Wednesday, December 19, 2012

Cuma Tuhan yang tau kamu dan aku (Part 1)


                “Heh sini lo!”
                “Iya ada apa Ra?”
                Seketika badan Nansa dihimpit perempuan tomboi ini hinga menubruk tembok, lengan tangan kanannya sudah menahan leher Nansa kuat.
                “Maksud lo itu apa? Lo itu masih murid baru disini udah brani!”
                “Ra, asli aku bener-bener nggak ngerti.”
                “Alah ga usa alesan lo! Lo liat itu sahabat gue! Lo liat! Apa maksud lo kasih dia harepan tapi ujung-ujungnya ya lo buang!”
                “Nggak Ra, nggak. Kamu salah paham. Aku nggak ada maksud kaya gitu. Lepasin Ra.”
                Dan di saat yang tepat, Ramon datang. Semua tidak terkecuali Clara dan Nansa jelas menghentikan pertikaian.
                “Apa-apaan sih lo Ra!”
                “Heh Mon, gue ini mau ngebelain elo di depan perempuan tengil ini biar elo nggak diperlakuin seenaknya!”
                “Tapi nggak gini caranya Ra!”
                “Oh gitu ya Mon! Elo gue bantuin bukannya makasih malah nyalah-nyalahin gue! Oke FINE!”
                “Ra!!”
                “Heh elo cewek tengil, penderitaan lo belum selesai!”
***
                “Kamu nggak kenapa-kenapa?”
                “Nggak papa kok Mon. Cuman kaget aja, hehehe”
                “Maafin kelakuan Clara yang nyakitin kamu kaya tadi ya Nan. Clara emang suka gitu orangnya.”
                “Santai aja kali Mon, ngga apa. Ya wajarlah dia kaya gitu, dia kan sahabat kamu, hehe”
                “Idih, kelakuannya aja kaya macan gitu, ngomong sama dia aja uda males Nan.”
                “Huss, nggak boleh ngomong gitu Mon.”
                Nansa tetap terlihat tenang walau hatinya tercabik. Apa yang dikatakan Clara masih terngiang jelas di ingatannya. “Apa maksud lo kasih dia harepan tapi ujung-ujungnya ya lo buang!” seperti itukah dia? Atau benar memang Clara yang hanya salah faham? Lekat sekali kalimat itu dalam otak Nansa, hingga sepertinya otaknya terasa kacau.
                Dari jauh Clara mengamati keduanya yang asyik berbincang di kantin. Jelas panas hati Clara. Semua bak tidak menghargainya. Padahal justru sebaliknya.
                “Awas lo Nansa, penderitaan lo belum berakhir!”
***
                Semakin hari Nansa semakin dekat dengan Ramon. Hingga ia sendiri bingung hal apa yang menyebabkan mereka dekat. Seiring waktu keduanya jadi mengetahu apa itu jarak, apa itu senggang waktu, dan apa itu merindukan. Jelas mereka merasakan. Melakukan hal-hal kecil yang menarik sudah menjadi kebiasaan mereka tanpa peduli apa kata orang. Ramon biasa menjemput Nansa di pagi hari, menemani ke toko buku, sekedar jogging di Minggu pagi atau yang lain.
                Semua itu menyenangkan bagi mereka, kecuali Clara. Usahanya mencelakai Nansa selalu gagal. Bahkan selalu luput tak tersentuh sedikitpun oleh Nansa.
                “Kali ini elo harus minggir Nan. Harus!!!”
                Minggu pagi itu Clara sengaja menguntit Nansa kemana ia pergi. Clara tak mengendarai mobil yang biasanya agar tak dikenali Nansa. Dan ternyata benar dugaan Clara. Nansa menemui Ramon pagi itu. Di alun-alun kota tempat mereka biasa bertemu.
                Sepeda Nansa yang terparkir di jajaran sepeda yang lain menjadi incaran Clara. Ide jahat itu muncul. Diambillah sebuah gunting yang ada di mobilnya dan dia mengendap-endap keluar. Sudah sampai di mana sepeda Nansa terparkir, tangannya beraksi dan alhasil, rem sepeda Nansa sudah dibuat blong oleh Clara. Dia tersenyum puas dan tak lama kembali ke dalam mobil.
                Dan tentu Clara tak ingin ketinggalan cerita. Ia tentu ingin menyaksikan bagaimana tangan kotornya itu berhasil melakukan sebuah ide kejam seperti itu.
                “Nansa sayang, selamat bersepeda ya...” kata Clara dengan senyuman iblis.
***
                Nansa menyusuri jalanan Panglima Sudirman dengan santai. Ditemani candaan Ramon yang cukup menggemaskan. Ia sama sekali tak menyadari ada keanehan yang berarti dalam sepeda yang ia kenakan. Saat Nansa tiba di perepatan jalan,  traffict light menunjukkan lampu merah, Nansa mulai susah menekan pedal remnya. Dan saat itulah Nansa merasa rem sepedanya blong.
                “Loh loh Nan berenti Nan! Lampu merah!” Ramon berteriak.
                “Nggak bisa!!! Ramon tolongin akuuu!!!”
                Semuanya tak dapat dihindari. Semua terjadi dalam sekejap mata berkedip. Dari arah kiri yang lampu traffict light nya sudah menunjukkan warna hijau, sebuah mobil tiba-tiba muncul dan...
                Braakkkk!!!
                Kaki sebelah kiri Nansa terhimpit mobil itu tentunya. Sepeda beserta tubuh Nansa rubuh ke sebelah kanan. Dan yang paling panik adalah Ramon. Si pemilik mobil juga tak tinggal diam. Ia kemudian membawa Nansa ke rumah sakit terdekat, dan beruntungnya si pemilik mobil seorang anggota polisi. Oh Nansa...
***
                “Gimana ceritanya sih Ca, sampe kamu bisa nerobos lampu merah gitu.”
                “Nggak tau ma. Tiba-tiba rem sepeda Aca blong, padahal sebelum itu Aca pake baik-baik aja.”
                Pintu kamar tempat Nansa di rawat terbuka.
                “Udah ayah periksa tuh sepeda kamu.”
                “Iya Nan, kayanya itu sambungan remnya habis dipotong deh sama orang.” Sahut Ramon.
                “Ya mana Aca tau yah.”
                Ramon terdiam. Manamungkin Clara yang melakukannya? Ia sama sekali tak melihat tanda-tanda kehadiran Clara di alun-alun pagi tadi. Tapi, ah sudahlah...
***
                Seseorang di balik pintu. Mengintip dengan senyuman iblis yang khas.
                “Ramon, sebentar lagi elo bakal jadi milik gue...”

bersambung

No comments:

Post a Comment