Friday, December 6, 2013

Aku dan Egoku


1800 detik lamanya aku menghabiskan waktuku untuk sebuah penyesalan. Setelah usai aku bukannya berhenti, namun ku makin menyesal. Menyesal akan apa yang sudah ku lakukan padamu minggu lalu. Menyesal akan segala perkataan yang sudah kuucap untukmu. Kekasih macam apa aku ini yang hanya bisa memberikan beribu tuntutan untukmu? Kekasih macam apa aku ini yang hanya bisa utarakan apa mauku dan tak mau dengar apa maumu? Ketahuilah, aku menyesal dan ku tahu semuanya sudah terlambat. Kamu sudah enggan membicarakan semua ini hanya lewat kata yang terbaca. Kamu bosan membacanya. Kamu lelah merutuki semuanya. Aku tahu, sayang. Aku tahu. Maaf aku sudah terlalu memaksakan semuanya. Maaf. Ketauhilah, hingga kini aku bingung harus bagaimana. Perasaan itu selalu menghantui hati dan pikiranku. Jika kamu mendengarku tertawa, jika kamu melihat haris bibirku tersenyum, itu semua berbeda ribuan persen dengan apa yang ada dalam benakku. Jika aku memintamu membebaskan aku dari segala belenggu perasaan ini, apa kamu mau? Sungguh aku membutuhkan pertolonganmu.

Pernah ada salah seorang di sekitarku yang berkata, “Seneng ya rasanya diperjuangin.” Kau tahu? Betapa bersyukurnya aku memilikimu. Namun kini banyak hal yang ingin ku pertanyakan. Kamu yang selalu memperjuangkanku, apa aku juga memperjuangkanmu? Kamu yang selalu menjadikan ku perempuan istimewamu, apa aku juga menjadikanmu lelaki ku yang istimewa? Ada kata bijak yang menyatakan, “Berjalanlah pada seseorang yang sama-sama ingin memperjuangkan, bukan yang selalu ingin diperjuangkan.” Aku bingung pada diriku sendiri. Apa aku juga memperjuangkanmu?

Maaf tidak bisa mengembalikan apapun yang sudah terjadi di masalalu. Masa di mana semuanya menghantuiku sekarang. Tolong aku. Tolong aku. Tolong... aku mencintaimu.

No comments:

Post a Comment