Saturday, December 22, 2012

Cuma Tuhan yang tau kamu dan aku :) (Tamat)


                “Sarah, Clara gimana? Dia baik-baik aja kan?”
                “Keadaannya masih kritis Ca.”
                Tampak raut wajah Ramon begitu kusut. Ada rasa bersalah yang hinggap dalam dirinya.
                “Mon, gimana?”
                “Emm, maaf Nan gue harus pulang. Lo bisa pulang sendiri kan? Ada keperluan mendadak. Daaah Nan.”
                Nansa diam terpaku. Ia terkejut karena Ramon meninggalkannya seketika. Ada apa sebenarnya? Kenapa Ramon tiba-tiba diam seribu bahasa dan meninggalkannya?
                “Ca, sini deh. Udah biarin aja Ramon pergi.”
                “Maksud kamu apaan Sar?”
                “Duduk dulu sini.”
                Nansa mengikuti Sarah duduk di bangku ruang tunggu rumah sakit itu.
                “Kamu mau ngomong tentang apa sih?”
                “Ramon itu mantan pacar Clara.”
***
                Hati Ramon tak tenang. Gundah, gelisah, seketika menyelimuti hatinya. Pikirannya keruh, buntu dan sulit untuk memikirkan hal-hal yang berhubungan tentang Clara. Bingung apa yang harus ia perbuat. Clara sudah membuat pikirannya begitu sesak.
                PING!!! Sebuah pesan messenger masuk ke ponsel Ramon.
                Nansa Aca : Ramon kamu tenang ya, Clara di sini baik-baik aja J
                Ramon tak ingin membalas pesan, mengangkat telpon dari siapapun sekarang. Ramon tak siap mejawab apapun pertanyaan yang tentang Clara.
                “Clara maaf.. maafin gue Ra...”
***
                “Elo anak baru di sekolah Ca. Jadi elo nggak tau sama sekali cerita Ramon sama Clara dulu gimana.”
                Nansa terdiam.
                “Ramon sama Clara dulu itu pasangan paling cocok, paling romantis, dan paling-paling emuanya deh. Ramon ataupun Clara itu sama-sama cinta dulunya. Dan dulu itu Clara nggak brutal kaya sekarang. Setau gue Clara mendadak brutal gini gara-gara ambisinya pengen balik sama Ramon.”
                “Nah emang mereka dulu putus gara-gara apa?”
                “Itu juga gue nggak begitu paham. Tapi lo tau kan, Clara itu kristiani yang taat, dan Ramon pun juga nggak kalah soleh. Mungkin bedanya mereka itu yang bikin pisah.”
                “Yang mutusin?”
                “Ramon Ca.”
                “Clara...”
                “Dan lo tau nggak kenapa dia sebegitu bencinya elo deket sama Ramon? Dia cemburu Ca, dia mikir kalo Ramon itu beneran suka sama lo.”
                “Tapi Sar, aku kan...”
                “Udah deh Ca. Gue tau kok kalo elo nggak punya hubungan apa-apa sama Ramon.”
                “Aku bingung Sar harus ngapain.”
                “Nggak perlu ngapa-ngapain Aca. Serahin semua sama waktu. Waktu lebih bisa menjawab semuanya kok.”
***
                Sudah larut malam. Jarum jam sudah menunjukkan 22:15, tapi ia baru memasuki kamarnya. Ia tak bisa langsung memejamkan matanya dan melarikan dirinya ke alam mimpi. Pikirannya terlalu keruh sekarang dan masih jelas memikirkan tentang Clara dan Ramon.
                Seorang Clara yang dulunya menjadi perempuan seutuhnya, kini brutal. Walau tak terlalu mengenal Clara, sebagai wanita Nansa juga ikut merasakan apa yang dialami Clara. Dan sejak saat ini Nansa tau mengapa Ramon selalu bersikap biasa, bahkan tak ada tanda-tanda perlawanan yang serius dari Ramon saat Clara bertindak semaunya terlebih terhadap Nansa.
                Nansa sangat ingin membicarakan hal ini kepada Ramon, menyuruhnya sejenak mendekati Clara agarperasaan Clara sedikit mencair. Tapi dalam situasi seperti ini tak ada yang bisa diperbuat oleh Nansa. Berkali-kali pesan BBM nya hanya di baca oleh Ramon namun tak ada jawaban. Berkali-kali teleponnya hanya dibiarkan berisi nada sambung dan tak muncul suara Ramon. Paling-paling jika memang muncul suara Ramon, suara itu akan terdengar sangat hambar dan datar.
                “Aku harus ketemu kamu Ramon, harus...”
***
                Pagi ini Nansa terbangun oleh dering ponselnya yang berbunyi berkali-kali. Dari Sarah.
                “Halo assalamu’alaikum Sar.”
                “Waalaikumsalam Ca. Ca, lo kesini sekarang Ca, cepetan.”
                “Hah? Kemana?”
                “Ke rumah sakit Ca. Clara kritis dan dia terus nyebut nyebut nama lo!”
                “Apa? Iya iya aku segera ke sana.”
                “Cepet ya Ca, uda waktunya. Hati-hati.”
                Tanpa buang waktu Nansa beranjak dari tempat tidurnya, dan masih berpakaian baby doll Nansa berangkat menuju rumah sakit. Jaket yang ia kenakan ditutupnya rapat tuk mengusir dingin pagi itu. Dalam hati ia berdoa semoga Clara baik-baik saja. Mobil yang ia kendarai akhirnya sampai juga di pelataran parkir rumah sakit. Nansa juga melihat mobil Ramon terparkir di sana.
                “Sarah!”
                “Ca! Ayok cepetan!”
                Sarah mengajak Nansa berlarian menyusuri lorong koridor rumah sakit. Sudah tidak ada waktu, pikir Sarah.
                “Ramon, tante...”
                Agak kaku saat Nansa sudah sampai di depan kamar inap Clara.
                “Kamu Nansa?”
                “Betul tante, ini saya Nansa.”
                “Segera masuk sayang, Clara butuh kamu.”
                Mata seorang ibu itu berkaca-kaca seperti hendak menghantarkan seseorang pergi ke tempat yang jauh.
                “Tapi tunggu tante. Tante ini mamanya Clara?”
                “Iya saya mamanya. Cepatlah temui Clara sayang. Dia membutuhkanmu.”
                Agak-agak ragu saat Nansa memasuki kamar inap Clara. Di kursi tunggu depan kamar, terlihat Ramon yang menunduk suram. Bukan sekarang waktunya memperhatikan Ramon, tapi Clara. Terlihat dokter dan perawat berseragam putih yang ada di ruangan itu. Hanya mereka, dan Nansa.
                Nansa mulai mendekati Clara. Duduk di sampingnya, dan memegang lembut tangan lemah Clara.
                “Clara, ini aku Nansa. Aku di sini Ra, dateng buat kamu.”
                Clara tidak menyahut apa-apa. Mata dan bibirnya masih mengatup.
                “Ra, maafin aku yang akhir-akhir ini deket sama Ramon, aku nggak ada hubungan apa-apa sama dia Ra. Bangun Ra, aku pengen minta maaf langsung sama kamu.”
                Kali ini gantian bola mata Nansa yang berkaca-kaca. Jemari Clara yang sedari tadi digenggam lembut Nansa memberikan respon. Walau masih lemah, ada tanda-tanda Clara akan bangun.
                “Clara, bangun...”
                Air mata Nansa setetes demi setetes mengalir melewati pipinya yang putih mulus itu. Dan tak lama kelopak mata Clara terbuka. Pelan, lemah, tapi menunjukkan kepastian.
                “Clara...”
                Saat bola mata Clara terlihat, ia menatap Nansa sejenak.
                “Nansa.” Katanya terbata-bata.
                “Clara maafin aku.”
                “Nansa, ssstt..”
                Hening.
                Dengan sisa kekuatan yang dipunya Clara, ia mulai bicara.
                “Gue yang minta maaf Nan, maafin gue soal gue yang jahat sama lo. Maafin gue.”
                “Engga Ra, engga...” air mata Nansa semakin deras.
                “Gue udah dijemput Nan, nitip Ramon ya.”
                “Clara kamu kuat! Kamu nggak boleh pergi.”
                “Maaf Nan...”
                Saat Clara ingin melanjutkan kata-katanya, suaranya tercekat seperti ada yang menarik. Suaranya lenyap. Matanya kembali menutup. Bukan tidur atau pingsan. Tapi beristirahat untuk selama-lamanya.
                “Clara... selamat jalan...”
***
                “Elo ada acara habis pemakaman ini?”
                “Kayaknya nggak ada. Kenapa?”
                “Pengen ngobrol aja sih sama lo.”
                “Boleh.”
                “Yaudah elo ntar pulang bareng gue ya, gue anterin lo sampe rumah.”
                “Oke.”
***
                “Aku masih ngerasa bersalah sama Clara, Mon.”
                “Udahlah Nan, Clara udah tenang di sana.”
                “Tapi..”
                “Dan gue sekarang yang ngomong.”
                Nansa kali ini terdiam.
                “Gue sayang elo Nan.”
                “Apa? Setelah kepergian Clara kamu bilang kaya gini? Tega ya kamu Mon.”
                “Nggak nggak. Plis jangan salah paham Nan. Gue udah suka sama lo sejak pertama kali liat lo. Dan gue ngerasa beda saat gue ada di samping lo.”
                Nansa tetap terdiam.
                “Clara jadi begitu karna tau gue suka sama lo, gue sayang sama lo.”
                “Tapi Mon..”
                “Bagi gue status itu nggak penting Nan, yang penting elo nggak risih jalan sama gue.”
                Bingung Nansa akan berbicara apa.
                “Biar orang ngomong apa Nan, gue sayang elo. Cukup. Cuman Tuhan yang tau gue sama lo gimana. Bukan orang lain.”
                “Tapi Mon..”
                “Nan.”
                Seketika mobil ramon berhenti di jalanan sepi.
                “Gue..”
                “Aku juga sayang kamu!”
                Nansa menyahut tegas. Dan memperjelas. Kali ini Ramon yang terpaku.
                “Dulu aku dan Tuhan aja yang tau gimana perasaan aku ke kamu, sekarang kebongkar deh.”
                Tawa Ramon membeludak. Bahagia sekali rasanya. Melepas segala penat yang menggantung. Beban rasa yang di angkutnya selama ini runtuh. Lega. Dan Clara, ikut tersenyum juga dari kejauhan.

TAMAT :)

No comments:

Post a Comment