Tuesday, January 22, 2013

Ada Udang di Balik Batman

Minggu kemarin. Suram. Kelabu. Mendung. Apalagi ya? Dan lain-lain deh. Tidak banyak aktifitas yang aku lakukan. Ya pling-paling hanya latihan menari pagi hari, dan siang sudah kembali ke kandang. Tak ada yang berarti. Apalagi, ditambah otakku yang masih segan untuk memikirkan satu nama yaitu kamu. Kenapa kamu? Haruskah kamu kamu kamu dan kamuuu? Haruskah keadaan anehmu ini selalu menyesakkan ruang pikirku?

Aku senang kamu pulang hari ini. Doaku mengalir deras untukmu tentunya semoga selamat sampai ke kota ini dengan utuh. Sedikt-sedikit aku menanyaimu, sampai mana. Tapi tak sedikit juga pesan singkatku tidak kamu balas. Tumben? Nah itu yang jadi pertanyaan.

* SMS *
Aku : Jadi barengan sama mbak Riri?
Kamu : Iya nih satu tempat duduk sama dia n temenku..

Nah!!! Apa?
Cetar membahana sekali. Sudah ketara aku tertawa lepas namun sangat tidak ikhlas. Aku bingung. Sebenarnya mereka itu bagaimana. Batman, dan dia. Berpisah bukan? Atau tidak? Atau kembali? Atau apa yang lainnya? Bertanya saja sudah susah, apalagi menjawab. Bahkan yang ini lebih rumit dari ratusan rumus-rumus fisika yang di ajarkan Pak guru awang-awangku di sekolah.

Selanjutnya, aku tak memikirkan lebih lanjut. Aku biarkan hingga dia sampai dengan selamat di sini. Dan aku bersyukur sekali saat ia mengatakan jika ia sudah tiba dan kembali di kota ini. Ya bahagiaku selain karena keselamatannya, aku senang karena kemungkinan ia akan bertandang ke rumahku itu ada. Berharap ya? Pasti. Berharap kalau tiba-tiba ada sms darinya yang mengatakan "Aku di depan". Dan aku tidak bisa munafik kalau sms itu membuat banyak kembang api ukuran jumbo diledakkan bersama-sama di hatiku. Jujur aku rindu saat-saat seperti itu. Sayangnya mesin waktu hanya ada di dunia komik Doraemon. Kalaupun di sini ada, aku akan mengembalikan saat-saat bersamamu yang menurutku wow. Tapi ya tidak mungkin.

Dan tibalah malam Senin ini asli aku merasa menjadi orang bodoh yang duduk di samping cendela kamarku, dan sesekali membuka gorden kamarku untuk memastikan ada seseorang yang berhenti di depan rumah atau tidak. Aku menunggu. Satu jam. Dua jam. Dan itu asli tidak terasa. Dan jam menunjukkan pukul 8 lebih entah berapa menit. Hingga asli aku takut melihat jam yang berputar, kenapa? Semakin berputar, semakin kecillah kemungkinan yang akan membawa kamu ke rumahku. Bukan begitu? Tapi ya memang tidak. Kamu tidak mendatangi rumahku. Tidak.

Aku kangen saat kamu ke rumahku. Saat kamu membertahuku kamu ada di depan rumahku. Kangen saat kamu datang tiba-tiba. Kangen saat kamu memberiku kejutan-kejutan kecil. Kangen mendengarkan segala macam bentuk dan rupa ceritamu. Kangen melihat senyum khasmu, gingsul dan lesung pipimu. Kangen apa lagi ya? Banyak sekali kangen-kangen yang lainnya yang jelas menyesakkan relung batinku yang tak bisa juga ku definisikan bagaimananya.

Akhirnya aku merasa harus meneleponnya, harus!!!

Aku : Halo assalamualaikum
kamu : Waalaikumsalam
Aku : Lagi di mana?
kamu : lagi di rumah
Aku : Oh
kamu : eh tunggu bentar ya aku mau keluar, ntar aja telponnya


SEE!!! Apa-apaan ini? Haruskaaah? Sungguh emosiku naik. Rasanya ubun-ubunku memanas. Ada apa sih sebenarnya? Kamu sendiri belum menceritakan apa-apa padaku kan? Lalu bisakah kamu menjelaskan ini secepatnya?

Malam itu aku kalut. Galau ku sudah mencapai puncaknya. Kamu yang tidak pernah berbohong padaku, kamu yang tidak pernah sekalipun tertutup padaku, kamu yang selalu blak-blakan menceritakan segala sesuatunya tentang dirimu, dan apapun yang lainnya, mengapa sekarang berubah? Kenapa harus membohongi seorang aku? Punya salahkah aku padamu?

Malam itu aku juga larut dalam heningnya malam, pekatnya awan mendung, dan tiadanya bintang-bintang. Seakan antara hati dan otakku porak-poranda. Jika ditanya aku kecewa, itu sudah pasti. Ya sakit ya kecewa ya gundah ya gulana. Apapun itu. Tapi aku mencoba tenang. Tenang dalam kekalutanku sendiri. Tenang dalam ketidak normalan sementara ini.

Sedikit lebih malam, aku kembali mengiriminya SMS. Entah kenapa feelingku yang berkata kalau kamu sedang jalan dengan mbak Riri itu, kuat. (Baca: Sangat kuat)

*SMS*
Aku : Lagi keluar sama mbak Riri ya?
Kamu : Iya dek. mau keluar sm aku?
Aku : dek? :o
Kamu : Aku Riri dek, kenapa dek?
Aku : Oh gpp mbak :D hehe lanjutin aja, have fun ya ^_^
Kamu : Kenapa dek? Mau ikut maen kah?
Aku : Engga mbak, cuman nanya aja tadi :)
Kamu : Ohh

Apa ini? APAAA?
Bukan kamu yang membalas, sekali lagi bukan kamu. Entah kenapa ini bisa terjadi. Bukan kamu tapi dia. Kok bisa sih? Gimana bisa sih? Ya pasti bisalah, sudah jelas dan terpampang nyata di depan mata kan kamu sedang menikmati udara malam bersamanya. Tahukah kamu bagaimana aku yang sangat ingin melihat kehadiranmu di sini? Tahu? Dan sepertinya tidak. Kamu tidak tahu atau pura-pura tidak tahu, itu beda tipis.

Aku tidak bisa munafik jika aku sakit. Badanku pun terkena imbasnya. Lemas seketika. Seakan aku dipaksa kerja Rodi tapi tidak. Dan kalaupun boleh memilih, aku lebih baik tahu yang sejujurnya daripada kebualannya. Tak peduli semenyakitkan apa jujur itu namun jika itu JUJUR aku sampai sekarang pasti baik-baik saja. Dan jika senjata jujur itu kamu pakai, itu justru membuatku tau dan lebih lega daripada harus kamu sayat-sayat dulu kemudian diberi jeruk nipis. Tahu?

Aku emosi PASTI. Aku merasa dibohongi PASTI. Aku kecewa juga sudah sangat jelas aku kecewa namun masih dalam batas normal. Aku masih yakin semuanya membaik. Entah bagaimana caranya, masing-masing darimu atau aku, akan menemui titik terangnya sendiri.

Dalam sujudku aku bercerita. Bercerita mengutarakan apa yang bersarang dalam hatiku. Berdoa agar segalanya memang baik-baik saja dan berujung baik-baik saja. Aku ingin yang terbaik untukku, dan yang terbaik juga untuknya. Meminta melapangkan sabarku dan ladang keikhlasanku. Aku tak peduli di depanNya aku terlihat rapuh, cengeng, atau bagaimana. Yang penting aku lega dan benar-benar ingin tenang.

Allah tidak tidur
Allah adil
Allah selalu mendengar
Allah selalu melihat
Allah selalu memberi yang terbaik
:)

Tahu kan aku sayang kamu?
Tahu kan aku merindukanmu?
Tahu kan aku biasa menunggumu?
Harus kah semua berbalik sedemikian ini? :)

No comments:

Post a Comment