Thursday, January 17, 2013

Yang Jelas, Aku Merindukanmu


Aku suka suasana pagi ini. Cerah. Dan tampaknya langit, matahari dan segala sesuatu di angkasa sangat sinkron dan kompak tuk melakukan ajang tersenyum bersama. Sedikitpun tak terlihat awan yang menggelayut manja di antara mereka. Hmmh, andaikan suasana jiwa dan ragaku sama persis seperti suasana pagi ini. Tapi ya memang tidak sama. Sangat tidak sama tanpa kehadiranmu, pikirku.

Pagi ini ragaku seakan terbang melayang entah melang-lang buana di lembah bumi sebelah mana. Bukan karena jatuh cinta, sedang bahagia atau hal-hal menyenangkan lainnya. Tapi raga yang menjadi tempat bersemayam nyawaku ini seakan mendukung suasana hati dimana perasaanku bersemayam. Rapuh, pegal, sakit dan apalah yang lainnya. Singkatnya, raga dan jiwaku sangat tolak menolak pagi ini. Rontok rasanya.

Seperti biasa, ku kayuh sepedaku menuju ke halte pinggir jalan raya. Ku nikmati triliunan oksigen yang masuk menembus bulu-bulu hidungku. Ku nikmati juga berjuta angin sepoy yang menabrakku pagi ini. Alhamdulillah.. Tuhan masih memberiku kesempatan menikmati udaraNya pagi ini.

Sampailah telapak kakiku menapak di halte di samping pertigaan ini. Belum ada bus yang lewat. Tergeraklah tanganku untuk mengecek ponselku. Siapa tahu ada kamu yang memberiku sedikit semangat pagi ini. Dan ternyata, nihil. Ku tarik nafas dalam, dan yasudah mungkin nanti, besok atau kapan.

Tidak ada yang berarti di sekolah. Asam basa dalam kimia, lari estafet dalam olahraga, jam kosong dalam bahasa inggris, diskusi dalam bahasa Indonesia, dan cukup. Hanya itu saja. Dan Tuhan melegakan hatiku seusai keringatku bercucuran dalam pelajaran olah raga. Kamu, mengirim sebuah sms untukku. “Semangat pagi,, ^_^” kata-kata langganan penyemangat darimu. Selalu begitu tak pernah berubah dan aku suka. Dan gurun rindu yang memuncak pucuknya longsor, sedikit namun tetap saja itu namanya longsor.

Dan aku merasakan lelah yang teramat sangat. Tentu saja keadaan seperti ini menjadi pembangun gurun rinduku padamu. Sesak. Ya sakit memang, tapi bukan aku namanya kalau tak pandai menahan. Bukan aku namanya jika tiba-tiba tak tahu diri mengatakan “aku kangen kamu”. Aku menahan, sampai nanti kamu yang memulai berkata. Aku diam menunggu kamu yang memulai pertemuan.

Padahal suasana sudah mendukung. Malam ini tidak hujan seperti malam kemarin. Hujan enggan datang malam ini. Tapi kenapa sosokmu juga enggan datang? Kenapa sosokmu seakan mendukung hujan atau bahkan menemani hujan yang tak datang malam ini? Tidakkah Tuhan menyampaikan salamku untukmu? Tidakkah kau mendengar sesuatu dari Tuhan yang mengatakan aku merindukanmu? Tidak?

Oh mungkin memang tidak. Dan entah rasa rindu ini akan sampai kapan betah bersarang di hatiku. Walaupun malam ini aku sudah memakai pijama kesayanganku, tapi tetap tidak ada yang datang malam ini. Deru motor yang terdengar melintas di depan rumahku, aku hanya berharap itu motormu. Tapi salah satu dari suara-suara itu tak ada yang mengindikasikan jika itu kamu. Hingga sampai ku dengar suara gembok terkunci tanda sudah benar-benar tak ada yang datang. Dan itu berarti, kamu tidak datang. Kamu tidak datang, dan sekali lagi kamu tidak datang.

Bukan hari ini, pikirku. Sabar saja. Ku kirimkan sebuah sms untukmu. “Lg sibuk?” dan belum ada jawaban sejauh 33 menit ini. Apakah kau sedang menyusuri jalan menuju rumahku? Haha mungkin hanya hiburku saja karena kau tak datang. Akankah datang pada pukul 9 tepat seperti kapan hari itu? Tidak ada yang bisa menjawab kecuali Tuhan.

Selamat malam untuk kamu yang kurindukan
Senyum ya, seperti bintang itu yang tersenyum buatmu :)♥

No comments:

Post a Comment