Friday, January 31, 2014

This is The Last Year

This is the last year...
Terhitung sejak tahun 2008, sejak aku masih mengenakan seragam putih-biruku, aku selalu  bersepeda saat berangkat ke sekolah. Menitipkannya ke tempat penitipan sepeda, kemudian menyeberang jalan raya dan mulai menantikan bis kuning yang kerap melintas dan kemudian berhenti dihadapanku dan mengangkutku menuju ke sekolah. Jika dahulu aku bisa melihat bis kuning yang longgar dari penumpang, kini saat SMA aku jarang menemukan pemandangan yang demikian kecuali di jam-jam tertentu. Saat SMA aku lebih sering naik angkutan umum sejenis bison yang akrab disebut dengan “kol”. Harga tetap murah meriah, dan jarang terdapat yang penuh sesak seperti yang biasa terlihat di bus kota. Ini masih proses keberangkatanku, bukan kepulangan. Saat pulang, jika dulu sewaktu SMP aku biasa menaiki angkutan kota berwarna biru yang memiliki kode-kode tertentu di setiap jurusannya. Misalkan G2 dan G3 menuju ke Kebonagung, C dan D2 menuju arah Karangketug, dan lain sebagainya. Lain lagi saat SMA. Justru saat aku pulang inilah bis kuning lebih sering mengangkutku pulang. Terkadang penuh sesak, terkadang jika memang rezekiku, aku bisa mendapat tempat duduk dalam bis. Well, inilah rutinitas yang tak pernah berhenti hingga kini aku sudah menginjak tahun ketiga di masa putih abu-abuku.

Dan lagi-lagi semuanya dilalui waktu dengan cepat. Seakan-akan ada yang mendorong waktu untuk tak hanya berjalan namun juga berlari. Sepertinya masih kemarin aku mulai belajar berangkat sendiri menuju ke sekolah. Sepertinya masih kemarin aku lulus dari sekolah menengah pertama. Sepertinya masih kemarin aku menjalani serangkaian tes masuk sekolah menengah atas. Dan kini? Dalam jangka waktu yang kurang dari 100 hari aku akan menghadapi ujian nasional SMA. Aku akan menghadapi segala rangkaian masuk perguruan tinggi. Dan aku tentu akan mendapat kejutan-kejutan lain yang belum pernah kudapatkan sebelumnya. Melepaskan seragam putih abu-abu, berhenti menanti kol di ujung pagi dan pulang dikala hari mulai senja, dan segalanya. Apa aku takkan bisa mendengar lagi canda dan tawa teman-teman semasa SMA-ku? Apa semuanya akan raib begitu saja? Apa semuanya tak bisa digantikan saat aku di perguruan tinggi nanti? If you know what I mean, I’ll miss it at all.

Mas, mbak-yang sudah lulus maksudku-bagaimana rasanya lulus? Senang? Lega? Bahagia? Bangga? Atau malah sedih? Bagaimana juga rasanya masuk perguruan tinggi? Bagaimana teman-teman baru di sana? Bagaimana kenyataan yang harus dihadapi?

Ah...pertanyaan ini...
Dari berbagai cerita yang sudah ditangkap oleh daun telingaku atau bahkan terlihat sendiri dari sudut mataku, semuanya tentu sudah berubah. Sudah jauh dari apa yang dinamakan sekolah menengah atas. Di sana dibutuhkan kemandirian tinggi, harus pintar bergaul tapi tidak boleh terjerumus oleh hal-hal bersifat negatif, tugas menumpuk, deadline dosen, dan lain sebagainya. Tinggal menunggu waktu, semuanya akan tiba dengan sendirinya di hadapanku. Tak perlu menghitung waktu, kenyataan sudah bersedia untuk mendatangiku pada saatnya nanti. Jika ditanya aku siap atau tidak, entah aku masih bingung. Walaupun segalanya sudah berada di depan mata, aku masih berpikir itu masih terlalu jauh. Aku masih mempersiapkan diriku untuk segala kenyataan yang akan segera tiba dihadapanku.

Aku tak tahu bagaimana raut kenyataan itu
Aku tak tahu apa itu akan menyebar benih bunga di hatiku
Atau malah sayatan yang tertambat pilu
Yang jelas, aku ingin berbaikan denganmu, kenyataanku
Aku yakin Tuhan kan beriku segala yang terbaik untuk hidupku...

Tertanda, aku yang menunggumu.

No comments:

Post a Comment