Thursday, May 16, 2013

Selamat Malam, Sayang...


                Aku merindukanmu, kalian, semuanya. Aku merindukan dunia ini yang sedikit tak terjamah olehku. Oleh jemariku yang mengetikkan ratusan huruf menjadi rangkaian kata. Puluhan kata yang terangkai hingga menjadi kesatuan kalimat. Aku rindu semua itu. Aku rindu menulis. Menulis tentangku, tentang dirimu juga.

                Aku rasa, waktu yang kita lalui berjalan sangat cepat hingga genap seminggu aku tak bertemu menatap kedua bola matamu itu seakan terasa seperti sekali mata berkedip. Namun... oke semuanya menimbulkan kerinduan yang amat sangat pada diriku. Sadarkah kamu, kasih? Semua yang aku tulis, semua yang aku tuangkan di dalam sini tak jauh dari kata RINDU. Tahu mengapa? Aku juga bingung. Sebab yang tertera dalam hatiku tak terlalu jelas. Tapi hatiku membisikkan, rinduku tak pernah padam untukmu. Awalnya aku memberatkan hati saat inginku bertemu denganmu tak terlaksana. Rinduku terlalu besar menenggelamkan aku. Mataku nampaknya buta akan rinduku. Aku kecewa dengan sendirinya. Bukan karenamu, bukan karena siapapun. Tak kamu, tak juga aku, tak juga siapapun yang melakukan kesalahan. Masing-masing dari kita tidak ada yang bisa melakukan, menuduh siapapun dan apapun. Tidak bisa.

                Lamat-lamat aku sadar. Tuhan sudah mempersiapkan skenario yang sedemikian ini agar aku belajar sabar. Ditemanimu tentunya. Tuhan telah mempersiapkan jalan cerita yang sekian ini untukku denganmu. Tidak enak memang. Tapi perlu digarisbawahi, Tuhan akan memberikan yang lebih indah dari apapun jika umatNya mau bersabar dan berusaha. Tentu saja aku meyakini sepenuhnya. Bagaimana denganmu?

                Selain rindu, ingat akhir-akhir ini kita saling berdebat hanya karena perbedaan? Aku merasa kamu berbeda. Kamu asing. Kamu tak sama dengan yang dulu. Kamu begini dan begitu tanpa aku sadari, mungkin sebabnya karena AKU SENDIRI. Bisa kau pahami? Teori karma mengatakan; ya ini hanya menurutku; apa yang kamu perbuat, apa yang kamu beri, pasti akan ada balasan yang seimbang atas segalanya itu. Akankah ini? Aku mengingat itu. Tapi sudahlah. Percekcokan di antara kita apa masih pantas dibahas dalam suasana sehangat ini? Biasa sih sebenarnya, hanya saja setelah mendengar suaramu tadi, hatiku sudah meleleh dan mampu meruntuhkan gunung es di dalamnya.

“Udah biarin aja. Nanti waktu yang dateng sendiri.”

                Hahaha. Kalimatmu, dan tentu saja aku meng-iya-i. Aku suka, bahkan sangat suka. Waktu adalah punya Tuhan, bukan punya kita. Tuhan memberi waktu untuk kita, dan kita yang menggunakan. Kita hanya konsumen. Produsen ya tetap Tuhan. Kurasa, nasib kita lebih baik daripada mereka yang di sana terlalu banyak berdebat daripada membayangkan hal-hal manis bersama pasangan mereka. Lebih sedih lagi jika aku melihat pasangan yang berbeda keyakinan. Kadang waktu di antara mereka juga terpisahkan untuk waktu yang akan diberikan lagi kepada Tuhan. Tak jarang aku melihat yang seperti itu sambil menangis.

                Kamu tau hari ini? Inginku bisa bertemu denganmu. Dan ketika kamu mengatakan tidak bisa, hmm rasanya tubuhku ingin ambruk. Lemas. Haruskah genap seminggu tidak bertemu denganmu? Aku mencoba menghibur diri dengan bermain 41 bersama teman-temanku. Mengumbar gelak tawa bersama mereka yang aku sendiri pun tau, hatiku tidak tertawa. Sama sekali tidak. Rasanya emosi jiwa ketika melihat sekelilingku. Aku iri. Jelas iri. Mereka bisa bertemu dengan kekasih hati mereka, aku? Tidak. Di sekolah aku ingin menangis, tapi ku pikir sudahlah aku tak ingin menangis di tempat yang memberiku segudang ilmu. Di halte, miris sekali saat aku merasa benar-benar sendirian. Tanpamu, tanpa siapapun. Ah tidaaak. Airmataku sudah di pelupuk dan sudah mengkode untuk keluar. Aku tahan lagi. Tidak tidak tidak. Jangan di sini. Yeah, air mataku tak berhasil menetes. Di dalam bus, lagi-lagi rasa kesendirian itu muncul lagi. Aku tidak tahu lagi harus menahan dengan cara yang bagaimana. Dan akhirnya aku memutuskan untuk tidur. Dan kenyataan ini terjadi. Bus yang ku tumpangi tidak menurunkan aku di tempat yang kumau. Alhasil, tangisku pun batal pecah. Tragis.

                Ya mungkin itu salah satu jalan Tuhan untuk tidak membiarkan aku bersedih. Hmm, aku merindukanmu sayang. Suaramu sudah ku dengar tadi via telepon. Terimakasih sudah menyejukkan telinga sekaligus hatiku. Dan sekarang...

Selamat tidur pengukir senyumku
Penyebab tawa riangku
Penyumbang semangat dalam ragaku
Mimpikan kita di sana ya
Aku merindukanmu;
Sangat amat merindukanmu di sini.
Aku mencintai dan menyayangimu, kekasihku...
-Irsandha Bakti Pratama-

No comments:

Post a Comment