Thursday, November 15, 2012

Jingga ikut tersenyum


                “Kau masih menyayanginya?”
                “Maaf...”
                “Aku tak memaksa apapun padamu. Baiknya aku yang mengalah.”
                “Tapi aku tak ingin kehilanganmu.”
                “Aku tau sayang. Sudah ya aku ingin tidur. Selamat malam pemilik hatiku.”
                Bagus menutup ponselnya. Getir rasanya. Sudah 8 bulan lamanya Bagus menjalin hubungan dengan Sinta. Tapi kenyataannya selama itu pun Sinta masih belum bisa mengalihkan hatinya dari Aldi. Dalam sunyinya malam itu, Bagus memejamkan matanya, dengan ditemani Jamrud yang mengalunkan lagu Pelangi di matamu. Di mata Sinta.
***
                Terik siang hari itu sangatlah menyengat. Sampai rasanya kulit serasa  melepuh. Dalam kegaduhan kelas saat itu, muncul sebuah telepon mengejutkan.
                “Hallo.” Sapa seorang di seberang sana.
                “Hai.” Jawab gadis itu ceria.
                “Siang yang terik ya.”
                “Memang. Haha.”
                “Aku ingin bertemu denganmu sore ini. Bisa?”
                “Untukmu? Tentu saja.”
                “Ku tunggu di tempat biasa ya, daah.”, kata seseorang itu mengakhiri teleponnya.
                “Oke bye.”
                Dari nada bicaranya, Vina tau Bagus sedang tidak baik-baik saja. Ada sesuatu yang ingin diceritakan. Sesuatu yang besar.
***
                Di perjalanan singkat menuju tempatnya bersama Vina, dia memikirkan banyak hal. Tentang bagaimana bagaimana dan selalu bagaimana. Tak sengaja, seseorang di sudut jalan itu mengusik pandangan Bagus. Sejenak, dia menemui sebentar seseorang itu.
                “Hai.” Sapa Bagus ramah. Bagus jelas mengenal siapa sosok orang itu.
                “Bagus.” Kata wanita itu terbata-bata.
                “Oh ada Aldi, apa kabar di?” sapa Bagus kepada Aldi juga.
                “Baik gus.” Jawab Aldi menutupi gugup.
                Dan jelas, Sinta terdiam. Tak mengerti apa yang harus ia katakan lagi.
                “Kebetulan kita bertemu di sini Sinta. Sebetulnya aku ingin bicara padamu, tapi ku katakan sekarang saja bagaimana? Selagi kita masih sempat bertemu. Hehehe...”
                Sinta menunduk. Terdiam.
                “Aku ingin pergi darimu. Aku tau kalau aku bukanlah lelaki terbaik untukmu Sinta.”
                “Tapi Gus...”
                “Sudahlah, kau sudah menemukan bahagiamu sendiri. Aku juga ingin sepertimu.” Kata Bagus sambil mengukir senyum getir di bibirnya.
                Sinta semakin menunduk. Terdiam.
                “Aku pergi ya. Ada yang mau ku temui. Bahagialah Sinta. Kau bahagia, aku akan lebih bahagia. Daaah..” pamit Bagus.
                “Di, duluan yaa..” pamit Bagus juga kepada Aldi.
***
                “Aku sudah tau semuanya.”
                “Maksudmu?”
                “Aku sudah menemukan jawaban atas segala sesuatu di dirinya.”
                “Lantas?”
                “Aku tau dia bukan yang terbaik untukku, dan aku bukanlah lelaki yang terbaik untuknya.”, kata Bagus. Senyumnya pahit. Getir. Mencoba menganggap semuanya baik-baik saja.
                Vina tercengang. “Sabar Gus. Aku bingung harus berkata apa.”
                “Kau tidak perlu berkata apa-apa Vin. Dia bukan untukku, begitupun aku bukan untuknya.”
                “Kau baik-baik saja?”
                “Aku sangat baik-baik saja sejak segala ceritaku selama ini ditemani olehmu.” Jawab Bagus tegas. Tangannya menggenggam punggung tangan Vina di atas meja itu.
                Sore itu menjadi sore yang tak pernah terpikir oleh Vina. Jingganya lain. Cerah. Langit tampaknya ikut mewakili apa yang Vina rasakan. Burung-burung pun kembali ke sarang dengan gaduh. Jingga senja tak terlupakan...

No comments:

Post a Comment