Thursday, January 2, 2014

Mawar Pertama

Aku: Gimana? Seneng nggak? :)
Dia: Seneng, banget.
Aku: Hehe, trus kangennya? udah keobatin kan..
Dia: Nggak pernah.

Sama halnya sepertiku. Rinduku pun tak pernah bisa padam untukmu. Sekalinya sembuh, rindu itu tak akan bisa sembuh total. Ia akan kembali ke relung hatiku lagi untuk selalu menggemakan namamu. Itukah yang terjadi padamu?

Aku bingung harus menulis dan merangkai kata yang bagaimana agar bisa kugambarkan betapa manisnya hari ini. Bahkan angin pun sangat jarang sekali bisa kurasakan hembusannya hari ini. Aku tak tahu mengapa itu semua bisa terjadi. Semua rencana Tuhan. Betul? Ya, sama seperti kita yang dipertemukan akibat rencana Sang Pencipta. 2 Januari. Masih segar di awal tahun dan kamu berhasil mengisikan sesuatu yang amat indah di dalamnya. Kamu belajar dari mana hingga bisa menyenangkan perasaanku seperti itu? Hehehe, aku hanya bercanda.

lihat ini, cantik kan? Terimakasih :) 

Tidak sengaja mataku menangkap segerombol bunga mawar yang sedang mekar-mekarnya menghiasi teras depan rumah tetanggamu. Banyak dan cantik. "Wow, cantik bangeeet. Wangiii." Kataku sambil mencium harum semerbaknya wangi salah satu di antara segerombolan mawar itu. Langkahmu yang tepat mendahuluiku terhenti. Berbalik menuju ke arahku. "Wangi sayang?" Tanyanya padaku. "Iya nih coba cium." Jawabku. "Wanginya kaya teh, aku suka. Makanya ada teh mawar, hehehe." Lanjutku sekenanya. "Hehe, sek bentar." Kemudian ia memetik satu mawar. "Mbak, nyuwun mawar nggih, setunggal." Bisiknya sambil meringis. "Yooo..." Jawabnya sendiri. "Yee dasar kamu." Ujarku sambil tersenyum dan mengambil mawar yang baru dipetiknya. "Mawar pertama dari aku ya. Hehe." Katanya. "Hah? Hihi iya sih, hehe. Makasih ya." Jawabku seraya tersenyum memamerkan deretan gigiku. "Sini sini." Ia mengambil kembali setangkai mungil mawar itu dan kemudian tiba-tiba ia memasangkan ke telingaku. Namun aku menghindar. "Eeehhhh liat dulu, ada durinya ngga tangkainya?" Kataku takut-takut kalau tangkainya berduri. "Engga sayang, sini deh." Katanya, dan kemudian... setangkai mawar mungil ini sudah bertengger di telinga kananku. "Kamu ih, hehehe... makasih ya :)" kataku.

Sesederhana ini caranya untuk mencapai sebuah kebahagiaan.
Aku selalu ingat, ketika Tuhan mempersulit umatNya, suatu saat Ia akan memberikan bahagia.
Dengan jalan yang manis, kita torehkan senyuman.
Terimakasih yang tersayang :)

No comments:

Post a Comment