Saturday, November 24, 2012

Ku temukan sosok ayah


                Berjalan sendirian, hanya di temani angin semilir menuju pintu depan rumahku. Awan menggelayut manja di langit. Sedikit redup, namun teduh. Setidaknya suasana sedamai ini sedikit menyibakkan kabut yang menggelayut di benakku.
                ”Assalamualaikum...” ku buka daun pintu itu.
                “Waalaikumsalam. Cintaku sudah pulang.” Jawab ibuku yang sepenuhnya memprioritaskan cintanya untukku.
                Bersyukur sekali mempunyai ibu seperti beliau yang selalu mengerti ada pelangi atau awan hitam yang sedang menggelayut di hatiku setiap saat. Bersyukur Tuhan menganugrahkanku seorang malaikat hebat seperti ibu.
                Daun pintu yang baru saja ku lewati tiba-tiba bersuara gaduh. Ada yang menggedor kasar dari luar. Pasti lintah darat itu lagi, pikirku. Dasar manusia tak punya pri kemanusiaan. Telat sehari bayar kontrakan saja moncong kerasnya itu sudah mengaum.
                “Kau di sini saja sayang, jangan keluar.” Kata ibuku.
                Aku menurut, namun tetap terdiam. Mengawasi ibuku yang mengambil sesuatu ke kamarnya sebelum membuka pintu. Tapi telingaku tetap menolak keras ada suara ribut seperti itu. Aku heran, kenapa pemilik kontrakan rumahku ini betah sekali jadi lintah darat seperti itu. Ku lihat ibuku sudah kembali membawa beberapa lembar uang. Reflek tanganku menahan ibuku yang berjalan cepat-cepat menuju pintu depan.
                “Iya sayang?”
                “Hati-hati bu.”
                Ibuku hanya tersenyum sabar menyatakan ia akan baik-baik saja.
***
                “Ibu kenapa betah sekali sih tinggal di sini?”
                “Tidak ada pilihan lain sayang.”
                “Kita bisa kembali ke rumah ayah. Kebetulan sekarang aku kangen ayah bu.”
                “Hentikan Dinda.”
                “Kenapa? Apa ibu tidak merindukan ayah? Aku tau hati ibu masih jelas tertera nama ayah.”
                “Dinda!”
                Aku menghentikan makanku. Menatap ibu yang mulai kesal dengan perkataanku. Aku pun terdiam. Ibu juga sepertinya menyesal sudah membentakku.
                “Ibu tidak bisa Dinda.” Pahit rasanya saat ibuku mengatakan itu lagi.
                “Tapi aku juga tidak ingin ibu dibeginikan terus oleh rentenir itu.”
                “Biarlah, asal ibu tak kembali dengan ayah.”
                “Ibu, maaf. Aku tak bermaksud seperti itu. Aku hanya tak ingin...”
                “Sudah Dinda, habiskan makananmu sayang.”
                Ibuku beranjak dari kursi makannya, berlalu meninggalkanku dengan sedikit gundah di hatinya. Entah itu sedikit atau tidak, yang jelas ia gundah.
***
                “Aku lelah mas.”
                “Sabar Dinda.” Jawabnya sambil mengelus lembut kepalaku.
                “Perceraian ibu dan ayah membuat gundah selalu cepat datang, membuat pagiku selalu berkabut, dan ah...”
                Jari telunjuknya menyentuh bibirku.
                “Kau lihat banyak anak kecil yang mengamen di perempatan? Atau yang di panti asuhan?”
                “Uhum..”
                “Kau lebih beruntung dari mereka sayang. Bersyukurlah.” Kata mas Reza. Entah mengapa dia selalu bisa menyejukkan hatiku. Batinku.
                “Terimakasih mas.”
                Kusandarkan kepalaku ke lengannya. Berbincang dengannya saja sudah hangat. Ditambah lagi dengan sifat dewasanya. Ku semakin merindukan sosok ayahku, yang ada dalam dirinya. Terimakasih mas Reza, terimakasih sudah menjadi sedikit ayah yang melindungiku dan ibu...

ayah, ku temukan sosokmu
ku temukan walau hanya secuil
dalam dirinya, dalam diri
seorang mas  Reza...

No comments:

Post a Comment