Monday, June 24, 2013

Tidak Usah Galau, Apalagi Karena "MANTAN".


Mantan? Banyak definisi tentang ini. Haha, so funny to listen. Hmm, kenapa aku memilih setuju dengan yang di atas itu karenaaa... Aku pikir, sebagian di antara kita sebenarnya perlu untuk tidak "menggalaui" mantan. Hanya seorang saja bisa membuat seribu galau dalam hidup. Untuk apa? Toh juga sudah mantan. Belum tentu yang kamu galaui, juga "menggalauimu". Benarkah begitu? Ya memang galau itu wajar, wajar sekali dan sangat manusiawi. TAPI galau akan menjadi tidak wajar apabila di gunakan dalam waktu yang berkepanjangan. Seperti yang ku dengar tadi di salah satu sinetron di salah satu stasiun TV juga yang mengatakan:

"Galau itu buatan manusia. Makanya, kita harus dekat dengan Allah agar tidak terjebak dalam kegalauan yang berkepanjangan"

YAAA!!! Itu dia. Sekali-sekali, coba lebih dekatkan diri kepada Tuhan. Coba tidak memikirkan atau bahkan mempedulikan mantan sejenak. Hey guys or galz, kalian hidup tak hanya sendiri. Lihat ibumu. Pernah kamu menggalauinya? Lihat ayahmu. Pernah kamu menggalaui seseorang yang telah bersusah payah mencari nafkah untukmu itu? Lihat sahabatmu. Apa mereka tidak ada untukmu disaat kamu membutuhkan mereka? Lihat duniamu. Apa dunia ini tidak cukup unyu untuk dinikmati seluruh yang ada di dalamnya? Coba renungkan sejenak. Toh kematian, jodoh, rezeki sudah ada yang mengatur. Dan jika sudah diberi salah satu dari 3 tersebut, berarti memang itulah yang terbaik. Right babe?

Mungkin banyak yang bilang, "Enak situ ngomong doang. Nggak ngikut ngerasain sih." Hey, I'm a normal girl with a normal life. Aku juga pernah galau seperti kalian. Aku juga pernah gundah gelisah dan merana seperti kalian mungkin di luar sana. TAPI, aku tak terlalu mempedulikan segalanya itu. Lambat laun aku berfikir, jika aku galau karena mereka, berarti kesimpulannya mereka itu jahat. Bagaimana tidak? Orang tuaku saja selalu berusaha memberi kebahagiaan luar biasa untukku, tapi dia malah ingin merusaknya. Manusia macam apa itu? Aku juga berfikir, sebenarnya galau itu tak ada manfaatnya dan buang-buang waktu. Dan mendekatkan diri kepada Tuhan mungkin cara yang paling ampuh unuk mengatasi kegalauan tersebut. 

Sebenarnya dalam hidup, kata "MANTAN" tidak digunakan dan ditujukan untuk sesama manusia. Sama sekali tidak. Itu hanya buatan manusia semata. Manusia satu dengan yang lainnya hakikatnya adalah saudara. Tidak ada istilahnya manusia menyebut sesamanya sebagai "mantan saudara". Walaupun kita menjalin hubungan dengan orang lain dan tiba-tiba putus di tengah perjalanan, itu adalah realita hidup yang memang harus dilalui dan dinikmati juga tentunya. Galaulah sebentar, kemudian nikmati dengan mendekatkan diri pada Tuhan. Tenangkan hati dan pikiran.Sedikit tidak mempedulikan dia yang belum tentu memperdulikanmu. Jadikan sebagai kebiasaan dalam setiap harinya. Jika belum siap mengingatnya dan tiba-tiba bayangan wajahnya terlintas, bacalah istighfar. Jika belum siap berkomunikasi dengannya, jangan balas apapun bentuk komunikasi dengannya. Sekiranya warnailah harimu dengan hal-hal yang sederhana. Mendengarkan lagu-lagu ceria, mungkin salah satu cara yang bisa dicoba. Setelah kamu siap akan semuanya, jalin kembali silaturahmi yang sempat tergoyahkan. Bukan berarti kamu harus menjalin kembali hubungan spesial dengannya, bukan berarti kamu harus merespon lagi apapun yang di berinya, tapi jalinlah silaturahmi untuk membuat lebih baik tali persaudaraan sesama manusia. Tunjukkan kalau kamu tidak lemah. SHOW TO HIM IF YOU A STRONGER :)

Kita semua saudara, tampaknya terlalu sayang jika disebut sebagai "mantan". Tidak usah galau lagi ya, lebih baik dzikir. Kalau mau galau, curhat ke Allah aja, Dia punya pelukan hangat loh buat kamu :) 

Saturday, June 22, 2013

Firasat

Kemarin ku lihat awan membentuk wajahmu
Desah angin meniupkan namamu
Tubuhku terpaku
Semalam bulan sabit melengkungkan senyummu
Tabur bintang serupa kilau auramu
Aku pun sadari, ku segera berlari
Cepat pulang, cepat kembali jangan pergi lagi
Firasatku ingin kau untuk cepat pulang
Cepat kembali jangan pergi lagi...

***

                Aku ingat, kata-kata yang sudah terangkai menjadi sebuah kalimat. Kalimat penting, dari Sandy.
                “Kalau kamu punya feeling nggak enak, langsung ngomong ya. Jangan diem aja.”
                Bodoh. Untuk ke sekian kalinya, aku bodoh.

***

                To: Prince Fat
                Gendut, udh mulai tesnya? Semangaaat :3 love youuu :*

                Ah kenapa nggak terkirim sih... resend ah.
                Nggak terkirim lagi.

                “Assalamualaikum bang!” sapaku mengawali.
                “Waalaikumsalaaam... ada apa nih? Tumben nelfon?”
                “Nggak bang, hehe. Udah selesai tesnya?”
                “Udah. Baru aja nih.”
                “Trus? Sekarang lo nungguin si Sand?”
                “Yadong.”
                “Oh yaudah deh kalo gitu. Gue nitip salam buat dia ye bang. Bilangin kalo udah selesai suruh nelpon gue gitu.”
                “Heh, elu ya. Cuman mau ngomong ini doang?”
                “Hehe, udahlah bang, kapan lagi sih nyenengin gue. Udah ye, jangan lupa pesen gue. Bye bang. Assalamualaikum.” Dan telepon langsung ku putus.

***

                I can’t tell you looking at me, I know what you see, any...
                Nada dering handphoneku berbunyi, dan terlihat nama “Prince Fat” ku muncul di layar handphone. “Yes, bang Hanif nyampein pesen gue. Hihi...” batinku.
                “Hai genduuutt... Assalamualaikuuum.” Sapaku semangat.
                “Waalaikumsalam manis.”
                “Gimana nih tesnya? Lancar dong?”
                “Pastilah, ada semangat kamu sih.”
                “Alah gombal, hehehe. Langsung pulang nggak pake keluyuran kan sayang?”
                “Hehehe, mau satnite-an dulu nih di sini. Aji mumpung cinta, tanggung juga...”

                Dadaku tiba-tiba sesak. Aku terdiam. Tiba-tiba ingin menangis, sangat ingin. Kenapa aku ini? Apa yang akan terjadi? Ya Tuhan, lindungi semua orang yang aku sayang dan menyayangiku.

                “Hai cantik? Kok ilang ya?”
                “Hah? Apa ndut? Iya iya terserah kamu. Tapi pulangnya jangan malem-malem ya.”
                “Iya sayang, nanti habis maghrib aku pasti pulang.”
                “Yasudah. Udah sore nih cinta. Aku mau mandi dulu ya.”
                “Yang bersih biar makin manis.”
                “Ah kamu gombal mulu. Udah deh bye, love you.. assalamu’alaikum.”
                “Love you too, waalaikumsalam...”

                Ku pencet tombol merah di permukaan handphoneku. Aku tak langsung beranjak dari peraduan nyamanku, namun aku terdiam dengan begitu tak jelasnya. Aku ini kenapa sebenarnya? Dalam hati kecilku, aku merasakan kekhawatiran luar biasa saat ia mengatakan hal itu. tapi logikaku mengatakan tidak. Tidak akan terjadi apa-apa pada Sandy. Tidak.

                From : Prince Fat
                Aku pulang dulu ya sayang, love you, aku yang nyetir :3

                Ya, pesannya kali ini ku balas semauku. Yang jujur aku bingung dengan kenapa yang aku alami ini.

                Selang beberapa menit...

                “Bener-bener cobaan...” kata Sandy yang ia kirim melalui sms.
                “Ada apa sayang?”
                “Diserempet dari belakang.”

                Rasanya aku sudah tak kuat unuk sekedar berdiri.  Hati dan fikiranku tak sinkron.  Aku merasa sangat bodoh. Bodooohhh...

***


                Otakku mengatakan aku tidak bersalah. Tapi aku merasa bodoh luar biasa. Yang jelas, aku mengulangi kesalahan yang sama. Terlebih untukmu. Maafkan aku, Sandy. Aku menyayangimu.

Thursday, June 20, 2013

6th Month Anniversary


Dear Irsandha Bakti Pratama-ku...

Bulan ini nampaknya sedikit lebih berat dari bulan-bulan sebelumnya ya? Melepas kelulusanmu. Menerima kenyataan sekarang kau sudah berstatus alumni. Kau sudah mahasiswa, dan lain sebagainya. Ketahuilah sebenarnya aku belum siap. Menurutku ini terlalu cepat. Tapi cepat atau pun lambat, aku juga pasti merasakan. Bukan begitu?

Ndut, terimakasih atas kehadiranmu di sela-sela hariku. Yang menjadi kekasihku sekaligus sahabatku sekaligus tempat sampahku sekaligus guru untukku dan sekaligus pengganti orang tuaku. Selalu ajari aku bagaimana caranya berjalan dalam kebaikan ndut, selalu jadilah pemadam kebakaran dalam hatiku, selalu ajari aku untuk taat dan selalu bertaqwa kepada Allah. Ya? :) hehehe

Aku masih ingat keinginanmu pagi tadi, "Ayo, aku pengen liat kamu bisa sabar..." Ketahuilah ndut, kamu itu sudah bagai kulkas berjalan, aku tak pernah merasakan panas yang begitu sangat amat saat berada di sampingmu. Aku tak peduli orang di luar sana mau mengatakan apa hingga mungkin mulut mereka berbusa dan telingaku panas sekalipun, aku tetap merasakan kesejukan luar biasa saat berada di sampingmu. Bagikum kamu istimewa. Ya walaupun tak seistimewa orang tuaku...

Ndut, sebentar lagi menginjak bulan Ramadhan. Aku rindu bulan itu ndut, sangat rindu. Betapa bahagianya saat bulan yang mulia itu datang Allah sudah menghadirkanmu untuk menemaniku santap sahur dan berbuka. Semua serba sempurna bagiku ndut. Allah menyayangiku, dan kamu juga tentunya. Aku bahagia dengan keadaan yang sekian ini. Aku sangatlah bersyukur, hingga rasanya aku malu untuk minta sesuatu lagi pada "Yang ngecat lombok" katamu itu. Hehehe...

Ndut, sudah tak terasa genap setengah tahun kita bersama. Canda tawa suka dan duka kita lewati bersama. Dan yang unyu, kita selalu ingat bahwa kenyataan yang Allah berikan tak selalu semudah dan serumit apa yang kita bayangkan. Aku ingat bulan-bulan sebelumnya aku yang terlalu banyak sebal karena ku pikir sudah tak banyak lagi waktu untukku. Namun ternyata? Sekarang Allah memberiku waktu denganmu melebihi apa yang aku bayangkan. Rencana Allah memang selalu lebih indah dan aku pun juga selalu menyukainya. Kita juga selalu ingat, kita tidak perlu merencanakan sesuatu yang muluk-muluk karena salah satu di antara kita selalu meyakini ada waktu yang tersedia dengan sendirinya untuk kita. Begitu? hehehe

Ndut, banyak-banyak bersyukur atas semua ini ya. Banyak di luaran sana yang belum seberuntung kamu dan aku. Always say alkhamdulillah to whatever you get, ndut. Ketahuilah, lebih baik aku punya satu detik bersamamu walau hanya sekedar menyapamu. Daripada aku punya 1000 hari bersamamu namun untuk mendengar lirihnya suaramu saja aku tidak bisa.

Selalu kenakan senyummu ndut, karena disitu terdapat semangatku. Selalu gelakkan tawamu ndut, karena disitu bahagiaku tertancap. Selalu syukuri segalanya ndut, karena disitulah aku merasa bersyukur pula mempunyai kekasih sepertimu. Selamat 6 bulanan ndut, jodoh ya... amiiin :) Love You ♥  

Musikalisasi Puisi SMANBA, JAYA!!! :)




































Sebelum Tenggelam
Karya : Tengsoe Tjahjono

Ini bukan sungaimu
Sebab pusaran begitu hebatnya
Jangan kau lempar batu lalu terjun memungutnya
Tak ada cahaya dari rimbun udara

Ini bukan sungaimu
Karena begitu rapuh kakimu
Sahabatmu bukan air

Jendela dalam tirai jingga
Kenakan lagi sepatu
Berlarilah...

Di air sempat ia berkaca wajah koran tak terbaca
Hanya lipatan-lipatan usia
Bagai jaring nelayan
Robek dan kusam
\
Di air sempat ia bercermin
Senyum legam, kata-kata tak lagi ia punya

Ini bukan sungaimu
Pulanglah, pulang
Ada rumah dan beranda
Halaman dan kolam ikan

Cobalah tulislah
"Puisi Dari Sana"


Graduation Ceremony XXX of SMANBA


WISUDA SMA NEGERI 1 BANGIL KE XXX


Duo MC unyu luar biasa


Kiri-Kanan Mr. Z, Pak Hadi, Pak Yulius


Kiri-Kanan Bu Handayani, Bu Rita


Kiri-Kanan Pak Ghofar, Sensei Lautri


Rombongan kelas XII Bahasa


Rombongan kelas XII IPA 2


Rombongan kelas XII IPA 3


Rombongan kelas XII IPA 4


Rombongan kelas XII IPA 5


Rombongan kelas XII IPA 6


Kepala Sekolah dan Para Wakil


Paduan Suara SMA Negeri 1 Bangil


Pemberian Penghargaan Kepada Siswa Berprestasi


Siswa dan Siswi Berprestasi


Andriyanti, Peraih Nilai UNAS Tertinggi Peringkat ke 3 Se-Jawa Timur, bersama Ibunda


IKRAR WISUDA


Pelepasan Kembali Peserta Didik


Beruntung bisa foto bareng miripannya Bu Hj. Ani Bambang Yudhoyoni


Melepasmu dari sekolah ini :")


Tawanya kawan-kawanmu... :')


Everlasting? Amin...


Si unyu? Maybe :D


With Mr. Choi


With Mrs. Nurul


Bu Nur Wahyu bersama Suami


Kiri-Kanan, Pak Hamid, Pak Manab