Monday, November 19, 2012

Tolong usir rindu ini...

Tenang sekali sore ini. Hujan pertama di kotaku, membuat kota ini jauh lebih sejuk dari sebelumnya. Rasa syukur terpanjat deras, setidaknya hujan ini sedikit melegakan hatiku. Aroma hujan pertama ini menuaikan sensasi yang sangat nyaman di dalam jiwaku. Bunyi rintikannya, menembus masuk membelai rumah siput yang haus akan irama hujan selama ini.

Mendung sudah menggelayut sedari tadi di langit. Ya, akhirnya langit juga merasakan mendung yang akhir-akhir ini menggelayut juga di hatiku. Mendung itu datang sejak aku mulai merasakan rindu itu lagi. Kenapa harus datang lagi? Bukankah sudah seharian di hari yang lalu dia menemaniku? Kenapa? Mendung itu sungguh membuat dadaku terasa berat, sesak, namun tak berimbas apa-apa pada ragaku.

Aku ingin sekali tak merasakan rindu ini lagi, hmm maksudku rindu yang menyesakkan seperti ini. Aku ingin sensasi sesaknya itu hilang, namun rindunya tetap terasa. Adakah rindu yang seperti itu? Hampir dan nyaris tidak ada. Tolong usir dan suruh pergi jauh rindu yang sedemikian ini. Bisakah kau? Aku sungguh tak bisa melakukannya! Hanya kau yang bisa. Bagaimana tidak, tampakkan wajahmu saja di hadapan bola mataku, atau setidaknya kau sedikit saja menghubungiku, mungkin mendung itu akan meruntuhkan hujan yang tertahan. Sederhana bukan?

Tanpa sengaja, dan hanya berniat melongok kembali pesan facebook lamaku, aku menemukan chatlistku bersamanya. Dan sungguh, banyak sesuatu yang istimewa di dalam sini. Kata-katanya, bisa membuatku membayangkan saat aku pada masa itu. Gurauannya yang gombal, inginnya ia bertemu denganku, semuanya dia yang meminta daaan, sangat manis! Lebih dari manis. Tapi dia istimewa, tak hanya mengumbar segala kata-katanya, saat ia ingin mecabut kembali kata-katanya itu, ia masih mengucap maaf dan permisi.

Membaca setiap kata darinya, membuatku semakin lihai merangkai kata rindu untuknya. Di mata banyak orang mungkin manis, tapi di mataku sendiri... Semuanya lebih dari manis...

No comments:

Post a Comment