Monday, January 14, 2013

I do love you :)


                “Pi, gue kangen dia.”
                “Kangen? Bukannya kemarin dia uda ngeband bareng lo?”
                “Iya gue tau. Tapi bukan itu.”
                “Trus?”
                “Apa ya? Ga tau deh ah gue sendiri bingung jelasinnya gimana.”
                “Lo masih kepikiran hari sabtu kemarin?”
                “Yagitudeh. Gue butuh semangat Pi, lebih-lebih dari dia. Lo tau kan dia sibuk terus.”
                “Udahlah sabar dulu. Nanti ada saatnya sendiri.”
                Suasana gaduh pagi itu lenyap dengan datangnya Pak Untung. Tapi tidak untuk hatiku. Masih sama berteriak aku merindukanmu.
***
                Entah sudah berapa ratus kali aku membuka flip ponselku hari ini. Berharap ada sebuah pesan darimu, tapi kenyataannya nihil. Ya mungkin kau masih sibuk. Lagipula walaupun aku yang berkali-kali mengiriminya sebuah pesan, ya apa mungkin dibalas?
                Terik sekali cuaca siang ini hingga rasanya membuat kepalaku pening. Pening karena cuaca, dan entah kenapa pikiran tentangmu juga seakan mendukung suasana sepanas ini. Oh tidak, ditambah lagi ruangan ini pengap. Pendingin ruangan yang sudah bekerja mati-matian sepertinya tak berguna.
                “Tumben sih panas banget nih lab.” Gerutu Nupi.
                “Hahaha, sekali-sekali sauna Pi.” Jawabku tanpa melihat ke arahnya.
                “Serius amat lu Ki.”
                “Haha biasa aja kok Pi.”
                “Ferdi sering stalking blog lo?”
                “Meneketehe. Iya kali.”
                “Kalo engga kebangetan menurut gue.”
                “Hah? Kebangetan gimana maksud lo?”
                “Tauk. Wkwkwk”
                Dan selain Nupi dan sahabatku yang lain, memang benarlah blog ini yang jadi saksi bisu cerita sedih senang suka dukaku bersama Ferdi. Pacarku? Oh syukurlah masih bukan. Aku dan dia dekat, sangat dekat menurutku hingga hubunganku dengannya bisa disebut “diantara atas dan bawah”. Dibilang teman sudah lebih, tapi pacar bukan.
***
                “Bilang I love you itu sudah biasa. Bagaimana agar bisa menjadi luar biasa dengan penekanan yang kuat?” tanya Pak Wid saat menjelaskan kepadaku dan teman-teman.
                Semua hening, tak ada yang menjawab.
                “I do love you.” Singkat namun, wow.
                “Aku benar-benar mencintaimu.” Lanjutnya lagi.
                Dalam hati aku simpan baik-baik apa yang disampaikan guruku yang umurnya kalau tidak salah berkepala 4 ini. I do love you. I do love you.
                “Angki!!!” suaranya menyambar telingaku. Dan jelas sukses membuatku gelagapan.
                “Eh eh iya pak?”
                “Iya iya apa? Dari tadi ngelamun mulu!”
                “Engga pak siapa bilang.”
                “Saya yang bilang! Kenapa? Hah?”
                “Oh damai dong pak hehehe..”
                “Keluar!!!”
                “Yah yah pak...”
                “Keluar sekarang Angki!!!
                Dan oke, mungkin memang bukan hariku.
***
                Sore itu hujan mengguyur sekolahku dan daerah disekitarnya tanpa kenal ampun. Awan pekat yang bergelantungan di angkasa agaknya seperti kawat jemuran, dan hujannya itu yang di gantung layaknya jemuran.
                Dan demi apapun, tak peduli hujan badai amgin topan sampai tornado pun, latihan tetap terlaksana dengan sebaik –baiknya. Oh menari, kenapa kau tak membatku luwes sebentar saja tuk bergerak bersamaku?
“Lo baik-baik aja?”
“Emang ada sesuatu apa sama gue”
“Sakit?”
Aku menggeleng.
“Wajah lo pucet. Yakin, dia itu baik-baik saja.”
“Ya gue harap juga demikian.”


No comments:

Post a Comment