Saturday, May 18, 2013

Lulusmu...

                Hai malam Minggu...

Nampaknya kamu tidak ingin mengembangkan senyummu ya? Buktinya awan selalu menggelayut manja di atasmu. Hujan nampaknya suka sekali terjun menuruni malammu ini. Bukan begitu? Sudahlah, ayo temani aku tersenyum. Aku juga sama sepertimu. Kini banyak sekali awan yang menggelayut dalam ruang hatiku. Namun sayangnya, hujan tak kunjung turun hingga rasanya yang ada di dalam sini itu semakin berat dan... sesak. Hehehe.

Hari ini memang ku jalani seperti biasa. Tak pernah berhenti untuk mengerjakan sesuatu. Tak pernah terlihat diam karena aku memang menghindari suasana diam. Jika diam aku takut mengingatnya. Jika diam aku takut merindukannya. Jika diam aku takut membayangkan dia kan menghilang. Tapi inilah kenyataannya. Walau tak diam pun aku tetap bisa mengingat dan merindunya. Dan kenyataan yang paling pahit lagi, dia akan meninggalkanku. Bukan, dia bukan meninggalkan untuk menyakiti hidupku, tapi dia meninggalkanku untuk menggapai mimpi dan segala ambisinya. Sekali lagi, bukan meninggalkan cintanya yang sudah tertambat di sini.

Sore tadi, ayahku menjemputku pulang sekolah. Karena ayahku sendirian, jelaslah aku yang duduk mendampingi beliau yang ku cinta itu. Awalnya memang ya biasa saja, tidak ada kejadian apapun. Namun tak jauh dan tak lama setelah ayahku melajukan mobilnya, pandanganku yang menembus kaca depan mobil menemukan sesuatu. Seorang perempuan yang kupastikan ia adalah adik kelasku. Ya, dia adik kelasku dan sebut saja namanya Frisca. Ku lihat, ia sedang duduk dibonceng oleh seorang pria. Aku fikir, pasti itu Fahmi, pacarnya. Ah iya, itu Fahmi. Ku pandangi saja mereka berdua. Frisca sepertinya sedang asik mengobrol dengan Fahmi yang sedang menyetir. Seketika hatiku terusik, tidak tenang dengan pandangan di depanku ini. Oh tidak, aku tidak cemburu. Sama sekali tidak. Seketika itu pula, terharu, ikut senang, sedih, sesak dan apapun semuanya tumpah jadi satu. Tak karuan. Dan jatuhnya pun, lagi-lagi aku merindukanmu. Ya, aku merindukanmu. Melihat kebahagiaan mereka, aku jadi ingat kebahagiaan kita juga. Unyu, dan itu pasti.

Hmm, aku merindukan saat-saat kamu mengantarku pulang ke rumah dan kita masih sama-sama berseragam, mengisi bensin motormu di pom bensin yang itu itu saja, berkeliling kemanapun dengan seragam yang masih melekat di tubuh, memasangkan topi jas hujanku saat kita kehujanan dan berteduh di pinggir jalan, semuanya begitu unyu hingga aku sendiri sudah lupa kapan terakhir kali kamu mengantarku hingga sampai ke rumah saat masih berseragam. Kamu pasti juga sudah lupa. Hehehe, wajar. Sudah terlalu lama kita meninggalkan kebiasaan kita yang satu itu. Sebenarnya aku ingin sekali mengulang masa-masa itu lagi. Tapi hanya aku yang memungkinkan. Aku masih punya waktu untuk memakai seragam kebesaranku itu untuk setahun ke depan. Tapi bagaimana denganmu? semuanya serba tidak terasa hingga saat ini hanya tinggal menghitung hari kamu akan meninggalkan sekolah terakhirmu ini dengan kata LULUS. Hanya tinggal mengitung hari kamu dan kawan-kawanmu akan melalui prosesi wisuda. Dan yang jelas, hanya tinggal menghitung hari kamu akan meninggalkan masa putih abu-abumu ini. Semua atribut sekolah akan terlepas. Dari ujung kepala hingga ujung kakimu tanpa terkecuali. Sebentar lagi, kamu LULUS sayang. LULUS,

Untuk temanku, dan kekasihnya yang tak lain juga adik kelasku, I’m a someone luck, but I think you and your girl have a bigger luck than me :)

Untuk kekasihku, I’m so luck cause I can be your love, Insyaallah your true love, AMIN :)

“Kejar ambisi, angan, dan segala citamu. Segala doa terbaik selalu terapalkan untuk menyertai setiap derap langkahmu.”

I LOVE YOU ♥ 

No comments:

Post a Comment