Sunday, January 20, 2013

Aku Cuma Ingin Dengar Suaramu (End)



                Setelah puas menumpahkan segala beban, aku merasakan sensasi yang jauh lebih baik dari sebelumnya. Aku bisa tertawa lebih lepas. Jiwa dan batinku serasa lebih tenang daripada tadi. Jantungku juga mulai berdetak normal. Aku menikmati perjalanan pulang ke rumahku sore ini. Udara yang ku hirup seakan lebih ringan dan lebih lembut saat menubruk bulu-bulu hidungku. Semua seolah sirna dan aku rasanya sudah siap diri untuk lebih menguatkan hati dan pikiranku. Banyak kegundahan yang sirna berkat mereka, teman-temanku ada di sampingku.




                Batman. Aku ingat sosok itu lagi. Seharian ini aku memutuskan tidak menghubunginya terlebih dahulu karena ku rasa itu tidak perlu. Masih sedikit ada ganjalan jika aku tetap memaksakan menghubunginya namun tetap tidak ada jawaban. Percuma.
                Sampailah aku di rumah, dan ku hempaskan diriku ke sofa di ruang keluarga. Lelah sekali rasanya. Dan ku buka ponselku, mengecek siapa tahu dia menghubungiku. Dan terlintas di pikiranku, sepertinya ini waktu yang tepat untuk ku menghubunginya. Jam menunjukkan jam 03:00 sore dan ku putuskan untuk meneleponnya. Nada sambung memang terdengar, lamaaa sekali hingga pada akhirnya tak seorangpun yang menjawab panggilan teleponku. Baiklah, mungkin sedang tidur atau masih dalam perjalanan pulang dari kantor. Yasudah, tak ku paksakan.
                Pas waktu maghrib, aku berpikir, sholat dulu saja baru akan ku coba menghubungi lagi siapa tahu memang ada jawaban. Ya, aku menunaikan ibadah sholat maghrib. Dalam sepi ku lantunkan doaku untuknya, meminta segala sesuatu yang terbaik untuknya dan segala sesuatu yang terbaik untukku. Menitipkan salam lewat Tuhan untuknya, meminta pertolongan untuk sampaikan bahwa aku sangat merindukannya, sangat amat. Dan hatiku, lagi-lagi jauh lebih teduh.
                Ku raih ponselku, dan bismillahirrohmanirrohim, aku meneleponnya. Yang awalnya aku duduk di ruang keluarga, aku berpindah menuju ke ruang tamu mencari suasana yang lebih tenang. Lama sekali nada sambung terdengar dan aku mulai kehilangan harapan kalau saja teleponku ini tak ada yang menjawab. Detik detik terakhir penghabisan nada sambung, seseorang di sana menjawab pangilanku.
                “Halo assalamualaikum.”
                Aku terdiam, memastikan itu suaranya.
                “Iya waalaikumsalam.”
                Aku dan dia kali ini sama-sama berhenti bicara sejenak.
                “Sorry ya, sorry sorry sorry maaf bangeeet, maaf banget kemarin ga bisa bales sms kamu sekaligus ga bisa jawab telpon kamu. Maaf banget yaa..”
                Aku tercengang. Bagaimana tidak? Tiba-tiba disodori seribu maaf seperti itu.
                “Iya iya, gapapa. Emang kamu kemana?”
                “Aku di Solo sekarang.”
                “Hah?”
                Solo? Tenggorokanku rasanya tercekat. Bingung ingin berkata apa. Solo lagi.
                “Panjang ceritanya. Nanti deh kalo aku pulang aku bakal ceritain ke kamu. Besok pagi aku pulang kok.”
                “Ya tapi kenapa nggak bilang dulu sih.. ya nggak harus bilang juga sih sebenernya.”
                “Aku niatnya bikin kejutan, sama mau kasih sesuatu sama dia.”
                “Mbak itu?”
                “Ya mau siapa lagi.”
                Aku terdiam.
                “Aku juga pengen liat, ada perubahan nggak sama dia.”
                Dan asli saat ini aku reflek langsung menutup mulutku dengan telapak tangan kiriku. Takut kalau tiba-tiba aku menangis lagi. Tapi tidak, aku tidak menangis. Aku sadar siapa lawan bicaraku. Dia adalah seseorang yang tak ingin melihatku menangis.
                Jadi yang ia katakan saat ada di rumah temannya itu? Bohong? Dia butuh uang untuk kebutuhan mendadak waktu itu? Apa untuk ini? Jadi apa dia memang menutupi semuanya?
                “Halo Linda?”
                “Hah iya?” aku tersentak dalam lamunanku sendiri.
                “Kamu kenapa?”
                “Oh engga aku gapapa.”
                “Besok pagi aku udah pulang kok.”
                “Udah beli tiket?”
                “Udah, aku udah booking tiket dari hari selasa kemarin.”
                “Oalah udah lama ternyata ya.”
                “Ntar juga pulangnya barengan sama dia.”
                “Hah? Maksudnya? Dia juga ikut pulang gitu?”
                “Iya, cuman dia nanti mampir dulu ke Klaten, ke rumah neneknya.”
                “Oh gitu..”
                “Kemungkinan juga satu kereta. Tapi beda tempat duduk.”
                Hah? Oke. Dia sukses membuatku terhenyak sekali lagi. Tapi ini kenyataan, bukan mimpi. Kalaupun mimpi jelas aku sebut ini mimpi buruk.
***
                Dan entah kenapa tak terbesit sedikit rasa marahpun. Yang ada rasa kangenku yang semakin membuncah dibuatnya. Aku lega karena untuk sepersekian menit aku bisa bercakap denganmu, mendengarkan sedikit ceritamu. Tidak ada emosi sedikitpun. Untuk kenapa dan mengapanya aku sendiri juga tidak tahu. Ku biarkan dia beristirahat menenangkan kepalanya yang pening. Tetap mengalir perhatian dari bibir dan hatiku agar ia menjaga kesehatannya. Berpesan agar hati-hati besok saat pulang.
                Banyak yang ku simpulkan. Kebutuhan mendadak itu, saat di rumah teman, dan apalah yang lainnya seakan berfungsi sebagai kain hitam agar tak terlihat dari luar. Tapi kenapa harus tidak mengatakan yang sebenarnya? Aku sedikit merasa dibully, tapi sedikit, tidak banyak. Dan syukurlah dia sudah mengabariku tentang keberadaan dan keadaannya.
                “Kalau kamu masih ingin lihat dia berubah, apa itu artinya kamu juga masih ingin kembali ke pelukan dia?” pertanyaan yang belum bisa terbaca jawabnya. 

1 comment:

  1. hhhhmmmmm.....asyiiik, asyiiik...
    msh byk yg hrs kita lakukan n lbh berguna utk sekitar kita,
    ayo kita sama2 berdoa n berjuang utk menyosong masa dpnMu Sayaaang....
    i luv u very much...

    ReplyDelete