Saturday, December 1, 2012

terimakasih ya semangatnya :)


                Awal Desember. Ya, hari ini 1 Desember.
                Terik fajar pagi ini begitu antusias membangunkanku. Hingga mataku terbelalak ingin keluar melihat jarum jam sudah menunjukkan pukul 05:30. Oh tidak! Dalam langkahku yang mondar-mandir aku mengutarakan segala “DecemberWish” ku. Doaku yang pertama yaitu bisa melewati ujian semesterku dengan lancar dan tentunya, hasilnya memuaskan. Dan selanjutnya diikuti doa yang lain.
                Wow dengan susah payah ku mencukup cukupkan waktu hingga akhirnya telapak kakiku menapak di lantai kelas. Banyak kertas merah yang dibentuk lambang anti AIDS yang menghiasi sudut-sudut kelas ini. Hari ini, hari AIDS sedunia.
                “Lemes banget lo.” Sapa sahabatku.
                “Tauk nih badan gue pegel semua. Semalem gue demam pula.”
                “Trus, elo ada urusan apa lo masuk sekolah? Udah tau semalem demam.” Kata-katanya sederhana namun pas langsung menghujam jantung.
                “Yee, matematika tuh...”
                “Elo yee. Kalo udah sakit tuh istirahat.”
                “Zizi cukup deh, masih pagi nih. Hemat dulu dong energi lo buat omelin gue.”
                Zizi melotot, aku meringis garing.
***
                “Zi gue nggak jadi ke Bogor nih hari ini.”
                “Nah? Kenapa gitu?”
                “Bokap gue mendadak lembur.”
                “Yah, tau gitu lo ketemuan sama Arip nya ntar malem.”
                “Ya tapi nggak sayang juga kok ketemunya kemaren. Tapi gue juga pengen ketemu lagi deh Zi. Kemaren kan nggak ada sumbangan semangat dari dia.”
                “Oke fine. Trus?”
                “Ya gue pengen dia ke rumah.”
                “Sok atuh bilang ke orangnya.”
                “Tapi gapapa kan?”
                “Sah kok May.”
                Akhirnya ku buka flip ponselku. Mengetik nomor ponsel yang ku hapal. Nomor ponsel seseorang bernama Arip. Ahmad Alfian Budiatmaja. Entah darimana panggilan Arip itu berasal.
                “Halo, assalamualaikum.” Sapaku mengawali percakapan telepon siang itu.
                “Hai  waalaikumsalam May. Ada apa?” suara di seberang menyahut dengan suara yang ku kenal betul pemiliknya.
                “Hmm engga apa-apa. Nanti malem ada acara nggak?”
                “Umm, kyaknya enggak deh. Kenapa May?”
                “Hehe nggapapa pengen aja kamu main ke rumahku. Kan hari Selasa besok aku udah ujian semester.”
                “Apa kata nanti deh aku kabarin lagi.”
                “Okay deh. Aku ga maksa kok, kalo ga bisa ga usa di paksain, hehehe.”
                “Iya May.”
                “Yaudah deh makasih asslamualaikum.”
                “Waalaikumsalam.”
                Suara menghilang. Ku menutup flip ponselku.
                “Gimana May?”
                “Apa kata nanti katanya.”
                “Bagus. Pasti dateng kok.”
                “Hah?”
***
                Sudah jam 7 lewat ia tak kunjung muncul. Puluhan kali ku buka flip ponselku, lalu ku tutup lagi. Ku buka, kemudian ku tutup lagi. Begitu seterusnya. Biasanya jika ia sudah ada di ambang pagar, ada satu pesan darinya yang mengomandoku. Mungkin masih nanti jam setengah 8. Sabar dulu.
                Ku buka lagi flip ponselku, ku tutup kembali. Ku buka, ku tutup lagi. Mungkin memang tidak datang. Ah yasudahlah. Aku bisa memintanya menyemangatiku via pesan singkat. Jadi aku tak merepotkannya susah payah datang kemari. Demikian segelintir pikirku.
                Ada bunyi deru motor yang sepertinya berhenti di depan rumahku. Mungkin dia? Ku intip sedikit dari balik selambu jendela ruang tamu. Dan benar. Aku tak salah liat. Aku mengenali siapa sosok yang berdiri berbalut kaos polo stripes merah itu. Dia datang! Benar-benar datang dan ini nyata!
                Seperti yang biasa ku lakukan dengannya. Bercerita. Apa saja. Entah telingaku selalu bisa merekam apapun cerita yang mengalir dari bibirnya. Tak ada kata bosan. Justru bahagia. Bahagia karena bisa selalu ada untuknya kapanpun ia butuhkan wadah tuk tampung ceritanya. Canda tawanya juga. Lucu. Rasa menyenangkan selalu muncul kala aku bersamanya.
                Dan waktu berlari cepat. Tak membuatku merasakan jam-jam yang berganti. Sampai pada akhirnya Mas Arip berpamitan pulang.
                “Loh, nggak pengen semangatin aku dulu? Aku hari Selasa kan ujian.”
                “Hahaha, perlu?” tanyanya penuh canda.
                Ku menhantarkannya ke depan rumahku. Membukakan pagar untuknya. Sesekali banyolannya masih bisa membuatku tertawa dalam larutnya malam itu. Saat ku sedikit terdiam, entah mengapa dia juga ikut terdiam. Sebentar. Hanya sebentar terdiam. Tubuhnya mendekat, dan memelukku. Nafasku tercekat. Mataku sedikit terpejam. Entah kenapa momen seperti ini selalu dijadikannya kejutan. Dia yang tinggi, membuat wajahku tenggelam dalam pundaknya. Entah selang sepersekian detik kemudian, aku membuka mataku. Menatapnya penuh senyum. Dia mengacak rambutku pelan. Sedangkan aku tetap membisu. Wajahnya mendekat ke arahku. Tertambatlah satu kecupan hangat di keningku. Wajahku bersemu merah. Namun tetap diam. Aku bahagia, tapi tak boleh terlalu bahagia.
                “Sudah cukup kan semangatnya?” tanyanya sambil tersenyum.
                “Lebih dari cukup.” Jawabku tegas.
                “Tanpa kata-kata sekalipun?”
                “Uhum.”
                “Tapi menurutmu, lebih milih kata-kata atau perbuatan?”
                “Dua-duanya.”
                “Kenapa?”
                “Karena, kalo dua-duanya dari kamu kan pasti istimewa.”
                “Sekalipun aku bohong? Kan kalo kata-kata bisa bohong. Kalo perbuatan lebih real.”
                “Dibuat aja nggak bohong. Hahaha.”
                Tawaku dengannya menyatu. Sekali lagi ini lucu. Terimakasih tuk malam ini. Aku bahagia karenamu, lebih-lebih semangatmu.

kata-kata atau perbuatanmu
semua itu sama
sama-sama berarti untukku, hati dan fikiranku
kau tau, seperti obat bius hehehe
tuk yang kali ini,
terima kasih banyak candanya
terima kasih banyak semangatnya :)

No comments:

Post a Comment