Monday, August 12, 2013

Hitung Mundur

Hitung mundur...

5... 4....

Ya, tinggal 4 hari lagi. Ada apa? Ia akan meninggalkan kota kecil ini. Meninggalkan segala hal yang tertambat di sini kecuali kenangan dan hatinya. Aku sendiri selalu menguatkan hatiku, ini bukanlah bencana, ini hanya ujian. Aku meyakinkan diriku sendiri jika semuanya ini akan menuai bahagia nantinya. Atau setidaknya Allah akan memberikan apapun yang terbaik untukku dan untuknya.

Bahagia rasanya menerima kenyataan kamu sudah menjadi MABA, Mahasiswa Baru di universitas yang menurutku ternama dengan memiliki passing grade tinggi di kota metropolitan Surabaya itu. Memasuki jurusan yang menurutku bagus, Sistem Informasi, semoga semuanya ini menuntunmu untuk meraih keberhasilan yang kau cita-citakan. Amin. Tapi ku mohon tetap ingatlah semua pesan mama dan bapak. Ingat juga sedikit pesanku ini. Aku orang yang mengenalmu dalam waktu yang tak sebentar. Kamu orang yang mudah bingung. Kamu orang yang mudah membuat segalanya menjadi sesuatu yang ribet. Itu semua kadang menjadi sesuatu yang lucu dan menjadi sesuatu yang menyebalkan kadang-kadang. Unyu.

Hmm, tidak terasa ya sebentar lagi masing-masing dari kita akan merasakan apa itu long distance relationship? Bagaimana rasanya dan sebagainya. Apa kamu merasa deg-degan? Apa jantungmu berdegup kencang mendengar 3 kata itu? Kalau aku, hanya menarik nafas panjang dan kemudian menghembuskannya sedikit lebih berat dari nafasku biasanya. Tidak, ini tidak akan semenyakitkan apa yang aku fikirkan. Ya, aku menganggap ini adalah ajang penting. Ajang untuk mempertahankan seseorang yang menyayangiku dan aku menyayanginya. Seperti yang di kata mbak Tara, salah satu alumni sekolahku yang unyu ini...


Ya. benar sekali. Aku setuju dan jujur, ini menginspirasi dan memotivasi bukan hanya pikirku, namun juga jiwaku. Apa fungsinya aku mencari yang lebih baik darimu jika pada kenyataannya banyak sekali yang lebih baik dariku namun kamu memilihku? Sebenarnya aku juga tidak seberapa suka dengan permulaan yang baru karena menurutku aku harus sedikit demi sedikit mengurangi opacity masa-masaku yang dahulu. Terlalu sulit daripada hanya mempertahankan.

Saling percaya dan jujur. Jika salah satu dari kita tidak saling percaya, bagaimana jadinya? Terlalu banyak kecurigaan justru akan menghalau keharmonisan. Yang ada hanya menimbulkan cekcok. Dan bagaimana cara agar tercipta rasa saling percaya? Ayolah jujur dalam segala hal. Aku akan mencoba, ku harap kamu juga akan seperti itu. Jika hanya salah satu, untuk apa dua insan ini di pertemukan? Yakinlah, segalanya akan terasa unyu dan spesial jika kita memegang dua hal itu.

Ya, aku tau ini memang jarak yang tak sejauh Sabang dengan Merauke. Aku juga tau banyak mereka di luaran sana yang mencibir, hanya jarak sekian untuk apa memikirkan hingga sedemikian ini. Cukuplah aku tersenyum karena mereka belum tentu bisa ikut merasakan atau bahkan belum pernah. Mari kita tunjukkan, kita buktikan bahwa jarak yang kurang dari 3jam waktu tempuh ini tidak berarti apa-apa! :) Aku yakin bisa. Apa kau juga begitu? Hmm, demi segala macam salam tempel pada semut, aku menyayangimu! :)

Terimakasih juga mbak Tara! :)

No comments:

Post a Comment