Monday, November 19, 2012

Aku modus, dan kau juga!!


                Dalam kerumunan barisan yang serong kanan di depan kelasku ini, mata Riska mencoba mengamati setiap wajah dari mereka. Memang samar-samar. Tapi Riska tau yang mana dia, dan sungguh apa-apaan ini. Tak ia dapati sosoknya. Matanya tak merekam bayangannya. Kemana dia? Sesekali bola mata Riska menangkap wajah seseorang yang terlihat dari samping, mungkin itu dia. Lama kelamaan Riska menyadari, itu bukan dia. Lalu kemanakah dia?
                Sampai pada akhirnya Riska menyerah. Sudahlah mungkin ia tak mengikuti rutinitas awal hari Senin ini. Begitu pikirnya. Riska menghentikan putaran bola matanya yang sedari tadi mengisyaratkan jika laki-laki itu pasti ada dalam barisan.
                “Ris, di cari mas Tama tuh.” Kawan Riska di belakangnya yang berkata demikian.
                “Hah?”
                “Itu dia baris di belakang mas Dicky.”
                Itu dia! Riska menemukannya. Tapi dasar modus, dia hanya melihatnya sekilas dan tak memandang lelaki itu lagi. Cukup tau laki-laki itu dimana, dan Riska bisa lega. Kadang Riska masih mencuri pandang barang hanya sepersekian detik. Modus. Sangat amat modus yang terselubung, tapi tetap lucu.
                Upacara hari itu usai. Riska masih bisa memandang laki-laki itu dan entah karena kontak batin atau apa, lelaki itu menoleh. Melemparkan seulas senyum untuk Riska dan pasti, Riska tidak menyangka.
***
                Sebuah novel dipinjam Riska untuk sedikit menghiburnya di rumah. Sebagian dibacanya di sekolah terlebih dahulu. Entah kenapa tiap Riska keluar dari kelasnya, hasrat ingin bertemu dengan laki-laki itu selalu muncul walau hanya sekejap saja. Begitupun di perpustakaan sekolahnya, dia hanya mendapati teman-teman lelaki itu yang ada di dalam, sedangkan yang di cari malah tidak ada.
                Riska tak membeli apa-apa di kantin, hanya menemani sahabatnya saja yang sedang sibuk dengan mie instan di depannya. Sedangkan Riska tentu sedang sibuk juga dengan novel bersampul hijau daun yang sedari tadi dibacanya.
                “Ris, diaaa!!!” tiba-tiba teman dihadapannya itu memukul-mukul tangan Riska memberi tau sesuatu.
                “Apaan sih?”
                “Mas Tamaaa!!!”
                Riska menoleh, dan mendapati punggung laki-laki itu menjauh. Kapan lewat sini? Pikirnya. Semakin lama punggung yang Riska amati itu makin menjauh.
Sebuah pesan singkat masuk di ponselnya.
Mas Tama : serius amat baca bukunya dek, hehehe
Ada sepucuk senyum di bibir Riska. Mungkin mas Tama ada modus juga untuknya. Pikirnya.
***
                “Sel, dia sel!” kali ini, Riska yang memukul-mukul tangan Selly karena tak sengaja melihat laki-laki itu di sudut dekat mading sekolah.
                “Eh iya.” Jawabnya singkat. Dia pasti tau apa yang Riska pikirkan.
                “Ke mading yuk.”
                “Ngapain?”
                “Bentar doaaang.”
                Riska menarik lengan Selly yang malas. Menuju ke mading sekolah dan, wajah laki-laki itu semakin jelas.
                “Udah duduk sini aja gue capek.” Kata Selly.
                “Hahaha iya deh udah.”
                Mereka berdua duduk lesehan di sekitar mading itu. Riska tetap membiarkan bola matanya menoleh lagi ke belakang, memandang ke segala arah takut-takut kalau laki-laki itu menghilang dari peredaran pandangannya.
                Laki-laki itu keluar dari kantor ruang guru. Riska menangkap sinyal jika teman di samping laki-laki itu mengajaknya untuk lewat jalan depan musollah sekolah saja, namun ternyata laki-laki itu menolak, dia mengajak temannya melewati koridor mading sekolah.
                “Dan bisa gue pastiin, tuh anak pasti lewat sini.”
                “Sumpeh lo.” Kata Selly lelah.
                “Satu, dua, tiga...”
                Muncul laki-laki itu dengan temannya yang tadi berjalan di samping Riska. Selly jelas melongo.
                “Kontak batin Ris?”
                “Haha, liat nih. Satu, dua...”
                Belum sampai hitungan ketiga, laki-laki itu sudah menoleh untuk menyapa Riska.
                “Haha itulah alasan gue ajak lo kaya begini.”
                “Gilak...”
                “Dia pasti nyapa gue.”
                Riska dan Selly meninggalkan mading itu. Senyumnya mengembang. Seru juga mempunyai modus seperti ini. Mas Tama? Mungkin sama, hahaha...

Modus : suatu cara yang dipakai seseorang
untuk tujuan tertentu tanpa diketahui
oleh orang lain  yang ditujunya.
Suka pakai cara ini kawan?
jangan menyerah! :D

1 comment: