everybody look to their right
Can you feel that? Yeah
We’ll pay them with love tonight
It’s not about the money, money, money
We don’t need your money, money, money
We just wanna make the world dance
Forget about the price tag
Ain’t about the cha-ching, cha-ching
Ain’t about the ba-bling, ba-bling
Wanna make the world dance
Forget about the price tag


ENJOOOY :DDDDD

Monday, November 19, 2012

Tolong usir rindu ini...

Tenang sekali sore ini. Hujan pertama di kotaku, membuat kota ini jauh lebih sejuk dari sebelumnya. Rasa syukur terpanjat deras, setidaknya hujan ini sedikit melegakan hatiku. Aroma hujan pertama ini menuaikan sensasi yang sangat nyaman di dalam jiwaku. Bunyi rintikannya, menembus masuk membelai rumah siput yang haus akan irama hujan selama ini.

Mendung sudah menggelayut sedari tadi di langit. Ya, akhirnya langit juga merasakan mendung yang akhir-akhir ini menggelayut juga di hatiku. Mendung itu datang sejak aku mulai merasakan rindu itu lagi. Kenapa harus datang lagi? Bukankah sudah seharian di hari yang lalu dia menemaniku? Kenapa? Mendung itu sungguh membuat dadaku terasa berat, sesak, namun tak berimbas apa-apa pada ragaku.

Aku ingin sekali tak merasakan rindu ini lagi, hmm maksudku rindu yang menyesakkan seperti ini. Aku ingin sensasi sesaknya itu hilang, namun rindunya tetap terasa. Adakah rindu yang seperti itu? Hampir dan nyaris tidak ada. Tolong usir dan suruh pergi jauh rindu yang sedemikian ini. Bisakah kau? Aku sungguh tak bisa melakukannya! Hanya kau yang bisa. Bagaimana tidak, tampakkan wajahmu saja di hadapan bola mataku, atau setidaknya kau sedikit saja menghubungiku, mungkin mendung itu akan meruntuhkan hujan yang tertahan. Sederhana bukan?

Tanpa sengaja, dan hanya berniat melongok kembali pesan facebook lamaku, aku menemukan chatlistku bersamanya. Dan sungguh, banyak sesuatu yang istimewa di dalam sini. Kata-katanya, bisa membuatku membayangkan saat aku pada masa itu. Gurauannya yang gombal, inginnya ia bertemu denganku, semuanya dia yang meminta daaan, sangat manis! Lebih dari manis. Tapi dia istimewa, tak hanya mengumbar segala kata-katanya, saat ia ingin mecabut kembali kata-katanya itu, ia masih mengucap maaf dan permisi.

Membaca setiap kata darinya, membuatku semakin lihai merangkai kata rindu untuknya. Di mata banyak orang mungkin manis, tapi di mataku sendiri... Semuanya lebih dari manis...

Aku modus, dan kau juga!!


                Dalam kerumunan barisan yang serong kanan di depan kelasku ini, mata Riska mencoba mengamati setiap wajah dari mereka. Memang samar-samar. Tapi Riska tau yang mana dia, dan sungguh apa-apaan ini. Tak ia dapati sosoknya. Matanya tak merekam bayangannya. Kemana dia? Sesekali bola mata Riska menangkap wajah seseorang yang terlihat dari samping, mungkin itu dia. Lama kelamaan Riska menyadari, itu bukan dia. Lalu kemanakah dia?
                Sampai pada akhirnya Riska menyerah. Sudahlah mungkin ia tak mengikuti rutinitas awal hari Senin ini. Begitu pikirnya. Riska menghentikan putaran bola matanya yang sedari tadi mengisyaratkan jika laki-laki itu pasti ada dalam barisan.
                “Ris, di cari mas Tama tuh.” Kawan Riska di belakangnya yang berkata demikian.
                “Hah?”
                “Itu dia baris di belakang mas Dicky.”
                Itu dia! Riska menemukannya. Tapi dasar modus, dia hanya melihatnya sekilas dan tak memandang lelaki itu lagi. Cukup tau laki-laki itu dimana, dan Riska bisa lega. Kadang Riska masih mencuri pandang barang hanya sepersekian detik. Modus. Sangat amat modus yang terselubung, tapi tetap lucu.
                Upacara hari itu usai. Riska masih bisa memandang laki-laki itu dan entah karena kontak batin atau apa, lelaki itu menoleh. Melemparkan seulas senyum untuk Riska dan pasti, Riska tidak menyangka.
***
                Sebuah novel dipinjam Riska untuk sedikit menghiburnya di rumah. Sebagian dibacanya di sekolah terlebih dahulu. Entah kenapa tiap Riska keluar dari kelasnya, hasrat ingin bertemu dengan laki-laki itu selalu muncul walau hanya sekejap saja. Begitupun di perpustakaan sekolahnya, dia hanya mendapati teman-teman lelaki itu yang ada di dalam, sedangkan yang di cari malah tidak ada.
                Riska tak membeli apa-apa di kantin, hanya menemani sahabatnya saja yang sedang sibuk dengan mie instan di depannya. Sedangkan Riska tentu sedang sibuk juga dengan novel bersampul hijau daun yang sedari tadi dibacanya.
                “Ris, diaaa!!!” tiba-tiba teman dihadapannya itu memukul-mukul tangan Riska memberi tau sesuatu.
                “Apaan sih?”
                “Mas Tamaaa!!!”
                Riska menoleh, dan mendapati punggung laki-laki itu menjauh. Kapan lewat sini? Pikirnya. Semakin lama punggung yang Riska amati itu makin menjauh.
Sebuah pesan singkat masuk di ponselnya.
Mas Tama : serius amat baca bukunya dek, hehehe
Ada sepucuk senyum di bibir Riska. Mungkin mas Tama ada modus juga untuknya. Pikirnya.
***
                “Sel, dia sel!” kali ini, Riska yang memukul-mukul tangan Selly karena tak sengaja melihat laki-laki itu di sudut dekat mading sekolah.
                “Eh iya.” Jawabnya singkat. Dia pasti tau apa yang Riska pikirkan.
                “Ke mading yuk.”
                “Ngapain?”
                “Bentar doaaang.”
                Riska menarik lengan Selly yang malas. Menuju ke mading sekolah dan, wajah laki-laki itu semakin jelas.
                “Udah duduk sini aja gue capek.” Kata Selly.
                “Hahaha iya deh udah.”
                Mereka berdua duduk lesehan di sekitar mading itu. Riska tetap membiarkan bola matanya menoleh lagi ke belakang, memandang ke segala arah takut-takut kalau laki-laki itu menghilang dari peredaran pandangannya.
                Laki-laki itu keluar dari kantor ruang guru. Riska menangkap sinyal jika teman di samping laki-laki itu mengajaknya untuk lewat jalan depan musollah sekolah saja, namun ternyata laki-laki itu menolak, dia mengajak temannya melewati koridor mading sekolah.
                “Dan bisa gue pastiin, tuh anak pasti lewat sini.”
                “Sumpeh lo.” Kata Selly lelah.
                “Satu, dua, tiga...”
                Muncul laki-laki itu dengan temannya yang tadi berjalan di samping Riska. Selly jelas melongo.
                “Kontak batin Ris?”
                “Haha, liat nih. Satu, dua...”
                Belum sampai hitungan ketiga, laki-laki itu sudah menoleh untuk menyapa Riska.
                “Haha itulah alasan gue ajak lo kaya begini.”
                “Gilak...”
                “Dia pasti nyapa gue.”
                Riska dan Selly meninggalkan mading itu. Senyumnya mengembang. Seru juga mempunyai modus seperti ini. Mas Tama? Mungkin sama, hahaha...

Modus : suatu cara yang dipakai seseorang
untuk tujuan tertentu tanpa diketahui
oleh orang lain  yang ditujunya.
Suka pakai cara ini kawan?
jangan menyerah! :D