Saturday, December 21, 2013

Ini Kenyataan #2

Tepat tanggal 19 Desember 2013, aku melakukan kunjungan ke beberapa Universitas di kota Malang. Aku jadi tahu bagaimana paras gedung-gedung bertingkat itu berdiri kokoh. Aku juga mengenal bagaimana profil dan segala macam tentang universitas yang aku kunjungi, dan lain lain. Hmm, pengalaman yang belum pernah ku alami sebelumnya.

Namun, di luar dari pengalaman itu semua, aku mendapati satu pelajaran nan berharga. Lebih dari bekal apapun yang aku dapat dalam kunjungan hari itu. Tuhan membuka mataku tentang bagaimana caranya menghargai hidup. Tuhan membuka hatiku bahwa di luar sana masih banyak orang-orang menjalani hidup dengan cara yang tak mudah.


 Mengais untuk sesuap nasi.

Dari balik jendela bus yang ku tumpangi, ku perhatikan seseorang yang memakai rompi berwarna jingga ini. Ia membuka-buka kotak nasi yang berasal dari rombonganku. Membuka, membau apa masih enak tuk dikonsumsi. Dan akhirnya ia berhasil membuat mulutku terngaga saat ia mulai melahap makanan yang masih banyak tersisa dan tak termakan oleh pemilik pertamanya.

Tidakkah hati kita tergerak?
Apa ada salah satu dari kita yang mengucap istighfar saat ini?
Ini realita, tidak ada kebohongan di dalamnya...

Aku tidak tahu entah dia itu juru parkir atau bagaimana. Penampilannya tidak menunjukkan seperti orang tak waras. Coba lihat saja, rompi dan peluit yang dikenakannya. Bukankah itu semua atribut juru parkir? Namun apa? Hanya untuk melahap sesuap nasi saja ia harus mengais dari sisa-sisa orang lain yang telah dibuang dengan percuma. Bisa jadi ia melakukan ini semua hanya untuk anak isterinya agar bisa makan banyak. Mungkin ia berbohong kepada mereka kalau sudah makan enak dan banyak sehingga ia merelakan makanan di rumahnya di santap hanya untuk anak dan isterinya.

Menurutmu, itu hanya sekotak nasi? Tidak. Setelah habis sekotak, ia membuka dan mencari lagi nasi mana yang layak untuk dimakan. Begitu seterusnya hingga ia merasakan kenyang yang memenuhi perut laparnya, kemudian berlalu meninggalkan tempat ia mengais.

Sadarlah kawan, hidup di luaran sana tidak semudah harapan.
Ayo makan, habiskan, jangan disisakan.
Kamu terlalu beruntung hanya tuk mendapatkan.
Dekapan, belaian, kalianlah pemiliknya...

No comments:

Post a Comment