Wednesday, June 11, 2014

Waktunya Telah Tiba

“Aku akan berangkat tanggal 21 nanti.”
“Berangkat kemana?”
“Jakarta.”

Seketika cairan hangat mengalir dari pelupuk mataku. Ini terlalu cepat. Sebenarnya aku belum siap. Hati dan mentalku belum siap. Aku terdiam sejenak tanpa mengatakan sepatah kata pun. Kami berdua sama-sama terdiam. Aku berusaha menahan bagaimana caranya agar seseorang yang di seberang telepon ini tidak tahu apa yang terjadi padaku saat ini. Sekuat tenaga aku menenangkan diriku sendiri. Tidak ada yang mengetahui selain boneka-boneka bisu yang duduk manis di tempat tidurku.

“Tapi aku cuman seminggu kok di sana, kamu jangan khawatir ya.”

Dan harusnya dia tahu, seminggu saat ia di sini tentu jauh berbeda saat ia di sana.

“Toh aku kan cuman tes di sana, belum tau kan gimana hasilnya. Keterima atau enggaknya kan aku nggak tau.”

Tanpa kamu memberi tahu ku, aku juga sama belum tahunya sepertimu. Entah itu hasilnya nanti kamu akan diterima, atau tidak. Toh jika salah satu dari keduanya itu terjadi, itu sudah merupakan yang terbaik untukmu, salah satunya sudah jalanmu, rezeki untukmu. Aku sudah pasrah akan apa yang akan terjadi nanti. Aku juga sadar bahwa aku tidak bisa banyak membantumu. Yang ku bisa kini hanya mendoakan yang terbaik untukmu. Segalanya, apa pun itu, semoga itu yang terbaik untukmu. Bukan begitu?

Aku tidak ingat kapan tepatnya aku menge-post tentang “Jawa masih mencintaimu”di blog ini. Yang jelas aku ingat pernah menulis tentang hal ini sebelumnya. Dan saat ini, kurang dari 10 hari semuanya akan terjadi. Semua proses itu akan kamu lalui. Hingga pada saatnya kelak, Tuhan akan menunjukkan kepadamu melalui waktuNya apa yang terbaik untukmu.

Apakah kotamu ini sudah tidak mencintaimu? Jika ia masih mencintaimu, mengapa ia membiarkanmu pergi? Mengapa ia tak mencegahmu? Apakah ia benar-benar menginginkanmu pergi jauh darinya? Apa ia tak memikirkanku? Berat sekali nafas yang ku hela kali ini. Aku tidak tahu takdir seperti apa lagi yang akan menghampirimu dan aku. Aku menginginkan takdir yang baik. Pertanyaannya, “takdir Tuhan yang mana yang tak baik?” aku yakin semuanya baik. Semua takdir Tuhan itu baik dan tentu yang terbaik.

Setelah lama berbincang denganu, tak terasa pipiku sedikit kaku karena air mata yang mengalir tadi sudah kering. Aku tidak lagi menangis. Aku akhirnya bisa menata dengan rapi emosiku, syukurlah... Dan tiba kini ku tutup telponmu dan mempersilahkanmu istirahat. Lagi-lagi helaan nafas berat keluar dari lubang hidungku. “Aku belum siap”, batinku. Dan air mataku kembali mengalir. Yang ku pikir saat itu ialah bagaimana jadinya jika keadaan ini terbalik 180 derajat? Apakah kamu sepertiku? Apakah yang kurasakan sekarang ini kamu rasakan juga? Aku ingat bagaimana cara kita menghabiskan waktu bersama. Mengadu tawa, suka dan duka. Dan kenangan yang lainnya. Ya, satu-satunya cara ialah mengikhlaskan. Dan itu tentu tidak mudah.

Ingat salah satu game yang baru-baru ini kita mainkan? Semalam aku membukanya, mencoba memainkannya lagi. Dan itu menyenangkan. Tanpa kamu mengajariku, aku tidak akan bisa main game ini.

“Main game ini tuh gak usah mikir. Kelamaan.”
“Kamu tinggal bawa angka terbesarnya ke pojok kiri, dan begitu seterusnya.”

Ibu jariku memainkan game ini, namun tiba-tiba pipiku basah lagi. Ya Tuhan, apa yang terjadi denganku ini.

Aku harus sadar bahwa aku tidak boleh menjadi batu sandungan untuk segala usahamu menggapai apa yang kamu inginkan. Yang harus aku lakukan ialah mendukungmu, walaupun hanya berada di balik layar. Aku akan berada di balik layar, mendoakanmu, menunggumu kembali, dan berusaha menjadi tim sukses yang baik untukmu. Jangan khawatirkan aku di sini. Terus saja kamu berjalan dengan kakimu sendiri. Berjalan lurus ke depan tanpa menoleh sedikit pun ke arahku. Jika kamu menoleh sedikit saja ke arahku, bisa-bisa kamu melewatkan kesempatan emas yang lewat di hadapanmu. Aku tidak ingin kamu melewatkan kesempatan emas itu hanya karena aku. Jangan terlalu khawatir terjadi sesuatu padaku di sini, Tuhan yang akan melindungiku, percayalah.

Teruntuk dirimu.
Menggapai cita-cita bisa diibaratkan seperti menambang emas dan berlian. Jika kamu ingin mendapatkan sebongkah emas dan berlian, tentu kamu harus menggali tanah yang dalam, lebih dalam bahkan sangat dalam. Jangan perdulikan keringat yang mengucur deras dari tubuhmu. Ingatlah bahwa kamu akan mendapatkan emas dan berlian itu yang nantinya juga akan kamu persembahkan untuk orang-orang yang kau kasihi dan mereka mengasihimu. Begitupun jika kamu ingin menjadi apa yang kamu inginkan, apa yang kamu cita-citakan. Kamu tidak akan bisa mendapatkannya dengan cara yang instan. Perlu pengorbanan besar untuk mencapai suatu kebahagiaan besar pula. Kejarlah cita-citamu, sayang. Selalu ingatlah Tuhan dan segala tujuan pokokmu. Aku dan ratusan orang yang menyayangimu akan tetap di sini mendukungmu dan mendoakan segala hal yang terbaik untukmu. Dan aku, dan mereka yang saat ini berada di balik layar untukmu, menunggu kabar bahagia darimu...

Tertanda, yang mencintaimu.

No comments:

Post a Comment