Friday, June 27, 2014

No Body Perfect, Guys.

Minggu ini entah kenapa aku banyak menemui orang-orang di sekitarku yang hatinya patah hati. Sebenarnya, aku termasuk salah satu dari mereka. Hanya saja aku enggan menceritakan pada siapa pun kecuali aku berdoa dan menenangkan diriku sendiri. Menurutku itu merupakan cara yang paling ampuh untuk meredakan rasa sakit yang menggores hati.

"Harusnya malem ini gue nonton sama dia nembak dia dengan apa yang udah gue rencanain, yang gue bilang ke elo tadi siang. Tapi dia udah jadian, bat. Ya, Tuhan Maha Asyik, kan. Udah ya, bat. Lo jangan ngomong apa-apa ke dia." - Sobat.

Oke, ini tentang "siapa cepat dia dapat" gitu ya? Dan ternyata memang benar, gebetan si sobatku ini memang sudah menerima cinta dari orang lain. I know what do you feel, bat. Sakitnya di sini kan? *nunjuk jantung*.

"Mbak, setelah semua yang tak lakukan ternyata semua cuman jadi sampah." - Adik Kelas.

Nah, kalau yang ini tentang adik kelasku yang sudah lama memperjuangkan cinta sahabatku, namun tak kunjung mendapatkan jawaban nan pasti. Bahasa gaulnya sekarang itu "digantungin". Tapi aku yakin, si sahabatku ini punya alasan di balik semuanya. Jangan egois ya, Dik. Tolong pikirkan juga sahabatku. Ia tentu juga merasakan serba salah. Jika terlalu serig meresponmu, nanti dibilang pemberi harapan palsu. Tapi jika ia tidak terlalu meresponmu, tentu kamu pasti akan merasa semakin diombang-ambingkan, ya kan? Aku juga yakin, bahwa sahabatku tidak akan menganggap semua darimu itu sebagai "sampah" seperti yang katamu itu. Kalau ia menganggapnya sebagai sampah, tentu ia sudah membuangnya dari awal ia tau kalau kamu menyukainya. Betul?

Aku cukup mengerti apa yang mereka rasakan saat ini. Dan sebenarnya, aku juga sempat merasakan rasa yang sama akhir-akhir ini. Ketika sobatku mengetahui aku sedang *ehm* galau, ia kemudian berkata padaku, "Punya pacar kok galau sih." Ya memangnya kalau sudah punya pacar galau sudah dihapuskan, ya? Nggak keleus. Dan aku yakin pasti adik kelasku juga berfikiran, "Enak kali ya kalau udah punya pacar, nggak patah hati kaya gini." Kata siapa siiih? Buktinya aku, masih pernah patah hati pas pacaran. Yang perlu ditekankan di sini ialah, no body perfect and nothing perfect relationship, too.

Jika banyak orang berfikiran jika yang sudah punya pasangan itu hidupnya akan tentram baik-baik saja, itu keliru. Mereka yang sedang sendiri, lagi pedekate dan lain sebagainya, itu saja bisa mempunyai masalah, bagaimana kami yang sudah punya pasangan? Kami tentu tidak memikirkan diri kami sendiri. Kami tentu harus saling belajar memahami satu sama lain agar tercipta hubungan yang baik. Kami harus saling melengkapi dan memahami segala perbedaan yang terdapat di tengah-tengah kami. Semuanya perlu penyesuaian dan tentu semuanya merupakan proses belajar. Kami yang sudah tidak sendiri ini pun terkadang masih merasakan kesendirian walaupun pada kenyataannya ada seseorang yang menemani. Kami juga terkadang masih bisa bertengkar karena perbedaan pendapat, kecewa atau yang lainnya. Ya pada intinya, kami yang sudah berpasangan ini sama-sama mempunyai banyak permasalahan seperti kalian yang sedang sendiri saat ini. Masing-masing dari kita, tentu harus tau bagaimana caranya menguatkan diri sendiri untuk menghadapi masalah tersebut.

Serupa tapi tak sama.
Sama-sama punya masalah, hanya status yang membedakan.
No body perfect, guys :)

Wednesday, June 25, 2014

Semangat, Sayang.

Kamu di sana bahagia, aku di sini tidak.

Sejak Sabtu lalu saat kepergianmu, aku sudah merasakan gundah teramat sangat. Aku ikhlas melepasmu, namun entah kenapa hatiku masih meronta kesakitan. Ditambah lagi akhir-akhir ini kita sering bertengkar. Suatu hal yang tak ku sukai saat kita berjauhan dan kemudian kita bertengkar. Seakan semuanya tidak punya ujung penyelesaian.

Hari ini merupakan hari dimana kamu harus menjalani tes akademik, kan? Rasanya aku sudah semaksimal mungkin menyemangatimu. Tapi kenapa aku merasa bagimu itu biasa saja, ya? Kenapa aku merasa kamu tidak melihat semua usahaku itu? Ketika aku menggebu-nggebu berusaha membuat semangatmu berkobar, ternyata segalanya kau tanggapi dengan sikap biasamu itu. Jujur aku merasa tidak dihargai, lagi. Apa harus aku merasakan perasaan tidak enak ini lagi? Kamu kan yang memintaku untuk selalu ada dan mendukung setiap langkahmu. Sekarang aku sudah melaksanakan semuanya, apa yang ku dapat? Aku tidak mendapatkan rasa apresiasimu. Kamu merasa? Sepertinya tidak.

Tapi sudahlah lupakan. Aku meyakini semuanya akan indah pada waktunya. Aku lelah jika setiap pagi aku harus menahan apa yang tak seharusnya ku tahan dan aku juga lelah jika setiap malam aku harus mengeluarkan segala kemuakanku yang tak seharusnya aku keluarkan. Tolong, aku butuh pengertianmu saat ini. Aku juga merindukanmu. Tolong perlakukan aku sedikit lebih istimewa agar aku tau bahwa kau masih memprioritaskan seorang wanita sepertiku.

Semangat ya, sayang. Semoga selalu diberi kemudahan dan kelancaran.
Ya walaupun ini belum tentu kau lirik sekali pun,
aku takkan pernah berhenti untuk selalu berusaha memberikan yang terbaik untukmu.
Tertanda, kekasihmu.

Monday, June 16, 2014

Terimakasih Hari Ini-nya

Ceritanya, niatnya udah mau posting tulisan ini semalem. Namun apa daya, kuota internet tidak berkehendak..

Hai kamu, selamat malam. Sedang apa kamu malam ini? Istirahat? Hehehe. Ngomong-ngomong, hari ini indah ya? Kita menghabiskan waktu bersama untuk beberapa jam, kemudian kita bercanda, kemudian lagi kita beradu pendapat, lalu kita bermain game itu yang pada akhirnya aku lah pemenangnya, dan lain sebagainya. Senang tidak? Kalau aku tentu tidak usah ditanya. Bisa dibilang aku kelewat senang sekarang. Hehehe. Aku lega karena di hari-hari terakhir kamu menghabiskan waktu di sini, kita masih diberi kesempatan untuk bertemu. Bukan begitu? Hehehe

Aku tidak berani menghitung berapa hari lagi kamu akan pergi. Iya aku tahu ini sedikit berlebihan. Tidak berani menghitung tapi aku sendiri sebenarnya tahu berapa lama lagi waktu akan membawamu ke kota besar itu; kota metropolitan yang menjadi cita-citamu menempuh pendidikan itu. Dan aku juga tahu mungkin ini sangat berlebihan bagi orang lain. Mereka melihatku terlalu melankolis dengan banyak berkeluh kesah akan kepergianmu yang sebenarnya hanya sementara dan tidak lebih dari dua minggu itu. Apa seharusnya aku tidak seberlebihan ini ya?

Ya tapi setidaknya pertemuan kita hari ini sepertinya mampu menjadi penangkal rindu yang akan mendera masing-masing dari kita; tentu ketika kamu berada di sana nanti, dan aku yang tetap berada di sini. Namun ini hanya sementara. Aku yakin penangkal ini hanya akan berjalan dalam waktu singkat. Mustahil penangkal ini akan bertahan hingga kamu melangkahkan kaki untuk kembali pulang ke kampung halamanmu ini. Apapun penangkalnya, rindu tidak akan bisa dicegah bagi mereka yang saling mencinta. Rindu itu bagaikan racun yang selalu menggerogoti hati dan relung jiwa mereka-mereka yang tak saling bertemu, tak saling pandang, dan tentu mereka-mereka yang sedang terpisahkan jarak. Kecuali jika mereka mampu bertahan melawan ego yang bersarang di otak mereka. Mereka sedikit mengalah untuk tidak saling beradu kata-kata dan mencoba memunculkan suasana hangat dari dalam diri mereka masing-masing untuk saling mengutarakan cinta atau mungkin kata-kata manis yang bisa dipergunakan sebagai media hiburan ketika berjauhan. Sejujurnya, ini yang aku harapkan. Semoga aku tak kan merasakan rindu yang terlalu dalam. Eh tapi bukan berarti aku tidak ingin merindukanmu, lho. Hanya saja aku ingin rindu yang datang padaku nanti tidak terlalu menyiksaku, itu saja. Kamu mengerti kan?

Oh ya, ingat waktu tadi kamu melihat foto-foto konyol di ponsel ayahku? Kamu tertawa begitu plong hingga perutmu mulas. Ah, jarang sekali aku melihat pemandangan seperti itu. Ketika kamu menunjukkan sesuatu yang lucu kepadaku, aku hanya tertawa kecil untuk menemani tawa besarmu itu. Bukannya aku tidak senang, bukan. Hanya saja tawa besarku ada di lubuk hatiku yang paling dalam. Hal ini sangat jarang sekali terjadi, maka dari itu aku bahagia melihatmu bisa tertawa lepas seperti yang tadi itu. Hatiku ikut tertawa sama besarnya seperti tawa yang muncul dari rongga mulutmu itu. Hmmh... Kenapa ya kesempatan seperti ini datang ketika kamu akan bertandang ke kota orang? Kenapa tidak dari waktu-waktu yang lalu saja agar aku bisa sering-sering melihatmu bertingkah seperti itu? Ya, mungkin aku baru membutuhkan pemandangan yang sedemikian ini sekarang. Aku harap di lain waktu dan di lain kesempatan, Tuhan mempertemukanku dengan pemandangan yang indah seperti ini lagi, aamiin...

Ingat, beberapa hari lagi kalau kamu sudah sampai di kota orang, kamu harus baik-baik ya. Jangan lupa tirakadnya. Jangan sering ngerepoti om dan tante kamu yang ada di sana. Makan yang teratur dan istirahat yang cukup. Sholat tepat waktu dan berdoa yang khusyu. Jangan tidur terlalu malam dan jangan juga bangun terlalu siang. Ingat sholat subuh jangan sampe kelewatan ya. Jangan lupa juga jaga kebersihan. Jangan suka buang sampah sembarangan, kalau emang kepepet kamu kantongin dulu, terus nanti kamu buang kalau sudah ketemu dengan tong sampah. Yang paling penting, jaga kesehatan ya. Bawa obat-obatan yang sesuai kebutuhanmu. Kalau bisa bawa minyak angin buat diperjalanan. Hmm... Pesan apa lagi ya kira-kira? Oh ya, jangan lupa jaga hatinya ya :) hehehe

Kalau saja aku bisa dan diizinkan menemani kamu, aku pasti ikut. Pasti itu. Tapi belum saatnya. Berdoalah agar suatu hari nanti kita akan saling menemani satu sama lain, di manapun, dan kapanpun. Aku juga tidak tega sebenarnya melihatmu menempuh perjalanan jauh ini sendirian. Duduk di kursi penumpang tanpa berteman dengan siapa pun, kemudian mendengarkan deru mesin kereta api tanpa mengobrol dengan siapa pun, lalu kamu melihat pemandangan di sekelilingmu sendirian, sepertinya semua itu cukup tidak mengenakkan. Bukan begitu? Tapi ku mohon bersabarlah sejenak. Mungkin setelah kamu melalui masa tidak mengenakkanmu ini, nantinya kamu akan bertemu dengan sesuatu yang membuat hidupmu enak dan layak. Aamiin..

Sudah dulu ya cerita-ceritanya. Selamat tidur untukmu dan selamat tidur untukku juga. Mimpi yang indah ya. Semoga hari-harimu kelak di sana menyenangkan dan tidak dipertemukan dengan aral melintang yang berarti. Sekali lagi, terimakasih hari ini-nya. Terimakasih sudah membuatku bahagia tak terbatas :)

Thursday, June 12, 2014

Pengagum Rahasia

Karena banyaknya yang request lirik lagu yang satu ini, langsung simak yuk :))

Tahukah kamu saat ku perhatikan kamu
Dan tahukah kamu diam-diam ku mengagumimu
Sejak saat itu, hatiku jadi tak menentu
Dan sejak saat itu ku mulai jatuh hati pada dirimu

Lihatlah aku di sini untukmu

Menunggumu di setiap waktu
Ku inginkan kamu
Tak sebatas pengagum Rahasiamu

Dengarkan aku oh sayangku

Hati ini kan selalu untukmu
Izinkan aku memilikimu
hanya tuk sekali dalam hidupku, oh sayangku...

Andaikan kau tahu rasa itu tak pernah layu

Dan andaikan kau tahu, tak henti ku jadi pengagum rahasiamu
Sejak saat itu, hatiku jadi tak menentu
Dan sejak saat itu ku mulai jatuh hati pada dirimu

Lihatlah aku di sini untukmu

Menunggumu di setiap waktu
Ku inginkan kamu
Tak sebatas pengagum rahasiamu

Dengarkan aku oh sayangku

hati ini kan selalu untukmu
Izinkan aku memilikimu
Hanya tuk sekali dalam hidupku, oh sayangku...


Enjoy!! :)

Assalamualaikum Ibu, Assalamualaikum Ayah :)

Assalamualaikum, ibuku yang cantik dan ayahku yang paling ganteng.

Aku tidak menyangka kalau Mei hingga Juni di tahun ini benar-benar jadi bulanku yang sangat cantik. Sebelum datangnya bulan ini, aku sempat mengelilingi tempat itu, bu. Suasana kampus yang ramai, gedung-gedung besar yang ada di kanan dan kiri, membuatku takjub. Memang tidak ada sesuatu yang atraktif, namun ada satu tempat yang sangat menarik perhatianku. Sudut mataku menangkap ada sesuatu yang berbeda dari yang lain.

Itu yang aku cari. Gedung bernuansakan warna ungu di sekitarnya sangat menjadi sesuatu yang aku idam-idamkan untuk dapat menjadi bagian di dalamnya. Bulu kudukku merinding ketika aku mengelilingi gedung itu seperti orang yang sedang thowaf di tanah suci. Hanya mengelilingi saja, aku sudah ingin menangis. Memang dasar aku cengeng. Belum apa-apa sudah terharu. Tapi sungguh, saat itu aku hanya berdoa agar aku bisa diberi kesempatan menjadi salah satu seseorang yang beruntung sehingga bisa menjadi bagian dari penghuni di dalamnya.

Dan tibalah hari dimana segala harapan, mimpi dan angan-angan ditentukan. Tidak ada yang bisa dilakukan selain menunggu sembari berdoa dan pasrah akan apa pun yang akan terjadi. Sayangnya di hari itu, ibu tidak ada di rumah. Hanya ayah yang ada saat ini. Dan tepat jam 12:03, dengan jemari yang bergetar dan lembap karena keringat aku mengetikkan satu persatu angka yang bisa digunakan untuk membuka pengumuman itu. Dan siapa menyangka, aku melonjak kegirangan, bu. Aku tidak menyangka keberuntungan ini berpihak padaku. Akhirnya, aku bisa mempersembahkan hadiah terindah untuk ibu dan ayah di tahun ini. Ku peluk ayah dengan erat, derai air mata tak hentinya mengalir di pipiku. Aku yang tak percaya kembali mengecek apa benar aku menjadi salah satu orang yang beruntung itu. Dan memang benar, Tuhan memberinya untukku.

Aku bermaksud tidak memberitahukan dulu padamu, bu. Aku ingin menjadikannya sebuah kejutan untukmu ketika ibu sampai di rumah nanti. Ah tapi apa daya, ayah menghubungimu lebih dulu dan sepertinya cara ayah itu juga merupakan suatu kejutan untukmu, ya? Hehehe. Aku tidak bisa membayangkan bagaimana reaksi ibu di seberang telpon ketika berita bahagia itu mendarat di telinga ibu. Jangankan ibu, ayah saja yang mempunyai ekspresi datar juga ikut tercengang dengan apa yang terjadi di hari itu. Semuanya serba mendadak ya, bu? Hehehe. Dan akhirnya tak lama setelah itu, aku menyambutmu yang telah sampai di rumah. Aku yang tak kuasa, langsung memelukmu dan berlutut di kakimu. Aku memelukmu erat-erat karena saking bahagianya. Aku menangis, ibu pun juga begitu. Kami dua perempuan yang sama-sama bahagia di hari itu. Aku mendengar bisikanmu yang mengatakan bahwa ibu bangga kepadaku. Dan tanpa di katakan pun, aku yakin tentu ayah juga merasa bangga kepadaku. Ya kan, yah?

Terimakasih, Tuhan.
Terimakasih sudah segan untuk mendengarkan apa yang menjadi keinginanku.
Terimakasih sudah memperkenankanku menjadi salah satu yang beruntung.
Terimakasih sudah memberiku kesempatan emas untuk masa depanku.
Terimakasih sudah mengizinkanku memberi hadiah cantik untuk orang tuaku.
Terimakasih, Tuhan... Terimakasih.
Tentu semua ini tidak akan berjalan tanpa izinMu.
Jika aku belum membutuhkan semua ini, mungkin Engkau juga belum memberikannya untukku. Karena aku ingat, segala sesuatu yang Kau berikan sebenarnya bukan apa yang aku inginkan, namun apa yang aku butuhkan. Dan Engkau yang Maha Mendengar mengerti, bahwa apa yang aku butuhkan itu salah satu yang ku inginkan.
Sekali lagi terimakasih, Tuhan :)

Teruntuk Ibu dan Ayah,
Sehat terus ya, agar di kemudian hari aku bisa memberikan kalian hadiah yang indah-indah lagi.
Dah Ayah, dah Ibu.
Mbak menyayangimu :)
Assalamualaikum..

Wednesday, June 11, 2014

Waktunya Telah Tiba

“Aku akan berangkat tanggal 21 nanti.”
“Berangkat kemana?”
“Jakarta.”

Seketika cairan hangat mengalir dari pelupuk mataku. Ini terlalu cepat. Sebenarnya aku belum siap. Hati dan mentalku belum siap. Aku terdiam sejenak tanpa mengatakan sepatah kata pun. Kami berdua sama-sama terdiam. Aku berusaha menahan bagaimana caranya agar seseorang yang di seberang telepon ini tidak tahu apa yang terjadi padaku saat ini. Sekuat tenaga aku menenangkan diriku sendiri. Tidak ada yang mengetahui selain boneka-boneka bisu yang duduk manis di tempat tidurku.

“Tapi aku cuman seminggu kok di sana, kamu jangan khawatir ya.”

Dan harusnya dia tahu, seminggu saat ia di sini tentu jauh berbeda saat ia di sana.

“Toh aku kan cuman tes di sana, belum tau kan gimana hasilnya. Keterima atau enggaknya kan aku nggak tau.”

Tanpa kamu memberi tahu ku, aku juga sama belum tahunya sepertimu. Entah itu hasilnya nanti kamu akan diterima, atau tidak. Toh jika salah satu dari keduanya itu terjadi, itu sudah merupakan yang terbaik untukmu, salah satunya sudah jalanmu, rezeki untukmu. Aku sudah pasrah akan apa yang akan terjadi nanti. Aku juga sadar bahwa aku tidak bisa banyak membantumu. Yang ku bisa kini hanya mendoakan yang terbaik untukmu. Segalanya, apa pun itu, semoga itu yang terbaik untukmu. Bukan begitu?

Aku tidak ingat kapan tepatnya aku menge-post tentang “Jawa masih mencintaimu”di blog ini. Yang jelas aku ingat pernah menulis tentang hal ini sebelumnya. Dan saat ini, kurang dari 10 hari semuanya akan terjadi. Semua proses itu akan kamu lalui. Hingga pada saatnya kelak, Tuhan akan menunjukkan kepadamu melalui waktuNya apa yang terbaik untukmu.

Apakah kotamu ini sudah tidak mencintaimu? Jika ia masih mencintaimu, mengapa ia membiarkanmu pergi? Mengapa ia tak mencegahmu? Apakah ia benar-benar menginginkanmu pergi jauh darinya? Apa ia tak memikirkanku? Berat sekali nafas yang ku hela kali ini. Aku tidak tahu takdir seperti apa lagi yang akan menghampirimu dan aku. Aku menginginkan takdir yang baik. Pertanyaannya, “takdir Tuhan yang mana yang tak baik?” aku yakin semuanya baik. Semua takdir Tuhan itu baik dan tentu yang terbaik.

Setelah lama berbincang denganu, tak terasa pipiku sedikit kaku karena air mata yang mengalir tadi sudah kering. Aku tidak lagi menangis. Aku akhirnya bisa menata dengan rapi emosiku, syukurlah... Dan tiba kini ku tutup telponmu dan mempersilahkanmu istirahat. Lagi-lagi helaan nafas berat keluar dari lubang hidungku. “Aku belum siap”, batinku. Dan air mataku kembali mengalir. Yang ku pikir saat itu ialah bagaimana jadinya jika keadaan ini terbalik 180 derajat? Apakah kamu sepertiku? Apakah yang kurasakan sekarang ini kamu rasakan juga? Aku ingat bagaimana cara kita menghabiskan waktu bersama. Mengadu tawa, suka dan duka. Dan kenangan yang lainnya. Ya, satu-satunya cara ialah mengikhlaskan. Dan itu tentu tidak mudah.

Ingat salah satu game yang baru-baru ini kita mainkan? Semalam aku membukanya, mencoba memainkannya lagi. Dan itu menyenangkan. Tanpa kamu mengajariku, aku tidak akan bisa main game ini.

“Main game ini tuh gak usah mikir. Kelamaan.”
“Kamu tinggal bawa angka terbesarnya ke pojok kiri, dan begitu seterusnya.”

Ibu jariku memainkan game ini, namun tiba-tiba pipiku basah lagi. Ya Tuhan, apa yang terjadi denganku ini.

Aku harus sadar bahwa aku tidak boleh menjadi batu sandungan untuk segala usahamu menggapai apa yang kamu inginkan. Yang harus aku lakukan ialah mendukungmu, walaupun hanya berada di balik layar. Aku akan berada di balik layar, mendoakanmu, menunggumu kembali, dan berusaha menjadi tim sukses yang baik untukmu. Jangan khawatirkan aku di sini. Terus saja kamu berjalan dengan kakimu sendiri. Berjalan lurus ke depan tanpa menoleh sedikit pun ke arahku. Jika kamu menoleh sedikit saja ke arahku, bisa-bisa kamu melewatkan kesempatan emas yang lewat di hadapanmu. Aku tidak ingin kamu melewatkan kesempatan emas itu hanya karena aku. Jangan terlalu khawatir terjadi sesuatu padaku di sini, Tuhan yang akan melindungiku, percayalah.

Teruntuk dirimu.
Menggapai cita-cita bisa diibaratkan seperti menambang emas dan berlian. Jika kamu ingin mendapatkan sebongkah emas dan berlian, tentu kamu harus menggali tanah yang dalam, lebih dalam bahkan sangat dalam. Jangan perdulikan keringat yang mengucur deras dari tubuhmu. Ingatlah bahwa kamu akan mendapatkan emas dan berlian itu yang nantinya juga akan kamu persembahkan untuk orang-orang yang kau kasihi dan mereka mengasihimu. Begitupun jika kamu ingin menjadi apa yang kamu inginkan, apa yang kamu cita-citakan. Kamu tidak akan bisa mendapatkannya dengan cara yang instan. Perlu pengorbanan besar untuk mencapai suatu kebahagiaan besar pula. Kejarlah cita-citamu, sayang. Selalu ingatlah Tuhan dan segala tujuan pokokmu. Aku dan ratusan orang yang menyayangimu akan tetap di sini mendukungmu dan mendoakan segala hal yang terbaik untukmu. Dan aku, dan mereka yang saat ini berada di balik layar untukmu, menunggu kabar bahagia darimu...

Tertanda, yang mencintaimu.

Tuesday, June 10, 2014

Selamat Ulang Tahun, Cinta.

Selamat Ulang Tahun :3

Assalamualaikum, sayang.
Selamat ulang tahun ya... Selamat menempuh umur yang baru, mimpi-mimpimu yang baru, dan segala harapanmu yang baru :))
Semoga di tahun hidupmu yang ke 19 ini, kamu selalu diberi kesehatan oleh yang Maha Kuasa, kamu sealu dilindungiNya, dan Allah selalu memberkahi di setiap langkah kehidupan yang kamu pijak.
Tentu rapalan doaku untukmu tak hanya ini. Tentu semua orang terdekatmu, semua orang yang menyayangimu menginginkanmu menjadi lebih baik dari sebelumnya. Dan tentu saja orang-orang yang menyayangimu berharap dapat kamu bahagiakan di kemudian hari.
Semoga segala yang kamu harapkan, kamu cita-citakan bisa tercapai. Kamu menjadi orang yang lebih baik, dan tentu bisa menjadi kebanggaan kedua orang tuamu :))

Maaf, untuk tahun ini aku tak bisa datang untukmu. Aku tak bisa memberikan sesuatu yang istimewa untukmu tahun ini. Namun pengharapanku, jadilah seseorang yang mampu dikenang orang-orang di sekelilingmu, jadilah seseorang yang bisa disegani oleh orang-orang sekitarmu, maka kamu sudah menjadi pribadi yang hebat di dunia ini :)

Sekali lagi, selamat ulang tahun, kekasihku...
Aku mencintaimu :))