Thursday, January 2, 2014

Masih Merindukanmu

Yogyakarta, kotaku indah dan megah...

Memang. Mata mana yang tak kenal indahnya kota penuh nilai historikal ini? Yap. Bersyukurnya aku bisa diberi waktu untuk berlibur sejenak di kota ini. Ya, hitung-hitung cuci otak. Tak peduli jalanan macet, hiruk pikuknya keramaian, lautan manusia, dan apapun suasana yang mendukung, semuanya istimewa untukku. Ah, aku terlalu merindukan kota ini. Hehehe

Masih ingat legenda Roro Jonggrang? Raden Bondowoso? Yap. I was there! Hari pertama ku lalui dengan puas bertandang ke Candi Prambanan. 1000 candi yang konon dibangun dalam waktu semalam saja atas permintaan Roro Jonggrang. Eksotis. Cantik. Megah. Dan banyak lagi kata yang tak bisa diungkapkan untuk memuji indahnya candi. Namun sayang, sejak gempa yang melanda Yogya beberapa tahun yang lalu, beberapa bagian pada candi ini mengalami pemugaran. Hingga ada salah satu pucuk candi yang terlempar jauh. Kemudian, pucuk candi tersebut diabadikan dalam Monumen Gempa.

 ini dia monumennya.
  
Ya, kemudian setelah berkeliling melemaskan kaki hingga pegal namun luar biasa menyenangkan, perjalanan dilanjut menuju ke pusat kota Yogya. Malioboro, jengjengjengjeeeng... But unfortunattely, terlalu sulit mengabadikan suasana di sana. Macet yang tak kunjung berhenti membuatku larut menikmati keindahan malam tanpa ingat kamera sedikitpun. Akhirnya ayahku memutuskan untuk mencari penginapan dan beristirahat. Perjalanan dilanjutkan esok pagi. Esok pagi dilanjut bershopping ria, menikmati hiruk pikuk keramaian Beringharjo dan Malioboro. WOW terik luar biasa dengan dikelilingi jutaan manusia yang tampaknya tak lelah untuk menjejalkan kaki di sepanjang jalan Malioboro. 

Siang tlah berganti sore, sore tak berlangsung lama hingga malam pun tiba. Bintang bertaburan di langit luas. Suasana cerah hari itu. Tak terasa setetes air hujan pun yang jatuh menyentuh kulit. Hmm, aku menyukai ini semua. Memandangi anugerah Tuhan Yang Maha Kuasa dengan perhiasan langit yang begitu mempesona.

Lelap diselimuti para bintang, guntur mulai menggetarkan raga. Ya, keesokan pagi yang sama sekali tak dinyana. Budeku, mengabarkan berita duka. Dan alhasil, semua yang terencanakan; pantai, ikan bakar, main air; segalanya buyar, batal seketika. Semua bergegas mengemas barang dan bersiap untuk pulang. Ketika Tuhan berkehendak, siapa yang bisa berkata tidak? Semua bagaikan angin. Berakhir begitu cepat. Semuanya membuatku terdiam seketika. Aku yang sangat amat merindukan pantai harus patah hati seperti ini. Aku harus mengikhlaskan semuanya. Aku harus menguatkan hatiku jika ini bukan mau siapapun. Tapi memang ini jalan yang sudah Tuhan tulis untukku.

Alhasil, aku pulang dengan membawa kerinduan yang semakin menyerang.
Kilauan lautan, deburan ombak...
Temui aku lain waktu ya :) 

No comments:

Post a Comment