Saturday, December 8, 2012

Danau ini istimewa ya :) #Part1


"Di sini kau dan aku terbiasa bersama..." :)

                “Mamaaa.. aku berangkat udah telaaat!!!”
                “Nesyaaa, susunya belom diminuuum!!!”
                Sudah tak ku grubris perkataan mama yang itu. Jarum jam sudah menunjukkan pukul 07:45. Belum lagi gerimis masih sedikit demi sedikit jatuh bebas ke bumi. Ku dengar masih ada bunyi guntur bersahutan pelan. Cemas. Panik. Entah aku berapa kali melihat jam yang melingkar di pergelangan tangan kiriku saat menunggu bus di halte. Akhirnya! Bus yang ku tunggu datang. Tak peduli sesak atau harus bertaruh nyawa, aku menorobos masuk dalam kerumunan penumpang. Jaket yang ku pakai terlihat sedikit berbintik terkena gerimis.
                Dan, siapa yang ada di depanku ini? Dia lagi? Seseorang yang setiap hari ku temui dalam bus bahkan sekarang bisa kompak terlambat bersama seperti ini. Namanya siapa? Sebenarnya sedikit penasaran tp aku tak ingin menanyai namanya. Dia siswa SMA ku juga. Almamater yang ia kenakan sama dengan yang ku pakai.
                Bus melenggang cukup kencang hingga akhirnya sampai tepat di gerbang sekolahku yang kurang 1 meter lagi ditutup. Terpaksa ku tarik paksa tangan si cowok itu dan lari sekencang mungkin.
                “Paaaak tungguuuu!!!” teriakku.
                “Stop di sini.” Katanya garang.
                Aku dan si cowok tadi terdiam. Memikirkan bagaimana caranya bisa masuk.
                “Telat lagi. Kompak banget sih kalo telat. Bosen gue liat lo berdua.” Susulnya.
                Aku dan dia tetap terdiam.
                “Eh Pak Eko, selamat pagi pak.. Oh iya, umm.. Pak Ikhsan, coba noleh ke belakang, itu di panggil pak Eko.” Tiba-tiba suara cowok ini muncul dengan santai. Aku melongo. Kepala sekolahku, Pak Eko sama sekali tidak ada di belakang satpam garang ini.
                Si satpam menoleh ke belakang daaaan... kali ini tanganku yang di tariknya dengan paksa dan berlari sekencang-kencangnya melewati gerbang yang nyaris tertutup itu. Dia membawaku ke deretan kantin. Nafas kami jelas terengah. Entah bagaimana jadinya satpam tadi itu. Kami berhenti, di depan salah satu kantin. Saat berhentipun tangannya masih menggenggam erat pergelangan tanganku. Saat ku sadar, ku lepaskan pegangannya.
                “Eh sorry.” Katanya masih setengah terengah.
                “It’s okay. Thanks ya.” Kataku cuek. Padahal aku masih penasaran. Dapat ide brillian dari mana ia hingga bisa berakting seperti itu.
                “Eh tunggu lo mau ke mana?”
                “Ke kelas lah. Kenapa?”
                “Lo liat nggak sih ini jam berapa.”
                “Lo mau ngajakin gue bolos? Haduh makasih deh. Gue duluan ya.”
                “Jangan sampe lo dihukum di depan pintu kelas gara-gara telat.”
                Langkahku terhenti. Tak mengerti maksudnya.
                “Apa sih lo?”
                “Elo waktunya Mom Sisca kan? Mau lo di hukum dateng jam segini?”
                Tau darimana? Pikirku. Langkahku kembali menuju cowok itu. Sedikit banyak katanya itu benar. Aku duduk di sampingnya di kantin itu.
                “Lo siapa sih? Heran tau nggak sih gue. Lo tetangga gue?
                “Cerewet ye lo. Gue Billy. Bukan.”
                “Apa urusan lo kalo gue cerewet? Bukan tetangga gue? Kenapa hampir tiap berangkat kita barengan? Telat pun bareng. Lo ngintilin gue?”
                “GR lo!”
                “Hei lo mau kemana?” kataku saat si cowok itu melenggang meninggalkanku.
                Si cowok itu tidak menjawab. Cuek. Dingin. Kadang juga misterius. Oh ya, dia bukan “si cowok” lagi, tapi Billy. Namanya Billy. Hmm, namanya taak selucu orangnya.
***
                “Dia stalker elo kali, haha.” Kata Dinda dan asli ngawur.
                “Gila apa, ngaco lo.”
                “Ya kan siapa tau Nes. Trus trus gimana? Cakep ga?”
                “Cakep darimana. Cuek, dingin, innocent yang iya.”
                “Tapi dia anak sekolah ini juga kan?”
                “Ho’oh.” Jawabku sambil menyeruput teh kotakku.
                “Kelas berapa?”
                “Mana gue tau. Bukan urusan gue kali. Tapi asli, gue sama sekali ngga pernah ngeliat tuh anak.”
                “Misterius ya.”
                “Banget Din.”
***
                “Kamu lihat itu anak kamu? Sukanya ngelayap nggak jelas!”
                “Itu anak papa juga! Kenapa yang disalahin mesti mama terus?”
                “Kamu yang paling dekat sama Billy Ma, harusnya kamu bisa lebih jagain Billy!”
                “Papa juga gitu. Sibuk terus! Mana bisa kasih contoh yang baik buat Billy.”
                Tangan Pak Raka, Papa Billy, sudah melayang hendak menampar Bu Hasna, Mamanya. Tiba-tiba pintu rumah terbuka paksa oleh kedatangan Billy.
                “Jangan pukul Mama!” teriak Billy dan seketika berlari dan memeluk mamanya.”
                Plassshhh!!!
                Tamparan keras mengenai pipi Billy.
                “Ahh..” ujung bibirnya berdarah.
                “Billy...” Papanya hendak menyentuh bibir anaknya, tapi Billy memalingkan muka.
                Suasana tegang mendadak menjadi hening. Papanya melenggang pergi ke kamar. Sepertinya menyesal. Mama Billy menitihkan air mata melihat anak semata wayangnya terluka karena papanya sendiri.
                “Billy nggak apa ma.”
                “Tapi bibir kmu berdarah nak.” Kata Bu Hasna mengompres pipi Billy.
                “Andai kakak masih ada.”
                “Kakakmu ingin kau yang menggantikannya. Ingin dia tersenyum di surga kan? Lakukan yang terbaik untuk Mama dan Papa nak.”
                “Mama kenapa betah sih sama Papa?”
                Bu Hasna terdiam.
                “Mama naruh ini dulu ya.” Sambil membawa baskom berisi air hangat, ia menginggalkan Billy.
***
                Wow. Sejuk sekali udara di sini. Aku suka. Entah kenapa aku sangat menyukai tempat ini sebagai persembunyianku menyendiri. Danau ini selalu menjadi saksi bisu di mana aku menulis cerita, berteriak kesal, bahagia, atau di suasana yang lainnya. Dan sampai sekarang aku belum pernah melihat orang selain aku mengunjungi tempat ini.
                Hatiku lelah. Otakku pun merasakan hal yang sama. Mataku yang sayu, memperjelas semua kegundahan yang ku alami hari ini. Aku bertengkar hebat dengan Bagas, kekasihku sejak setahun yang lalu. Bagas seorang yang protektif, hobi mengomel, hobi memarahiku di setiap kesalahan kecilku, dan seorang yang tak mau diomeli balik. Selama ini aku diam. Berusaha cuek dan mengiyakan segala perkataan Bagas walau kadang tak betul-betul ku iyakan. Namun sekarang aku lelah. Bagas sudah keterlaluan sekarang. Dia berani main tangan. Dan saat ia menuduhku sudah bosan dengannya tadi, aku membantah keras hingga nada suaraku beranjak tinggi dan seketika telapak tangannya hampir mendarat di pipiku namun masih bisa ku tangkis, dan pergi. Sialnya, saat aku ceritakan pada mamaku, dia lebih percaya pada Bagas. Entah apa yang ada dalam diri Bagas sehingga mamaku bisa sebegitu percaya dengannya. Mamaku menganggap mungkin aku yang terlalu bandel, dan mamaku juga menganggap mungkin Bagas seperti itu dengan tujuan yang baik untukku. Tidak. Perkataan mama tak sesimpel apa yang terjadi pada kenyataannya.

BERSAMBUNG

No comments:

Post a Comment