Wednesday, May 1, 2013

1 MEI 2013


MEI.

                Bulan baru lagi. Bertemu dengan tanggal 1 lagi. Bertemu dengan teman yang sama, suasana yang berbeda. Diawali dengan derai air mata di tanggal 30 April kemarin, karena keterkejutanku dengan kenyataan yang tiba-tiba mengambil hampir separuh waktuku dengan dia, Pandaku. Aku belum siap akan ini. Aku belum siap menerima kenyataan bahwa memang dia harus menyelesaikan kursusnya untuk keperluan menuju Perguruan tinggi. Dan kenyataan ini menyatakan jika ia harus menjalani kursusnya setiap hari, setiap sore dan hanya di hari Minggu lah waktunya tak terpakai. Awalnya aku berpikir, kenyataan macam apa ini? Kenapa semuanya sepertinya tidak adil? Aku marah. Emosiku terluap kemana-mana hingga aku tenggelam dalam kegelapanku sendiri.

                Aku bersujud memohon ampun kepada Allah. Aku menyadari perbuatanku tidaklah benar. Waktu yang ku punya kini bukan waktku seutuhnya. Ini milikNya. Dan jika kini Ia ingin mengambilnya, itu merupakan hakNya. Aku tidak bisa berbuat banyak. Yang aku bisa lakukan hanya berdoa, berpasrah, dan meminta segala yang terbaik untukku, dan untuknya. Aku merasa jauh lebih tenang. Reruntuhan langit yang serasa jatuh tepat mengenai dadaku seketika menghilang. Air mata yang bak rintikan deras hujan terhenti seketika. Allah yang Maha segala. Apapun yang dilakukan manusia, segalanya akan kembali padaNya. Bukan hal sulit bagi Allah untuk mengambil kembali haknya. Dan akhirnya... aku mengerti. Ini takdir baik dari Allah. Dan inilah yang terbaik.

                Aku menjalani hariku seperti biasa. Yang membuat berbeda ialah sudah tidak adanya seseorang yang selalu menungguku, atau terkadang aku yang menunggunya di pertigaan jalan besar itu. Aku jelas merindukannya, tapi aku juga selalu berfikir, tidak, ini belum seberapa. Ini adalah cara Tuhan untuk melatihku berdiri kembali tanpa seorang dia. Aku tak merasa kecewa sedikitpun. Aku bahagia, Tuhan masih memperhatikanku, bahkan melatihku untuk menjadi wanita mandiri. Tapi, sekuat-kuatnya seorang aku juga tentunya punya kepekaan perasaan yang terkadang sering melangkah terlalu jauh. Misalkan ketika tadi aku bersama temanku berangkat ke sekolah, ia bertanya padaku, “Tumben nggak dijemput?”. Aku tidak langsung menjawab. Aku tersenyum dan kemudian dengan penuh ketegaran aku menjawab, “Iya kan dia sudah nggak ada keperluan di sekolah. Biarin di rumah aja, kan kasihan kalo harus bolak-balik kesini.” Jawabku dengan cengengesan.

                “Oh, siapa tahu dia selalu jemput juga. Kan demi Linda.”

                Jujur kalimat itu yang sedikit mengena di hati. Tapi aku tidak lantas menanggapi, ya hanya memberikan sedikit tawaku saja untuk mencairkan suasana hatiku sendiri.

                Tidak ada hal spesial awalnya. Aku menjalani hariku seperti biasa. Dan ketika sore tadi aku beranjak pulang, dia, Pandaku mengirimiku sebuah pesan singkat yang isinya tidak membolehkanku untuk pulang terlebih dahulu. Dan hatiku berlonjak. Dia mengajakku bertemu. Tuhan, aku mimpi apa semalam? Aku bertemu dengannya kini. Dia, kekasihku. Aku bisa menatap wajahnya yang bukan hanya sekedar foto. Aku mendengar suaranya yang bukan hanya sekedar via telepon. Inikah bahagia?

                Tuhan, aku tahu jika aku memang terlalu berlebihan. Tapi memang aku yang tak bisa membuat segalanya menjadi biasa. Terimakasih, Tuhan. Terimakasih... semoga ada yang seperti ini di lain waktuku. Amiiin...

No comments:

Post a Comment