Saturday, April 13, 2013

K I T A :)

Aku bisa tersenyum sendiri rasanya mengingat segalanya tentang kita yang dulu itu. Hahaha, berawal dari bisnis kecil dengan sahabatmu, aku bertemu denganmu. yang awalnya aku tidak tahu apa-apa tentangmu, kemudian aku mengenalmu. Aku masih ingat setiap bertemu denganmu, kamu selalu menanyakan namaku. “Siapa? Linda kan?”. Dan aku hanya menjawab “Iya” atau senyum sambil mengangguk. Bayangkan betapa lucunya setiap bertemu denganku ia bisa selalu menanyakan namaku seperti itu.

Aku masih ingat suatu kebetulan kita waktu itu. Secara tak sengaja kita bertemu di samping perpustakaan sekolah. Kamu yang tampaknya sendirian, tertangkap oleh sepasang bola mataku. Dan mengapa ini juga menjadi suatu kebetulan aku sedang berjalan sendirian pula? Di saku seragamku, tak lupa juga ku bawa uang yang akan ku berikan kepada sahabatmu itu. Tak memakai kacamata saat itu, membuat mataku sedikit menyipit saat memastikan jika itu memang kamu. “Kak!” sapaku padamu. Kamu tampaknya masih belum percaya yang ku panggil itu kamu. Kamu menoleh ke belakang memastikan jika aku tidak memanggilmu. Dan tiada siapapun. Kamu menunjuk dadamu seakan bertanya apa benar memang kamu yang aku panggil. Aku mengangguk sembari menghampirimu. “Kak, temennya mas Rehan itu kan?” tanyaku. “Iya dek, ada apa?”. Dan saat itu tampak sekali raut wajah salah tingkahmu. “Minta tolong titip uang bisa kak? Hehe”. “Oh iya bisa kok dek.” Dan aku pun memberikan uang titipanku. “Udah? Cuman 100?” tanyanya. “Iya kak.”. “Nah buat aku mana?” candanya padaku. Lucu sebenarnya, haha. Dan akhirnya aku memutuskan untuk kembali ke kelas; sebenarnya dengan fikiran yang tak menentu.

Aku ingat berbagai macam usahamu untuk masuk dalam lingkup hatiku. Terharu juga saat mengingatnya. Mengalami berbagai penolakan dariku hingga banyak statement berbeda dari banyak orang disekitarmu yang mengatakanku seorang PHP. Dan dalam fase ini ketahuilah baik kau atau aku sama-sama ada di posisi yang sulit. Aku yang dihadapkan pada pilihan menunggu atau membuka lembaran kamu, dan kamu yang harus setengah mati mendapatkan janjiku. Itu beberapa bulan yang lalu. Cerita lama yang masih saja masih melekat manis dalam ingatanku, yang masih jadi perbincangan hangat syaraf-syaraf yang melekat di otakku, yang masih jadi bahan utama ukiran senyum bibirku. Semua seakan mimpi, tak hanya untukmu, tapi untukku juga. Aku tidak pernah menyangka akan dipertemukan dengan seorang pemimpi besar sepertimu, tdak menyangka akan dipertemukan dengan seorang pecinta hebat sepertimu. Bukan seorang pecinta ribuan wanita di luaran sana, namun pecinta untuk satu hati saja yaitu aku. Aku menganggapmu bak golden ticket yang diberikan Tuhan agar aku tak menyiakan orang lain lagi. Kamu seseorang yang tak patut ku siakan. Sama sekali tak ada sepercikpun niat tuk menyiakanmu. Terlalu berharga.

Sudah sekian ini sudah berapa cita-cita yang ingin kamu realisasikan? Puluhan? Ratusan? Tuhan tahu cita-citamu semuanya baik. Aku selalu berdiri di belakangmu, sayang. Memberikan segala bentuk dukungan dan berbagai rapalan doa untukmu. Waktu itu memang waktu belum menunjukkan murkanya hingga baik aku ataupun kamu tak bisa merasakan jika waktu perang telah dekat. Dan sekarang? Perang tuk menggapai segala angan dan ambisimu sudah di depan mata, tak bisa di tolerir semuanya jelas harus kamu lewati. Kamu pasti bisa. Pasti. Aku yakin Allah pasti menuntun kamu untuk selalu bisa mengukir senyum kebanggaan di wajah mama dan ayahmu. Pasti. Pasti. Pasti. Aminnn...

Aku merindukanmu. Dan aku tahu, apa yang akan menjadi kenyataanku pasti tidak serumit apa yang ada dalam pikiranku saat ini. Kenyataan itu selalu membawa jawaban yang terabaik. Paling baik. Keegoisan memaksaku berfikir hingga sejauh ini. Hingga rasanya aku tak mampu lagi memikirkan apa yang harus ku prioritaskan untuk seorang dirimu. Kenangan bersamamu selalu mampu menjajarkan dirinya masing-masing hingga membentuk suatu mozaik dan itu dirimu. Dan saat kamu sudah tak berada di hadapanku, apakah kenangan itu bisa menggantikan, mengalahkan segala macam rasa rindu yang berkecamuk dalam diri dan hatiku?

Tuhan...
Tolonglah si kecilMu ini
Si kecilMu yang memohon pertolongan kekuatan
Kekuatan yang bisa mengalahkan kokohnya karang
Kekuatan yang mampu meluruhkan dinding kesabaran
Kekuatan yang menopang keikhlasan
Kekuatan yang menguatkan jiwa
Dan mengapa Kau menciptakan hanya satu rasa dalam dada?
Ku rasa ku tahu jawabnya
Sabar dan ikhlas itu suatu kesatuan
Yang pasti direaksikan dalam satu tempat
Tidak dibagi
Tidak dikurangi
Selalu satu
Sepertimu dan aku
KITA
Bukan begitu?
Aku mencintaimu

No comments:

Post a Comment