Sunday, December 9, 2012

Danau ini istimewa ya :) #Part2

sambungan dari cerita Danau ini istimewa ya :) #Part1


                Aku termenung. Sekali-sekali berbicara sendiri pada air yang tenang di hadapanku. Menarik nafas panjang dan menghembuskannya berat. Mungkin lebih baik dikata orang gila daripada aku menjadi gila karena satu-satunya orang yang percaya akan ceritaku adalah Dinda.
                Saat aku iseng-iseng mencabuti rumput sambil duduk di pinggiran danau itu, ku toleh ke arah kanan dan aku menemukan seseorang yang ku hafal wajahnya. Dia lagi. Sepertinya feelingku benar. Dia mengintiliku. Rasa sebal itu muncul lagi saat Billy dengan tega meninggalkan aku sendirian di kantin saat kebetulan telat bersama lagi.
                Aku menghampirinya yang sedang duduk di pinggiran danau. Menatap kosong ke depan. Tapi aku tak peduli.
                “Billy!”
                Seketika Billy menoleh ke arahku.
                “Elo? Ngapain di sini?”
                “Ya elo tuh yang ngapain di sini? Bener kan, ngintilin gue kan lo.”
                Billy yang masih stay cool tetap terduduk di tempatnya memandangiku yang sedang berdiri. Dan tak dapat dipungkiri lagi. Ku lihat sekilas sorot matanya, gundah memang sedang menyelimutinya.
                “Udah deh. Gue nggak mood berantem sama lo. Mending lo duduk sini temenin gue.”
                “Idih, temenin elo? Ogah kali.”
                “Yaudah pergi sana.”
                “Pergi? Ogah juga. Mending elo aja sana yang pergi. Dasar tukang nguntit.”
                “Elo lama-lama nyebelin ye? Duduk sini!” tiba-tiba tanganku di tarik paksa olehnya hingga ku jatuh terduduk.
                “Hih apaan sih lo! Sakit tau!”
                Billy terdiam. Membiarkanku mengomel tak jelas dan tak tahu arah.
                “Lo bisa diem? Berisik.”
                Seketika omelanku berhenti. Dengan sebal aku duduk di samping Billy. Bibirku mengerucut, cemberut. Kami sama-sama diam. Sama-sama mencoba mencairkan suasana.
                “Lo...” kata kami bebarengan.
                “Lo dulu...” kata kami bebarengan lagi.
                “Elo duluan deh.” Billy mendului.
                “Hmbh, lo ngapain di sini?”
                “Gue pengen tenang. Lo sendiri?”
                “Sama.”
                “Lagi galau ye.”
                “Idih engga. Biasa aja tuh.”
                “Mau coba-coba boongin gue?”
                “Kenapa engga?”
                “Lo habis tengkar hebat kan ama cowok lo.”
                “Darimana lo tau?”
                “Dibilangin jangan boongin gue kok.”
                Ah aku benar-benar tak habis fikir. Bagaimana dia bisa tau sedikit banyak tentangku?  Akhir-akhir ini ia juga sering sekali muncul di peredaran pandanganku. Yang terutama di danau ini.  Bagaimana bisa?
                “Ya itu lo udah tau kan. Jadi gue nggak perlu cerita.”
                “Elo sangat perlu cerita. Biar nggak kayak orang gila suka ngomong sendiri sama air.”
                “Elo?”
                “Apa lagi?” kali ini ia menatapku. Menatap tepat pada sorot bola mataku. Dan baru pertama kali ku melihat jelas bola matanya setenang ini. Dan baru pertama kali ini juga aku melihat sisi lain dalam dirinya.
***
                “Dia juga bisa tenang ternyata Din.”
                “Maksud lo? Dia siapa? Bagas?”
                “Elo sebut nama dia sekali lagi, gue gampar. Panas telinga gue dengernya. Biar deh tuh setan mau ngapain. Ga pedulu, capek gue.”
                “Kenapa elo jadi marah sih? Trus dia yang lo maksud dia siapa?”
                “Billy.”
                “Wow! Gila lo. Lo suka sama dia ya? Hayo lo ngaku deh. Ga biasanya gini lo cerita banyak tentang orang yang baru lo kenal.”
                “Diem deh lo Din. Kepo amaaat, sotoy pula. Enggak enggak. Cuman gue penasaran aja sama dia. Matanya ituloh.”
                “Eciyeee yang udah tatap menatap. Terhipnotis ya neng?”
                “Kampret lo. Enggaak!”
                “Hahaha, oke oke kali ini gue serius. Kenapa sama dia?”
                “Sorot matanya tenang Din, nggak cuman sekedar cowok yang dingin.”
                “Trus?”
                “Ya itu yang bikin gue apal tuh anak.”
                “Trus lupa sama Bagas?”
                “Dindaaaa!!!”
***
                +6287666522xxx : hei danau
                Nesya : siapa? Nama gw bkan danau
                +6287666522xxx : oke kalo gitu gw yg danau J
                Aku terdiam sebentar. Memutar-mutar ponselku. Danau... danau... danau... daaann Billy!!! Ya aku ingat! Dia pasti Billy! Hey, kenapa hatiku berdegup? Kenapa senyumku terkembang?
                Nesya : gw Nesya J
                +6287666522xxx : akhirnya gw tau siapa lu :D
                Nesya : dan gw jg tau lu siapa
                +6287666522xxx : siapa?
                Nesya : Billy si nyebelin.
                +6287666522xxx : elo juga.
                Gemas aku membaca smsnya yang terakhir ini. Entah dari mana ia mendapat nomor ponselku, yang jelas ini aneh. Tiba-tiba dia datang, lenyapnya juga tiba-tiba. Tapi entah kenapa ini jantungku? Degupannya kencang sekali. Sedikit-sedikit ingin membaca kembali pesan itu. Singkat. Tapi kenapa sepertinya istimewa ya? Entahlah.
***
                Finally, its over!!! Yeaaahhh, aku berpisah dengan seorang bernama Bagas Astanegara. Aku bahagia. Sempat tertitihkan air mata, namun belum 5 detik sudah ku hapus. Malas meluangkan butiran air mataku untuknya. Aku kesal. Mamaku yang selalu membelanya juga sudah menyerah. Sekarang lebih memilih menuruti apa yang aku mau. Walau dihiasi dengan pertengkaran hebat, aku tak menyerah. Berkali-kali kutegaskan bahwa aku tak bosan dengannya, aku hanya bosan dengan perlakuannya, yang selalu bisanya hanya menyakiti. Dia mengiyakan keputusanku dengan langsung meninggalkanku pergi.
                “Aku bebaaaaaaasssssssssssssss!!!!” teriakku di tepi danau.
                Tertawa sekeras mungkin yang ku bisa. Dan alhasil aku lega. Tak ada rasa  penyesalan dalam hatiku saat memberinya keputusan. Rasanya beban dalam hati yang sekian lama menumpuk dalam hati tiba-tiba menghilang entah kemana. Angin juga sepertinya sependapat denganku. Berhembus lembut meniup air yang ada di hadapanku. Wow.
                “Mulai gila lagi.” Tiba-tiba ada suara yang mengagetkanku dari belakang.
                “Billy?” aku kaget.
                “Nesya?”                                                                             
                “Elo juga kumat. Tiba-tiba muncul nggak jelas.”
                “Masa suasana hati lo lagi damai gini elonya tetep nyebelin sih?”
                “Hahaha. Nggak nggak. Gue nggak jadi sebel sama lo. Gue lagi seneng Bill, seneng!”
                “Baru putus ya? Telat banget baru putus sekarang.”
                “Apapun kata lo de Bill. Pokonya skrg gue bebas.”
                “Hahaha dasar.”
                Ku memandang ke arahnya. Mencari sebab kenapa ia ada di tempat ini lagi. Sorot matanya, lagi-lagi kegundahan.
                “Elo kenapa sih? Selalu galau kalau dateng ke sini.”
                “Haha emang keliatannya gitu ya?”
                “Uhum.”
                “Ngga tau lah Nes gue bakal jadi kayak gimana dengan keadaan keluarga gue yang kacau balau kayak gitu.”
                “Maksud lo? Eh gue ngga apa nih dengerin masalah keluarga lo?”
                “So what? Haha, tau tuh bokap gue hobi banget marah-marah. Yang kena batunya selalu nyokap gue. Yang kena pukulannya ya selalu nyokap gue. Apa udah nggak sinting tuh orang.”
                Wow. Aku sama sekali tak menyangka. Bagaimana bisa dia yang baru tau siapa aku bisa mempercayaiku menyimpan ceritanya seperti ini? Sungguh Billy sangat penuh kejutan. Aku bingung harus menjawab apa.
***
                Kian lama, aku kian dekat dengan Billy. Kami banyak membuat janji agar bisa bertemu di danau ini lagi, lagi dan lagi. Banyak cerita yang telah ku dengarkan dari Billy, dan Billy pun juga sudah banyak mendengar cerita tentangku. Lama kelamaan aku mengenal lebih jauh siapa Billy. Begitupun sebaliknya.
                Billy itu seorang yang tak seperti apa yang ada di pikiranku sebelumnya. Billy yang dingin, cuek, bahkan misterius sekalipun, ternyata hanya cover luarnya saja. Billy itu orang yang penuh perhatian, canda, dan mungkin, penuh kasih sayang. Entah apa yang bisa membuatku bisa mendeskripsikan tentang Billy. Apa aku sudah... ah belum. Sepertinya Billy juga merasa semuanya biasa. 

Bersambung...

No comments:

Post a Comment