Wednesday, August 14, 2013

Ini Bukan Perpisahan

Ya Allah, terimakasih.
Kata itu yang berkali terucap dari bibirku, dari otakku, dan tentu dari dalam hatiku juga.

Hari ini, aku halal bihalal ke rumahnya. Mas Gege, yang sudah bak kakakku sendiri selalu menjadi tim sukses pertemuanku dan segalanya tentangku dan dia. Mungkin tanpa dia, aku akan berangkat dengan dikelilingi banyak penumpang di sekelilingku. Terimakasih ya.

Welcome home!

Ku sempatkan juga menjenguk Aha. Ah syukurlah ketika aku sudah sampai di sana Aha sudah terlihat sehat, ya walaupun di pergelangan tangan kirinya masih ada plester untuk menutupi bekas suntikan jarum infus. Dan ini lebih lucu saat aku tepat sampai di rumahnya dan mendapatinya masih tidur. Ya, seperti bertemu mayat hidup. Hahaha, tidak tidak, hanya bercanda. Aku kan humoris, hehehe.


Belum lama aku duduk di sofa ruang tamunya, tiba-tiba ia bilang ada sesuatu untukku. Ah iya, aku ingat. Saat ia mudik ke Klaten beberapa hari yang lalu, aku mengatakan bahwa aku ingin memiliki batik yang kembar dengannya. Tapi sayangnya ia mengatakan padaku kalau tidak sempat mencari batik yang sarimbit seperti itu. jadilah ia menawariku kaos yang sama dan ukuran yang sama. Aneh? Memang. Aku sendiri juga bingung. Aku harus memakai yang seukuran dengannya. Oops. Aku geli sendiri membayangkannya, namun entah kenapa keyakinanku saat itu berbeda. Aku berfikir, “Ah, apapun dari kamu pasti membahagiakan.” Ya tentu memang membahagiakan. Saat ia menarik tanganku masuk ke dalam rumahnya, ia bergerak mengambil sesuatu. “Ini.” Katanya. Mataku membelalak dan tanganku otomatis menutup bibirku yang menganga karena kaget. Tebak apa sesuatu yang ia maksud untukku? Yap, bukan kaos, namun apa yang aku inginkan dengan warna yang aku suka dan itu unyu. Aku tidak bisa berkata apa-apa lagi, aku berterimakasih, dan yap. Aku speechless.


Ditemani semilir angin di loteng tadi, dengan dia yang sedang mencoba mengeluarkan kembali sesuatu dari gudang, aku teringat sesuatu. Tanggal 20. Ku lihat ia berhasil mengeluarkan kotak bersisi helikopter mainan itu. “Punyamu ndut?” tanyaku. Ya, itu kepunyaannya sejak jaman masih duduk di bangku SMP. Wow. Namun tak lama aku menyuruhnya untuk berdiri sejenak di sampingku. Menghadap ke arah pemandangan sawah, aku mulai mengatakan itu. “Ndut, happy 8th month anniversary ya.” Kataku seraya melihat ke kedua bola matanya dan tersenyum. Begitupun dia. Bibirnya ikut menyunggingkan senyum. Jemarinya terselip di antara jemariku. “Kan masih hari Selasa.” Jawabnya. Ya, sudah kuduga. Aku mempererat genggamanku. Nafas yang berat terhembus melalui bibirku. Ku coba tersenyum dan menganggap semuanya baik-baik saja. “Ya, emang masih hari Selasa. Tapi kan kita nggak bisa ketemu kaya biasanya.” Jawabku pelan tapi pasti. Ya memang ia libur hari itu. Ospek belum di mulai di kampusnya. Tapi tetap saja, belum tentu pertemuan berpihak pada kita. Dan akhirnya, “Ya, happy 8th month anniversary too, Sayang.” Katanya seraya tersenyum sambil menatap lekat-lekat kedua bola mataku.

Matahari mulai tenggelam di ufuk barat. Aku sadar, aku harus segera pulang. Tapi waktu nampaknya belum mengizinkanku untuk kembali menyusuri jalan kembali ke rumah. Justru aku masih di ajak untuk berkeliling ke tetangga-tetangganya. Wow, seru sekali. Salam-salaman usai, kemudian sholat magrib, dan akhirnya aku berpamitan kepada seluruh orang di seisi rumahnya, lalu pulang. Surya yang tak lagi terlihat, menyusuri jalanan yang sudah di terangi lampu kota, suatu keunyuan tersendiri bagiku, apalagi dengannya. Tau apa yang selalu terlintas di otakku? Ku fikir ini bukanlah sebuah perpisahan.

Ia mengutarakan lagi niatnya mendaftarkan diri ke sekolah penerbangan itu. Kata Jakarta membuatku sesak. Ya, itu cita-citanya, dan siapapun tidak akan ada yang bisa menghalangi. Ia bilang, jika aku masuk kuliah nanti, ia sudah akan pergi ke sana. Lihat. Untuk melepasnya ke Surabaya itu sudah berat sekali. Lalu Jakarta? Aku akan merasakan keberatan itu dua kali? Ya, kira-kira seperti itu. Ah sudahlah, perpisahanku dengannya selalu membawa suatu pertemuan baru. Oh tidak suatu, mungkin banyak pertemuan baru. Begitu?

Tentu, hari ini akan aku ingat sampai kapanpun. 14 Agustus 2013. Walaupun bukan candle light dinner, tapi ini sangat jelas sekali kita makan berdua bersama dalam satu meja dan itu luar biasa! Membahagiakan sekali saat mengetahui kulitnya lembab karena berkeringat, mungkin grogi. Membahagiakan sekali saat melihat sekaligus mendengar tawanya yang seperti tadi. Entah sepertinya aku belum pernah menemukan yang sedemikian membahagiakan layaknya tadi. Melihat tingkah polahnya yang seperti Mr. Bean, hmm aku fikir ia cocok menjadi penerusnya. Hahaha, tidak tidak lagi-lagi ini bercanda.


Aku menganggap hari ini bukanlah perpisahan. Ini hanya hari di mana pertemuan itu kembali ada. Terimakasih ya :)


No comments:

Post a Comment