Sunday, November 18, 2012

Susah jauh, walau ada Sarah


                Kegaduhan malam itu, dihiasi dengan banyaknya berbagai jenis kendaraan berlalu lalang di depan jalan raya besar itu. Aku memasuki ruangan pribadiku, iseng saja hanya ingin menengok ada sebuah kabar atau tidak di ponselku.
                Ada sebuah BBM yang masuk.
                Anto : aku lagi males nih
                Aku : males kenapa?
                Anto : nggak tau
                Tiba-tiba, seperti di tunjukkan sesuatu, pada status bar akun Anto, dia menuliskan nama seorang perempuan yang memuakkan untukku. Sarah Ika Dirsandha.
                Aku : eciyee ada yang kangen mantan nihh
                Anto : maafkanlah aku ku coba lupakan semua yang pernah kita lewati, bukan karena aku tak mencintaimu karena aku tak pantas bagimu. Kangen Sarah,  nyesel banget jadian sama Tya...
                Aku : hahaha kenapa baru nyesel sekarang cobak
                Anto : dia putus bener2 pengen fokus ke pelajaran, dan aku dulu udah bilang “iya aku bakal nungguin kamu Sar tenang aja” aku kira alesan dia putus buat fokus ke pelajaran aku kira bullshit doang ternyata beneran, waktu aku pacaran sama Tya ternyata Sarah marah sama aku karna aku uda bilang nunggu tapi nggak nunggu, dia nangis sakit hati aku pacaran sama Tya, aku tau ini semua dari Dyah. Guoblok banget ya aku, orang sebaik dia tak gituin gilak. Dia satu2nya orang yang bias hargain perasaanku tapi kenapa aku ga bisa hargain perasaan diaa...
                Dan demi apapun aku muntab malam itu. Bagaimana bisa dia menyampaikan kata-kata tentang Sarah di depan mataku. Bagaimana bisa dia memberikan pengakuan akan menunggu Sarah saat ia juga menungguku. Tapi aku masih berusaha menutupinya. Aku tak bisa tiba-tiba harus memberinya murka yang berlebihan. Aku benci seseorang yang bernama SARAH dari dulu. Dari pertama kali aku tau dia dekat dengan Anto. Walaupun Anto sekarang memang hanya berstatus mantan, rasa itu sukar sekali ku hilangkan. Firasatku kadang-kadang masih bisa kuat tentangnya. Santai saja.
                Aku : oh gitu.. kamu juga bilang kata2 yang sama kan ke aku? “Aku nunggu kamu”. Ke siapa lagi kamu bilang? Haha yasudah. Trus sekarang Sarahnya gimana ke kamu? Katanya kamu uda ga ada rasa sama dia.
                Anto      : tapi waktu aku masih sama Sarah dulu kan, dia itu bener2 orang yang konsekuen dan bisa diandalin, sedangkan kamu? Plin plan. Aku sendiri juga pikir2 bilang gitu bentaran kamu suka ini, bentaran kamu suka ini, aku ga bilang kata2 itu ke siapa2.
                Aku : ke aku doang sm Sarah yaa. Berarti sekrang kata2mu nggak berlaku buat aku
                Anto : aku gak tau. Aku bilang apa? Aku capek sakit hati.
                Aku : aku nggak tanya itu. aku udah tau. Dan kalau aku nggak tau kamu capek sakit hati, nggak mungkin aku sebegitu aku sayang kalo mau deket sama cewek yang ujungnya bakal nyakitin kamu. Dan kenapa nggak tau? Yah kalo emang Cuma kata2, buktikan saja untuk dia yang memang benar2 kau yakin untukmu. Jangan kau sumbang untuk orang lain, yang bahkan sudah lebih menyakitimu.
                Kata-kata balasanku mulai tak terkendali. Relung hati ini sepertinya tiba-tiba menciut, terlalu banyak kata-kata untapan yang di keluarkan tanpa bersuara. Lelaki ini bajingan, bangsat, dan apapun yang lainnya. Walaupun dalam hati yang terkecil masih menyebut kalau aku juga penyebabnya, aku juga salah, tak hanya dia, tapi semua itu dikalahkan dengan ego yang sangat besar. Tak terkira.
                Anto : ya banyak emang yang bilang ke aku lupakan seseorang yang nyakitin lo, tapi kenapa nggak bisanya ke Saraaaah, okelah ke kamu aku bisa kamu uda punya seseorang terbaik juga di hatimu, tapi aku ngerasanya Sarah itu gimana gitu, baik banget, ga pernah marah, nerima apa adanya, ga aneh2..
                Aku : emang aku pernah bilang udah  nemu yang terbaik gitu? Yang terbaik itu ntar suamiku tuh, itu  baru yang terbaik. Kalo sekarang? Bahh, ya bukan apa2. Toh kamu nggak tau sama sekali ceritanya gimana. Balik aja deh sana sama Sarah.
                Aku sendiri tak mengira mengapa kata-kata yang amat sangat tak berguna itu bisa tiba-tiba ku tulis dan ku kirimkan untuknya, kata-kata yang tak pernah ku inginkan dari dulu.
                Anto : udah telat, impossible. Dia uda punya seseorang.
                Aku : trus, aku heran deh, aku beda dia beda. Kamu katanya nih masih cintalah sama aku, dan sekarang? Bilang pengen balik sma Sarah.
                Anto : ya emang ke kamu masih cinta di biang masih pasti ada. Tapi tiap aku ngarep ke kamu juga hal yang nggak mungkin, kamu yang ngga mau pacaran lah, kamu yang suka ini suka itulah... otomatis aku kan juga setengah hati.
                Oke, sekarang semua tudingan itu mengisyaratkan bahwa dalang dari semuanya adalah aku, aku, dan selalu aku! Aku heran entah mengapa dia mempunyai kegemaran untuk mencari-cari apa saja kejahatanku.
                Aku : oke see. Dan akunya emang sampai detik ini belum minat punya pacar. Katanya uda nggak punya rasa sama Sarah. Ternyata?
                Anto : munafik banget aku. Yah emang susah dapet orang kayak dia. Udah deh bosen ngomongin tentang cinta
                Dan sesuatu itu datang. Sekarang aku tahu bahwa sudah sekian lama dia membohongiku dengan rapih. Memasang topeng yang hingga sulit ku baca bagaimana raut wajahnya. Sungguh tak pernah terpikir olehku sebelumnya. Hahaha, dasar lelaki!
                Aku : haha kamu bohongin diri kamu sendiri dan kamu bohongin aku. Makasih yaa..
                Anto : iya emang aku bohongin kamu. Eman g paling nyaman jalanin semua dengan enjoy
                Heii!!! Apa dia sudah gila? Atau kebetulan sedang mabuk sehingga bisa berkata-kata sepeerti itu? Sungguh tak bisa ditolerir!
                Aku : amazing! Hahaha okeoke. Santailah. Dan tanpa kamu bilang kamu bohongin aku pun, aku udah tau. Kalo aku nggak tau dan nggak berasa, nggak punya feeling kalo kamu masih sayang Sarah, masih cinta Sarah, dan otak kamu masih penuh dengan SARAH, aku nggak akan tanya berkali-kali dan nggak akan marah sampai sebegitu cuman gara2 kamu masih punya rasa atau engga sama dia. Dan sekarang, God has let me to see the truth!
                Anto : trus? Yasudah emang aku bohongin kamu, maaf ya..
                Wow! Ddengan santai ia hanya menjawab seperti itu! apa otaknya sudah tidak berfungsi lagi sehingga dia yak bisa berfikir dengan jernih? Benakku dibuat semakin muak dibuatnya, dibuat semakin sesak dengan rasa sakit yang ia berikan. Laki-laki tak berperasaan, itulah dia.
                Aku : hahaha oke aku selalu bisa memaafkan orang yang gampang berbual maaf! Udah deh, nggak capek kamu boongin aku? Udah berapa kali?
                Anto : iya maaf, kali ini serius. Percuma aku sma kamu ngomongnya banyak yang sayang sama ini, sama itu. menurutku itu smua bullshit tau nggak sih kalo toh akhirnya kita deket lagi. Semua itu nggak ada artinya di bandingin sama kenyataan yang ada kalo emang nyatanya kita nggak pernah bisa jauh. Pikir secara manusiawi deh...
                Aku tak membalas pesan terakhirnya. Muak yang sangat dahsyat sudah tertimbun bak gunung Fuji di benakku. Hampir meletus seperti gunung Anak Krakatau. Aku terdiam. Memikirkan kata-kata yang di ucapkannya di akhir pesannya. Dan aku menyadari sesuatu, aku dan dia memang sulit untuk jauh apapun masalahnya. Aku sendiri heran entah kenapa bisa seperti itu. tapi ya memang itulah, cinta, rumit.

sudah jangan cari yang lain kawan,
yakini dia baik untukmu.
terimakasih sudah mendedikasikan ceritamu
untukku :D

No comments:

Post a Comment