Wednesday, February 5, 2014

Pertikaian

“Nggak berdarah, tapi kok perih ya?” – Hati.

Selamat malam, kamu yang selalu di hati. Bagaimana kabarmu? Sudah 7 hari lamanya kita belum saling bertemu dan bertatap mata. Jika kamu menanyai kabarku, aku bingung harus menjawab apa dan bagaimana. Ragaku baik. Namun sepertinya jiwaku tidak. Berarti aku sakit jiwa? Ah terserah bagaimana kamu menyimpulkan. Yang jelas aku tidak bisa berpura-pura untuk merasa baik sekarang ini.

Hari ini, sengketa hati kembali timbul di antara kita. Oh tidak. Sebut saja sebuah pertikaian. Tidak saling memukul. Tidak saling mencaci maki. Tidak saling membentak. Bagaimana bisa ini disebut sebagai sebuah pertikaian? Bisa. Kita hanya bertikai dalam kata yang saling kita kirimkan melalui pesan singkat yang nantinya pun akan kita baca di ponsel masing-masing. Entah berapa kali dalam seminggu kita melakukan hal buruk semacam ini. Aku pun juga bingung mengapa hal yang tidak diinginkan seperti ini sering hadir di sela-sela kita.

Apa kamu tidak merindukan ketika dulu kita tidak banyak bertikai seperti ini?
Apa kamu tidak merindukan rasanya mengetahui halayak mengatakan kepada kita jika kita ini pasangan yang tenang?
Apa kamu juga tidak merindukan satu minggu yang kita lalui dengan tawa tanpa percekcokan sedikitpun?

Aku merindukan semuanya. Sungguh.
Aku tidak mengikhlaskan suasana mencekam ini hadir di antara kita. Aku sama sekali tak menghendaki segala rasa yang tak enak ini beradu kekuatan di dalam hatiku; atau mungkin hatimu juga. Dalam seminggu, setidaknya selalu ku donorkan berbulir-bulir air yang bersumber dari pelupuk mataku. Bayangkan jika kamu tiba-tiba berubah menjadi sosok sepertiku, apa kamu tidak lelah? Jujur aku lelah. Aku jenuh dengan keadaan yang sekian ini. Aku jenuh kepadamu? Bukan, bukan. Aku hanya jenuh dengan keadaan yang kita hadapi bila yang seperti ini terus menerus terjadi.

Ini masih seminggu. Bagaimana jika sebulan? Wow. Apa itu tidak “terlalu” yang sungguh terlalu? Bukannya kita sama-sama lelah kalau begini terus? Lalu kenapa masih kita biarkan sesuatu yang kita namakan pertikaian ini selalu menjejakkan diri ke hati kita masing-masing? Cukup sudah. Hentikan semuanya. Aku lelah. Mungkin kamu juga begitu. Istirahatkan hati dan otakmu. Dan aku juga akan melakukan hal yang sama. Mungkin itu akan membuat kita akan menjadi lebih baik. Amin.

Harusnya kita sama-sama saling mengerti.
Seperti dulu saat kita saling mempertemukan hati.
Tertanda,
Aku yang memilihmu menjadi kekasih hati.

No comments:

Post a Comment