Saturday, December 22, 2012

MOM I LOVE YOUUU :))))))))

saat aku hadir di dunia ini
tangisku tak tertahankan
aku takut melihat orang di sekelilingku
yang sama sekali asing bagiku
jauh sebelum ku hadir
Tuhan sudah mengenalkan siapa dirimu
Tuhan memberitahuku,
"Dialah malaikat penjagamu selama di dunia."
dan ternyata itu benar
Malaikat kata Tuhan itu kupanggil IBU
sederhana bukan?
sesederhana ibuku, pahlawanku
caramu merawatku
belaian kasih sayangmu
aku bingung Bu, harus membalas dengan cara yang bagaimana!!
sungguhlah aku bangga menjadi anakmu
buah hatimu
tolonglah Tuhan, izinkan aku membalas jasa ibuku
jadikan aku putri terbaiknya
hingga nantinya ku bisa memberi apa yang seharusnya kuberi

aku mencintaimu, ibu :)


Cuma Tuhan yang tau kamu dan aku :) (Tamat)


                “Sarah, Clara gimana? Dia baik-baik aja kan?”
                “Keadaannya masih kritis Ca.”
                Tampak raut wajah Ramon begitu kusut. Ada rasa bersalah yang hinggap dalam dirinya.
                “Mon, gimana?”
                “Emm, maaf Nan gue harus pulang. Lo bisa pulang sendiri kan? Ada keperluan mendadak. Daaah Nan.”
                Nansa diam terpaku. Ia terkejut karena Ramon meninggalkannya seketika. Ada apa sebenarnya? Kenapa Ramon tiba-tiba diam seribu bahasa dan meninggalkannya?
                “Ca, sini deh. Udah biarin aja Ramon pergi.”
                “Maksud kamu apaan Sar?”
                “Duduk dulu sini.”
                Nansa mengikuti Sarah duduk di bangku ruang tunggu rumah sakit itu.
                “Kamu mau ngomong tentang apa sih?”
                “Ramon itu mantan pacar Clara.”
***
                Hati Ramon tak tenang. Gundah, gelisah, seketika menyelimuti hatinya. Pikirannya keruh, buntu dan sulit untuk memikirkan hal-hal yang berhubungan tentang Clara. Bingung apa yang harus ia perbuat. Clara sudah membuat pikirannya begitu sesak.
                PING!!! Sebuah pesan messenger masuk ke ponsel Ramon.
                Nansa Aca : Ramon kamu tenang ya, Clara di sini baik-baik aja J
                Ramon tak ingin membalas pesan, mengangkat telpon dari siapapun sekarang. Ramon tak siap mejawab apapun pertanyaan yang tentang Clara.
                “Clara maaf.. maafin gue Ra...”
***
                “Elo anak baru di sekolah Ca. Jadi elo nggak tau sama sekali cerita Ramon sama Clara dulu gimana.”
                Nansa terdiam.
                “Ramon sama Clara dulu itu pasangan paling cocok, paling romantis, dan paling-paling emuanya deh. Ramon ataupun Clara itu sama-sama cinta dulunya. Dan dulu itu Clara nggak brutal kaya sekarang. Setau gue Clara mendadak brutal gini gara-gara ambisinya pengen balik sama Ramon.”
                “Nah emang mereka dulu putus gara-gara apa?”
                “Itu juga gue nggak begitu paham. Tapi lo tau kan, Clara itu kristiani yang taat, dan Ramon pun juga nggak kalah soleh. Mungkin bedanya mereka itu yang bikin pisah.”
                “Yang mutusin?”
                “Ramon Ca.”
                “Clara...”
                “Dan lo tau nggak kenapa dia sebegitu bencinya elo deket sama Ramon? Dia cemburu Ca, dia mikir kalo Ramon itu beneran suka sama lo.”
                “Tapi Sar, aku kan...”
                “Udah deh Ca. Gue tau kok kalo elo nggak punya hubungan apa-apa sama Ramon.”
                “Aku bingung Sar harus ngapain.”
                “Nggak perlu ngapa-ngapain Aca. Serahin semua sama waktu. Waktu lebih bisa menjawab semuanya kok.”
***
                Sudah larut malam. Jarum jam sudah menunjukkan 22:15, tapi ia baru memasuki kamarnya. Ia tak bisa langsung memejamkan matanya dan melarikan dirinya ke alam mimpi. Pikirannya terlalu keruh sekarang dan masih jelas memikirkan tentang Clara dan Ramon.
                Seorang Clara yang dulunya menjadi perempuan seutuhnya, kini brutal. Walau tak terlalu mengenal Clara, sebagai wanita Nansa juga ikut merasakan apa yang dialami Clara. Dan sejak saat ini Nansa tau mengapa Ramon selalu bersikap biasa, bahkan tak ada tanda-tanda perlawanan yang serius dari Ramon saat Clara bertindak semaunya terlebih terhadap Nansa.
                Nansa sangat ingin membicarakan hal ini kepada Ramon, menyuruhnya sejenak mendekati Clara agarperasaan Clara sedikit mencair. Tapi dalam situasi seperti ini tak ada yang bisa diperbuat oleh Nansa. Berkali-kali pesan BBM nya hanya di baca oleh Ramon namun tak ada jawaban. Berkali-kali teleponnya hanya dibiarkan berisi nada sambung dan tak muncul suara Ramon. Paling-paling jika memang muncul suara Ramon, suara itu akan terdengar sangat hambar dan datar.
                “Aku harus ketemu kamu Ramon, harus...”
***
                Pagi ini Nansa terbangun oleh dering ponselnya yang berbunyi berkali-kali. Dari Sarah.
                “Halo assalamu’alaikum Sar.”
                “Waalaikumsalam Ca. Ca, lo kesini sekarang Ca, cepetan.”
                “Hah? Kemana?”
                “Ke rumah sakit Ca. Clara kritis dan dia terus nyebut nyebut nama lo!”
                “Apa? Iya iya aku segera ke sana.”
                “Cepet ya Ca, uda waktunya. Hati-hati.”
                Tanpa buang waktu Nansa beranjak dari tempat tidurnya, dan masih berpakaian baby doll Nansa berangkat menuju rumah sakit. Jaket yang ia kenakan ditutupnya rapat tuk mengusir dingin pagi itu. Dalam hati ia berdoa semoga Clara baik-baik saja. Mobil yang ia kendarai akhirnya sampai juga di pelataran parkir rumah sakit. Nansa juga melihat mobil Ramon terparkir di sana.
                “Sarah!”
                “Ca! Ayok cepetan!”
                Sarah mengajak Nansa berlarian menyusuri lorong koridor rumah sakit. Sudah tidak ada waktu, pikir Sarah.
                “Ramon, tante...”
                Agak kaku saat Nansa sudah sampai di depan kamar inap Clara.
                “Kamu Nansa?”
                “Betul tante, ini saya Nansa.”
                “Segera masuk sayang, Clara butuh kamu.”
                Mata seorang ibu itu berkaca-kaca seperti hendak menghantarkan seseorang pergi ke tempat yang jauh.
                “Tapi tunggu tante. Tante ini mamanya Clara?”
                “Iya saya mamanya. Cepatlah temui Clara sayang. Dia membutuhkanmu.”
                Agak-agak ragu saat Nansa memasuki kamar inap Clara. Di kursi tunggu depan kamar, terlihat Ramon yang menunduk suram. Bukan sekarang waktunya memperhatikan Ramon, tapi Clara. Terlihat dokter dan perawat berseragam putih yang ada di ruangan itu. Hanya mereka, dan Nansa.
                Nansa mulai mendekati Clara. Duduk di sampingnya, dan memegang lembut tangan lemah Clara.
                “Clara, ini aku Nansa. Aku di sini Ra, dateng buat kamu.”
                Clara tidak menyahut apa-apa. Mata dan bibirnya masih mengatup.
                “Ra, maafin aku yang akhir-akhir ini deket sama Ramon, aku nggak ada hubungan apa-apa sama dia Ra. Bangun Ra, aku pengen minta maaf langsung sama kamu.”
                Kali ini gantian bola mata Nansa yang berkaca-kaca. Jemari Clara yang sedari tadi digenggam lembut Nansa memberikan respon. Walau masih lemah, ada tanda-tanda Clara akan bangun.
                “Clara, bangun...”
                Air mata Nansa setetes demi setetes mengalir melewati pipinya yang putih mulus itu. Dan tak lama kelopak mata Clara terbuka. Pelan, lemah, tapi menunjukkan kepastian.
                “Clara...”
                Saat bola mata Clara terlihat, ia menatap Nansa sejenak.
                “Nansa.” Katanya terbata-bata.
                “Clara maafin aku.”
                “Nansa, ssstt..”
                Hening.
                Dengan sisa kekuatan yang dipunya Clara, ia mulai bicara.
                “Gue yang minta maaf Nan, maafin gue soal gue yang jahat sama lo. Maafin gue.”
                “Engga Ra, engga...” air mata Nansa semakin deras.
                “Gue udah dijemput Nan, nitip Ramon ya.”
                “Clara kamu kuat! Kamu nggak boleh pergi.”
                “Maaf Nan...”
                Saat Clara ingin melanjutkan kata-katanya, suaranya tercekat seperti ada yang menarik. Suaranya lenyap. Matanya kembali menutup. Bukan tidur atau pingsan. Tapi beristirahat untuk selama-lamanya.
                “Clara... selamat jalan...”
***
                “Elo ada acara habis pemakaman ini?”
                “Kayaknya nggak ada. Kenapa?”
                “Pengen ngobrol aja sih sama lo.”
                “Boleh.”
                “Yaudah elo ntar pulang bareng gue ya, gue anterin lo sampe rumah.”
                “Oke.”
***
                “Aku masih ngerasa bersalah sama Clara, Mon.”
                “Udahlah Nan, Clara udah tenang di sana.”
                “Tapi..”
                “Dan gue sekarang yang ngomong.”
                Nansa kali ini terdiam.
                “Gue sayang elo Nan.”
                “Apa? Setelah kepergian Clara kamu bilang kaya gini? Tega ya kamu Mon.”
                “Nggak nggak. Plis jangan salah paham Nan. Gue udah suka sama lo sejak pertama kali liat lo. Dan gue ngerasa beda saat gue ada di samping lo.”
                Nansa tetap terdiam.
                “Clara jadi begitu karna tau gue suka sama lo, gue sayang sama lo.”
                “Tapi Mon..”
                “Bagi gue status itu nggak penting Nan, yang penting elo nggak risih jalan sama gue.”
                Bingung Nansa akan berbicara apa.
                “Biar orang ngomong apa Nan, gue sayang elo. Cukup. Cuman Tuhan yang tau gue sama lo gimana. Bukan orang lain.”
                “Tapi Mon..”
                “Nan.”
                Seketika mobil ramon berhenti di jalanan sepi.
                “Gue..”
                “Aku juga sayang kamu!”
                Nansa menyahut tegas. Dan memperjelas. Kali ini Ramon yang terpaku.
                “Dulu aku dan Tuhan aja yang tau gimana perasaan aku ke kamu, sekarang kebongkar deh.”
                Tawa Ramon membeludak. Bahagia sekali rasanya. Melepas segala penat yang menggantung. Beban rasa yang di angkutnya selama ini runtuh. Lega. Dan Clara, ikut tersenyum juga dari kejauhan.

TAMAT :)

Thursday, December 20, 2012

Cuma Tuhan yang tau kamu dan aku (Part 2)



                “Aneh deh Ca, masa iya tiba-tiba sepeda lo remnya blong gitu.”
                “Sar, uda deh. Masih penting ya bahas kejadian waktu itu?”
                “Ya gue kan penasaran Ca.”
                “Ya mungkin emang sepeda gue yang uda waktunya masuk bengkel kali. Uda ah jangan dipikir. Hehehe”
                Dari kejauhan nampak Clara yang berjalan menghampiri Nansa dan Sarah.
                “Hai bocah tengil. Kenapa itu kaki lo? Kok pake tongkat sih? Gak beda jauh sama orang cacat ya. Hahaha”
                “Eh kurang ajar lo! Mending pergi deh lo dari sini.”
                “Eits tunggu dulu. Emang lo siapa? Temen si bocah tengil ini? Aduh plis deh, ntar lo ikutan tengil. Haha udah deh yaa, daaah”
                Clara pergi. Entah mengapa ada rasa trauma dalam diri Nansa saat melihat wajah Clara. Setiap melihat wajah itu Nansa teringat kalimat itu lagi. Sepertinya ia memang harus membicarakannya pada Ramon. Harus, 4 mata sekaligus.
***
                “Halo assalamualaikum,”
                “Iya Nan waalaikumsalam.”
                “Mmm, Mon aku pengen bicara sama kamu, 4 mata aja, penting. Hehehe”
                “Oke oke, di mana?”
                “Di cafe biasanya deh ya.”
                “Oke. Perlu gue jemput?”
                “Nggak usah Mon, gue bisa berangkat sendiri.”
                “Tapi kaki lo Nan?”
                “Kenapa kaki gue? Ada dua kan, hehehe uda ah ntar sore ya, jam 4. Dah Ramon, assalamualaikum.”
                Belum sempat Ramon menjawab salamnya, sambungan telepon sudah terlanjur di putus oleh Nansa. “Waalaikumsalam..”
                Nggak biasanya Nansa mengajaknya bicara empat mata seperti ini. Bahkan sangat jarang sekali bagi mereka berbicara serius seperti ini.
                Tak lama, bel pintu di rumah Ramon berbunyi. Siapa itu? Pikir Ramon. Akhirnya ramon turun tuk membukakan pintu. Mata Ramon terbelalak saat ia tahu yang datang itu Clara.
                “Hai Mon.”
                “Iya, hai. Emm, masuk dulu Ra.”
                “Makasih Mon.” Rara pun masuk di iringi Ramon di belakangnya.
                “Silahkan duduk Ra. Oh iya mau minum apa?”
                “Nggak usah repot-repot Mon, aku cuman sebentar aja kok di sini.”
                Entah kenapa cara bicara Clara sekarang menjadi sangat tenang dan kalem. Berbeda dari biasanya yang sudah seperti bebek.
                “Oh oke. Ada perlu apa Ra? Tumben main ke sini.”
                “Ngga ada apa-apa kok Mon. Aku cuman mau minta maaf soal kejadian waktu itu sama Nansa.”
                “Oh itu, yaudah nggak apa. Gue tau maksud lo baik Ra. Makasih ya.”
                Kaku sekali Ramon saat mengatakan itu. Ramon tak yakin yang dikatakan Clara itu tulus atau tidak.  Dan Ramon juga menyadari perubahan gaya bicar Clara. Bukan “lo-gue” lagi tapi sudah “kamu-aku”. Ada apa ini?
                Tak terasa, matahari sudah bergeser semakin ke barat. Siang sudah berubah menjadi sore. Hingga waktu sudah tersita lama. Ramon dibuat akrab dengan Clara hingga lupa saat itu ia ada janji dengan Nansa. Clara sendiripun tak mengetahui jika Ramon dan Nansa akan bertemu. Kali ini Ramon memang jelas-jelas dibuat lupa.
                Mata Ramon terbelalak saat mengetahui jam dinding besar yang terpajang di ruang tamu. Sudah jam 5.15? Oh tidak!
                “Nansa! Anjir kenapa gue bisa sampe kelupaan sih!”
                “Kenapa Mon? Ada apa?”
                “Gue ada janji sama Nansa jam 4 sore ini.”
                “Aduh Mon, coba deh liat sekarang jam berapa. Apa dia nggak udah pulang? Mana mungkin dia mau nunggu elo sampe sejam.”
                “Aduh maaf ya Ra maaf banget. Gue harus ketemu Nansa sore ini.”
                “Kamu ngusir? Nggak usah di usir aku juga bakal pulang kok.”
                “Ra, maaf Ra. Gue nggak maksud gitu.”
                “Ga apa Mon. Gue balik dulu ya. Dah Mon.”
***
                Ramon bingung ingin mengatakan apa kepada Clara. Clara yang tiba-tiba berubah, Clara yang lain dari biasanya, Clara yang... ah sudahlah. Ramon melupakan sejenak hal itu. Ia bergegas bersiap-siap menemui Nansa. Semoga Nansa belum beranjak dari cafe.
                Mobil Ramon melaju kencang karena tak ingin ketinggalan Nansa. Jantungnya berdegup kencang takut-takut Nansa memang benar-benar sudah menghilang dari cafe. Dan selang beberapa menit kemudian, tibalah Ramon di cafe yang ia tuju. Matanya mencari-cari keberdaan Nansa. Dan akhirnya yang ia cari menampakkan diri juga. Syukurlah...
                “Nan!!!”
                Nansa menoleh menuju ke arah suara yang memanggil namanya. Ramon berlari menuju meja yang ditempati Nansa.
                “Hei. Maaf telat Nan. Gue tadi...”
                “Udah nggak usah dterusin Mon. Hehehe, aku udah tau kok.”
                “Maksud kamu?”
                “Coba kamu baca ini.”
                Nansa menyodorkan ponselnya kepada Ramon.
                Seneng bisa main di rumah Ramon :3
                “Nan...”
                “Clara main ke rumah kamu?”
                “Iya..”
                “Oh yaudah gapapa kali Mon.”
                “Tapi Nan gue udah telat dateng ke sini.”
                “Ramon, aku nggak apa.” Jawab Nansa sambil tersenyum.
                “Yaudah deh. Ngomong-ngomong, elo mau ngomongin apa sih Nan?”
                “Nggak penting sih sebenernya.”
                “Iya apa?”
                “Kamu nggak ngerasa aku jadi seorang PHP buat kamu?”
                “Elo ngomong apa sih Nan? Ya pastilah sama sekali enggak.”
                “Aku nggak enak sendiri sama temen-temen kamu Mon.”
                “Nggak enak kenapa? Elo itu nggak kayak gitu, Nansa.”
                “Aku takut dipikir jadi seorang PHP buat kamu. “
“Ssssttt. Jangan dengerin omongan mereka ya.”
                Tiba-tiba ponsel Nansa berdering.
                “Halo, waalaikumsalam.”
                “Iya Sar ada apa? Clara? Kenapa? Tuhan! Lo yakin dia Clara? Eh iya iya gue kesana Sar. Daah waalaikumsalam.”
                Nansa menutup telepon. Matanya menatap nanar. Semua seperti kilat, begitu cepat.
                “Nansa, ada apa sama Clara?”
                “Anterin gue sekarang Mon! Ke rumah sakit! Clara masuk UGD, mobilnya kecelakaan, dia koma.”
                “Apa? Clara koma?”

bersambung

Wednesday, December 19, 2012

Cuma Tuhan yang tau kamu dan aku (Part 1)


                “Heh sini lo!”
                “Iya ada apa Ra?”
                Seketika badan Nansa dihimpit perempuan tomboi ini hinga menubruk tembok, lengan tangan kanannya sudah menahan leher Nansa kuat.
                “Maksud lo itu apa? Lo itu masih murid baru disini udah brani!”
                “Ra, asli aku bener-bener nggak ngerti.”
                “Alah ga usa alesan lo! Lo liat itu sahabat gue! Lo liat! Apa maksud lo kasih dia harepan tapi ujung-ujungnya ya lo buang!”
                “Nggak Ra, nggak. Kamu salah paham. Aku nggak ada maksud kaya gitu. Lepasin Ra.”
                Dan di saat yang tepat, Ramon datang. Semua tidak terkecuali Clara dan Nansa jelas menghentikan pertikaian.
                “Apa-apaan sih lo Ra!”
                “Heh Mon, gue ini mau ngebelain elo di depan perempuan tengil ini biar elo nggak diperlakuin seenaknya!”
                “Tapi nggak gini caranya Ra!”
                “Oh gitu ya Mon! Elo gue bantuin bukannya makasih malah nyalah-nyalahin gue! Oke FINE!”
                “Ra!!”
                “Heh elo cewek tengil, penderitaan lo belum selesai!”
***
                “Kamu nggak kenapa-kenapa?”
                “Nggak papa kok Mon. Cuman kaget aja, hehehe”
                “Maafin kelakuan Clara yang nyakitin kamu kaya tadi ya Nan. Clara emang suka gitu orangnya.”
                “Santai aja kali Mon, ngga apa. Ya wajarlah dia kaya gitu, dia kan sahabat kamu, hehe”
                “Idih, kelakuannya aja kaya macan gitu, ngomong sama dia aja uda males Nan.”
                “Huss, nggak boleh ngomong gitu Mon.”
                Nansa tetap terlihat tenang walau hatinya tercabik. Apa yang dikatakan Clara masih terngiang jelas di ingatannya. “Apa maksud lo kasih dia harepan tapi ujung-ujungnya ya lo buang!” seperti itukah dia? Atau benar memang Clara yang hanya salah faham? Lekat sekali kalimat itu dalam otak Nansa, hingga sepertinya otaknya terasa kacau.
                Dari jauh Clara mengamati keduanya yang asyik berbincang di kantin. Jelas panas hati Clara. Semua bak tidak menghargainya. Padahal justru sebaliknya.
                “Awas lo Nansa, penderitaan lo belum berakhir!”
***
                Semakin hari Nansa semakin dekat dengan Ramon. Hingga ia sendiri bingung hal apa yang menyebabkan mereka dekat. Seiring waktu keduanya jadi mengetahu apa itu jarak, apa itu senggang waktu, dan apa itu merindukan. Jelas mereka merasakan. Melakukan hal-hal kecil yang menarik sudah menjadi kebiasaan mereka tanpa peduli apa kata orang. Ramon biasa menjemput Nansa di pagi hari, menemani ke toko buku, sekedar jogging di Minggu pagi atau yang lain.
                Semua itu menyenangkan bagi mereka, kecuali Clara. Usahanya mencelakai Nansa selalu gagal. Bahkan selalu luput tak tersentuh sedikitpun oleh Nansa.
                “Kali ini elo harus minggir Nan. Harus!!!”
                Minggu pagi itu Clara sengaja menguntit Nansa kemana ia pergi. Clara tak mengendarai mobil yang biasanya agar tak dikenali Nansa. Dan ternyata benar dugaan Clara. Nansa menemui Ramon pagi itu. Di alun-alun kota tempat mereka biasa bertemu.
                Sepeda Nansa yang terparkir di jajaran sepeda yang lain menjadi incaran Clara. Ide jahat itu muncul. Diambillah sebuah gunting yang ada di mobilnya dan dia mengendap-endap keluar. Sudah sampai di mana sepeda Nansa terparkir, tangannya beraksi dan alhasil, rem sepeda Nansa sudah dibuat blong oleh Clara. Dia tersenyum puas dan tak lama kembali ke dalam mobil.
                Dan tentu Clara tak ingin ketinggalan cerita. Ia tentu ingin menyaksikan bagaimana tangan kotornya itu berhasil melakukan sebuah ide kejam seperti itu.
                “Nansa sayang, selamat bersepeda ya...” kata Clara dengan senyuman iblis.
***
                Nansa menyusuri jalanan Panglima Sudirman dengan santai. Ditemani candaan Ramon yang cukup menggemaskan. Ia sama sekali tak menyadari ada keanehan yang berarti dalam sepeda yang ia kenakan. Saat Nansa tiba di perepatan jalan,  traffict light menunjukkan lampu merah, Nansa mulai susah menekan pedal remnya. Dan saat itulah Nansa merasa rem sepedanya blong.
                “Loh loh Nan berenti Nan! Lampu merah!” Ramon berteriak.
                “Nggak bisa!!! Ramon tolongin akuuu!!!”
                Semuanya tak dapat dihindari. Semua terjadi dalam sekejap mata berkedip. Dari arah kiri yang lampu traffict light nya sudah menunjukkan warna hijau, sebuah mobil tiba-tiba muncul dan...
                Braakkkk!!!
                Kaki sebelah kiri Nansa terhimpit mobil itu tentunya. Sepeda beserta tubuh Nansa rubuh ke sebelah kanan. Dan yang paling panik adalah Ramon. Si pemilik mobil juga tak tinggal diam. Ia kemudian membawa Nansa ke rumah sakit terdekat, dan beruntungnya si pemilik mobil seorang anggota polisi. Oh Nansa...
***
                “Gimana ceritanya sih Ca, sampe kamu bisa nerobos lampu merah gitu.”
                “Nggak tau ma. Tiba-tiba rem sepeda Aca blong, padahal sebelum itu Aca pake baik-baik aja.”
                Pintu kamar tempat Nansa di rawat terbuka.
                “Udah ayah periksa tuh sepeda kamu.”
                “Iya Nan, kayanya itu sambungan remnya habis dipotong deh sama orang.” Sahut Ramon.
                “Ya mana Aca tau yah.”
                Ramon terdiam. Manamungkin Clara yang melakukannya? Ia sama sekali tak melihat tanda-tanda kehadiran Clara di alun-alun pagi tadi. Tapi, ah sudahlah...
***
                Seseorang di balik pintu. Mengintip dengan senyuman iblis yang khas.
                “Ramon, sebentar lagi elo bakal jadi milik gue...”

bersambung

"Dear diary..."

hari demi hari ku lewati
ku habiskan dengan berbagai suasana
entah itu senang, sedih
entah itu tawa, atau duka

ku yakin semua tak ada yang terlewat
semua terekam di dalam suatu catatan
kecil, manis dan menarik
sesuatu yang tak pernah terlewatkan oleh hari

malam malamku selalu kuhabiskan dengannya
menelusuri kembali hari ini
dengan bermodal sebatang pensil
dan semua cukup terangkai

"Dear diary..."
kalimat pertamaku
"Hari ini..."
kalimat keduaku

dan cukuplah semua itu menjadi awalan
jemariku mulai bergerak lincah mengikuti alur cerita
perasaanku juga ikut larut oleh rangkaian kata
hatiku, yang menjadi otak sementara

agaknya lembaran-lembaran ini seperti sahabat
sahabat yang benar-benar sahabat
mengerti luka, mengerti bahagia
mengerti canda, mengerti duka

ribuan kata yang terangkai amatlah rapi
dalam selipan dan lipatan halamannya
dan sudah, semua itu sudah cukup
tuk memperjelas segala untaian rasa dalam jiwa

Monday, December 17, 2012

Tak sesederhana saat bertemu

Pertemuan pertama kita sederhana kan? Menggemaskan saat mengingatnya.

Kuingat kamu yang dulu itu sama dengan kamu yang sekarang. Sama-sama kalem, sabar, tenang badai. Sepertinya tidak ada yang berubah sedikitpun dari dirimu walau kamu menganggap kamu itu berubah.

Hujan yang mengguyur kawasan kediamanku hari ini mengingatkanku akan sesuatu. Aku dan kamu belum melewati hujan bersama-sama sekalipun ya? Bayangkan kalau misalkan di tengah hujan itu ada sosokku dan kamu. Manis tidak? Hahaha. Aku terkekeh sendiri. Ya mungkin aku iya, walaupun kamu tidak.

Tak terasa sudah beberapa bulan ini sosokmu ada di hatiku. Sosokmu yang awalnya terlihat biasa, sekarang terlihat luar biasa. Ya bukan melebih-lebihkan, tapi aku bicara apa adanya saja. Senyum dari gigi gingsulmu yang selalu secerah matahari menyinari, lesung pipimu yang selalu menciptakan lekukan wajahmu, semuanya ku ingat.

Jadi, ceritaku dan kamu tak sesederhana saat bertemu ya? Hehe

With love,
Linda Rafeby :)

Mawar putih kesukaanmu, ibu :)

aku pulang dengan hampa
inspirasi yang biasanya selalu datang dalam pikiranku
tiba-tiba menghilang entah kemana
kemana kalian? kemana?

di luar hujan
deras, bahkan sangat dengar
aku bisa merasakan butiran dingin yang menetes dari langit
sedikit menyejukkan, menenangkan

ku tengok keadaan luar sana
mataku tertuju ke segala arah manapun
butiran air menghiasi permukaan kaca
ramai, gaduh

saat diam, ku mengingat satu hal
ibuku, selamat ulang tahun
masih sempatkah aku pulang?
harus, demi ibu. demi ibu!

ku bawakan karangan bunga mawar putih
aku hafal kesukaannya
warna yang suci sesuci hatinya
selembut belai kasih sayangnya

dan semua ini begitu cepat
Tuhan menjemputku dengan naas
karangan bunga putihku ternodai oleh darah
tidak, aku tak ingin meninggalkan ibu!

ambulan, polisi, dan kerumunan warga
mereka takkan ku lupa
semoga mereka menyampaikan ucapanku pada ibu
aku mencintaimu, ibu

Sunday, December 16, 2012

PERGI SAJA KAU :)


Apa yang ku tulis, ya itu yang ku rasakan...

Celotehku malam kemarin ku hapus. Entah aku sendiri juga tidak tahu ada angin apa yang tiba-tiba lewat membawa gumpalan ingatan tentang masa lalu yang itu. Sakit. Tapi percuma seorang seperti dia yang hatinya keras dan lebih keras dari batu itu bisa merasakan juga. Sampai sekarang jika ku buka catatan itu ada emosi yang menggebu. Itu lah alasan kenapa tak ku pajang lagi kalimat-kalimat itu.

Sepertinya semua tentangnya itu sudah tak penting di ingat. Dia orang jahat bukan? Jadi buat apa aku mengingat seseorang yang tidak baik padaku, untuk apa aku mengingat seseorang yang menjadikanku bagai sampah! Dia pikir dia sempurna? Atau bisa menjadi dambaan hati para wanita? Hahaha sepertinya itu salah! Bukti membuktikan saat ini pun ia tak di temani wanita siapapun. Apa namanya? Karma kah? Atau apa?

Sampai sekarang tak ku dengar sepatah kata maaf dari mulut manisnya. Sepertinya memang merasa dia tak punya salah apa-apa. Hahaha, lucu. Biarlah. Toh Tuhan sudah memberiku seseorang lain untuk mengisi ruang hatiku kan. Aku justru bersyukur tak dibiarkan berlama-lama denganmu. Mau jadi apa hatiku jika kau tetap bersarang di sana?

Fiuuuhhh.. mengingat batman itu salah satu bentuk rasa syukurku. Terimakasih Tuhan sudah menghadirkan seseorang sepertinya. Ya walaupun dihadirkan dalam kondisi dan situasi seperti ini, tapi tetap saja rasanya istimewa. Yang mengajariku tuk jadi dewasa, yang memberiku petuah-petuah sederhana, yang memberiku senyuman khasnya, dan apapun! Aku bahagia mengenalnya :)

Tuhan, terimakasih banyak ya sudah menghadirkan seorang batman untuk mengisi relung hati ini. Biarkan yang lalu pergi. Bersihkan bayangan seorang yang jahat dalam pikiranku Tuhan. Aku sama sekali tak ingin mengingatnya, apalagi mengingat ceritaku dengannya. Terimakasih sudah menjadikanku manusia sabar. Terimakasih sudah menjadikanku seseorang yang ikhlas akan segala hal :)

pergi saja kau pergi tak usah kembali
percuma saja kini hanya memendam perih
buang saja semua cinta yang kau beri
perasaan tak mungkin percayamu lagi
cukup tau ku dirimu, cukup sakit ku rasakan kini :)

Saturday, December 15, 2012

Menertawai lucunya masa laluku

mengenang yang dulu itu
lucu rasanya
menertawai yang dulu itu
ada rasa geli yang menggelitik

aku mengenang masa laluku
ya lucu, sangatlah lucu
di depan apa yang ku baca
aku menertawakan diriku sendiri

dulu memang aku menunjukmu
meraung di hadapanmu
sambil berkata
"Kau yang salah! Kau!"

dan sekarang semua itu ku tertawakan sendiri
menyadari semua tak ada yang salah
dan sekarang semua itu lucu
bahkan lebih dari lucu

dahulu itu pembodohan
bagaimana bisa ku mau memberi hati
pada orang bodoh dan membodohiku?
berarti aku juga bodoh, begitukah?

hahaha.. sudah hentikan!
rahangku nyeri
otakku keruh penuh ingatah yang sama keruhnya
hapus! buang yang jauh!

sudah jangan hidup di masa lalu cinta!
itu semua sudah busuk
tak jauh berbeda seperti sampah
sudah tak layak!

ada cinta di sana
ingin ku menjemputnya
agar aku bisa menertawakan sekali lagi
lucunya masa laluku

Thursday, December 13, 2012

belajar!! #5

kali ini belajar ngefoto model :D lensa dapet minjem, foto dapet ajiib :D






model by : NovitaPhie dan Yulfa :D

Wednesday, December 12, 2012

ini 12-12-12 ku, apa 12-12-12 mu? :)


                12-12-12. Tanggal yang cantik bukan, ya memang. Dari sebelum aku membuka mata di tanggal 12 pagi saja, berbondong-bondong orang memperbarui staus jejaring sosialnya dengan tanggal cantik tersebut. Aku memandang biasa. Serba biasa. Tanggalnya saja yang cantik namun harinya juga pasti sama. Tak beda dengan hari-hari sebelumnya.

                Sedikit lebih panjang hari ini untukku. Entah mengapa itu sebabnya. Aku bisa menemukan tempat bagus untuk hunting foto, aku melihat derasnya hujan yang mengguyur sore hari ini, merasakan dinginnya hawa kota dan rumahku, dan sebagainya. Bersyukur sekali hujan mengguyur dengan sangat amat deras hari ini. Biarlah. Biar butiran dari hujan mengusir penat yang menggelayut manja di tubuhku. Saat aku kembali pulang menembus hujanpun, entah kenapa mata sayuku tidak dapat membohongi guratan kerinduanku pada Batman. Dan hingga aku menyimpulkan bahwa hari ini di tanggal 12-12-12 aku memang merindukanmu, merindukan Batman.

                Saat ku rebahkan tubuhku. Merelaksasikan otot-otot yang menegang, ponselku berdering. Siapa yang menelpon? Batinku. Mungkin ayahku, dugaanku. Tapi ternyata salah besar. Wow, ada Batman datang menelepon. Hanya untuk menanyai, “Lagi di mana? Nggak les?” dan sudah, hanya seperti itu. Tapi entah darimana ku dapatkan sensasi sedahsyat ini. Saat ku baru tahu ternyata dia mengirimiku sebuah sms, dan tak ku balas hingga dia menelponku, semuanya bagai mimpi. Rasanya aku ingin melompat tinggi menembus langit. Tuhan ini sungguhan. Aku tak bermimpi sedikitpun. Dan otomatis ku balas smsnya. 1 sms terkirim, tak ada jawaban. 2 sms terkirim, tetap nihil respon. 3 sms terkirim barulah ada pertanyaan “Uda selesai kan kmu ujiannya?”. Oh tentu. Ada apa ya? Perasaanku berkata lain, tapi entah aku tidak merasa keganjilan apa-apa. Karena mungkin terlalu bahagia hingga hanya sms dan suaranya saja sudah sedikit melumerkan kerinduanku terhadapnya.

                Entah selang beberapa menit kemudian, ada satu pesan lagi yang masuk. Tetap sama kali ini dari Batman. “Aku udah di depan.” Oh MY!!! Apa-apaan ini. Ku intip dari gorden yang menutupi cendela ruang tamu kediamanku. Dan memang benar yang ada di balik pagar itu Batmaaan!!! Demi apapun, aku bingung setengah panik. Kejutan lagi. Entah untuk keberapa kalinya. Makin bahagia lagi aku saat ia mengatakan, “Aku kan kesini pengen nyenengin kamu.”. Apa? Amazing! Dan ada lagi saat ia mengatakan, “Ya masa di awal nyemangatin eh pas udah selesai nggak disamperin.” See. Dia bahkan tak mau aku memaksanya bercerita tentang segala yang membuatnya murka kala itu. Oke, ku tahan segala rasa penasaranku itu. Tetap sangat bahagia. Siapa sangka bahkan aku pun tidak. Melongo dan salting sendiri aku jadinya. Setelah seminggu lamanya aku merasa banyak kecuekan yang bersarang dalam dirinya, smsku yang tak dibalas, atau yang lainnya, tiba-tiba datang membawa kejutan. Manis, sekali. Dan apapun darinya, itu istimewa.

Tentu, ya tentu aku sangat bahagia. Yang awalnya ku anggap 12-12-12 itu bukanlah hari yang spesial mendadak pada akhirnya Tuhan ternyata sudah membuat skenario cerita yang spesial. Dan tentu saja ini membuat hariku berubah menjadi spesial pada akhirnya. Hatiku tak beban, plong rasanya. Bebannya hilang entah lenyap ke dunia bagian mana. Jangankan bertemu, membaca sms darinya saja sudah membuat bibirku terkembang, dan Tuhan sudah memberikan kejutan lain untukku. Lebih indah dan sangat indah. Terimakasih anyak ya Allah. Kapan-kapan lagi ya J hehe

Di akhir pertemuanku hari ini dengannya, dia mengatakan, "Semua cerita itu pasti ada endingnya. Ntar ya endingnya aku ceritain." wow. Apa? Sad Ending, Happy Ending, or Flat Ending? Tak ada yang tau."Aku harap sih secepatnya ada ending.." "Ohmy..." penuh misteri dan sangat misterius tentunya. Ya itulah Batman :)

kejutan Tuhan itu amazing ya hehe
buktinya ceritaku hari ini happy ending
ini cerita 12-12-12 ku, apa 12-12-12 mu? ^_^
with love,
Linda Rafeby :)

Tuesday, December 11, 2012

Semua yang kamu dapat, itu yang kamu butuhkan :)

"All what you get, is all what you need.. :)"


                Itu berarti apa yang Tuhan berikan kepadaku, kamu, atau siapapun itu adalah yang kita butuhkan. Setuju? Ya harus setuju karena memang keadaannya menuntut kita seperti itu. Memang awalnya tidak ada rasa membutuhkan, awalnya juga ada rasa menolak, tapi di akhirnya nanti kita juga akan menerima segalanya kan? Karena semua akan percuma. Protes, complain atau yang lainnya pada akhirnya juga akan di tolak mentah-mentah.
                Sebagian manusia mungkin bersyukur dengan apa yang diberikan Tuhan walaupun itu bukanlah keinginannya. Tapi mungkin sebagian manusia yang lain masih sukar mengucap puji syukurnya saat Tuhan memberinya sesuatu yang tidak sesuai dengan keinginannya. Semacam apa ya? “Ah kenapa yang kayak gini sih..” begitu mungkin. Saat suatu hal tak sesuai dengan apa yang kita inginkan, saat suatu hal yang diberi kebada kita tapi kita tidak mendapatkan feel kenyamanan dari dalam diri kita, itu kah? Atau mungkin banyak lagi yang lainnya.
                Begitupun aku. Apa yang ku inginkan tak bisa ku dapat namun ku dapat yang lainnya. Saat aku menyukai sesuatu yang ku inginkan, saat aku nyaman dengan sesuatu yang ku inginkan, saat aku merasa jiwaku ada di sesuatu yang ku inginkan, semuanya tak ku dapatkan. Tuhan menganugrahiku yang lain. Dan mungkin suatu saat aku memang membutuhkan itu? Siapa tahu.
                Dari sini aku belajar. Belajar untuk menerima segala sesuatu yang telah diberikan Tuhan melalui perantara manusia. Mungkin rencana Tuhan yang baik ada pada sesuatu yang tak kuinginkan itu. Mungkin Tuhan ingin memberi tahu sesuatu jika memang apa yang Ia berikan itu adalah rencana yang baik untukku. Mungkin tak terasa sekarang, tapi mungkin dikemudian hari ada sesuatu yang baik yang datang dalam hidup. Amiiin.
                Bersyukur itu indah. Terima apa adanya juga sangatlah damai. Jangan kecil hati saat tak mendapat apa yang kamu inginkan. Tak usah berontak, atau apapun. TERIMA SAJA. Ya memang inilah hidup. Mengerti? J

With love,
Linda Rafeby :)

Monday, December 10, 2012

Danau ini istimewa ya :) #Part3 (END)


sambungan cerita dari Danau ini istimewa ya :) #Part2

                Di salah satu hari ku bertemu dengannya, entah kenapa aku merasa ada sisi ketampanan dalam diri Billy. Penampilannya berbeda dari biasanya. Yang acak-acakan menjadi sedikit rapi seperti ini. Aku tau ini tindak kesengajaan, mana mungkin Billy yang suka berpenampilan cuek tiba-tiba terlihat tampan seperti ini?
                “Elo nggak lagi mimpi kan dandan kaya begini?” kataku heran.
                “Hahaha, ada yang salah?”
                “Salah banget. Bukan elo nih Bill.”
                “Trus siapa Nesya? Setan?”
                “Yee elo.”
                Seperti biasa, dia duduk di sampingku. Bercanda denganku. Dan kali ini sorot matanya beda. Tak gundah seperti biasanya.
                “Elo kenapa sih? Tumben banget nggak jadi Mr. Galau gini, hahaha.”
                “Gue sekarang ngapelin lo, masa galau sih? Haha”
                Apa? Ngapelin? Billy, apa-apaan ini? Asli cowok yang satu ini memang penuh kejutan. Sukses membuatku melongo dan diam seketika.
                “Hello Nesyaaa...” katanya sambil melambai-lambaikan tangannya di depan mataku.
                “Eh iya?”
                Tiba-tiba dia menggenggam tanganku. Kali ini rasanya beda. Sensasinya bisa membuat jantungku berdegup lebih kencang.
                “Gue ngapelin elo.” Katanya sambil tersenyum, manis. Ya, yang kali ini senyumnya manis sekali. Tapi kemudian dia pergi.
                Billy! Selalu sukses membuatku melongo saat ia pergi. Sama seperti sebelum-sebelumnya saat ia meninggalkanku. Tapi ini lebih istimewa. Lebih lebih lebih dan lebih istimewa.
***
                Pyaaarrr!!!
                Terdengar suara piring pecah di luar sana. Ini pasti ulah Papa, begitu pikir Billy. Seperti ikan yang terpancing, Billy sudah benar-benar terpancing oleh suara gaduh di luar kamarnya. Telinganya panas. Bukan cuma Bu Hasna yang merana, Billy juga. Papa sudah keterlaluan, begitu kata Billy.
                Seketika Billy mendobrak pintu kamarnya. Berlari ke arah tangga, dan menuruninya. Namun na’as. Kaki Billy tergelincir. Tangan Billy yang saat itu tak siap, tak mampu menahan berat badannya. Semua kejadian serba tak terelakkan. Tubuh Billy bergelimpangan dari atas ke bawah. Darah mengucur deras dari hidung dan dahinya. Tentu kejadian ini membuat seisi rumah panik dan menjadi semakin tegang.
                “Billy!!!” teriak Pak Raka.
                Tak lama dan tanpa pikir panjang, mobil pribadi PakRaka sudah melaju kencang meninggalkan rumah dengan membawa Billy yang tak sadarkan diri. Billy di bawa ke rumah sakit untuk memperoleh pertolongan pertama secepatnya. Sama sekali tak peduli apapun, kecuali semua perhatian terpusat pada Billy.
                Termasuk ponsel milik Billy, tetap anteng di kamarnya. Hingga sampai muncul 3panggilan tak terjawab dan 5 sms yang sama, dari orang yang sama, Nesya.
                Nesya : Billy si cowo nyebelin, gw tggu di danau ntar sore yaa! See u J
***
                Rintik hujan yang enggan deras ini menambah syahdu dan sejuknya suasana danau ini. Aku tetap suka berbicara pada makhluk apapun di sini. Mereka yang tau saat aku tertawa, menangis, bahagia, sedih, dan lain sebagainya. Walaupun tak ada jawaban, setidaknya aku lega.
                Kali ini aku tak ada di tepi danau, takut-takut kalau hujan berubah deras. Aku berada di gubuk kecil yang ada di sekitaran danau itu entah siapa yang membuat. Aku menunggu seseorang datang. Mencoba tak bercerita dulu dengan air yang ku lihat tenang itu. berkali-kali ku melihat jam merah yang melingkar di pergelangan tangan kiriku. Kiranya sudah satu setengah jam aku menunggu seseorang menyebalkan tapi tak menyebalkan itu.
                “Billy kemana sih...”
                Ku kiriminya banyak sms namun tak ada satupun yang di balas. Tertidurkah ia dalam suasana sesejuk ini? Ku hubungi nomor ponselnya yang ku dengar hanya nada sambung dan akhirnya, “Nomor yang anda tuju tidak dapat menerima panggilan. Silahkan tinggalkan pesan atau tutuplah telepon anda.” Kemana Billy? Menghilang lagi seperti saat ia meninggalkanku di kehidupan nyata? Atau mungkin ada kejutan lain darinya? Entahlah.
***
                “Akhir-akhir ini gue nggak ngeliat Billy. Kemana ya?”
                “Seriusan Nes?”
                “Iyee.”
                “Lo seriusan nggak tau? Gue pikir lo udah tau duluan.”
                “Apa’an Din?”
                “Billy koma. Habis jatoh dari tangga.”
                “Apa lo bilang? Kenapa lo ga ngasih tau gue? Di rumah sakit mana?”
                “Ya sorry Nes, gue pikir lo uda tau. Di rumah sakit Kartika Husada Nes.”
                “Ijinin gue. Apapun alasannya. Makasih banyak Din.”
                “Tapi ulangan lo Nes?”
                “Nyusul! Bye!”
                Ku berlari mengambil tasku dengan cekatan. Entah apa yang menarikku untuk segera  menemui Billy. Meninggalkan ulangan Fisikaku, meninggalkan Dinda yang terlihat panik mencari alasan, menyogok satpam agar bisa keluar, berperang melawan kemacetan, dan apapun! Apapun untuk menemui Billy. Ingin mataku menyemburkan air mata namun ku tahan. Tidak, Billy baik-baik saja. Billy akan baik-baik saja.
                Setengah jam kemudian aku sampai di rumah sakit tempat Billy di rawat. Dengan membayar argo taksi yang lumayan aku meninggalkan kembaliannya untuk supir taksi itu saja dan melenggang pergi. Setelah menanyai mbak-mbak resepsionis yang usianya kurang lebih 4 tahun lebih tua dariku, aku langsung menuju kamar Billy. Buru-buru. Entah apa pun penyebabnya aku buru-buru, aku tak peduli yang penting bisa melihat Billy.
                “Billy...” kataku lirih saat membuka pintu kamar.
                Mataku jelas berkaca-kaca namun tak bisa menitihkan sedikitpun air mata. Bagaimana aku tega melihat seseorang yang biasa mengusir kegundahanku sekarang terpejam dengan berbagai alat bantu pernafasan di tubuhnya?
                “Kamu pacar Billy nak?” sapa seseorang lain. Dia mamanya. Aku baru sadar kalau aku tak sendirian di ruangan berbau aneh ini. Pacar? Oh bukan. Sama sekali bukan.
                “Oh maaf tante, saya nggak nyadar kalau ada tante. Bukan tante, saya temennya Billy.” Kataku seraya mencium tangan Bu Hasna.
                “Atau kamu ini Nesya?”
                “Hehehe iya...”
                “Billy sudah cerita banyak tentangmu Nes.”
                “Oh ya? Lalu keadaannya sekarang bagaimana tante?”
                “Kata dokter sudah berangsur membaik. Tinggal menunggu saatnya siuman.”
                “Syukurlah kalau begitu.”
                “Kamu ga bohong kan Nes kalau bukan pacar Billy?”
***
                Hampir setiap pulang sekolah aku mengunjungi Billy. Bercerita tentang apapun yang ingin ku ceritakan. Bercerita apapun yang belum ku ceritakan pada danau. Pada air yang tenang. Sesekali aku membacakan dongeng di samping tempat tidur Billy. Pernah suatu ketika aku meminta izin mamaku tuk menjaga Billy hingga esok hari, dan mamaku memberi izin. Akhirnya aku menghabiskan malam mingguku bersama Billy yang diam di rumah sakit.
                “Billy...”
                Sapaku saat aku mengunjunginya sore ini. Kali ini aku tak membacakannya sebuah dongeng atau yang lainnya. Tapi aku memandangi bola matanya yang entah sudah berapa hari tertutup. Aku merindukan sorot matanya yang memandang ke arahku. Aku mengakui aku merindukan semuanya.
                “Bill...” kali ini ku genggam tangannya. Sama persis saat ia menggenggam tanganku di danau waktu itu.
                “Billy gue kangen. Gue kangen semua tentang danau. Dengerin cerita lo, bercanda sama lo, suka ngatain bareng, janjian ketemu di danau, dan elo yang dateng dan lenyap tiba-tiba. Gue kangen Bill, gue kangen...”
                Tanpa terasa, kali ini airmataku setetes demi setetes mengalir hangat melewati lekuk pipiku. Rindu. Kangen. Atau apapun kosakata yang lainnya. Memang itu yang kurasa sekarang.  Sakit ternyata. Baru kali ini juga aku berbicara sendiri dengan manusia yang bingung akan terus terpejam atau bangun.
                “Elo denger gue kan Bill? Elo kan selalu dengerin gue, hehehe... bangun dong Bill, lo nggak kangen sama danau? Danau kangen elo. Kangen banget. Sama kangennya kaya gue ke elo. Danau kangen sorot mata lo yang kalo pas ngeliat tuh bisa gimana gitu. Lo bangun ya Bill, gue selalu nungguin lo di danau..”
                Ku menyeka air mataku perlahan. Senang bisa menjenguknya setiap saat. Senang bisa berbicara terus terang padanya walau tak ada jawaban. Dan saat aku pulang meninggalkannya, aku sama sekali tidak mengetahui ada satu hal terjadi. Jemari tangan Billy bergerak. Sedikit namun pasti. Dia merindukanku.. merindukan danau itu juga.
***
                “Nesya sayaaang...” wow. Dinda memelukku dari belakang pagi ini sungguh wow. Berat tubuhnya 8kg lebih berat dari berat badanku.
                “Apa sih Diiin, ngga liat orang lagi belajar apa.”
                “Eciyeee, Nesya gue belajar. Sejak kapan buuuk?”
                “Sejak gue kabur dan ulangan fisika gue melayang.”
                “Eh nggak lupa ternyata ama yang satu itu. hahaha”
                “Anjir lo.”
                Ponselku bergetar. Ada sms datang.
                Billy : Nes, ntar sore gw tnggu di danau ya. Bye bye, semangat ulangannya ^_^
                Mataku terbelalak. Tak percaya. Itu memang Billy yang mengirim sms. Itu Billy!!! Tentu ini semua membuatku terharu, tak percaya Billy sudah sadar dan tiba-tiba mengetik sms dan mengirimkannya untukku. Oh Tuhaaann!!
                “Dindaaaaa!!!!” teriakku sambil beranjak dari kursi dan melompat-lompat.
                “Apaan sih lo Nes? Eh eh duduk dong woleeesss..”
                “Billy Dinn! Billy!!!” kataku sambil mengguncang-ngunncang pundak Dinda.
                “Apa apa? Billy kenapa?”
                “Billy sadar Dindaaa!! Dia kirim sms nih buat gue. Baca nih Din bacaaa!!!” ku tunjukkan sms yang belum sempat terjawab itu di hadapan Dinda. Sekarang Dinda juga ikut melongo tak percaya membacanya.
                “Ini serius Billy Nes?”
                “Seriuuusss!!”
                “Uda deh sekarang lo yang semangat belajarnya, biar waktu ga berasa. Biar cepet berubah sore.”
                “Hahaha bisa aja lo!”
                Aku bahagia. Bersyukur dan ah entah sulit sekali ku deskripsikan dengan kata-kata. Yang penting nanti sore bertemu Billy!!!
***
                Kali ini aku menunggu dengan senang hati. Hatiku banyak ditumbuhi bunga-bunga yang langsung mekar. Hingga aku sendiri bingung mengapa di pertemuanku kali ini aku harus bingung memilih baju apa yang akan ku pakai. Dan kuputuskan tuk memakai dress soft pink dengan cardigan coklat.
                Munggu menunggu menunggu. Dan tak terasa penantianku yang di temani butiran gerimis sudah menunjukkan tanda-tanda akan berakhir. Langit sudah lebih gelap. Jam tanganku pun sudah menunjukkan pukul 05:16. Billy kemana lagi? Atau jangan-jangan itu bukan Billy? Hatiku mulai gelisah. Dingin malam sudah mulai terasa hingga aku harus menggosok-nggosokkan telapak tanganku.
                Dan akhirnya semuanya sia-sia. Mungkin Billy masih di rumah sakit dan mungkin tadi yang mengirimiku pesan bukan Billy. Billy, Billy, Billy. Aku kesal. Kecewa. Bukan karena Billy tak datang, tapi karena rasa rinduku juga yang tak terbendung. Ya. Sakit hatiku. Nyeri yang kurasa sekarang. Kecewa, dan entah bingung sekali bagaimana cara meluapkannya.
                “Hey!!!” ada yang berteriak dari belakang.
                Aku menoleh sekilas tak ada orang di sekelilingku. Tapi saat ku mengedarkan pandanganku ke langit, banyak balon yang diterbangkan. Belum begitu tinggi namun pas. Pas saat matahari samar-samar terlihat terbenam. Balon berwarna merah maroon berbentuk hati berterbangan. Sungguh indah. Belum pernah aku melihat yang seperti ini. Siapa yang menerbangkannya? Ada orang menikah? Atau yang lain? Langkahku untuk kembali ke rumah terhenti. Semua terhenti seketika karena takjubku.
                “Gue juga kangen elo Nesya...” tiba-tiba orang itu mendekap tubuhku dari belakang. Apa-apaan ini? Tubuhnya yang lebih tinggi dariku tiba-tiba datang dan memelukku. Terkejut. Aku berbalik dan. Itu Billy. Yang ku lihat sekarang Billy. Yang ada di hadapanku sekarang Billy. Billy!!!
                “Billy? Ini elo Billy?” tanyaku tak percaya. Tapi yang di hadapanku ini sudah cukup jelas kalau seseorang ini Billy!
                “Kenapa? Lo nggak ngenalin gue karena masih pake perban di jidat ya? Perlu gue copot?”
                “Eh jangaaan!!! Dan... hahaha... Billy elo bangun dan elo ke siniii!!!” kali ini aku reflek memeluknya. Mataku berkaca-kaca dan lidahku kelu untuk mengucapkan berbagai macam kata yang ingin ku ungkapkan. Kekesalanku mereda. Hilang. Lenyap.
                “Gue seneng loh koma kemaren.”
                “Jahat lo. Tiba-tiba ninggal gue koma gitu aja.”
                “Hahaha, setidaknya pas gue koma bokap sama nyokap gue akur. Nggak tengkar.”
                “Gimana lo tau?”
                “Buktinya gue berasa kalau mereka selalu kompak jagain gue. Dan sampe gue kemaren siuman, yang gue liat pertama juga mereka.”
                “Ya... lumayanlah ya ternyata. Ada hikmahnya juga...”
                “Elo ga ikhlas ya gue koma? Makanya gue masih bisa bangun gini. Hahaha.”
                “Elo gila apa. Mana ada orang yang tiba-tiba rela liat orang nyebelin koma.”
                “Nyebelin, tapi ngangenin kan? Haha”
                Dasar dia, dasar Billy, dan dasar aku juga. Tak pernah sepi dengan ledekan. Kebiasaan itu sulit kami hilangkan. Kebiasaan duduk berdua dan meledek. Tertawa. Bercerita berdua dan tentunya di danau ini. Lucu.
                “Jadi, lo suka sama balon yang tadi?”     
                “Nggak perlu gue jawab, lo pasti uda tau. Haha.”
                “Gue udah nyogok balon so sweet gitu masa gue masih belom bisa ngapelin lo?”
                “Ha? Maksud lo?”
                “Nes...” kali ini ia menatapku lekat. Pandangannya membuatku tak bisa mengelak kemana-mana. Seperti sudah terborgol, pandanganku juga hanya terpusat padanya.
                “Gue sayang sama lo. Sayang banget. Gue denger saat lo bilang kangen sama gue. Gue denger saat lo bacain dongeng buat gue. Gue denger juga saat lo di tanya mama lo pacar gue apa bukan. Gue denger, tapi malaikat masih ngelarang gue bangun.”
                Aku masih terdiam.
                “Nes... kalau gue pengen lo jadi pacar gue, kira-kiraa..”
                “Nggak!!!” kataku cepat.
                “Nes?”
                “Elo nggak mungkin nggak tau jawaban apa yang gue kasih. Hahaha.”
                “Jadi?”
                “Ya katanya lo pengen ngapelin gue? Sekarang udah di ijinin lo malah lemot gini.”
                “Dasar elo Nesya nyebeliiinn!!!”
                HAHAHA...
***
                Tawa kami menghiasi lingkar senja hari itu. Aku menyayangi Billy, sangat amat. Begitupun Billy. Entah takdir apa yang membawa kami ke sini. Mempertemukan kami di danau ini, menorehkan segala kisah kami di danau ini, dan semua yang kami jalani serba menghiasi tempat ini. Bukan karena awalnya saja kami manis. Tapi aku ataupun Billy menyadari sejak awal kita bertemu, rencana Tuhan yang indah sudah terasa. Dan terbukti. Rencana indah itu datang. Walaupun kami yakin tak semua skenario dari Tuhan itu indah, tapi entah adanya aku ataupun Billy selalu bisa melengkapi ketidak indahan itu.
                Tetap membuat janji di danau ini, bercanda, bercerita, beradu ledekan dan semuanya. Apapun itu, ceritaku, ceritanya selalu menghiasi dengan amat rapih di danau ini. Istimewa ya J

Pernahkah kau menguntai hari paling indah?
Ku ukir nama kita berdua, di sini surga kita :) - My Heart