Thursday, December 20, 2012

Cuma Tuhan yang tau kamu dan aku (Part 2)



                “Aneh deh Ca, masa iya tiba-tiba sepeda lo remnya blong gitu.”
                “Sar, uda deh. Masih penting ya bahas kejadian waktu itu?”
                “Ya gue kan penasaran Ca.”
                “Ya mungkin emang sepeda gue yang uda waktunya masuk bengkel kali. Uda ah jangan dipikir. Hehehe”
                Dari kejauhan nampak Clara yang berjalan menghampiri Nansa dan Sarah.
                “Hai bocah tengil. Kenapa itu kaki lo? Kok pake tongkat sih? Gak beda jauh sama orang cacat ya. Hahaha”
                “Eh kurang ajar lo! Mending pergi deh lo dari sini.”
                “Eits tunggu dulu. Emang lo siapa? Temen si bocah tengil ini? Aduh plis deh, ntar lo ikutan tengil. Haha udah deh yaa, daaah”
                Clara pergi. Entah mengapa ada rasa trauma dalam diri Nansa saat melihat wajah Clara. Setiap melihat wajah itu Nansa teringat kalimat itu lagi. Sepertinya ia memang harus membicarakannya pada Ramon. Harus, 4 mata sekaligus.
***
                “Halo assalamualaikum,”
                “Iya Nan waalaikumsalam.”
                “Mmm, Mon aku pengen bicara sama kamu, 4 mata aja, penting. Hehehe”
                “Oke oke, di mana?”
                “Di cafe biasanya deh ya.”
                “Oke. Perlu gue jemput?”
                “Nggak usah Mon, gue bisa berangkat sendiri.”
                “Tapi kaki lo Nan?”
                “Kenapa kaki gue? Ada dua kan, hehehe uda ah ntar sore ya, jam 4. Dah Ramon, assalamualaikum.”
                Belum sempat Ramon menjawab salamnya, sambungan telepon sudah terlanjur di putus oleh Nansa. “Waalaikumsalam..”
                Nggak biasanya Nansa mengajaknya bicara empat mata seperti ini. Bahkan sangat jarang sekali bagi mereka berbicara serius seperti ini.
                Tak lama, bel pintu di rumah Ramon berbunyi. Siapa itu? Pikir Ramon. Akhirnya ramon turun tuk membukakan pintu. Mata Ramon terbelalak saat ia tahu yang datang itu Clara.
                “Hai Mon.”
                “Iya, hai. Emm, masuk dulu Ra.”
                “Makasih Mon.” Rara pun masuk di iringi Ramon di belakangnya.
                “Silahkan duduk Ra. Oh iya mau minum apa?”
                “Nggak usah repot-repot Mon, aku cuman sebentar aja kok di sini.”
                Entah kenapa cara bicara Clara sekarang menjadi sangat tenang dan kalem. Berbeda dari biasanya yang sudah seperti bebek.
                “Oh oke. Ada perlu apa Ra? Tumben main ke sini.”
                “Ngga ada apa-apa kok Mon. Aku cuman mau minta maaf soal kejadian waktu itu sama Nansa.”
                “Oh itu, yaudah nggak apa. Gue tau maksud lo baik Ra. Makasih ya.”
                Kaku sekali Ramon saat mengatakan itu. Ramon tak yakin yang dikatakan Clara itu tulus atau tidak.  Dan Ramon juga menyadari perubahan gaya bicar Clara. Bukan “lo-gue” lagi tapi sudah “kamu-aku”. Ada apa ini?
                Tak terasa, matahari sudah bergeser semakin ke barat. Siang sudah berubah menjadi sore. Hingga waktu sudah tersita lama. Ramon dibuat akrab dengan Clara hingga lupa saat itu ia ada janji dengan Nansa. Clara sendiripun tak mengetahui jika Ramon dan Nansa akan bertemu. Kali ini Ramon memang jelas-jelas dibuat lupa.
                Mata Ramon terbelalak saat mengetahui jam dinding besar yang terpajang di ruang tamu. Sudah jam 5.15? Oh tidak!
                “Nansa! Anjir kenapa gue bisa sampe kelupaan sih!”
                “Kenapa Mon? Ada apa?”
                “Gue ada janji sama Nansa jam 4 sore ini.”
                “Aduh Mon, coba deh liat sekarang jam berapa. Apa dia nggak udah pulang? Mana mungkin dia mau nunggu elo sampe sejam.”
                “Aduh maaf ya Ra maaf banget. Gue harus ketemu Nansa sore ini.”
                “Kamu ngusir? Nggak usah di usir aku juga bakal pulang kok.”
                “Ra, maaf Ra. Gue nggak maksud gitu.”
                “Ga apa Mon. Gue balik dulu ya. Dah Mon.”
***
                Ramon bingung ingin mengatakan apa kepada Clara. Clara yang tiba-tiba berubah, Clara yang lain dari biasanya, Clara yang... ah sudahlah. Ramon melupakan sejenak hal itu. Ia bergegas bersiap-siap menemui Nansa. Semoga Nansa belum beranjak dari cafe.
                Mobil Ramon melaju kencang karena tak ingin ketinggalan Nansa. Jantungnya berdegup kencang takut-takut Nansa memang benar-benar sudah menghilang dari cafe. Dan selang beberapa menit kemudian, tibalah Ramon di cafe yang ia tuju. Matanya mencari-cari keberdaan Nansa. Dan akhirnya yang ia cari menampakkan diri juga. Syukurlah...
                “Nan!!!”
                Nansa menoleh menuju ke arah suara yang memanggil namanya. Ramon berlari menuju meja yang ditempati Nansa.
                “Hei. Maaf telat Nan. Gue tadi...”
                “Udah nggak usah dterusin Mon. Hehehe, aku udah tau kok.”
                “Maksud kamu?”
                “Coba kamu baca ini.”
                Nansa menyodorkan ponselnya kepada Ramon.
                Seneng bisa main di rumah Ramon :3
                “Nan...”
                “Clara main ke rumah kamu?”
                “Iya..”
                “Oh yaudah gapapa kali Mon.”
                “Tapi Nan gue udah telat dateng ke sini.”
                “Ramon, aku nggak apa.” Jawab Nansa sambil tersenyum.
                “Yaudah deh. Ngomong-ngomong, elo mau ngomongin apa sih Nan?”
                “Nggak penting sih sebenernya.”
                “Iya apa?”
                “Kamu nggak ngerasa aku jadi seorang PHP buat kamu?”
                “Elo ngomong apa sih Nan? Ya pastilah sama sekali enggak.”
                “Aku nggak enak sendiri sama temen-temen kamu Mon.”
                “Nggak enak kenapa? Elo itu nggak kayak gitu, Nansa.”
                “Aku takut dipikir jadi seorang PHP buat kamu. “
“Ssssttt. Jangan dengerin omongan mereka ya.”
                Tiba-tiba ponsel Nansa berdering.
                “Halo, waalaikumsalam.”
                “Iya Sar ada apa? Clara? Kenapa? Tuhan! Lo yakin dia Clara? Eh iya iya gue kesana Sar. Daah waalaikumsalam.”
                Nansa menutup telepon. Matanya menatap nanar. Semua seperti kilat, begitu cepat.
                “Nansa, ada apa sama Clara?”
                “Anterin gue sekarang Mon! Ke rumah sakit! Clara masuk UGD, mobilnya kecelakaan, dia koma.”
                “Apa? Clara koma?”

bersambung

No comments:

Post a Comment