Monday, November 3, 2014

Belum Esok, Mungkin Nanti



Aku terbangun dari tidur siang ku yang cukup lama. Ada senyum yang menghiasi bibirku seketika. Aku ingat jika esok malam aku akan bertemu sosokmu dan kita akan pergi jalan-jalan menikmati indahnya kota. Seperti yang kita rencanakan sebelumnya, kita akan pergi makan malam dan ke toko buku. Tampak menyenangkan bukan untuk sekedar dibayangkan walau hanya dalam hitungan detik?

Namun sayangya, apa yang tejadi merupakan kebalikan yang teramat jauh dari apa yang ku bayangkan sore tadi…

Tak kurang dari lima menit kabar yang kamu layangkan padaku membuat otakku beku dan melelehkan air mataku. Aku mengingat kembali bagaimana aku tersenyum saat aku terbangun dari tidurku. Aku mengingat kembali rencana apa saja yang kita susun sebelumnya sebelum datang kabar buruk yang tak ku inginkan ini. Dan aku mengingat-ingat apapun yang mampu ku ingat saat itu.

Baiklah, semuanya bukan keinginanmu, kan?
Semuanya bukan menjadi kemauanmu, kan?

Aku sudah bisa berpikir bahwa ini memang rencana yang dihadirkan Tuhan untuk kita. Buktinya, setelah kamu melayangkan kabar buruk itu, aku juga mendapatka kabar yang sama denganmu. Jadi segalanya impas. Aku membayangkan bagaimana keadaan ini dibalik dan kamu ada di posisi yang ku tempati sekarang. Tentu akan sama menyakitkannya. Jadi, semua ini sudah takdir kita. Takdir yang belum mempertemukan kita.

Tuhan menyusun rencanaNya bukan karena tidak adanya alasan. Kali ini Tuhan tidak mempertemukan kita karena suatu alasan. Rencana kita tidak batal, hanya saja, Tuhan menunda rencana kita. Di lain hari, bisa saja Tuhan mempertemukan kita dengan skenario yang lebih indah.

Jika rinduku tidak terbalas dengan alasan apapun, itu tidak kan jadi masalah bagiku karena aku juga akan tetap masih merindukanmu. Jika doaku belum terkabul dengan alasan apapun, itu tidak akan jadi masalah bagiku karena aku tahu bahwa Tuhan akan megabulkannya di lain waktu dan aku pun akan tetap sama mendoakanmu. Namun jika memang takdir kita belum dipertemukan, aku akan meminta pada Tuhan agar jiwa dan hatiku tak rapuh untuk menerimanya.

Aku tahu bahwa pertemuan esok akan jadi ketidakmungkinan yang selalu ku semogakan…
Tertanda, aku yang–sangat–merindukanmu.

 Senin, 3 November 2014, 15:24.
Lab. Statistik, Fak. Psikologi Universitas Airlangga.

Sunday, November 2, 2014

Memulai Kembali Perjalanan Panjang

Tanpa terasa, hampir tiga bulan aku mendiami kota besar ini. Menyelami dan menikmati bagaimana saat lengang dan hiruk pikuknya kota ini. Bagaimana meresapi suasana romantis yang dapat ku temui secara tidak sengaja saat melintasi sudut-sudut kota. Dan tentunya, menikmati pula setiap proses untuk bertahan di setiap siang dan malam melintasi kota ini.


Tanpa terasa, sudah setengah semester ku selami perjalanan baruku. Perjalanan yang mengajariku banyak hal baru. Perjalanan yang belum pernah ku rasakan sebelumnya. Pelajaran yang takkan tergantikan oleh apa pun. Aku belajar bagaimana mengatur emosiku dengan benar. Belajar bagaimana suatu kesabaran dan keikhlasan bisa diterapkan dengan benar. Dan yang paling penting, aku belajar bagaimana sebuah perjuangan bisa membayar harga mahal sebuah kesuksesan.


Aku jadi mengerti bahwa apapun yang kita lakukan, nantinya itulah yang akan kita terima pada diri kita sendiri. Aku juga jadi mengerti bahwa waktu juga bisa kejam denganku, kapan saja ia mau. Namun, waktu juga tidak akan berlaku kejam, bahkan bisa dikatakan sangat baik padaku saat aku bisa melakukan hal yang baik juga untuknya.


Aku kembali memulai perjuangan yang tidak baru ini. Berusaha untuk memperjuangkan segala kebaikan untuk orang sekitarku yang menyayangiku. Berusaha untuk berjuang untuk mereka secara maksimal. Mengatasi kemalasan dan keegoisanku untuk orang-orang yang saat ini ku rindukan. Dan merindukan mereka, itu berarti sebuah motivasi bagiku untuk membawa oleh-oleh hasil perjuanganku ketika nanti aku pulang.


Tuhan mengerti apa yang aku butuhkan.
Tuhan tidak pernah tidur sehingga selalu mengetahui apa yang aku inginkan.
Tuhan tahu apa yang harus aku lakukan ketika hatiku suka
Tuhan juga selalu tau apa yang harus aku lakukan ketika hatiku gundah


Semua tak pernah terlepas dari rencana indah-Nya.
Aku sebagai hamba-Nya hanya mampu berdoa, memohon dan mengemis kepada-Nya.
Tidak kuinginkan materi yang bergelimpangan,
Yang ku inginkan hanya sebuah hasil dari serangakaian perjuangan yang saat ini tengah kulakukan
Hasil terbaik menurut Allah, agar nantinya bisa ku persembahkan untuk ibu, ayah, adik, keluarga besar dan kekasihku.


Aamiin :)

Wednesday, October 15, 2014

Terbebas Sejenak

Halo, kamu!
*bersih-bersih sarang laba-laba*
Bener-bener lama banget ya perginya?

Ya, semenjak entri terakhir yang ku terbitkan, banyak sekali hal yang menghalangiku untuk menulis. Walau sebenarnya banyak sekali yang ingin kucurahkan di dalam sini, namun rasanya tenagaku tak mau diajak kompromi. Sangat banyak sekali kegiatan yang benar-benar menyitaku barang untuk membuka blog yang sudah berdebu ini.

Sebenernya aku menghilang kemana sih?
Enggaaak, aku nggak menghilang kemana-mana. Aku tetap ada di hati dan pikiranmu :3 #eeaak. Oke, aku akan mulai bercerita. Kegiatan di kampus tidaklah setenang yang ku bayangkan sebelumnya. Bisa dimaklumi karena memang pada saat awal-awal memulai perkuliahan, skema berfikirku masih belum sepenuhnya beranjak dari masa-masa indah di SMA. Dan setelah ku temukan, realita yang terjadi ialah segalanya berubah beratus derajat derajat. Aku harus bisa membagi antara kegiatan kuliah formalku dan non formal.

Kuliah non formal? Yang gimana?
Kegiatan kuliah non formal yang ku jalani terakhir kali ini ialah ospek di fakultasku. Kurang lebih satu bulan aku harus berusaha dan bekerja keras demi terbaginya segala tugas kuliah dan ospekku dengan baik. Dan dari segala kegiatan tersebut menimbulkan manfaat dan dampak yang sangat positif bagiku.

Dan satu hal yang ku dapat dari sini, aku lebih bisa menghargai setiap detik waktu yang ku gunakan untuk istirahat.

Syukurlah, homesick yng menjalar di tubuhku akhir-akhir ini terlewati secara perlahan...
Syukurlah, aku bisa kembali pada orang-orang terkasihku...
Dan syukurlah, aku sedikit bisa bernafas lega hingga bisa menikmati waktu terindah istirahatku...

Thursday, July 24, 2014

Ada apa dengan kita?

Semenit damai, semenit seteru, semenit begini, semenit begitu.
Aku lelah.


Hai, kamu yang sekian lama ini ku sebut sebagai "Pangeranku". Kamu tentu tahu, aku ini tipikal orang yang tak mudah mempercayai orang lain, lebih-lebih hanya untuk menceritakan permasalahan kita. Problema yang menimpa kita. Aku rasanya enggan untuk menceritakan pada siapapun. Aku lebih sering menyimpannya rapat-rapat, melakukan apa yang aku bisa lakukan, dan memasrahkan segalanya pada Tuhan. Kau tahu, aku sudah terbiasa melakukan ini semua. Kalau kau, bagaimana? Terbiasa atau tidak jika melakukan sesuatu yang sama sepertiku?

Aku lelah berkeluh kesah lewat tulisanku. Tapi aku juga bingung bagaimana cara berkeluh kesah selain kepada Tuhan jika bukan tanpa tulisan. Berkeluh kesah padamu juga ku rasa sia-sia. Kamu seakan tidak mengerti apa inti yang ingin ku sampaikan dari serangkaian kalimat penjelasku. Sedikit waktu kita berdamai, sedikit waktu lagi kita bertengkar. Keadaan seperti apa ini. Hanya karena kesalahpahaman kita berseteru. Kamu tidak lelah? Atau mungkin bosan dengan keadaan yang seperti ini? Aku lelah dan aku bosan.

Kapan aku bisa menceritakan sesuatu yang indah di antara kita? Setelah ku perhatikan, aku selalu bercerita sesuatu yang tak menyenangkan tentang kita. Aku juga merindukan kita yang baik-baik saja, tidak mudah salah paham dan tentu tidak mudah menaruh curiga. Apa bisa? Tentu seharusnya bisa, bisa jika mau berusaha. Lalu jika kini aku sudah berusaha dan belum terlihat hasilnya, apalagi yang harus aku lakukan? Aku juga tidak ingin menyerah begitu saja. Aku tidak ingin mundur untuk memperjuangkanmu, memperjuangkan tentang kita.

Jika aku menjadi objek yang selalu salah untukmu, itu sudah terlalu biasa. Kata anak sekarang, sudah terlalu mainstreem. Tapi jika aku bisa sekali saja benar, menurutmu, tentu itu suatu keajaiban. Ketahuilah aku juga tidak ingin selalu ada di posisi orang yang kau sudutkan. Aku juga ingin kamu memahami apa yang aku sampaikan. Ah sudahlah. Aku selalu punya banyak kemauan padamu yang belum tentu juga kamu bisa mengerti. Aku lebih baik diam dan menikmati alur yang ada, mungkin setelah aku begini kamu jadi bisa lebih mengerti.

Salam, aku yang kau panggil Putri.

Tuesday, July 22, 2014

Cap 3 jari

Finallyyy!!!
Blanko ijazah yang telah sekian lama aku dan kawan-kawanku tunggu akhirnyaaa tiba :3
Ah tapi tentu tidak terasa rasanya kalau aku, benar-benar resmi meninggalkan bangku SMA :') sejujurnya, sebenarnya juga masih merindukan gedung penuh kenangan ini, tapi apa daya waktu telah mempersilahkan kami untuk segera meninggalkan semuanya... :') huhuhu...

Ijazah ready!



Ini bapak Wahyu Prasetyo yang menjadi petugas cap 3 jari :) he's Math teacher in Smanba.



Karena upload tanda tinta pemilu sudah terlalu mainstream, akhirnya upload tanda tinta cap 3 jari :v

Ini adik-adik petugas yang mendata penerimaan majalah Spectrum, Smanba.

And she's one of my fav teacher! Mrs. Trie Kurniawati, Math teacher :3


Yeay! Pilih 1 atau 2, yang penting 3! Persatuan Indonesia :) hihihi

Semoga ijazah SMA ini akan bermanfaat dan berkah di kemudian hari. Aamiin :)

Friday, July 18, 2014

Swirl Pink

After a long time I ain't hunt for many photos, yet now I come back to post some photos that have taken yesterday. Just a little hunting, but I really love it. And you know this is the first time I write my post in English! haha. Yeah I just wear my barbie black long dress, and jeans jacket for outter. Then I combine with a pink swirl headscarf. Its made a sweet looking, right? Hoho





Okay, I realized that I grew faaattt!! Omg :(( But its okay. I'm still healthy, Alkhamdulillah wkwkwk. Those photos was taken by my cousin as a photographer. Actually we want take them in the town center, but unfortunately, when we take place the mmc was leaved at home --" hhhhffffhhh.... and finally, we came home, and didn't do anything there. So, where these photos taken in? Haha, I take them in the balkon of my house. I think not bad for a simple photoshoot.

Take some photos just my hobby. It isn't mean if I have a passion in modeling. NO. I just love the way I pose and someone take the photos of me, hehehe. I think I'm too fat to be a model --" the most passion that I have is sing a song or writing about something happen around me. And take a photo or pose in front of the camera is my hobby that depends on my mood. Hihi :D but actually, I love all the things I do. Really love them. It just about passion and ambition.

Pray for Gaza O:)

My friends and family there, please stay strong.
Allah never leave you alone.
Allah always stay in your side.
Don't give up for everything.
I'm sorry if I just can do a little thing like this.
But I love you so much,
and I'll always pray for you...
Allah bless you, aamiin..

Thursday, July 17, 2014

Mimpi Indahku

Malam tadi aku memandang langit begitu cantiknya. Paras wajah bintang-bintang yang bersinar rasanya selalu ingin memantulkan cahayanya pada retina mataku. Namun sayang, indahnya bintang malam tadi tidak ditemani oleh paras elok sang bulan. Kira-kira kemana bulan itu? Kenapa tega meninggalkan bintang? Ah tapi ku pikir, bulan tidak pernah meninggalkan bintang. Hanya saja ia sedang pergi sejenak untk menerangi hamparan langit di belahan bumi yang lain.

Aku ingin suatu saat nanti kita berdua bisa memandangi bintang bersama. Mungkin akan lebih romantis jika kita memandang bintang sambil ditemani secangkir teh hangat dan coklat. Kapan ya kita bisa merasakan suasana indah dan damai seperti apa yang aku impikan itu? Menanggalkan segala keegoisan yang ada dalam diri kita. Oh ya, ditemani oleh Cinta Sejati yang dilantunkan oleh BCL, sepertinya akan menambah keromantisan suasana.

Lalu pada saat kita memandangi ribuan bintang bersama, tiba-tiba kamu memberiku puluhan tangkai bunga mawar yang dirangkai menjadi satu. Apa mungkin pada saat itu aku akan menitihkan air mata karena keharuan yang menyeruak dalam diriku? Apa mungkin jika waktunya tiba aku akan menutup wajahku dengan kedua telapak tanganku karena tak ingin menunjukkan warna mukaku yang merah padamu? Apa bibirku akan bergetar hingga tak bisa mengucapkan sepatah kata pun walau hanya untuk berterima kasih padamu?

Ah ini hanya rangkaian mimpiku. Jika Tuhan berbaik hati, tentu suatu saat nanti Tuhan akan menghadiahkannya untukku.

Mimpiku hanya sebuah hiburan dalam kesepian yang menderaku akhir-akhir ini. Aku memang sudah jarang menangisimu, meluangkan waktu untuk memikirkan hal-hal buruk yang menimpamu, atau bahkan mengeluh akan ketidak hadiranmu. Aku merangkai mimpi agar kerinduanku bisa sedikit terobati. Daripada harus mengingat kenangan indah kita, itu malah lebih menyiksaku, sebenarnya. Mengingat mereka menjadikan hatiku meronta karena mereka juga takkan bisa mengulang masanya lagi.

Sudahlah, ayo kita rangkai lagi mimpi apa saja yang kita inginkan terjadi di masa depan.
Bagaimana dengan mimpimu untuk kita? Apa kamu merangkainya juga? Tentu aku akan bahagia jika mengetahui ternyata kamu juga punya mimpi tentang kita yang mungkin lebih spektakuler di masa depan.


Aku merindukanmu.
Di sini, aku ingin merangkai mimpi indah bersamamu.
Kamu mau, kan?

Monday, July 14, 2014

Sejujurnya.

15 hari berlalu...

Umur tidak bertemunya kita sama dengan umur bulan puasa tahun ini.

Sejujurnya, setiap malam aku selalu menunggumu. Menunggu kehadiran ucapan selamat malam darimu seperti biasanya. Ucapan selamat malam yang biasa membangunkanku di kala pagi lalu kemudian mengembangkan senyumku. Namun sayang, ketika ku membuka mata di pagi harinya, kau ternyata tak datang.

Sejujurnya, banyak hal yang aku fikirkan tentangmu, tentang kita. Bagaimana jika pada akhirnya kamu tidak akan kembali untuk waktu yang lama? Bagaimana jika aku di sini terus menerus melepasmu pergi lalu menunggumu pulang? Baru terlintas di pikirianku, hubungan jarak jauh bukanlah hal yang mudah.

Memang sudah tidak ada air mata yang mengalir dari pelupuk mataku, namun ketika aku melihat banyak pasangan di luar sana bisa saling menatap, mempertemukan masing-masing bola mata mereka, rasanya ada rasa iri teramat sangat salam benakku. Aku kapan? Begitu yang ku tanyakan pada diriku sendiri ketika menemui pemandangan yang demikian.

Aku tidak tahu sampai kapan aku akan terus menghibur diriku sendiri tanpa adanya hadirmu di sini. Aku tidak tahu kemana waktu akan membawa rinduku yang sudah menggumpal terlalu besar untukmu ini. Terlalu banyak rasa yang ku rasakan hingga aku tidak dapat menjelaskan satu persatu.

Aku merindukanmu. Itu sudah cukup kan? Cepat pulang ya...

Seandainya jarak tiada berarti
Akan ku arungi ruang dan waktu dalam sekejap saja
Seandainya sang waktu dapat mengerti
Takkan ada rindu yang terus mengganggu
Kau akan kembali bersamaku (Raisa-LDR)

Saturday, July 5, 2014

Kabut

Kabut menyapaku pagi ini. Tidak begitu banyak cahaya sang surya yang masuk dari celah jendela kamarku.

“Nggak biasanya kabut pagi-pagi gini.” kataku.

Ponselku berdering, kamu meneleponku.

“Hai, assalamualaikum.” sapaku.

“Waalaikumsalam. Selamat pagi sayang.” sapanya kepadaku.

Senyumku tersimpul membentuk lekukan di bibirku, sepertinya sudah lama aku tak menerima sapaan hangat seperti ini darinya. Aku sendiri pun sudah lupa kapan terakhir dia menyapaku seperti ini.

“Selamat pagi juga, sayang. Ada apa pagi-pagi begini meneleponku? Kangen ya?” tanyaku.

“Ya memangnya nggak boleh aku telepon pagi-pagi begini? Yasudah, aku tutup saja teleponnya kalau begitu.” katanya pura-pura ngambek.

“Hahaha, kamu ini. Jangan ngambek begitu, nanti kurus loh.” kataku.

“Aamiin. Hahaha. Kamu kok sudah bangun? Tumben?”

“Ya memangnya aku tidak boleh bangun pagi? Hmm?”

“Harusnya kamu tadi masih tidur, jadi aku berhasil bangunin kamu. Eh pas aku telpon suaranya sudah seger begini.” katamu.

“Hahaha, iya iya. Aku minta maaf, ya. Sebenernya ada apa sih kamu telpon aku sepagi ini? Nggak biasanya aja. Dan kali ini aku nanya serius, sayang.” tanyaku untuk kedua kalinya.

“Aku besok harus berangkat ke Jakarta.” jawabnya singkat.

“Apa?”

“Iya, aku besok harus berangkat ke Jakarta.”

“Kenapa harus besok? Kok mendadak? Bukannya katamu kamu akan berangkat setelah pemilu ya?” tanyaku seakan menuntutnya dalam-dalam.

“Iya, daftar ulangnya tanggal 7-8 besok ini. Dan aku harus kesana.”

Aku terdiam sejenak. Kembali ku pejamkan mata. Mencoba menelaah kata demi kata yang ia katakan. Nampaknya kabut pagi ini menandakan pertanda akan kenyataan yang demikian ini. Tasbih yang sedari tadi malam ku bawa terlelap masih ku genggam erat-erat. Aku terlalu merindukanmu, tapi... Ah sudahlah.

“Lalu bagaimana?” tanyaku.

“Nggak tahu. Aku sendiri juga masih bingung. Bahkan bingung banget. Ada perasaan nggak enak yang menggantung di hatiku sekarang. Rasanya beban mental, pikiran, dan perasaan.” jawabnya bercerita.

“Beban? Beban kenapa?” tanyaku heran.

“Biaya untuk tes dan berangkat ke Jakarta itu nggak sedikit. Dan sampai saat ini hasil istikhoroh ku belum menunjukkan tanda-tanda yang baik.” jawabnya.

Oh, rencanaMu yang bagaimana lagi yang ada di balik ini semua Ya Allah? Apa inikah nantinya jalan yang akan membawanya bisa meraih mimpinya? Ya Tuhan, tolong selalu berikan petunjuk untuknya...

“Yasudah, gini ya, sayang. Kamu jangan gegabah, tetap usahakan tenang. Banyak-banyak berdoa dan memohon petunjuk dari yang Maha Kuasa. Diskusikan lagi sama mama kamu. Tenang ya, sabar. Semoga cepat diberi jalan keluar oleh Allah.” kataku mencoba menghibur.

“Iya, sayang. Terimakasih ya. Aku sedikit lebih tenang kali ini.” katamu.

“Alkhamdulillah, kalau begitu. Lagipula sudah tugasku memberi ketenangan untukmu.”

“Yasudah aku tutup dulu telponnya ya, nanti kalau ada waktu yang pas aku telepon kamu lagi. Oke?”

“Oke. Baik-baik ya, sayang. Jangan lupa selalu ingat Allah.”

“Siap! Hehehe. Yasudah, sampai nanti sayang, assalamualaikum.” katamu. Kali ini aku mendengar nada suaramu yang tampak jauh lebih baik daripada sebelumya.

“Iya, waalaikumsalam.” jawabku sambil tersenyum sendiri mendengarkan salam penutup percakapan kita pagi ini.

Love you.” katamu. Tetap seperti biasa. Hangat dan menyenangkan.

Love you too.” jawabku. Dan sesaat kemudian tak terdengar suara apa pun dari seberang telepon. Nampak dia sudah mengakhiri panggilan teleponnya.

Aku menarik nafas berat, kemudian ku hembuskan. Aku mencoba mengingat-ingat lagi apa yang telah terjadi pagi ini. Aku merasakan apa yang orang-orang sebut tentang dilema. Ah, apa tidak terlalu pagi aku merasakan perasaan yang seperti ini? Kabut nampaknya sudah berangsur-angsur pudar. Semoga kegundahanmu juga memudar seiring ribuan detik yang mengiringi langkahmu.



Aku kan tetap di sini, jangan khawatir.
Oke? :)

Friday, July 4, 2014

Baru Kembali, Kemudian Beranjak Lagi.

Baru sebentar saja, kau bergegas meninggalkanku
Rasa rindu padamu kini bersarang di benakku
Cinta itu anugerah yang tak mungkin mudah ku melepaskannya
Walau seribu rintangan tak gentar ku untuk menjalani semua denganmu... - ST12

Well, baru sejenak kau kembali dari kota metropolitan itu ternyata Tuhan memanggilmu kembali untuk mengadu nasibmu di sana.

Selamat atas keberhasilanmu ya, sayang. Aku turut berbahagia, aku bersyukur, aku turut merasakan suka citamu. Sekali lagi, selamat ya. Aku bangga, namun belum sangat bangga. Tunggu, nanti aku akan menjadi sangat bangga ketika kau bisa menjadi salah seorang yang menempuh pendidikan di sana. Semangat!! :D

Sejujurnya, kali ini aku merasa lebih baik untuk menerima kepergianmu daripada yang sebelumnya. Swear! Hehe. Mau bukti? Buktinya sekarang aku tetap tersenyum, tidak merasakan galau yang berlebihan, nafsu makanku tidak hilang; justru aku selalu ingat bahwa tubuhku harus mendapatkan asupan gizi yang sempurna, wkwk; lalu nampaknya aku sudah bisa mengendaikan emosiku, berfikir lebih jernih dan tidak terlalu membuat semuanya rumit.

Entah, aku merasakan pertolongan yang luar biasa dari Tuhan untukku. Hatiku merasakan sejuk luar biasa saat aku berusaha mengendalikan segalanya sendiri. Aku menyandarkan segala gundahku hanya padaNya dan segalanya mendadak menjadi sejuk dan menyegarkan. Apa ini yang disebut berkah bulan Ramadhan? Bisa jadi. Ini berkah yang kau terima dan juga yang ku terima. Bukan begitu kan?

Hingga detik ini saat jemariku mengetikkan beberapa ratus kata ini, bibirku masih memancarkan senyuman yang katamu kau menyukainya. Memang kadang-kadang aku masih mengambil nafas dalam-dalam dan menghembuskannya sedikit berat, tapi bukankah itu wajar? Wajar dong pastinya. Hehehe. Kau tidak usah terlalu memikirkanku, aku sudah jauh lebih baik di sini, sayang. Tidak ada yang perlu kau khawatirkan. Aku juga punya tekad dalam hati jika nanti kamu sudah sampai kembali di sana, aku tidak akan melakukan sesuatu yang membuatmu jengkel, sebal atau bahkan sampai memarahiku. Aku akan berusaha tidak akan bertingkah seperti anak kecil lagi seperti apa yang ku lakukan sebelumnya. Aku pasti bisa, pasti. Hehehe

Sempat timbul pertanyaan dalam hatiku, apakah ini sebuah kebetulan ketika Tuhan memanggilmu kembali ke kota itu ketika aku masih menyimpan rasa kangen yang begitu besar? Rasanya tidak. Ya, tidak ada sesuatu yang kebetulan. Everything happen with a reason. Segalanya, tidak terkecuali hal ini. Kepergianmu bukan karena kebetulan. Tuhan punya rencana yang lebih indah di baliknya. Membiasakan aku dan kamu dalam keadaan yang sedemikian ini, membuat masing-masing dari kita menjadi lebih kuat, kan? Hal ini membuktikan bahwa Allah sangat menyayangi kita. Menyayangiku dan menyayangimu juga.

Jangan terlalu mengkhawatirkan di sini. Aku akan baik-baik saja. Ada Allah yang selalu menjagaku. Pasrahkanlah semua padaNya. Percayakan aku kepadaNya. Selalu sampaikan doamu tentangku padaNya, niscaya insyaallah aku akan tetap baik-baik saja. Sama sepertiku. Aku tak bisa menjagamu dengan ragaku, namun aku selalu berusaha menjagamu dengan lantunan doaku.

Tetap semangat sayang! :)
Semoga apapun yang terbaik selalu diberikanNya untukmu.
Aamiin...

Tuesday, July 1, 2014

Aloha Juli!


Hello Ramadhan! :3
Senang dan bersyukurnya masih diberi kesempatan untuk bertemu bulan istimewa ini. Tentu bersama orang-orang terkasih yang alkhamdulillah masih lengkap O:)

Dan faktanya di bulan Juli ini, sampai detik ini pun entah aku jadi addict dengan salah satu sinetron yang diadaptasi dari sebuah novel Islam karya Asma Nadia. Nah, pasti tahu kan sinetron yang mana yang aku maksud. Singkat cerita, gara-gara sinetron ini ayahku "kalah" karena para ibu-ibu di sini lagi fever banget dengan sinetron yang satu ini.

Well, sebenarnya nggak ada wishlist yang macem-macem di bulan Juli ini. Tapi satu yang pasti, semoga Allah kasih rezeki untuk aku dan keluargaku tentunya. Hanya itu yang paling utama. Dan yang lainnya, aku hanya ingin hubunganku dengan dia, berlangsung baik-baik saja. Selalu baik-baik saja. Aku sepertinya sudah terlalu lelah jika harus selalu beradu kata seperti yang kulakukan dengannya akhir-akhir ini. Jadi, semoga kita sealu baik-baik ya :))

At least, Selamat Menunaikan Ibadah Puasa bagi yang menjalankannya. Semoga Allah selalu memberi kelancaran, kemudahan dan keberkahan di setiap langkah yang kita jalani. Aamiin :))

Friday, June 27, 2014

No Body Perfect, Guys.

Minggu ini entah kenapa aku banyak menemui orang-orang di sekitarku yang hatinya patah hati. Sebenarnya, aku termasuk salah satu dari mereka. Hanya saja aku enggan menceritakan pada siapa pun kecuali aku berdoa dan menenangkan diriku sendiri. Menurutku itu merupakan cara yang paling ampuh untuk meredakan rasa sakit yang menggores hati.

"Harusnya malem ini gue nonton sama dia nembak dia dengan apa yang udah gue rencanain, yang gue bilang ke elo tadi siang. Tapi dia udah jadian, bat. Ya, Tuhan Maha Asyik, kan. Udah ya, bat. Lo jangan ngomong apa-apa ke dia." - Sobat.

Oke, ini tentang "siapa cepat dia dapat" gitu ya? Dan ternyata memang benar, gebetan si sobatku ini memang sudah menerima cinta dari orang lain. I know what do you feel, bat. Sakitnya di sini kan? *nunjuk jantung*.

"Mbak, setelah semua yang tak lakukan ternyata semua cuman jadi sampah." - Adik Kelas.

Nah, kalau yang ini tentang adik kelasku yang sudah lama memperjuangkan cinta sahabatku, namun tak kunjung mendapatkan jawaban nan pasti. Bahasa gaulnya sekarang itu "digantungin". Tapi aku yakin, si sahabatku ini punya alasan di balik semuanya. Jangan egois ya, Dik. Tolong pikirkan juga sahabatku. Ia tentu juga merasakan serba salah. Jika terlalu serig meresponmu, nanti dibilang pemberi harapan palsu. Tapi jika ia tidak terlalu meresponmu, tentu kamu pasti akan merasa semakin diombang-ambingkan, ya kan? Aku juga yakin, bahwa sahabatku tidak akan menganggap semua darimu itu sebagai "sampah" seperti yang katamu itu. Kalau ia menganggapnya sebagai sampah, tentu ia sudah membuangnya dari awal ia tau kalau kamu menyukainya. Betul?

Aku cukup mengerti apa yang mereka rasakan saat ini. Dan sebenarnya, aku juga sempat merasakan rasa yang sama akhir-akhir ini. Ketika sobatku mengetahui aku sedang *ehm* galau, ia kemudian berkata padaku, "Punya pacar kok galau sih." Ya memangnya kalau sudah punya pacar galau sudah dihapuskan, ya? Nggak keleus. Dan aku yakin pasti adik kelasku juga berfikiran, "Enak kali ya kalau udah punya pacar, nggak patah hati kaya gini." Kata siapa siiih? Buktinya aku, masih pernah patah hati pas pacaran. Yang perlu ditekankan di sini ialah, no body perfect and nothing perfect relationship, too.

Jika banyak orang berfikiran jika yang sudah punya pasangan itu hidupnya akan tentram baik-baik saja, itu keliru. Mereka yang sedang sendiri, lagi pedekate dan lain sebagainya, itu saja bisa mempunyai masalah, bagaimana kami yang sudah punya pasangan? Kami tentu tidak memikirkan diri kami sendiri. Kami tentu harus saling belajar memahami satu sama lain agar tercipta hubungan yang baik. Kami harus saling melengkapi dan memahami segala perbedaan yang terdapat di tengah-tengah kami. Semuanya perlu penyesuaian dan tentu semuanya merupakan proses belajar. Kami yang sudah tidak sendiri ini pun terkadang masih merasakan kesendirian walaupun pada kenyataannya ada seseorang yang menemani. Kami juga terkadang masih bisa bertengkar karena perbedaan pendapat, kecewa atau yang lainnya. Ya pada intinya, kami yang sudah berpasangan ini sama-sama mempunyai banyak permasalahan seperti kalian yang sedang sendiri saat ini. Masing-masing dari kita, tentu harus tau bagaimana caranya menguatkan diri sendiri untuk menghadapi masalah tersebut.

Serupa tapi tak sama.
Sama-sama punya masalah, hanya status yang membedakan.
No body perfect, guys :)

Wednesday, June 25, 2014

Semangat, Sayang.

Kamu di sana bahagia, aku di sini tidak.

Sejak Sabtu lalu saat kepergianmu, aku sudah merasakan gundah teramat sangat. Aku ikhlas melepasmu, namun entah kenapa hatiku masih meronta kesakitan. Ditambah lagi akhir-akhir ini kita sering bertengkar. Suatu hal yang tak ku sukai saat kita berjauhan dan kemudian kita bertengkar. Seakan semuanya tidak punya ujung penyelesaian.

Hari ini merupakan hari dimana kamu harus menjalani tes akademik, kan? Rasanya aku sudah semaksimal mungkin menyemangatimu. Tapi kenapa aku merasa bagimu itu biasa saja, ya? Kenapa aku merasa kamu tidak melihat semua usahaku itu? Ketika aku menggebu-nggebu berusaha membuat semangatmu berkobar, ternyata segalanya kau tanggapi dengan sikap biasamu itu. Jujur aku merasa tidak dihargai, lagi. Apa harus aku merasakan perasaan tidak enak ini lagi? Kamu kan yang memintaku untuk selalu ada dan mendukung setiap langkahmu. Sekarang aku sudah melaksanakan semuanya, apa yang ku dapat? Aku tidak mendapatkan rasa apresiasimu. Kamu merasa? Sepertinya tidak.

Tapi sudahlah lupakan. Aku meyakini semuanya akan indah pada waktunya. Aku lelah jika setiap pagi aku harus menahan apa yang tak seharusnya ku tahan dan aku juga lelah jika setiap malam aku harus mengeluarkan segala kemuakanku yang tak seharusnya aku keluarkan. Tolong, aku butuh pengertianmu saat ini. Aku juga merindukanmu. Tolong perlakukan aku sedikit lebih istimewa agar aku tau bahwa kau masih memprioritaskan seorang wanita sepertiku.

Semangat ya, sayang. Semoga selalu diberi kemudahan dan kelancaran.
Ya walaupun ini belum tentu kau lirik sekali pun,
aku takkan pernah berhenti untuk selalu berusaha memberikan yang terbaik untukmu.
Tertanda, kekasihmu.

Monday, June 16, 2014

Terimakasih Hari Ini-nya

Ceritanya, niatnya udah mau posting tulisan ini semalem. Namun apa daya, kuota internet tidak berkehendak..

Hai kamu, selamat malam. Sedang apa kamu malam ini? Istirahat? Hehehe. Ngomong-ngomong, hari ini indah ya? Kita menghabiskan waktu bersama untuk beberapa jam, kemudian kita bercanda, kemudian lagi kita beradu pendapat, lalu kita bermain game itu yang pada akhirnya aku lah pemenangnya, dan lain sebagainya. Senang tidak? Kalau aku tentu tidak usah ditanya. Bisa dibilang aku kelewat senang sekarang. Hehehe. Aku lega karena di hari-hari terakhir kamu menghabiskan waktu di sini, kita masih diberi kesempatan untuk bertemu. Bukan begitu? Hehehe

Aku tidak berani menghitung berapa hari lagi kamu akan pergi. Iya aku tahu ini sedikit berlebihan. Tidak berani menghitung tapi aku sendiri sebenarnya tahu berapa lama lagi waktu akan membawamu ke kota besar itu; kota metropolitan yang menjadi cita-citamu menempuh pendidikan itu. Dan aku juga tahu mungkin ini sangat berlebihan bagi orang lain. Mereka melihatku terlalu melankolis dengan banyak berkeluh kesah akan kepergianmu yang sebenarnya hanya sementara dan tidak lebih dari dua minggu itu. Apa seharusnya aku tidak seberlebihan ini ya?

Ya tapi setidaknya pertemuan kita hari ini sepertinya mampu menjadi penangkal rindu yang akan mendera masing-masing dari kita; tentu ketika kamu berada di sana nanti, dan aku yang tetap berada di sini. Namun ini hanya sementara. Aku yakin penangkal ini hanya akan berjalan dalam waktu singkat. Mustahil penangkal ini akan bertahan hingga kamu melangkahkan kaki untuk kembali pulang ke kampung halamanmu ini. Apapun penangkalnya, rindu tidak akan bisa dicegah bagi mereka yang saling mencinta. Rindu itu bagaikan racun yang selalu menggerogoti hati dan relung jiwa mereka-mereka yang tak saling bertemu, tak saling pandang, dan tentu mereka-mereka yang sedang terpisahkan jarak. Kecuali jika mereka mampu bertahan melawan ego yang bersarang di otak mereka. Mereka sedikit mengalah untuk tidak saling beradu kata-kata dan mencoba memunculkan suasana hangat dari dalam diri mereka masing-masing untuk saling mengutarakan cinta atau mungkin kata-kata manis yang bisa dipergunakan sebagai media hiburan ketika berjauhan. Sejujurnya, ini yang aku harapkan. Semoga aku tak kan merasakan rindu yang terlalu dalam. Eh tapi bukan berarti aku tidak ingin merindukanmu, lho. Hanya saja aku ingin rindu yang datang padaku nanti tidak terlalu menyiksaku, itu saja. Kamu mengerti kan?

Oh ya, ingat waktu tadi kamu melihat foto-foto konyol di ponsel ayahku? Kamu tertawa begitu plong hingga perutmu mulas. Ah, jarang sekali aku melihat pemandangan seperti itu. Ketika kamu menunjukkan sesuatu yang lucu kepadaku, aku hanya tertawa kecil untuk menemani tawa besarmu itu. Bukannya aku tidak senang, bukan. Hanya saja tawa besarku ada di lubuk hatiku yang paling dalam. Hal ini sangat jarang sekali terjadi, maka dari itu aku bahagia melihatmu bisa tertawa lepas seperti yang tadi itu. Hatiku ikut tertawa sama besarnya seperti tawa yang muncul dari rongga mulutmu itu. Hmmh... Kenapa ya kesempatan seperti ini datang ketika kamu akan bertandang ke kota orang? Kenapa tidak dari waktu-waktu yang lalu saja agar aku bisa sering-sering melihatmu bertingkah seperti itu? Ya, mungkin aku baru membutuhkan pemandangan yang sedemikian ini sekarang. Aku harap di lain waktu dan di lain kesempatan, Tuhan mempertemukanku dengan pemandangan yang indah seperti ini lagi, aamiin...

Ingat, beberapa hari lagi kalau kamu sudah sampai di kota orang, kamu harus baik-baik ya. Jangan lupa tirakadnya. Jangan sering ngerepoti om dan tante kamu yang ada di sana. Makan yang teratur dan istirahat yang cukup. Sholat tepat waktu dan berdoa yang khusyu. Jangan tidur terlalu malam dan jangan juga bangun terlalu siang. Ingat sholat subuh jangan sampe kelewatan ya. Jangan lupa juga jaga kebersihan. Jangan suka buang sampah sembarangan, kalau emang kepepet kamu kantongin dulu, terus nanti kamu buang kalau sudah ketemu dengan tong sampah. Yang paling penting, jaga kesehatan ya. Bawa obat-obatan yang sesuai kebutuhanmu. Kalau bisa bawa minyak angin buat diperjalanan. Hmm... Pesan apa lagi ya kira-kira? Oh ya, jangan lupa jaga hatinya ya :) hehehe

Kalau saja aku bisa dan diizinkan menemani kamu, aku pasti ikut. Pasti itu. Tapi belum saatnya. Berdoalah agar suatu hari nanti kita akan saling menemani satu sama lain, di manapun, dan kapanpun. Aku juga tidak tega sebenarnya melihatmu menempuh perjalanan jauh ini sendirian. Duduk di kursi penumpang tanpa berteman dengan siapa pun, kemudian mendengarkan deru mesin kereta api tanpa mengobrol dengan siapa pun, lalu kamu melihat pemandangan di sekelilingmu sendirian, sepertinya semua itu cukup tidak mengenakkan. Bukan begitu? Tapi ku mohon bersabarlah sejenak. Mungkin setelah kamu melalui masa tidak mengenakkanmu ini, nantinya kamu akan bertemu dengan sesuatu yang membuat hidupmu enak dan layak. Aamiin..

Sudah dulu ya cerita-ceritanya. Selamat tidur untukmu dan selamat tidur untukku juga. Mimpi yang indah ya. Semoga hari-harimu kelak di sana menyenangkan dan tidak dipertemukan dengan aral melintang yang berarti. Sekali lagi, terimakasih hari ini-nya. Terimakasih sudah membuatku bahagia tak terbatas :)

Thursday, June 12, 2014

Pengagum Rahasia

Karena banyaknya yang request lirik lagu yang satu ini, langsung simak yuk :))

Tahukah kamu saat ku perhatikan kamu
Dan tahukah kamu diam-diam ku mengagumimu
Sejak saat itu, hatiku jadi tak menentu
Dan sejak saat itu ku mulai jatuh hati pada dirimu

Lihatlah aku di sini untukmu

Menunggumu di setiap waktu
Ku inginkan kamu
Tak sebatas pengagum Rahasiamu

Dengarkan aku oh sayangku

Hati ini kan selalu untukmu
Izinkan aku memilikimu
hanya tuk sekali dalam hidupku, oh sayangku...

Andaikan kau tahu rasa itu tak pernah layu

Dan andaikan kau tahu, tak henti ku jadi pengagum rahasiamu
Sejak saat itu, hatiku jadi tak menentu
Dan sejak saat itu ku mulai jatuh hati pada dirimu

Lihatlah aku di sini untukmu

Menunggumu di setiap waktu
Ku inginkan kamu
Tak sebatas pengagum rahasiamu

Dengarkan aku oh sayangku

hati ini kan selalu untukmu
Izinkan aku memilikimu
Hanya tuk sekali dalam hidupku, oh sayangku...


Enjoy!! :)

Assalamualaikum Ibu, Assalamualaikum Ayah :)

Assalamualaikum, ibuku yang cantik dan ayahku yang paling ganteng.

Aku tidak menyangka kalau Mei hingga Juni di tahun ini benar-benar jadi bulanku yang sangat cantik. Sebelum datangnya bulan ini, aku sempat mengelilingi tempat itu, bu. Suasana kampus yang ramai, gedung-gedung besar yang ada di kanan dan kiri, membuatku takjub. Memang tidak ada sesuatu yang atraktif, namun ada satu tempat yang sangat menarik perhatianku. Sudut mataku menangkap ada sesuatu yang berbeda dari yang lain.

Itu yang aku cari. Gedung bernuansakan warna ungu di sekitarnya sangat menjadi sesuatu yang aku idam-idamkan untuk dapat menjadi bagian di dalamnya. Bulu kudukku merinding ketika aku mengelilingi gedung itu seperti orang yang sedang thowaf di tanah suci. Hanya mengelilingi saja, aku sudah ingin menangis. Memang dasar aku cengeng. Belum apa-apa sudah terharu. Tapi sungguh, saat itu aku hanya berdoa agar aku bisa diberi kesempatan menjadi salah satu seseorang yang beruntung sehingga bisa menjadi bagian dari penghuni di dalamnya.

Dan tibalah hari dimana segala harapan, mimpi dan angan-angan ditentukan. Tidak ada yang bisa dilakukan selain menunggu sembari berdoa dan pasrah akan apa pun yang akan terjadi. Sayangnya di hari itu, ibu tidak ada di rumah. Hanya ayah yang ada saat ini. Dan tepat jam 12:03, dengan jemari yang bergetar dan lembap karena keringat aku mengetikkan satu persatu angka yang bisa digunakan untuk membuka pengumuman itu. Dan siapa menyangka, aku melonjak kegirangan, bu. Aku tidak menyangka keberuntungan ini berpihak padaku. Akhirnya, aku bisa mempersembahkan hadiah terindah untuk ibu dan ayah di tahun ini. Ku peluk ayah dengan erat, derai air mata tak hentinya mengalir di pipiku. Aku yang tak percaya kembali mengecek apa benar aku menjadi salah satu orang yang beruntung itu. Dan memang benar, Tuhan memberinya untukku.

Aku bermaksud tidak memberitahukan dulu padamu, bu. Aku ingin menjadikannya sebuah kejutan untukmu ketika ibu sampai di rumah nanti. Ah tapi apa daya, ayah menghubungimu lebih dulu dan sepertinya cara ayah itu juga merupakan suatu kejutan untukmu, ya? Hehehe. Aku tidak bisa membayangkan bagaimana reaksi ibu di seberang telpon ketika berita bahagia itu mendarat di telinga ibu. Jangankan ibu, ayah saja yang mempunyai ekspresi datar juga ikut tercengang dengan apa yang terjadi di hari itu. Semuanya serba mendadak ya, bu? Hehehe. Dan akhirnya tak lama setelah itu, aku menyambutmu yang telah sampai di rumah. Aku yang tak kuasa, langsung memelukmu dan berlutut di kakimu. Aku memelukmu erat-erat karena saking bahagianya. Aku menangis, ibu pun juga begitu. Kami dua perempuan yang sama-sama bahagia di hari itu. Aku mendengar bisikanmu yang mengatakan bahwa ibu bangga kepadaku. Dan tanpa di katakan pun, aku yakin tentu ayah juga merasa bangga kepadaku. Ya kan, yah?

Terimakasih, Tuhan.
Terimakasih sudah segan untuk mendengarkan apa yang menjadi keinginanku.
Terimakasih sudah memperkenankanku menjadi salah satu yang beruntung.
Terimakasih sudah memberiku kesempatan emas untuk masa depanku.
Terimakasih sudah mengizinkanku memberi hadiah cantik untuk orang tuaku.
Terimakasih, Tuhan... Terimakasih.
Tentu semua ini tidak akan berjalan tanpa izinMu.
Jika aku belum membutuhkan semua ini, mungkin Engkau juga belum memberikannya untukku. Karena aku ingat, segala sesuatu yang Kau berikan sebenarnya bukan apa yang aku inginkan, namun apa yang aku butuhkan. Dan Engkau yang Maha Mendengar mengerti, bahwa apa yang aku butuhkan itu salah satu yang ku inginkan.
Sekali lagi terimakasih, Tuhan :)

Teruntuk Ibu dan Ayah,
Sehat terus ya, agar di kemudian hari aku bisa memberikan kalian hadiah yang indah-indah lagi.
Dah Ayah, dah Ibu.
Mbak menyayangimu :)
Assalamualaikum..

Wednesday, June 11, 2014

Waktunya Telah Tiba

“Aku akan berangkat tanggal 21 nanti.”
“Berangkat kemana?”
“Jakarta.”

Seketika cairan hangat mengalir dari pelupuk mataku. Ini terlalu cepat. Sebenarnya aku belum siap. Hati dan mentalku belum siap. Aku terdiam sejenak tanpa mengatakan sepatah kata pun. Kami berdua sama-sama terdiam. Aku berusaha menahan bagaimana caranya agar seseorang yang di seberang telepon ini tidak tahu apa yang terjadi padaku saat ini. Sekuat tenaga aku menenangkan diriku sendiri. Tidak ada yang mengetahui selain boneka-boneka bisu yang duduk manis di tempat tidurku.

“Tapi aku cuman seminggu kok di sana, kamu jangan khawatir ya.”

Dan harusnya dia tahu, seminggu saat ia di sini tentu jauh berbeda saat ia di sana.

“Toh aku kan cuman tes di sana, belum tau kan gimana hasilnya. Keterima atau enggaknya kan aku nggak tau.”

Tanpa kamu memberi tahu ku, aku juga sama belum tahunya sepertimu. Entah itu hasilnya nanti kamu akan diterima, atau tidak. Toh jika salah satu dari keduanya itu terjadi, itu sudah merupakan yang terbaik untukmu, salah satunya sudah jalanmu, rezeki untukmu. Aku sudah pasrah akan apa yang akan terjadi nanti. Aku juga sadar bahwa aku tidak bisa banyak membantumu. Yang ku bisa kini hanya mendoakan yang terbaik untukmu. Segalanya, apa pun itu, semoga itu yang terbaik untukmu. Bukan begitu?

Aku tidak ingat kapan tepatnya aku menge-post tentang “Jawa masih mencintaimu”di blog ini. Yang jelas aku ingat pernah menulis tentang hal ini sebelumnya. Dan saat ini, kurang dari 10 hari semuanya akan terjadi. Semua proses itu akan kamu lalui. Hingga pada saatnya kelak, Tuhan akan menunjukkan kepadamu melalui waktuNya apa yang terbaik untukmu.

Apakah kotamu ini sudah tidak mencintaimu? Jika ia masih mencintaimu, mengapa ia membiarkanmu pergi? Mengapa ia tak mencegahmu? Apakah ia benar-benar menginginkanmu pergi jauh darinya? Apa ia tak memikirkanku? Berat sekali nafas yang ku hela kali ini. Aku tidak tahu takdir seperti apa lagi yang akan menghampirimu dan aku. Aku menginginkan takdir yang baik. Pertanyaannya, “takdir Tuhan yang mana yang tak baik?” aku yakin semuanya baik. Semua takdir Tuhan itu baik dan tentu yang terbaik.

Setelah lama berbincang denganu, tak terasa pipiku sedikit kaku karena air mata yang mengalir tadi sudah kering. Aku tidak lagi menangis. Aku akhirnya bisa menata dengan rapi emosiku, syukurlah... Dan tiba kini ku tutup telponmu dan mempersilahkanmu istirahat. Lagi-lagi helaan nafas berat keluar dari lubang hidungku. “Aku belum siap”, batinku. Dan air mataku kembali mengalir. Yang ku pikir saat itu ialah bagaimana jadinya jika keadaan ini terbalik 180 derajat? Apakah kamu sepertiku? Apakah yang kurasakan sekarang ini kamu rasakan juga? Aku ingat bagaimana cara kita menghabiskan waktu bersama. Mengadu tawa, suka dan duka. Dan kenangan yang lainnya. Ya, satu-satunya cara ialah mengikhlaskan. Dan itu tentu tidak mudah.

Ingat salah satu game yang baru-baru ini kita mainkan? Semalam aku membukanya, mencoba memainkannya lagi. Dan itu menyenangkan. Tanpa kamu mengajariku, aku tidak akan bisa main game ini.

“Main game ini tuh gak usah mikir. Kelamaan.”
“Kamu tinggal bawa angka terbesarnya ke pojok kiri, dan begitu seterusnya.”

Ibu jariku memainkan game ini, namun tiba-tiba pipiku basah lagi. Ya Tuhan, apa yang terjadi denganku ini.

Aku harus sadar bahwa aku tidak boleh menjadi batu sandungan untuk segala usahamu menggapai apa yang kamu inginkan. Yang harus aku lakukan ialah mendukungmu, walaupun hanya berada di balik layar. Aku akan berada di balik layar, mendoakanmu, menunggumu kembali, dan berusaha menjadi tim sukses yang baik untukmu. Jangan khawatirkan aku di sini. Terus saja kamu berjalan dengan kakimu sendiri. Berjalan lurus ke depan tanpa menoleh sedikit pun ke arahku. Jika kamu menoleh sedikit saja ke arahku, bisa-bisa kamu melewatkan kesempatan emas yang lewat di hadapanmu. Aku tidak ingin kamu melewatkan kesempatan emas itu hanya karena aku. Jangan terlalu khawatir terjadi sesuatu padaku di sini, Tuhan yang akan melindungiku, percayalah.

Teruntuk dirimu.
Menggapai cita-cita bisa diibaratkan seperti menambang emas dan berlian. Jika kamu ingin mendapatkan sebongkah emas dan berlian, tentu kamu harus menggali tanah yang dalam, lebih dalam bahkan sangat dalam. Jangan perdulikan keringat yang mengucur deras dari tubuhmu. Ingatlah bahwa kamu akan mendapatkan emas dan berlian itu yang nantinya juga akan kamu persembahkan untuk orang-orang yang kau kasihi dan mereka mengasihimu. Begitupun jika kamu ingin menjadi apa yang kamu inginkan, apa yang kamu cita-citakan. Kamu tidak akan bisa mendapatkannya dengan cara yang instan. Perlu pengorbanan besar untuk mencapai suatu kebahagiaan besar pula. Kejarlah cita-citamu, sayang. Selalu ingatlah Tuhan dan segala tujuan pokokmu. Aku dan ratusan orang yang menyayangimu akan tetap di sini mendukungmu dan mendoakan segala hal yang terbaik untukmu. Dan aku, dan mereka yang saat ini berada di balik layar untukmu, menunggu kabar bahagia darimu...

Tertanda, yang mencintaimu.

Tuesday, June 10, 2014

Selamat Ulang Tahun, Cinta.

Selamat Ulang Tahun :3

Assalamualaikum, sayang.
Selamat ulang tahun ya... Selamat menempuh umur yang baru, mimpi-mimpimu yang baru, dan segala harapanmu yang baru :))
Semoga di tahun hidupmu yang ke 19 ini, kamu selalu diberi kesehatan oleh yang Maha Kuasa, kamu sealu dilindungiNya, dan Allah selalu memberkahi di setiap langkah kehidupan yang kamu pijak.
Tentu rapalan doaku untukmu tak hanya ini. Tentu semua orang terdekatmu, semua orang yang menyayangimu menginginkanmu menjadi lebih baik dari sebelumnya. Dan tentu saja orang-orang yang menyayangimu berharap dapat kamu bahagiakan di kemudian hari.
Semoga segala yang kamu harapkan, kamu cita-citakan bisa tercapai. Kamu menjadi orang yang lebih baik, dan tentu bisa menjadi kebanggaan kedua orang tuamu :))

Maaf, untuk tahun ini aku tak bisa datang untukmu. Aku tak bisa memberikan sesuatu yang istimewa untukmu tahun ini. Namun pengharapanku, jadilah seseorang yang mampu dikenang orang-orang di sekelilingmu, jadilah seseorang yang bisa disegani oleh orang-orang sekitarmu, maka kamu sudah menjadi pribadi yang hebat di dunia ini :)

Sekali lagi, selamat ulang tahun, kekasihku...
Aku mencintaimu :))

Friday, May 2, 2014

Selamat Hari Pendidikan Nasional, Indonesiaku.

Happy National Education Day!

Yippiiiieee!!!
Setelah hari sebelumnya tepatnya pada tanggal 1 Mei yang diperingati sebagai Hari Buruh kini, pada tanggal 2 Mei disusul dengan diperingatinya Hari Pendidikan Nasional. Kira-kira, apa yang akan terjadi dengan sistem pendidikan di Indonesia ini? Akankah sama dengan tahun-tahun sebelumnya? Atau mungkinkah akan berubah menjadi sistem yang lebih baik tanpa keamburadulan? Hmm, we never know how the future happen.


Tadi pagi sempat aku melihat Recent Update pada Blackberry Messengerku, banyak orang khususnya guru dan siswa yang update status "prepare upacara", dan disitu aku baru ngeh kalau hari ini sudah menginjak tanggal 2 Mei. Dan tidak lama kemudian terlintas di benakku, apakah memperingatinya hanya dengan upacara semata? Sebenarnya juga harus diimbangi perubahan tatanan mengajar, kemudian tatanan belajar pula. Tidak hanya stuck itu-itu saja sedangkan perubahan yang diinginkan tidak tercapai.

Dan entah kenapa pikiranku kembali melayang tentang kenangan UNAS pada tahun yang ku pijak. Kabar-kabarnya, unas tahun depan akan diadakan secara online demi meminimalisir kecurangan-kecurangan yang terjadi. WOW, bisa dibayangkan itu akan menjadi sesuatu yang luar biasa sekali. Pada hari yang sama, pada jam yang sama, di tahun depan setiap siswa dan siswi kelas 3 SMA, akan menghadap pada layar komputer yang berisikan soal dan tentu setiap PC akan memuat soal yang berbeda. Sekali lagi, setiap siswa. Dan bisa dipikirkan bagaimana dengan mereka siswa dan siswi yang berada di sekolah pedalaman bahkan tak terjangkau oleh internet sedikitpun? Apakah sekolah mereka akan mendapatkan subsidi berupa PC beserta jaringan internetnya dari pemerintah sebagai bentuk perubahan positif sistematika ujian di negri ini? Once more, no body knows. Tentu hal seperti inilah yang perlu dikaji ulang oleh para pejabat pengatur pendidikan Indonesia.

Tak hanya sekelebat tentang ujian, kali ini tentang kurikulum baru yang diterapkan untuk para siswa siswi kelas 1 SMA tahun ini. menurutku sebenarnya ada sesuai dan tidaknya. Sesuainya terletak pada penjurusan yang dilakukan sejak dini. Hingga segalanya menjadi terfokus dan tidak morat-marit. Selain itu, terdapat kegiatan lintas minat. Sehingga setiap siswa berhak memilih pelajaran apa saja yang ia suka, ia minati, dan tentu ia merasa jiwanya berada di sana *wuuuss*. Namun tidak sesuainya terletak pada... banyak hal ._. hehehe. Menurut kabar yang santer tersiar, mode pembelajaran di kurikulum yang baru ini sepertinya terlalu "kejar-kejaran" dikarenakan jumlah bab di dalam masing-masing mata pelajaran menjadi "abnormal". Gimana maksudnya sih? Emm, gini deh. Misalkan kita sekarang udah di kelas 3 SMA, nah pelajaran yang kita pelajari di kelas 3, sekarang lagi dipelajari juga di kelas 1, yang nggak lain mereka-mereka yang melajarin adalah para adek kelas kita. Wow sih, jadi mereka bisa mengembangkan kemampuan mereka secara cepat, tapi kasihannya, target yang harus mereka capai lebih dari sesuatu yang normal sebelumnya. Oke fix, itu bukan sesuatu yang perlu dikasihani, tapi itu tantangan. Catat, tantangan ('-')9. Dan denger-denger juga, UNAS adek-adek kelas kita ini diadakan pas mereka kelas 11. Entah sampai sini, aku pun tetap berkesimpulan kurikulim yang ini, terkesan ruet.

Tapi semua tidak luput dari kekurangan dan kelebihan.
Termasuk sistematika pendidikan di Indonesia.
Kami tentu butuh kepastian dari tangan-tangan berkuasa di atas kami.
Kami tidak menginginkan sesuatu yang neko-neko,
hanya kami ingin pembenahan untuk segala sistem pendidikan di Negeri ini.
Bisa kan, Pak? Bu?
Pak Menteri Pendidikan?
Kami tunggu perubahan yang lebih baik ya :)
Salam, Siswa dan Siswi Republik Indonesia.

Thursday, May 1, 2014

Selamat Pagi, Mei!


Selamat Datang Mei...
Selamat datang sebuah bulan penentuan :)

Akhirnya tibalah tepat di tanggal 1 Mei. Dan yang beda tahun ini, pada tanggal 1 Mei terlihat tanggal merah yang menandakan libur *yeah*. Tapi tidak, sebenarnya ini belum menjadi suatu hari libur yang menyenangkan karenaaa 19 hari lagi akan diumumkan sebuah penentuan kelulusan. Ya, kelulusanku setelah 3 tahun menjadi seorang siswi SMA. Tak berhenti sampai di tanggal 20 Mei, di tanggal 27 akan menjadi hari paling menegangkan. Mengapa? Inilah hari dimana akan diumumkan LOLOS atau tidaknya siswa di jalur SNMPTN. Hanya ada kemungkinan, SELAMAT atau MAAF. Sungguh membuat jantung tak lelah untuk berdetak lebih cepat.

Tuhan, saya hanya menginginkan apapun yang terbaik untuk saya.
Tolong jadikan bulan ini menjadi bulan paling indah dalam hidup saya.
Aminn...

Wednesday, April 30, 2014

Selama Menghilang...

Kemana perginya aku selama ini hingga tak meninggalkan jejak apapun di pelataran ini?

3 bulan lamanya setelah posting terakhir berjudul “Pertikaian”, aku menghilang dari peredaran para bloggers. Ah bukan menghilang sebenarnya, aku juga tidak berniat meninggalkan. Aku hanya sedang mempersiapkan segala sesuatu untuk pendidikanku *ciyeee*. Dan bulan Februari tentu saja menjadi bulan kelahiranku di mana aku harus melewatinya dengan serangkaian ujian yang melelahkan, menegangkan, menguras tenaga pikiran dan perasaan. You absolutely know bagaimana rasanya ketika satu bulan lamanya dilewati dengan setumpuk ujian dan kau harus selalu menjaga kesehatan dan kebugaran.

Well, setelah usai melakukan pendaftaran jalur SNMPTN (Seleksi Nasional Masuk Perguruan Tinggi Negeri) aku menempuh fase Ujian Praktik yang tentu membutuhkan persiapan ekstra. Seperti misalnya ujian praktik bahasa Inggris. Di sekolahku, ujian praktik bahasa Inggris ini terbagi menjadi dua macam ujian. Yaitu writing dan drama. Nah hanya dalam waktu 3-4 hari drama yang sudah ditentukan untuk satu kelompok yang terdiri dari 4 orang harus ready untuk disajikan. Itu menurutku *WOW* ._. hehehe. Itu salah satu mata ujian praktik dan masih banyak lagi yang lainnya. Dan kemudian setelah ujian praktik, dilanjutkan kembali dengan Tryout Dinas. Ya, tidak jauh beda dengan soal-soal yang sebelumnya dipelajari, hampir semua soal yang terdapat di dalamnya sesuai dengan SKL.

Month by month...
Week by week...
Day by day...

Akhirnya tiba juga di tanggal 14 April.

Akhirnya tiba di Hari Senin di mana siswa dan siswi di seluruh Indonesia melaksanakan suatu ujian penentu kelulusan. Ujian Nasional. Menegangkan tentunya. 3 hari dan 2 mata pelajaran perharinya. Jujur, pada hari pertama ketika bertemu mata pelajaran Bahasa Indonesia, tidak banyak yang dikhawatirkan. Namun pada saat biologi, WOW  serasa mengerjakan soal-soal olimpiade. Banyak sekali soal yang tidak sesuai dengan SKL dan lain sebagainya. Ini masih hari pertama dan ku pikir mungkin hanya biologi saja. Namun ternyata itu salah. Hari kedua dan ketiga juga terjadi hal yang sama. Banyak soal yang tidak sesuai dengan SKL yang ditentukan sebelumnya. Entah aku merasa semua yang dikeluarkan, semua yang diujikan setara dengan soal-soal OSN (Olimpiade Sains Nasional). Anggapan yang mengatakan bahwa “UN itu gampang kok, malah biasanya lebih sulit tryoutnya” itu sangat amat tidak benar untuk UJIAN NASIONAL tahun ini. Semuanya tampak sebagai fatamorgana yang tak nyata sedikitpun.  Dan kemudian 2 hari setelah Ujian Nasional, MENDIKBUD memberitahukan bahwa standarisasi Ujian Nasional tahun ini mengacu pada Standar Internasional. Sekali lagi, Standar Internasional. Tidakkah itu sesuatu yang mengejutkan bagiku dan bagi kita semua yang menjalani Ujian Nasional tahun ini? Hingga baru-baru ini aku mendengar beredarnya surat terbuka yang ditulis oleh Nurmillaty Abadiah di catatan akun Facebooknya dan berjudul “Dilematika UNAS: Saat Nilai Salah Berbicara” yang memuat keluhan, dan ungkapan kekecewaan yang sangat dalam. Namun apa respon beliau yang dituju oleh surat terbuka ini. Beliau tidak percaya bahwa surat terbuka itu ditulis sendiri oleh siswi SMA yang notabene baru menempuh ujian nasional.

Pak, menurut saya sebenarnya bukan masalah percaya atau tidak percaya. Cobalah telaah lebih dalam apa maksud dari surat tersebut. Coba renungkan apa sekecewa itukah kami siswa dan siswi Indonesia yang menempuh Ujian Nasional tahun ini? Pada dasarnya itulah kenyataan yang terjadi di negeri ini. Kami, siswa dan siswi seIndonesia kecewa atas apa yang tidak sesuai dengan Ujian Nasional tahun ini. Mungkin jika hanya soal yang dibuat setingkat lebih sulit sedangkan SKL tidak melenceng, kami bisa memaklumi. Namun apa yang terjadi di tahun ini? Soal dibuat tidak setingkat, namun bertingkat-tingkat lebih sulit dari apa yang kami duga dan kami sebelumnya. Belum lagi SKL yang banyak melenceng dari apa yang sudah kami persiapkan sebelumnya. Singkat cerita, seperti itulah kekecewaan yang kami rasa sekarang.

Pak Nuh yang terhormat, semoga anda selalu dalam lindunganNya,
Dan anda selalu di beri kesehatan untuk membuat sistem pendidikan di Indonesia menjadi lebih baik.

Tertanda, saya salah satu siswi Indonesia yang dirundung kekecewaan :)