Saturday, January 19, 2013

Aku Cuma Ingin Dengar Suaramu (Part I)

                Aku lebih suka diam pagi ini. Tak berbicara banyak dan lebih memilih untuk membaca novel dalam mobil. Ayahku tak berkomentar apapun selagi ia menyetir dan tahu si putri sulungnya ini tiba-tiba diam mendadak. Tak banyak percakapan yang ku buat dengan ayah pagi ini. Sepertinya ayahku juga sudah mengerti aku kenapa dan mengapa.
                Sesampainya di kelas, tetap sama dan tetap diam. Awal pagi ini aku tak mengeluarkan suara apa-apa kecuali berbicara seperlunya. Rasanya sisa kepingan hatiku yang semalam masih belum selesai ku rangkai dan sekarang aku harus menerima menjalani hariku dengan batin yang masih luka.
                Dan kebetulan hari ini adalah hari dimana aku harus menjalankan kewajibanku sebagai warga kelas untuk piket. Aku tak ingin menyapu atau membersihkan cendela. Aku lebih memilih untuk membersihkan whiteboard yang ada di kelasku saja. Ku pikir aku masih kuat jika hanya untuk itu.
                Ditengah tangan dan lenganku bekerja sama membersihkan reaksi-reaksi kimia yang tertulis di sana, aku berhenti sejenak. Ku menarik nafas berat. Rasanya seakan ada batu besar yang menindihi paru-paruku dan itu menyakitkan.
                Ku pejamkan mataku. “Aku kuat, harus kuat.” Kataku menyemangati diriku sendiri. Air mata sudah menunggu di pelupuk untuk segera meluncur tapi aku tahan dan tak ingin ku lepaskan terlebih dulu. Aku ingin mencoba menyemangati diriku sendiri kalau aku baik-baik saja.
                “Lin, kenapa?” tanya temanku, Lia.
                Sambil berlalu menuju ke mejaku, aku tersenyum membalas rasa simpatinya. “Aku gapapa.”
                Tapi aku sungguh tak yakin mengatakan itu. Rasanya hembusan nafasku semakin sakit saat mengatakan dan berpura-pura menguatkan aku baik-baik saja.
                Ku putuskan untuk duduk saja di kursiku, melipat tanganku, dan membenamkan muka kusutku. Mencoba menenangkan diri sampai Novi , teman sebangkuku datang. Aku berdeham berkali-kali dan berkata pelan tapi pasti jika aku kuat, aku tak kalah dengan keadaan dan apalah kata-kata penyemangat lainnya. Tapi semuanya kalah. Dan aku tetap saja masih belum bisa menguatkan diri, sial.
                Tibalah Novita, Nupi, atau siapapun panggilannya. Ia muncul dengan wajah bersinar. Ya seperti biasa. Selalu begitu setiap pagi.
                “Nup...”
                “Naaahhh..” sapanya padaku.
                Aku terdiam. Ku genggam jemari tangan kirinya.
                “Hei lo kenapa?”
                Aku masih terdiam, menunduk.
                “Lin?” kemudian tangan kanannya mengangkat daguku.
                Mataku sudah memerah namun tak kunjung mengeluarkan semburan air mata.
                “Linda elo kenapaaa?” nah inilah. Nupi panik dan langsung memelukku.
                Aku tak bisa berkata apa-apa. Aku menangis dalam pelukannya sekuat mungkin, sekeras mungkin. Tak peduli hiruk pikuk berbagai aktifitas di kelasku.
                “Sabar sabar sabaaar.. nangis deh sepuas lo. Nangis aja yang kenceng.” Kata Nupi.
                Dan kini, tangisku mulai reda dan aku sibuk mencari tissue sebagai tempat penampungan sisa-sisa ingus dan air mata.
                “Udah, tenang?”
                Aku mengangguk.
                “Cerita ya pelan-pelan.”
                Ku menarik nafas panjang, menegaskan aku sedikit lebih baik daripada tadi. Masih menggenggam tangan Nupi, aku mulai membuka cerita.
                “Batman, Pii...”
                “Uhum..”
                “Lo tau kan dari hari Kamis malem 2 sms gue udah pada ngga di gubris sama dia. Dan hari Jum’at pagi, nggak ada sms apa-apaan kan dari dia. Jam 10 pagi, coba deh tuh gue sms dia : Selamat jam 10, have a nice day. Nggak di bales sampe habis maghrib. Akhirnya gue sms lagi : Batman.. nggak ada balesan lagi. Gue telpon deh tuh. Nyambung. Nada sambung bunyi 3 kali, dia angkat. Halo, assalamualaikum, kata gue. Dia jawab, waalaikumsalam. Seneng dong gue. Eh tba-tiba dia bilang : Eh bentar ya aku lagi di rumah temenku nih. Gimana nggak shock sih gue? Akhirnya yaudah gue jawab : yaudah, makasih ya, waalaikumsalam. Gue tutup deh tuh telpon. Tuh orang kenapa sih Pi...” dan kembali menetes lagi air mataku, ya Tuhan.
                “Nah kan coba. Ada sesuatu nih.”
                “Pastilah.”
                “Sabar sabar. Lo kenal dia kan, nggak mungkin dia kaya begitu.”
                “Iya, dia bukan Elang yang ninggalin gue gitu aja.
                “Cup cup, sabar... Badan lo sampe panas nih. Sabar..”


No comments:

Post a Comment