Sunday, September 29, 2013

Ketahuilah

Sudah dua hari dua malam lamanya aku menahannya darimu. Segala apa yang kamu inginkan aku ucapkan iya. Segala apa yang kamu mau aku selalu menganggukkan kepala dengan senyumku yang mengembang. Apa aku pernah tak berlaku seperti itu? Jika iya, tunjukkan kapan dan apa yang kamu katakan saat itu.

Saat ini, waktu bersaksi. Saat inginku tak bisa ku jamah sedikitpun. Saat mauku tak kamu pahami, lalu apa lagi yang bisa aku perbuat? Aku selalu percaya Tuhan punya rencana indah di balik semua percekcokan kita. Ketahuilah aku lelah. Ketahuilah pasti ada waktu senggang untukku memahami segala sesuatu di setiap malamku yang tak bisa kamu pahami. Ketahuilah jika di setiap malamku aku selalu memikirkan bagaimana esok kan datang menyapaku. Apa kamu selalu memikirkan itu sebelum kamu memejamkan mata? Aku yakin tidak. Aku yakin.

Saat ini juga segala sesuatu yang bertebaran di ruangan ini menjadi saksi. Saksi di mana aku jatuh hati. Bukan jatuh untuk mencintai, mengagumi, menggilai atau apapun kawan-kawannya. Namun hatiku jatuh menyingkir dari tempatnya bersemayam. Tidak pecah, namun ketahuilah itu sakit. Dan kamu tahu? Pada saat-saat seperti inilah mataku sulit terpejam. Pada saat-saat seperti inilah otakku sangat sulit ku berhentikan untuk berfikir. Jika memang bisa aku memejamkan mata, mimpiku nanti pasti masih seputar apa yang harus aku pikirkan. Ketahuilah, justru ketika hatiku tertusuk duri seperti ini, itulah yang semakin membuatku tak bisa sedikit saja meluangkan waktu untuk memejamkan mata. Tolong, mengerti dan ketahuilah.

Ini semua yang katamu baik untukku? Ya, membuatku sakit dan menurutmu itu demi kebaikanku? Oh Tuhan... dunia sudah jadi apa. Aku tidaklah mengerti tentang semua ini. Mana kata rindu yang kamu selipkan di lembaran pesan yang kau kirim? Apa hanya kata? Iya? Tapi mustahil. Sepertinya tidak mungkin rindu itu hilang atau bahkan lenyap darimu. Cobalah bayangkan, saat kau menatap kedua bola mataku, apa yang ingin kau ungkapkan? Kerinduan? Atau apa yang lainnya? Renungkan.

Aku juga merindukanmu. Namun ketahuilah. Relungku terlalu perih untuk malam ini. Otakku sedang tak bisa berfikir dengan jernih. Mungkin jika salah satu hari di antara dua hari yang kemarin aku tersenyum, aku yakin luka ini takkan seperih ini. Namun bagaimana dengan sekarang? Aku memang seseorang yang mudah mengalirkan air mata. Namun entah mengapa saat ini tak setetespun linangan air hangat itu keluar melintasi pipiku.

Tolong jangan buatku bosan dengan keadaan sedemikian ini
Tolong jangan buatku bosan untuk membayangkan bagaimana suasana saat ku tertawa bersamamu
Tolong jangan buatku bosan untuk membaca setiap pesan yang kau kirimkan
Tolong jangan buatku bosan mengeja nomor ponsel untuk kudengarkan alunan suaramu
Tolong jangan buatku bosan memelukmu dengan rapalan merdu doa-doaku
Tolong jangan buatku bosan dengan suatu hal bodoh yang kita perbuat
Dan tolong, jangan buatku bosan menyayangi dan mencintaimu.

No comments:

Post a Comment