Wednesday, December 4, 2013

Dear My December


Welcome December...
Masih ingat bagaimana Desember tahun lalu?  Ya, bahagia. Terlebih kenanganku denganmu tahun lalu. Memanglah segalanya menjadi masalalu, namun semuanya sangatlah tak bisa membuatku lekas beranjak dari peraduan ingatanku. Aku bahagia dibuatnya. Aku dibuatnya tersenyum saat mengingatnya. Walau ku tahu, sedikit pahit untukmu, tapi ku ucapkan beribu terimakasihku padamu untuk senyum yang sudah kau sumbangkan di bibirku. Kali ini tentu kamu tetap menjadi salah seorang yang memberikan jutaan senyuman untukku. Sekali ini lagi ku ucapkan terimakasih. Semangatku, salah satunya adalah dirimu. Ku harap, hasil yang kudapat di akhir semester ini juga bisa memunculkan senyumanmu, semangatku.

Ingatkah kamu saat-saat apa saja yang kita lalu bulan Desember tahun lalu? Aku masih mengingatnya jelas, Desemberku. Aku mengingat bagaimana gurauan kita saat salah satu dari kita mencoba memenangkan suatu pertandingan konyol itu. Ya, kau mencubit pipiku dan aku mencubit perutmu. Siapa yang mencapai target skor lebih dulu dialah pemenangnya. Dan di akhir pertandingan pun, ternyata aku yang keluar sebagai pemenangnya. Kamu tidak kecewa bukan? Tentu aku yakin tidak. Karena kamu sudah lebih dulu memenangkan hatiku. Bukan begitu?

20 Desember 2012.
Ku yakin tak seorangpun di antara kita yang mampu melupakan hari dan bulan spesial ini. Hari dimana ku mendengar getar suaramu yang mengungkapkan suatu hal istimewa untukku. Dan tentunya hari dimana masing-masing detak jantung kita berdegup lebih kencang dari biasanya. Bukan genderang perang yang ada di sana, namun genderang cinta. Ah jadi tersenyum sendiri aku mengenangnya. Tidakkah kamu seperti aku yang bisa terlalu bahagia mengenang saat-saat yang seperti ini?

Ingatkah kamu tanggal 28 Desember tahun lalu yang kamu berusaha menonton aksi teatrikalku? Aku ingat sekali bagaimana suasana hatiku saat itu. Aku pasrah. Kamu datang atau tidak, aku berusaha mengendalikan hati dan diriku. Tapi sungguh, aku pasti akan kecewa jika kamu tidak datang. Dan lihatlah. Pada saat ini pun yang ku tunggu hanya kamu, semangatku. Ajaib. Saat ku buka pintu ruang artis saat itu, kudapati sosokmu. Sosok yang tak lain sudah menjadi tambatan hatiku. Yaitu kamu.

Ah, kenangan bulan Desember yang manis. Terlalu indah bukan?

No comments:

Post a Comment