Monday, May 20, 2013

5th Month Anniversary


Keep romantic and everlasting...

Sebelum mencapai kesini, ingat tidak kamu dan aku, umm... Kitaaa... Menemukan apa saja di bulan ke-empat? Kalau dariku, mungkin banyak penemuan yang kita dapat. Namun yang melekat jelas dan pekat di otakku ialah perbedaan yang banyak muncul diantara kita. Hingga tak jarang kita bertengkar. Aku yang sangat sensitif dan kamu yang sedikit berubah atau sebaliknya. Tapi asal kamu tahu, di luaran sana, orang yang melihat kita serring beranggapan kalau kita tidak pernah bertengkar. Aneh, tapi nyata. Hahaha.. Oke, segala perubahan-perubahan yang itu adalah pembelajaran dalam menginjak bulan baru ini. Mempertebal kesabaran, penjagaan hati yang ketat dan kuat :)

Tanggal 19 kemarin, kita sudah merayakan 20 ini bersama. Sudah lega aku karena keinginanku yang ikin berjalan-jalan tak jelas atau bahasa gaulnya MMGJ (Muter-Muter Ga Jelas) denganmu sudah terobati dan sudah terbayar juga, Namun, di sini ada kejadian yang tak terbayangkan, tak dinyana dan tak sangka demi apa aku bertemu dengan Mamanya. Oh tidak. Itu di jalan. Dan semacam suatu kebetulan yang sangat menyetrum mental. Aku binguung harus berbicara bagaimana, aku bingung harus bersikap bagaimana, ah entahlah. Tapi yang jelas ini istimewa. Hehehe

Untuk 5 Bulan ini...
Terimakasih sudah menemaniku hingga kini ya. Perilakumu menentukan bagaimana perilakuku padamu. Begitupun sebaliknya. Cukup kau tahu aku mencintaimu. Cukup Tuhan juga yang tahu bagaimana cara memberikan yang terbaik untuk segalanya. Aku menyayangimu, Irsandha Bakti Pratama-ku :)

Sunday, May 19, 2013

Dan Selalu Kamu

Tetap kamu, dan selalu kamu
Yang berkeliaran dalam lekuk otakku, kamu
Seorang yang memenuhi benak jiwaku, kamu
Dan selalu kamu

Hai gunung rindu
Sudah runtuhkah dirimu?
Bahkan suaramu saja sudah tak terdengar olehku
Kemana semua larinya pecahanmu?

Semua seakan sekejap
Secepat mata mengerjap
Seakan semua tampak gemerlap
Dan aku terperangkap

Kamu
Dan selalu kamu
Tak pernah bukan kamu
Yang mengisi ruang kalbu

Kamu
Dan tetap kamu
Selalu saja kamu
Yang menyulam rindu

Saturday, May 18, 2013

Lulusmu...

                Hai malam Minggu...

Nampaknya kamu tidak ingin mengembangkan senyummu ya? Buktinya awan selalu menggelayut manja di atasmu. Hujan nampaknya suka sekali terjun menuruni malammu ini. Bukan begitu? Sudahlah, ayo temani aku tersenyum. Aku juga sama sepertimu. Kini banyak sekali awan yang menggelayut dalam ruang hatiku. Namun sayangnya, hujan tak kunjung turun hingga rasanya yang ada di dalam sini itu semakin berat dan... sesak. Hehehe.

Hari ini memang ku jalani seperti biasa. Tak pernah berhenti untuk mengerjakan sesuatu. Tak pernah terlihat diam karena aku memang menghindari suasana diam. Jika diam aku takut mengingatnya. Jika diam aku takut merindukannya. Jika diam aku takut membayangkan dia kan menghilang. Tapi inilah kenyataannya. Walau tak diam pun aku tetap bisa mengingat dan merindunya. Dan kenyataan yang paling pahit lagi, dia akan meninggalkanku. Bukan, dia bukan meninggalkan untuk menyakiti hidupku, tapi dia meninggalkanku untuk menggapai mimpi dan segala ambisinya. Sekali lagi, bukan meninggalkan cintanya yang sudah tertambat di sini.

Sore tadi, ayahku menjemputku pulang sekolah. Karena ayahku sendirian, jelaslah aku yang duduk mendampingi beliau yang ku cinta itu. Awalnya memang ya biasa saja, tidak ada kejadian apapun. Namun tak jauh dan tak lama setelah ayahku melajukan mobilnya, pandanganku yang menembus kaca depan mobil menemukan sesuatu. Seorang perempuan yang kupastikan ia adalah adik kelasku. Ya, dia adik kelasku dan sebut saja namanya Frisca. Ku lihat, ia sedang duduk dibonceng oleh seorang pria. Aku fikir, pasti itu Fahmi, pacarnya. Ah iya, itu Fahmi. Ku pandangi saja mereka berdua. Frisca sepertinya sedang asik mengobrol dengan Fahmi yang sedang menyetir. Seketika hatiku terusik, tidak tenang dengan pandangan di depanku ini. Oh tidak, aku tidak cemburu. Sama sekali tidak. Seketika itu pula, terharu, ikut senang, sedih, sesak dan apapun semuanya tumpah jadi satu. Tak karuan. Dan jatuhnya pun, lagi-lagi aku merindukanmu. Ya, aku merindukanmu. Melihat kebahagiaan mereka, aku jadi ingat kebahagiaan kita juga. Unyu, dan itu pasti.

Hmm, aku merindukan saat-saat kamu mengantarku pulang ke rumah dan kita masih sama-sama berseragam, mengisi bensin motormu di pom bensin yang itu itu saja, berkeliling kemanapun dengan seragam yang masih melekat di tubuh, memasangkan topi jas hujanku saat kita kehujanan dan berteduh di pinggir jalan, semuanya begitu unyu hingga aku sendiri sudah lupa kapan terakhir kali kamu mengantarku hingga sampai ke rumah saat masih berseragam. Kamu pasti juga sudah lupa. Hehehe, wajar. Sudah terlalu lama kita meninggalkan kebiasaan kita yang satu itu. Sebenarnya aku ingin sekali mengulang masa-masa itu lagi. Tapi hanya aku yang memungkinkan. Aku masih punya waktu untuk memakai seragam kebesaranku itu untuk setahun ke depan. Tapi bagaimana denganmu? semuanya serba tidak terasa hingga saat ini hanya tinggal menghitung hari kamu akan meninggalkan sekolah terakhirmu ini dengan kata LULUS. Hanya tinggal mengitung hari kamu dan kawan-kawanmu akan melalui prosesi wisuda. Dan yang jelas, hanya tinggal menghitung hari kamu akan meninggalkan masa putih abu-abumu ini. Semua atribut sekolah akan terlepas. Dari ujung kepala hingga ujung kakimu tanpa terkecuali. Sebentar lagi, kamu LULUS sayang. LULUS,

Untuk temanku, dan kekasihnya yang tak lain juga adik kelasku, I’m a someone luck, but I think you and your girl have a bigger luck than me :)

Untuk kekasihku, I’m so luck cause I can be your love, Insyaallah your true love, AMIN :)

“Kejar ambisi, angan, dan segala citamu. Segala doa terbaik selalu terapalkan untuk menyertai setiap derap langkahmu.”

I LOVE YOU ♥ 

Thursday, May 16, 2013

Selamat Malam, Sayang...


                Aku merindukanmu, kalian, semuanya. Aku merindukan dunia ini yang sedikit tak terjamah olehku. Oleh jemariku yang mengetikkan ratusan huruf menjadi rangkaian kata. Puluhan kata yang terangkai hingga menjadi kesatuan kalimat. Aku rindu semua itu. Aku rindu menulis. Menulis tentangku, tentang dirimu juga.

                Aku rasa, waktu yang kita lalui berjalan sangat cepat hingga genap seminggu aku tak bertemu menatap kedua bola matamu itu seakan terasa seperti sekali mata berkedip. Namun... oke semuanya menimbulkan kerinduan yang amat sangat pada diriku. Sadarkah kamu, kasih? Semua yang aku tulis, semua yang aku tuangkan di dalam sini tak jauh dari kata RINDU. Tahu mengapa? Aku juga bingung. Sebab yang tertera dalam hatiku tak terlalu jelas. Tapi hatiku membisikkan, rinduku tak pernah padam untukmu. Awalnya aku memberatkan hati saat inginku bertemu denganmu tak terlaksana. Rinduku terlalu besar menenggelamkan aku. Mataku nampaknya buta akan rinduku. Aku kecewa dengan sendirinya. Bukan karenamu, bukan karena siapapun. Tak kamu, tak juga aku, tak juga siapapun yang melakukan kesalahan. Masing-masing dari kita tidak ada yang bisa melakukan, menuduh siapapun dan apapun. Tidak bisa.

                Lamat-lamat aku sadar. Tuhan sudah mempersiapkan skenario yang sedemikian ini agar aku belajar sabar. Ditemanimu tentunya. Tuhan telah mempersiapkan jalan cerita yang sekian ini untukku denganmu. Tidak enak memang. Tapi perlu digarisbawahi, Tuhan akan memberikan yang lebih indah dari apapun jika umatNya mau bersabar dan berusaha. Tentu saja aku meyakini sepenuhnya. Bagaimana denganmu?

                Selain rindu, ingat akhir-akhir ini kita saling berdebat hanya karena perbedaan? Aku merasa kamu berbeda. Kamu asing. Kamu tak sama dengan yang dulu. Kamu begini dan begitu tanpa aku sadari, mungkin sebabnya karena AKU SENDIRI. Bisa kau pahami? Teori karma mengatakan; ya ini hanya menurutku; apa yang kamu perbuat, apa yang kamu beri, pasti akan ada balasan yang seimbang atas segalanya itu. Akankah ini? Aku mengingat itu. Tapi sudahlah. Percekcokan di antara kita apa masih pantas dibahas dalam suasana sehangat ini? Biasa sih sebenarnya, hanya saja setelah mendengar suaramu tadi, hatiku sudah meleleh dan mampu meruntuhkan gunung es di dalamnya.

“Udah biarin aja. Nanti waktu yang dateng sendiri.”

                Hahaha. Kalimatmu, dan tentu saja aku meng-iya-i. Aku suka, bahkan sangat suka. Waktu adalah punya Tuhan, bukan punya kita. Tuhan memberi waktu untuk kita, dan kita yang menggunakan. Kita hanya konsumen. Produsen ya tetap Tuhan. Kurasa, nasib kita lebih baik daripada mereka yang di sana terlalu banyak berdebat daripada membayangkan hal-hal manis bersama pasangan mereka. Lebih sedih lagi jika aku melihat pasangan yang berbeda keyakinan. Kadang waktu di antara mereka juga terpisahkan untuk waktu yang akan diberikan lagi kepada Tuhan. Tak jarang aku melihat yang seperti itu sambil menangis.

                Kamu tau hari ini? Inginku bisa bertemu denganmu. Dan ketika kamu mengatakan tidak bisa, hmm rasanya tubuhku ingin ambruk. Lemas. Haruskah genap seminggu tidak bertemu denganmu? Aku mencoba menghibur diri dengan bermain 41 bersama teman-temanku. Mengumbar gelak tawa bersama mereka yang aku sendiri pun tau, hatiku tidak tertawa. Sama sekali tidak. Rasanya emosi jiwa ketika melihat sekelilingku. Aku iri. Jelas iri. Mereka bisa bertemu dengan kekasih hati mereka, aku? Tidak. Di sekolah aku ingin menangis, tapi ku pikir sudahlah aku tak ingin menangis di tempat yang memberiku segudang ilmu. Di halte, miris sekali saat aku merasa benar-benar sendirian. Tanpamu, tanpa siapapun. Ah tidaaak. Airmataku sudah di pelupuk dan sudah mengkode untuk keluar. Aku tahan lagi. Tidak tidak tidak. Jangan di sini. Yeah, air mataku tak berhasil menetes. Di dalam bus, lagi-lagi rasa kesendirian itu muncul lagi. Aku tidak tahu lagi harus menahan dengan cara yang bagaimana. Dan akhirnya aku memutuskan untuk tidur. Dan kenyataan ini terjadi. Bus yang ku tumpangi tidak menurunkan aku di tempat yang kumau. Alhasil, tangisku pun batal pecah. Tragis.

                Ya mungkin itu salah satu jalan Tuhan untuk tidak membiarkan aku bersedih. Hmm, aku merindukanmu sayang. Suaramu sudah ku dengar tadi via telepon. Terimakasih sudah menyejukkan telinga sekaligus hatiku. Dan sekarang...

Selamat tidur pengukir senyumku
Penyebab tawa riangku
Penyumbang semangat dalam ragaku
Mimpikan kita di sana ya
Aku merindukanmu;
Sangat amat merindukanmu di sini.
Aku mencintai dan menyayangimu, kekasihku...
-Irsandha Bakti Pratama-

Wednesday, May 8, 2013

BEMOSTWO!!!


























Kita ini unyu yaa
Tawa, tangis, suka, cita
Semua jadi satu
B E M O S T W O
We are BEMOSTWO
We are the Best Member of Eleven Since Two :)

Thursday, May 2, 2013

My First Date :)



                Sudah 4 hari lamanya waktu berharga ini berlalu...

Minggu, 28 April 2013


                Belum menulis saja senyumku sudah mengembang dengan sendirinya. Padahal ini hanya mengenang kembali. Bahagia rasanya saat itu. Saat-saat yang tak pernah dinyana, yang tak pernah disangka, ternyata membawa bahagia untuk kita. Dasar waktu ya? Tidak pernah disangka kapanpun ia akan datang.

                Tepatnya jam 10:18 pagi itu, kamu tiba di rumahku. Tentu saja untuk menjemputku dan meminta izin kepada orang tuaku. Aku masih ingat, sandal yang kamu pakai masih sama. Celana jeans yang menurutmu; menurutku juga sebenarnya; sudah terlalu kecil. Jaket abu-abumu yang bercorak tulisan arab. Dan yang paling unyu... kemeja! Kemeja kotak-kotak yang kamu pakai. Aku suka. Sangat suka. Oh ya itu semua tidak penting. Kehadiranmu saja sudah lebih dari cukup. Masih teringat jelas bagaimana raut wajahmu saat bertemu dengan orang tuaku. Ah tampaknya aku sendiri juga tidak bisa menjelaskannya dengan kata-kata. Intinya hanya satu. Gugup. Betul seperti itu? Pasti jika kamu membaca pesanku ini, kamu akan manggut-manggut sendiri tanda mengiyakan. Begitu? Hehehe...



                Iron Man 3? Apa hubungannya?

                Film ini yang menjadi tujuan utama kencan pertamaku dengannya. Ada yang tidak percaya ini adalah kencan pertama? Yap. Ini dia. Aku belum pernah merasakan bisa keluar rumah dengan leluasa dengannya, dengan waktu yang cukup panjang pula. Jadi film ini, film pertama kita juga? Begitu? Oh bahagianya. Skip. Kali ini, kamu menemaniku membeli sedikit keperluanku, dan titipan dari ibuku. Sempat sedikit lama dan ini membuat perut keroncongan. Namun harus ku akui. Kamu begitu sabar dalam mengiringi setiap langkahku. Tak pernah mengeluh dan itu semua amazing.

                Setelah dari toko, aku mengajakmu makan siomay di kawasan swalayan itu. Tidak kamu, tidak juga aku merasa kekenyangan yang teramat sangat setelah makan sebanyak itu. tapi semuanya itu tertutup oleh bahagia kita. Seharian bersamamu, itu yang tak pernah terbayang. Hanya melihat orang lain yang bisa begitu, dan sekarang aku sendiri yang merasakannya, rasanya begitu istimewa. Setelah makan siomay, beranjak menuju salah satu pusat perbelanjaan hanya untuk membeli gula. Berjalan berdua denganmu itu suatu keteristimewaan tersendiri.  

                Aku menginginkan waktu itu lagi. Aku mernindukanmu. Aku juga ingin menghabiskan waktuku denganmu. Pergi  dekat sini ya. Jawa masih mecintaimu, J