Thursday, June 12, 2014

Assalamualaikum Ibu, Assalamualaikum Ayah :)

Assalamualaikum, ibuku yang cantik dan ayahku yang paling ganteng.

Aku tidak menyangka kalau Mei hingga Juni di tahun ini benar-benar jadi bulanku yang sangat cantik. Sebelum datangnya bulan ini, aku sempat mengelilingi tempat itu, bu. Suasana kampus yang ramai, gedung-gedung besar yang ada di kanan dan kiri, membuatku takjub. Memang tidak ada sesuatu yang atraktif, namun ada satu tempat yang sangat menarik perhatianku. Sudut mataku menangkap ada sesuatu yang berbeda dari yang lain.

Itu yang aku cari. Gedung bernuansakan warna ungu di sekitarnya sangat menjadi sesuatu yang aku idam-idamkan untuk dapat menjadi bagian di dalamnya. Bulu kudukku merinding ketika aku mengelilingi gedung itu seperti orang yang sedang thowaf di tanah suci. Hanya mengelilingi saja, aku sudah ingin menangis. Memang dasar aku cengeng. Belum apa-apa sudah terharu. Tapi sungguh, saat itu aku hanya berdoa agar aku bisa diberi kesempatan menjadi salah satu seseorang yang beruntung sehingga bisa menjadi bagian dari penghuni di dalamnya.

Dan tibalah hari dimana segala harapan, mimpi dan angan-angan ditentukan. Tidak ada yang bisa dilakukan selain menunggu sembari berdoa dan pasrah akan apa pun yang akan terjadi. Sayangnya di hari itu, ibu tidak ada di rumah. Hanya ayah yang ada saat ini. Dan tepat jam 12:03, dengan jemari yang bergetar dan lembap karena keringat aku mengetikkan satu persatu angka yang bisa digunakan untuk membuka pengumuman itu. Dan siapa menyangka, aku melonjak kegirangan, bu. Aku tidak menyangka keberuntungan ini berpihak padaku. Akhirnya, aku bisa mempersembahkan hadiah terindah untuk ibu dan ayah di tahun ini. Ku peluk ayah dengan erat, derai air mata tak hentinya mengalir di pipiku. Aku yang tak percaya kembali mengecek apa benar aku menjadi salah satu orang yang beruntung itu. Dan memang benar, Tuhan memberinya untukku.

Aku bermaksud tidak memberitahukan dulu padamu, bu. Aku ingin menjadikannya sebuah kejutan untukmu ketika ibu sampai di rumah nanti. Ah tapi apa daya, ayah menghubungimu lebih dulu dan sepertinya cara ayah itu juga merupakan suatu kejutan untukmu, ya? Hehehe. Aku tidak bisa membayangkan bagaimana reaksi ibu di seberang telpon ketika berita bahagia itu mendarat di telinga ibu. Jangankan ibu, ayah saja yang mempunyai ekspresi datar juga ikut tercengang dengan apa yang terjadi di hari itu. Semuanya serba mendadak ya, bu? Hehehe. Dan akhirnya tak lama setelah itu, aku menyambutmu yang telah sampai di rumah. Aku yang tak kuasa, langsung memelukmu dan berlutut di kakimu. Aku memelukmu erat-erat karena saking bahagianya. Aku menangis, ibu pun juga begitu. Kami dua perempuan yang sama-sama bahagia di hari itu. Aku mendengar bisikanmu yang mengatakan bahwa ibu bangga kepadaku. Dan tanpa di katakan pun, aku yakin tentu ayah juga merasa bangga kepadaku. Ya kan, yah?

Terimakasih, Tuhan.
Terimakasih sudah segan untuk mendengarkan apa yang menjadi keinginanku.
Terimakasih sudah memperkenankanku menjadi salah satu yang beruntung.
Terimakasih sudah memberiku kesempatan emas untuk masa depanku.
Terimakasih sudah mengizinkanku memberi hadiah cantik untuk orang tuaku.
Terimakasih, Tuhan... Terimakasih.
Tentu semua ini tidak akan berjalan tanpa izinMu.
Jika aku belum membutuhkan semua ini, mungkin Engkau juga belum memberikannya untukku. Karena aku ingat, segala sesuatu yang Kau berikan sebenarnya bukan apa yang aku inginkan, namun apa yang aku butuhkan. Dan Engkau yang Maha Mendengar mengerti, bahwa apa yang aku butuhkan itu salah satu yang ku inginkan.
Sekali lagi terimakasih, Tuhan :)

Teruntuk Ibu dan Ayah,
Sehat terus ya, agar di kemudian hari aku bisa memberikan kalian hadiah yang indah-indah lagi.
Dah Ayah, dah Ibu.
Mbak menyayangimu :)
Assalamualaikum..

No comments:

Post a Comment