Sunday, February 3, 2013

1 dan 2 Februariku


Pagiku, Jumat, 1 Februari 2013.

Malam sebelumnya, ia menghubungiku. Meninggalkan 3 panggilan tak terjawab di ponselku. Selang waktu antar teleponnya juga tak lebih dari semenit. Dan aku berfikir, mungkinkah ada sesuatu yang penting setelah sekian lama ini aku tak menjadikan ia sesuatu yang penting lagi untuk dipikirkan? Masih bisa dia memikirkan aku setelah sekian perlakuannya padaku? Sepertinya Tuhan telah membukakan hati dan fikirannya. Sepertinya salam rinduku yang waktu itu baru didengarnya akhir-akhir ini saat aku sudah tak merindukannya. Paginya aku menanyakan padanya adakah sesuatu yang penting. Tapi tidak. Ia tak menjawab apa-apa dan tentu saja aku tak memikirkan itu lebih lanjut. Tidak penting.

Siang yang cukup terik itu, tepatnya jam 13:07:55, ia mengirimiku lagi sebuah pesan singkat. “Jam 4 aku tunggu di tempat biasa.” Wow. Tidak bisakah dia menanyaiku dulu aku ada kepentingan atau tidak sore itu? I not only had affairs with you, Sir. Don’t you relize it? Dan karena memang jadwal kegiatanku padat sore itu, alhasil aku tak bisa menemuinya. Ya, dia menyetujuinya dan memutuskan untuk bertemu lain waktu.

Malamnya, dia tak jera untuk terus menghubungiku dan berusaha mengajakku bicara serius.

Dia : ada waktu buat ngobrol gak?
Aku : sorry, aku baru pulang cek sound sm gladhi bersih. Ada kok. Mau ngobrol kapan emang?
Dia : minggu aja gimana?
Dia : sorry, habis bantuin ngeprint laporan sayang...

Dan lihat? Salah kirim merupakan hal yang wajar dalam kasus sebagian orang namun kali ini menjadi luar biasa karena aku bisa tertawa membaca pesan salah kirimnya. Tidak ada air mata yang menetes seperti waktu itu. tidak ada kesedihan dan duka yang mendalam saat aku menerima pesan singkat itu. Ya, memang waktu sudah menjawab; membongkar, suatu rahasia yang ia tutupi dengan sendirinya. Ups, bukan rahasia. Tapi mungkin lebih tepat jika disebut sebagai sesuatu yang tak ingin ia jelaskan padaku lebih awal.

Aku : di rumah ya kalau bisa, aku males keluar. Oh udah balik ya ternyata.. jangan grogi, ampe salah kirim gituu... hahaha
Dia : ups, sorry, ya aku pasti ke rumah kamu
Aku : ok
Dia : td nggak konsen sambil bikin laporan soalnya
Aku : it’s ok
Dia : i’m so sorry
Aku : ok, nevermind (y)
Dia : i am affraid about you

Dan kurasa aku tidak perlu menjawab pesannya yang terakhir ini. Lagi pula mataku sudah tak bisa di ajak kompromi untuk tidur lebih cepat. Dan yang jadi pertanyaan sebelum ku menutup mataku, “Mengapa harus takut terjadi sesuatu denganku, Tuan? Bukankah kau sendiri sudah tahu memang terjadi sesuatu padaku yang kau sendiri penyebabnya?”. Lucu memang. But, I’ve forgive you, Sir. Sudah dari saat pertama aku tahu kamu berbohong padaku. Karena menurutku ya ini yang membuatmu bahagia. Bukan begitu? Tapi cukup untuk kau tau saja, rasa kesal dalam hatiku belum sepenuhnya hilang dan aku yakin kau pasti tahu itu.

Pagiku, Sabtu, 2 Februari 2013

Sepagi ini, dia kembali menghubungiku. Jelas melalui pesan singkatnya lagi.

Dia : udah bangun?
Aku : uda slesai mandi nih, smalem takut kenapa?
Dia : udah ga usah dipikirin, kmu siap2 gih. Semangat pagi ya.. (kyanya udah basi, tapi tak apalah)

Apa mungkin kekasih hatinya sudah pulang sehingga ia bisa menyemangatiku seperti itu? Aku kira ia sudah lupa bagaimana cara mengucapkan semangat pagi yang sering ia berikan padaku. Aku mencari cari, dimana rasa bahagiaku yang timbul saat ia mengucap seperti itu padaku? Kenapa hilang tak berbekas sedikitpun? Apa mungkin aku lupa juga bagaimana caranya bahagia saat ia berada pada fase seperti itu?

Pada intinya, aku sudah memaafkanmu, Tuan. Tapi maaf, air keruh sudah banyak kau siratkan pada hati dan perasaanku dan kau tahu bukan air itu sudah menggenang banyak dan aku sudah tak mampu membersihkannya. Aku terlalu takut untuk mempercayaimu lagi. Bolehlah kau membohongi seorang aku jika aku menjadi orang bodoh. Tapi untuk membohongiku yang mempunyai perasaan kuat padamu, kau tentu tidak bisa, Tuan. Apapun caranya.

Kau terlalu baik untuk menjadikan dirimu tidak baik :)

No comments:

Post a Comment