Wednesday, April 3, 2013

Percayalah, Jawa Masih Mencintaimu


                “Hallo assalamualaikum.”
                “Waalaikumsalam.”
                “Kamu dimana?”
                “Hah? Apa?”
                “Kamu dimana sayang?”
                “Masih di kantor polisi sayang.”
                “Apa? Lama banget?”
                “Ya emang lama sayang.”
                “Ngurus SKCK doang?”
                “Iya. Kenapa sih?”
                “Ngga apa. Yaudah deh.”
                “Nanti aku kabarin kalo udah sampe rumah. Oke.”
                “Yaudah deh, assalamualaikum.”
                “Waalaikumsalam.”

                Sambungan telepon siang itu mati dan mulutku sudah terkunci untuk bisa mengucapkan serangkaian kalimat. Pikiranku serentak tertuju pada dua tahun yang lalu saat aku di terima di Sekolah Menengah Atas ini. Berawal dari ketiadaan niat yang keukeuh, serangkaian tes, persyaratan yang harus dipenuhi, semua sistematika itu ku lalui begitu saja. Aku yang tak berharap banyak akan diterima disini santai-santai saja dan tak terlalu menggebu utnuk melihat pengumuman siswa yang lolos. Dan ternyata apa? Tuhan membiarkanku melanjutkan pendidikanku di sekolah ini. Aku berhasil masuk dengan peringkat yang tak bisa dibilang rendah. Dan ini, hanya berawal dari coba-coba.

                Inginku untuk mendengar suaranya pupus karena anganku yang terlalu jauh membawaku hingga aku sendiri tak sanggup lagi berkata apa-apa. Mengingatnya yang mencoba mendaftarkan diri ke Pertamina, Balikpapan, membuatku terus merapalkan doa untuknya mudah-mudahan Balikpapan enggan dengan kehadirannya. Dia sama denganku. Berawal dari percobaan dan hasilnya sama sekali bukan dikatakan sebagai percobaan. Surabaya sudah terlalu jauh sayang, bagaimana dengan Balikpapan?

                Ya aku mengerti jika semua ini belum tentu kota besar itu akan benar-benar menerimamu, tapi siapa sangka itu sudah menjadi keberuntunganmu? Siapa sangka jika memang Tuhan membiarkanmu mencari pengalaman di kota itu? Semua ini tidak bisa dibilang baik-baik saja. Aku takut. Takut kehilangan sosok sepertimu. Sedih itu selalu datang saat membayangkan kota itu akan benar-benar menerimamu.

                Tidak sayang, bukan maksudku menghalangi ambisi dan cita-citamu. Baiklah, mungkin banyak orang yang menyalahkan aku akan sikapku ini tak terkecuali ibuku. Egoisku sulit dipadamkan jika membahas tentang ini. Aku ingin melihatmu sukses. Ingin sekali. Tapi menurutku, sepertinya tanah Jawa ini masih ingin menopang tinggalmu. Sama seperti aku.  Aku yang sangat mencintaimu tinggal di tanah Jawa ini. Tapi kecintaanku padamu untuk tetap tinggal tidak bisa begitu saja meruntuhkan ambisimu. Kamu tetaplah seorang kamu yang ku kenal. Seseorang yang punya ambisi tinggi untuk menembus gumpalan awan di atas Nusantara. Hanya saja, jika memang kota itu benar-benar akan menerimamu, aku belum cukup siap. Namun jika itu bahagiamu, baiklah, aku akan menyiapkan diri untukmu.

                “Kamu masih nggak percaya sama aku?”
                “Aku percaya sama kamu. Tapi aku yang belum percaya sama diriku sendiri.”
                “Kenapa?”
                “Aku masih belum percaya apa aku bisa terus kasih bahagia buat kamu. Apa aku masih bisa jaga hati buat kamu. Apa aku bisa kuat di sini saat kamu jauh di sana.”
                “Aku percaya kamu bisa dan kamu kuat.”
                “Seyakin itu kamu...”

Jawa masih mencintaimu, Sayang   
With Love, 
Linda Rafeby :)

No comments:

Post a Comment