Saturday, March 9, 2013

Waktuku, Waktumu, Waktu Kita

Entah kenapa relungku serasa sesak. Mengingat segala perjuanganmu untuk meraih angan dan cita-citamu, aku ikut terharu dan ikut merasakan bagaimana sukarnya. Hingga saatnya sekarang, tepat dua hari lagi jelang ujian sekolahmu, aku merasakan waktuku, waktumu, waktu kita, semakin dipersempit oleh yang Empunya waktu. Kau merasakan tidak? Aku harap kau juga merasakan walau tak semirip apa yang kurasakan.

Esok hari Minggu, dan kemudian di susul hari Senin. Secepat itukah waktu yang kita punya? Aku masih merindukanmu. Sangat merindukanmu. Aku sangat tidak ingin melepas kerinduanku hanya dengan butiran air yang jatuh dari pelupuk mataku. Aku tahu kau juga tak ingin melihatku begitu. Aku selalu mencari cara agar ku bisa lewati 9 hari tanpamu, tanpa melihat sosokmu, tanpa mendengar gelombang longitudinal suaramu, tanpa genggaman erat tanganmu. Yang jelas, sekian hari itu benar-benar tanpamu.

Ya aku sadar kalau aku ini berlebihan. Menganggap berat yang kata orang, “hanya 9 hari, belum kalau kuliah.” Aku merindukannya. Apa itu salah? Aku selalu mencari setiap waktu berharga yang terselip di celah renggangan pemisahku denganmu. Apa aku masih salah? Ku rasa tidak. Karena setiap orang berhak merindu. Setiap orang berhak merasakan gumpalan rasa yang tak mampu diucapkan kata-kata. Dan dapat kusimpulkan, aku belum bisa mengobati rinduku padamu. Belum. Dan ini masih terasa nyeri. Ya, semuanya harus ku jalani dengan penuh kerelaan. Waktumu tak hanya untukku, tapi keluarga dan kawanmu juga. Rasa ini ku coba alirkan dengan penuh keikhlasan. Aku tahu, segala sesuatu yang ku lakukan dengan ikhlas tak akan terasa berat sesudahnya. Bukan begitu? Tapi ini juga butuh perjuangan. Bukan hanya sekedar kata, namun perbuatan juga. Aku tak hanya ingin membual, tapi aku ingin membuktikan. Seberapa kuatnya aku saat ada di posisi seperti ini.

Tahukah kamu, jika aku tak benar-benar padamu, aku tak kan peduli seberapa berat angin juangmu untuk menempuh segala ujian yang ada di depanmu. Aku tak kan peduli seberapapun waktu yang tak kau punya untukku. Aku akan meneruskan lelap mimpiku daripada harus menungguimu yang berkutat dengan soal-soal. Aku tidak akan merapalkan namamu dalam untaian doaku. Dan tentunya aku tak kan mengenal kamu, dan dirimu seutuhnya. Aku bersyukur ada sosokmu yang ku ingat dalam lekukan otakku. Namun aku benci saat ingatan waktu sempit  itu tiba-tiba menyusup tanpa permisi dan membuat tulang tengkorakku serasa berat. Kamu merasakan? Ku yakin belum. Bukan tidak merasakan.

Bisa aku meminta sesuatu padamu? Sedikit saja jika kau mau. Aku tak ingin mengingat ketidakbertemuanku denganmu untuk 9 hari itu. Aku sangat ingin sukmaku tumbuh bunga yang tak layu untuk 9 hari saja. Kau yang bawa obat rinduku. Bawa sedikit untukku ya, aku ingin mengikis setidaknya sebagian rinduku ini. Maukah kamu? Dan ku harap ada waktu yang berharga terselip di antara kita, esok hari.

With Love, ♥ 
Linda Rafeby :)

No comments:

Post a Comment