Monday, March 4, 2013

Setelah 12 Hari Lamanya


20 Februari 2013.
Hari terakhir kali aku mengatakan sesuatu di paparan blog ini. Hingga hari ini, adalah hari ke 12 aku tak merangkai atau memaparkan apapun disini. Rekor. Rindu rasanya. Dan tau sendiri bukan bagaimana sensasi rindu itu? Tidaklah enak dan sedap. Rindu menulis beratus rangkaian kata. Rindu akan gerakan indah jemari saat menuliskan rasa, rindu menyimak tamu-tamu yang datang, dan tentunya, rindu akan berkarya melalui kata. Sebenarnya hanya itu kan tujuannya? Bagaimana cara meluluhlantakkan kemalasan untuk berkarya dalam kata.

Setelah tanggalku terakhir mengepost sesuatu di dalam sini, banyak kejadian yang tak ada hubungannya dengan sesuatu yang gaib, namun semua itu sangat tak terpikir oleh nalar sebelumnya, tak  terjamah oleh perasaan sebelumnya dan tentu saja tak pernah terbayangkan sebelumnya. Segalanya serba mendadak dan mengejutkan. Tapi semua itu membawa pelajaran penting yang patut ku pelajari untuk hidupku kedepannya.

Sudah tahu panda bukan? Ya, ia semakin dekat denganku. Rasa yang ia ciptakan dan aku ciptakan dengannya semakin menyatu. Bagaikan minyak dengan air, minyak itu seakan berkurang dengan sendirinya dan membiarkan air menyatu seutuhnya. Memang bukan seorang superhero, namun entah kenapa seakan genggaman tangannya mampu mengisyaratkan “Aku akan selalu ada untukmu.” Dia, sama-sama berjuangnya denganku. Jika ia berjuang untuk mendapatkan hatiku, tak peduli dengan embel-embel masa lalu kelamnya, aku juga begitu. Aku berjugang bagaimana caranya menyusutkan rasa nyamanku terhadap dia masa lalu kelamku. Dan semua itu tidaklah mudah. Tidak semudah mengedipkan dan membalikkan telapak tangan. Semua butuh proses dan hasilnya? Aku berhasil. Begitupun juga dia. Aku bahagia. Dan dia pun sama. Dia seseorang yang menyayangiku, dan aku pun seseorang yang menyayanginya. Betul kata guru bahasa Inggrisku, “Love, is a big war.” Perjuangannya, denganku J

Sedih rasanya saat ia sudah ada di waktu-waktu terakhir menuju kelulusan. Saat aku sudah terbiasa mendengar derap langkahnya. Saat aku sudah terbiasa memperhatikannya dari jauh. Saat aku sudah terbiasa mendengar dari dekat tawanya. Saat ini, saat itu dan apapun di saat yang lain. aku sudah terbiasa. Sangat amat. Tak hanya mendengarkannya bercengkrama via gelombang udara. Tak hanya bertemu sebatas webcam. Tak hanya menebus rindu dengan berkirim pesan. Tidak seperti itu sebenarnya, tapi ya memang sebentar lagi beginilah kenyataan mendatang. Aku dan dia terpisahkan jarak. Dan waktu tentunya. Berbatas rindu yang nantinya bertemu dalam ruang yang tak hampa. Dan itu perlu perjuangan kembali.

Baru-baru ini dia juga merasa jika ia berbeda jauh denganku. “Siapa yang tak tau kamu, sayang? Siapa yang tak suka denganmu? Di luar sana banyak yang lebih baik dariku dan tentu kau bisa dengan mudah mendapatkannya. Tak hanya sekedar aku.” Paparnya. Aku hanya tersenyum kecil mendengar paparannya tersebut. “Lalu kalau di antara mereka aku memilihmu, apa aku salah?” jawabku. “Ya tidak, tapi aku ini sangatlah berbeda denganmu, sayang.”. “Dengar. Kau pernah bilang padaku jika jarak dan waktu yang akan memisah dan menyeruak di antara kita bukanlah penghalang. Lalu, apa perbedaan yang ada di sela-sela kita sekarang ini menjadi penghalang?” Dia terdiam sejenak, kemudian menggeleng.  Jika ditanya berbeda, kau atau pun aku jelaslah berbeda. Apalagi aku yang bertingkah bak Lady Gaga, sangatlah tak sebanding dengan dia masa lalumu yang bak Puteri Solo itu. tapi ya jangankan kau denganku. Indonesia saja, negara yang kita diami ini bersemboyan Bhineka Tunggal Ika dan itu sudah terdiri dari beribu suku. Tapi kita? Hanya kau dan aku. Dua orang saja bukan? Lalu seberapa besar perbedaan yang kita buat? Kurasa seujung kuku pun tak ada. Perbedaan itu indah sayang, sadarlah J

Dan, batman. Masih ingat dengan dia? Haha. Oops. Tidak. Ini sama sekali tidak lucu. Mungkin hanya ada nol koma sekian persen unsur kelucuan yang terkandung di dalamnya. Masih ingat caranya meluluhlantakkan segala sesuatu yang sudah terbangun sedemikian hingga sampai hati dia menghancurkannya? Masih ingat juga caranya membahagiakanku dulu? Nah itulah yang membuatku sedikit menganga kencang untuk tertawa. Saat orang-orang terdekatku; ibuku misalnya; sudah sadar apa yang ia perbuat kepadaku, tampaknya ia belum ikut sadar juga. Bagaimana bisa dulu ia seorang yang ku pandang terhormat bisa bertingkah layaknya orang yang tak tahu malu. Datang ke rumahku tak tahu waktu. Kamu pikir aku tak butuh waktu istirahat, Tuan? Maaflah jika akhir-akhir ini memang sikapku padamu bukan sikap yang kau harapkan. Tapi kau pasti tahu apa alasanku kan? Ya sepertinya tak perlu kuulas banyak lagi tentangmu. Sudah cukup kau kuulas dalam memori terakhirku denganmu. Terimakasih ya semuanya, sesuatu yang sudah membuatku dewasa J

“Cinta itu perjuangan J
With Love,
Linda Rafeby

No comments:

Post a Comment