Monday, December 10, 2012

Danau ini istimewa ya :) #Part3 (END)


sambungan cerita dari Danau ini istimewa ya :) #Part2

                Di salah satu hari ku bertemu dengannya, entah kenapa aku merasa ada sisi ketampanan dalam diri Billy. Penampilannya berbeda dari biasanya. Yang acak-acakan menjadi sedikit rapi seperti ini. Aku tau ini tindak kesengajaan, mana mungkin Billy yang suka berpenampilan cuek tiba-tiba terlihat tampan seperti ini?
                “Elo nggak lagi mimpi kan dandan kaya begini?” kataku heran.
                “Hahaha, ada yang salah?”
                “Salah banget. Bukan elo nih Bill.”
                “Trus siapa Nesya? Setan?”
                “Yee elo.”
                Seperti biasa, dia duduk di sampingku. Bercanda denganku. Dan kali ini sorot matanya beda. Tak gundah seperti biasanya.
                “Elo kenapa sih? Tumben banget nggak jadi Mr. Galau gini, hahaha.”
                “Gue sekarang ngapelin lo, masa galau sih? Haha”
                Apa? Ngapelin? Billy, apa-apaan ini? Asli cowok yang satu ini memang penuh kejutan. Sukses membuatku melongo dan diam seketika.
                “Hello Nesyaaa...” katanya sambil melambai-lambaikan tangannya di depan mataku.
                “Eh iya?”
                Tiba-tiba dia menggenggam tanganku. Kali ini rasanya beda. Sensasinya bisa membuat jantungku berdegup lebih kencang.
                “Gue ngapelin elo.” Katanya sambil tersenyum, manis. Ya, yang kali ini senyumnya manis sekali. Tapi kemudian dia pergi.
                Billy! Selalu sukses membuatku melongo saat ia pergi. Sama seperti sebelum-sebelumnya saat ia meninggalkanku. Tapi ini lebih istimewa. Lebih lebih lebih dan lebih istimewa.
***
                Pyaaarrr!!!
                Terdengar suara piring pecah di luar sana. Ini pasti ulah Papa, begitu pikir Billy. Seperti ikan yang terpancing, Billy sudah benar-benar terpancing oleh suara gaduh di luar kamarnya. Telinganya panas. Bukan cuma Bu Hasna yang merana, Billy juga. Papa sudah keterlaluan, begitu kata Billy.
                Seketika Billy mendobrak pintu kamarnya. Berlari ke arah tangga, dan menuruninya. Namun na’as. Kaki Billy tergelincir. Tangan Billy yang saat itu tak siap, tak mampu menahan berat badannya. Semua kejadian serba tak terelakkan. Tubuh Billy bergelimpangan dari atas ke bawah. Darah mengucur deras dari hidung dan dahinya. Tentu kejadian ini membuat seisi rumah panik dan menjadi semakin tegang.
                “Billy!!!” teriak Pak Raka.
                Tak lama dan tanpa pikir panjang, mobil pribadi PakRaka sudah melaju kencang meninggalkan rumah dengan membawa Billy yang tak sadarkan diri. Billy di bawa ke rumah sakit untuk memperoleh pertolongan pertama secepatnya. Sama sekali tak peduli apapun, kecuali semua perhatian terpusat pada Billy.
                Termasuk ponsel milik Billy, tetap anteng di kamarnya. Hingga sampai muncul 3panggilan tak terjawab dan 5 sms yang sama, dari orang yang sama, Nesya.
                Nesya : Billy si cowo nyebelin, gw tggu di danau ntar sore yaa! See u J
***
                Rintik hujan yang enggan deras ini menambah syahdu dan sejuknya suasana danau ini. Aku tetap suka berbicara pada makhluk apapun di sini. Mereka yang tau saat aku tertawa, menangis, bahagia, sedih, dan lain sebagainya. Walaupun tak ada jawaban, setidaknya aku lega.
                Kali ini aku tak ada di tepi danau, takut-takut kalau hujan berubah deras. Aku berada di gubuk kecil yang ada di sekitaran danau itu entah siapa yang membuat. Aku menunggu seseorang datang. Mencoba tak bercerita dulu dengan air yang ku lihat tenang itu. berkali-kali ku melihat jam merah yang melingkar di pergelangan tangan kiriku. Kiranya sudah satu setengah jam aku menunggu seseorang menyebalkan tapi tak menyebalkan itu.
                “Billy kemana sih...”
                Ku kiriminya banyak sms namun tak ada satupun yang di balas. Tertidurkah ia dalam suasana sesejuk ini? Ku hubungi nomor ponselnya yang ku dengar hanya nada sambung dan akhirnya, “Nomor yang anda tuju tidak dapat menerima panggilan. Silahkan tinggalkan pesan atau tutuplah telepon anda.” Kemana Billy? Menghilang lagi seperti saat ia meninggalkanku di kehidupan nyata? Atau mungkin ada kejutan lain darinya? Entahlah.
***
                “Akhir-akhir ini gue nggak ngeliat Billy. Kemana ya?”
                “Seriusan Nes?”
                “Iyee.”
                “Lo seriusan nggak tau? Gue pikir lo udah tau duluan.”
                “Apa’an Din?”
                “Billy koma. Habis jatoh dari tangga.”
                “Apa lo bilang? Kenapa lo ga ngasih tau gue? Di rumah sakit mana?”
                “Ya sorry Nes, gue pikir lo uda tau. Di rumah sakit Kartika Husada Nes.”
                “Ijinin gue. Apapun alasannya. Makasih banyak Din.”
                “Tapi ulangan lo Nes?”
                “Nyusul! Bye!”
                Ku berlari mengambil tasku dengan cekatan. Entah apa yang menarikku untuk segera  menemui Billy. Meninggalkan ulangan Fisikaku, meninggalkan Dinda yang terlihat panik mencari alasan, menyogok satpam agar bisa keluar, berperang melawan kemacetan, dan apapun! Apapun untuk menemui Billy. Ingin mataku menyemburkan air mata namun ku tahan. Tidak, Billy baik-baik saja. Billy akan baik-baik saja.
                Setengah jam kemudian aku sampai di rumah sakit tempat Billy di rawat. Dengan membayar argo taksi yang lumayan aku meninggalkan kembaliannya untuk supir taksi itu saja dan melenggang pergi. Setelah menanyai mbak-mbak resepsionis yang usianya kurang lebih 4 tahun lebih tua dariku, aku langsung menuju kamar Billy. Buru-buru. Entah apa pun penyebabnya aku buru-buru, aku tak peduli yang penting bisa melihat Billy.
                “Billy...” kataku lirih saat membuka pintu kamar.
                Mataku jelas berkaca-kaca namun tak bisa menitihkan sedikitpun air mata. Bagaimana aku tega melihat seseorang yang biasa mengusir kegundahanku sekarang terpejam dengan berbagai alat bantu pernafasan di tubuhnya?
                “Kamu pacar Billy nak?” sapa seseorang lain. Dia mamanya. Aku baru sadar kalau aku tak sendirian di ruangan berbau aneh ini. Pacar? Oh bukan. Sama sekali bukan.
                “Oh maaf tante, saya nggak nyadar kalau ada tante. Bukan tante, saya temennya Billy.” Kataku seraya mencium tangan Bu Hasna.
                “Atau kamu ini Nesya?”
                “Hehehe iya...”
                “Billy sudah cerita banyak tentangmu Nes.”
                “Oh ya? Lalu keadaannya sekarang bagaimana tante?”
                “Kata dokter sudah berangsur membaik. Tinggal menunggu saatnya siuman.”
                “Syukurlah kalau begitu.”
                “Kamu ga bohong kan Nes kalau bukan pacar Billy?”
***
                Hampir setiap pulang sekolah aku mengunjungi Billy. Bercerita tentang apapun yang ingin ku ceritakan. Bercerita apapun yang belum ku ceritakan pada danau. Pada air yang tenang. Sesekali aku membacakan dongeng di samping tempat tidur Billy. Pernah suatu ketika aku meminta izin mamaku tuk menjaga Billy hingga esok hari, dan mamaku memberi izin. Akhirnya aku menghabiskan malam mingguku bersama Billy yang diam di rumah sakit.
                “Billy...”
                Sapaku saat aku mengunjunginya sore ini. Kali ini aku tak membacakannya sebuah dongeng atau yang lainnya. Tapi aku memandangi bola matanya yang entah sudah berapa hari tertutup. Aku merindukan sorot matanya yang memandang ke arahku. Aku mengakui aku merindukan semuanya.
                “Bill...” kali ini ku genggam tangannya. Sama persis saat ia menggenggam tanganku di danau waktu itu.
                “Billy gue kangen. Gue kangen semua tentang danau. Dengerin cerita lo, bercanda sama lo, suka ngatain bareng, janjian ketemu di danau, dan elo yang dateng dan lenyap tiba-tiba. Gue kangen Bill, gue kangen...”
                Tanpa terasa, kali ini airmataku setetes demi setetes mengalir hangat melewati lekuk pipiku. Rindu. Kangen. Atau apapun kosakata yang lainnya. Memang itu yang kurasa sekarang.  Sakit ternyata. Baru kali ini juga aku berbicara sendiri dengan manusia yang bingung akan terus terpejam atau bangun.
                “Elo denger gue kan Bill? Elo kan selalu dengerin gue, hehehe... bangun dong Bill, lo nggak kangen sama danau? Danau kangen elo. Kangen banget. Sama kangennya kaya gue ke elo. Danau kangen sorot mata lo yang kalo pas ngeliat tuh bisa gimana gitu. Lo bangun ya Bill, gue selalu nungguin lo di danau..”
                Ku menyeka air mataku perlahan. Senang bisa menjenguknya setiap saat. Senang bisa berbicara terus terang padanya walau tak ada jawaban. Dan saat aku pulang meninggalkannya, aku sama sekali tidak mengetahui ada satu hal terjadi. Jemari tangan Billy bergerak. Sedikit namun pasti. Dia merindukanku.. merindukan danau itu juga.
***
                “Nesya sayaaang...” wow. Dinda memelukku dari belakang pagi ini sungguh wow. Berat tubuhnya 8kg lebih berat dari berat badanku.
                “Apa sih Diiin, ngga liat orang lagi belajar apa.”
                “Eciyeee, Nesya gue belajar. Sejak kapan buuuk?”
                “Sejak gue kabur dan ulangan fisika gue melayang.”
                “Eh nggak lupa ternyata ama yang satu itu. hahaha”
                “Anjir lo.”
                Ponselku bergetar. Ada sms datang.
                Billy : Nes, ntar sore gw tnggu di danau ya. Bye bye, semangat ulangannya ^_^
                Mataku terbelalak. Tak percaya. Itu memang Billy yang mengirim sms. Itu Billy!!! Tentu ini semua membuatku terharu, tak percaya Billy sudah sadar dan tiba-tiba mengetik sms dan mengirimkannya untukku. Oh Tuhaaann!!
                “Dindaaaaa!!!!” teriakku sambil beranjak dari kursi dan melompat-lompat.
                “Apaan sih lo Nes? Eh eh duduk dong woleeesss..”
                “Billy Dinn! Billy!!!” kataku sambil mengguncang-ngunncang pundak Dinda.
                “Apa apa? Billy kenapa?”
                “Billy sadar Dindaaa!! Dia kirim sms nih buat gue. Baca nih Din bacaaa!!!” ku tunjukkan sms yang belum sempat terjawab itu di hadapan Dinda. Sekarang Dinda juga ikut melongo tak percaya membacanya.
                “Ini serius Billy Nes?”
                “Seriuuusss!!”
                “Uda deh sekarang lo yang semangat belajarnya, biar waktu ga berasa. Biar cepet berubah sore.”
                “Hahaha bisa aja lo!”
                Aku bahagia. Bersyukur dan ah entah sulit sekali ku deskripsikan dengan kata-kata. Yang penting nanti sore bertemu Billy!!!
***
                Kali ini aku menunggu dengan senang hati. Hatiku banyak ditumbuhi bunga-bunga yang langsung mekar. Hingga aku sendiri bingung mengapa di pertemuanku kali ini aku harus bingung memilih baju apa yang akan ku pakai. Dan kuputuskan tuk memakai dress soft pink dengan cardigan coklat.
                Munggu menunggu menunggu. Dan tak terasa penantianku yang di temani butiran gerimis sudah menunjukkan tanda-tanda akan berakhir. Langit sudah lebih gelap. Jam tanganku pun sudah menunjukkan pukul 05:16. Billy kemana lagi? Atau jangan-jangan itu bukan Billy? Hatiku mulai gelisah. Dingin malam sudah mulai terasa hingga aku harus menggosok-nggosokkan telapak tanganku.
                Dan akhirnya semuanya sia-sia. Mungkin Billy masih di rumah sakit dan mungkin tadi yang mengirimiku pesan bukan Billy. Billy, Billy, Billy. Aku kesal. Kecewa. Bukan karena Billy tak datang, tapi karena rasa rinduku juga yang tak terbendung. Ya. Sakit hatiku. Nyeri yang kurasa sekarang. Kecewa, dan entah bingung sekali bagaimana cara meluapkannya.
                “Hey!!!” ada yang berteriak dari belakang.
                Aku menoleh sekilas tak ada orang di sekelilingku. Tapi saat ku mengedarkan pandanganku ke langit, banyak balon yang diterbangkan. Belum begitu tinggi namun pas. Pas saat matahari samar-samar terlihat terbenam. Balon berwarna merah maroon berbentuk hati berterbangan. Sungguh indah. Belum pernah aku melihat yang seperti ini. Siapa yang menerbangkannya? Ada orang menikah? Atau yang lain? Langkahku untuk kembali ke rumah terhenti. Semua terhenti seketika karena takjubku.
                “Gue juga kangen elo Nesya...” tiba-tiba orang itu mendekap tubuhku dari belakang. Apa-apaan ini? Tubuhnya yang lebih tinggi dariku tiba-tiba datang dan memelukku. Terkejut. Aku berbalik dan. Itu Billy. Yang ku lihat sekarang Billy. Yang ada di hadapanku sekarang Billy. Billy!!!
                “Billy? Ini elo Billy?” tanyaku tak percaya. Tapi yang di hadapanku ini sudah cukup jelas kalau seseorang ini Billy!
                “Kenapa? Lo nggak ngenalin gue karena masih pake perban di jidat ya? Perlu gue copot?”
                “Eh jangaaan!!! Dan... hahaha... Billy elo bangun dan elo ke siniii!!!” kali ini aku reflek memeluknya. Mataku berkaca-kaca dan lidahku kelu untuk mengucapkan berbagai macam kata yang ingin ku ungkapkan. Kekesalanku mereda. Hilang. Lenyap.
                “Gue seneng loh koma kemaren.”
                “Jahat lo. Tiba-tiba ninggal gue koma gitu aja.”
                “Hahaha, setidaknya pas gue koma bokap sama nyokap gue akur. Nggak tengkar.”
                “Gimana lo tau?”
                “Buktinya gue berasa kalau mereka selalu kompak jagain gue. Dan sampe gue kemaren siuman, yang gue liat pertama juga mereka.”
                “Ya... lumayanlah ya ternyata. Ada hikmahnya juga...”
                “Elo ga ikhlas ya gue koma? Makanya gue masih bisa bangun gini. Hahaha.”
                “Elo gila apa. Mana ada orang yang tiba-tiba rela liat orang nyebelin koma.”
                “Nyebelin, tapi ngangenin kan? Haha”
                Dasar dia, dasar Billy, dan dasar aku juga. Tak pernah sepi dengan ledekan. Kebiasaan itu sulit kami hilangkan. Kebiasaan duduk berdua dan meledek. Tertawa. Bercerita berdua dan tentunya di danau ini. Lucu.
                “Jadi, lo suka sama balon yang tadi?”     
                “Nggak perlu gue jawab, lo pasti uda tau. Haha.”
                “Gue udah nyogok balon so sweet gitu masa gue masih belom bisa ngapelin lo?”
                “Ha? Maksud lo?”
                “Nes...” kali ini ia menatapku lekat. Pandangannya membuatku tak bisa mengelak kemana-mana. Seperti sudah terborgol, pandanganku juga hanya terpusat padanya.
                “Gue sayang sama lo. Sayang banget. Gue denger saat lo bilang kangen sama gue. Gue denger saat lo bacain dongeng buat gue. Gue denger juga saat lo di tanya mama lo pacar gue apa bukan. Gue denger, tapi malaikat masih ngelarang gue bangun.”
                Aku masih terdiam.
                “Nes... kalau gue pengen lo jadi pacar gue, kira-kiraa..”
                “Nggak!!!” kataku cepat.
                “Nes?”
                “Elo nggak mungkin nggak tau jawaban apa yang gue kasih. Hahaha.”
                “Jadi?”
                “Ya katanya lo pengen ngapelin gue? Sekarang udah di ijinin lo malah lemot gini.”
                “Dasar elo Nesya nyebeliiinn!!!”
                HAHAHA...
***
                Tawa kami menghiasi lingkar senja hari itu. Aku menyayangi Billy, sangat amat. Begitupun Billy. Entah takdir apa yang membawa kami ke sini. Mempertemukan kami di danau ini, menorehkan segala kisah kami di danau ini, dan semua yang kami jalani serba menghiasi tempat ini. Bukan karena awalnya saja kami manis. Tapi aku ataupun Billy menyadari sejak awal kita bertemu, rencana Tuhan yang indah sudah terasa. Dan terbukti. Rencana indah itu datang. Walaupun kami yakin tak semua skenario dari Tuhan itu indah, tapi entah adanya aku ataupun Billy selalu bisa melengkapi ketidak indahan itu.
                Tetap membuat janji di danau ini, bercanda, bercerita, beradu ledekan dan semuanya. Apapun itu, ceritaku, ceritanya selalu menghiasi dengan amat rapih di danau ini. Istimewa ya J

Pernahkah kau menguntai hari paling indah?
Ku ukir nama kita berdua, di sini surga kita :) - My Heart

No comments:

Post a Comment