Sunday, November 18, 2012

Mengingatnya

                Mengingatnya itu bukan sesuatu yang menyesakkan untukku. Mengingatnya itu berarti bentuk rasa syukurku. Mengingatnya itu merupakan obat rinduku. Dan entah kenapa tiada hari yang kulewati tanpa mengingatnya di otakku. Bukan menangis, tapi malah tersenyum mengangankan kembali pada kisah lampau. Pada cerita yang sempat ku buat dengannya. Semua ingatan itu manis. Manis sekali. Tak ada satu pun yang terlewatkan.
                Memandang ke segala sudut tempat ini, aku selalu bisa mengingat segala hal tentangnya. Senda gurau yang ku ciptakan dengannya, banyak untaian cerita yang dia tunjukkan untuk ku dengar, dan apapun. Masih teringat jelas bagaimana ia tersenyum, bercerita, makan dan minum di tempat ini. Kadang bisa jadi menggebu-gebu, berbunga-bunga, kadang bisa menjadi seketika diam dan malas.
                Sambil ku pandangi cappucino hangatku yang bertuliskan namanya di permukaannya, rasanya malas sekali untuk ku minum. Pasti hilang jika minuman ini masuk ke saluran pencernaanku. Ku pandangi permukaan cangkirku, bibirku tersenyum simpul. Menghela nafas yang melegakan, menarik, kemudian menghembuskan lagi, dan seterusnya. Bersyukur sekali ku bisa mengenal siapa dia.
                Di luar udara sangat dingin, biasalah musim salju sudah masuk fase pertengahan. Selain mantel yang selalu membungkus rapih tubuhku, ku sambi dengan mengingatnya saja itu sudah menghangatkan badanku. Ingat saat ia menggenggam tanganku, ingat saat ia tertawa lepas bersamaku, ingat segala kata bijak yang keluar dari bibir manisnya, dan ingat lagi segala tentangnya.
                Aku bingung, sekaligus bersyukur kenapa Tuhan menempatkanku pada garis yang sedemikian ini. Tuhan menghadiahkan dia saat dimana aku benar-benar butuh seseorang sepertinya. Aku penasaran, apakah nantinya akan baik-baik saja? Apakah nantinya aku tetap mengenalnya dengan baik seperti sekarang ini? Apakah nantinya dia akan tetap mengingat segala hal bersamaku seperti aku sekarang sedang mengingat segala hal tentangnya?
                Seseorang mengejutkanku dengan bantalan tangannya yang menyentuh pundak kananku.
                “Hai, sudah lama?”, tanya lelaki itu.
                “Ah baru saja. Tak terasa saat semua ingatan tentangmu muncul.”, jawabku sambil memamerkan senyuman manis. Dia juga membalas dengan senyuman khasnya.
                “Hei namaku.”, kata lelaki itu saat melihat permukaan cangkirku. Aku membalasnya dengan sedikit meringis. Dan dia sepertinya tak peduli namanya ada di mana.
                “Kenapa?”
                “Tak apa, lucu juga jika ada di situ.”
Setelah itu, lelaki di hadapanku ini memesan minuman yang sama denganku. Dan yang tak ku mengerti, dia membisikkan sesuatu pada pelayan cafe itu.
“Kau membisikkan apa barusan?”, tanyaku.
“Pentingkah untukmu?”, jawabnya dingin, tapi tetap istimewa.
“Dasar kau memang selalu begitu.”, kataku sambil pura-pura meniup cappucinoku.
“Minumanmu sudah setengah dingin, untuk apa lagi kau tiup.”, sepertinya dia tau sekali.
                Selang 10 menit kemudian, seorang pelayan mengantarkan cappucino yang di pesan laki-laki ini. Dan saat ku lihat apa yang dia pesan, saat itu juga aku tau apa yang dia bisikkan ke pelayan tadi. Aku tercengang.
                “Sudah tau bukan apa yang ku bisikkan?”, tanyanya meledekku sambil tersenyum jail.
                “Kau jahat.”
Ada sesuatu yang meletup-letup saat itu di dalam dadaku. Entah itu apa aku juga tidak mengerti. Aku bahagia di buatnya. Di permukaan cappucino itu bertuliskan namaku, manis sekali. Dia tersenyum, menggenggam tanganku. Dan ini, menambah satu lagi daftar ingatanku tentangnya.

No comments:

Post a Comment