Thursday, July 24, 2014

Ada apa dengan kita?

Semenit damai, semenit seteru, semenit begini, semenit begitu.
Aku lelah.


Hai, kamu yang sekian lama ini ku sebut sebagai "Pangeranku". Kamu tentu tahu, aku ini tipikal orang yang tak mudah mempercayai orang lain, lebih-lebih hanya untuk menceritakan permasalahan kita. Problema yang menimpa kita. Aku rasanya enggan untuk menceritakan pada siapapun. Aku lebih sering menyimpannya rapat-rapat, melakukan apa yang aku bisa lakukan, dan memasrahkan segalanya pada Tuhan. Kau tahu, aku sudah terbiasa melakukan ini semua. Kalau kau, bagaimana? Terbiasa atau tidak jika melakukan sesuatu yang sama sepertiku?

Aku lelah berkeluh kesah lewat tulisanku. Tapi aku juga bingung bagaimana cara berkeluh kesah selain kepada Tuhan jika bukan tanpa tulisan. Berkeluh kesah padamu juga ku rasa sia-sia. Kamu seakan tidak mengerti apa inti yang ingin ku sampaikan dari serangkaian kalimat penjelasku. Sedikit waktu kita berdamai, sedikit waktu lagi kita bertengkar. Keadaan seperti apa ini. Hanya karena kesalahpahaman kita berseteru. Kamu tidak lelah? Atau mungkin bosan dengan keadaan yang seperti ini? Aku lelah dan aku bosan.

Kapan aku bisa menceritakan sesuatu yang indah di antara kita? Setelah ku perhatikan, aku selalu bercerita sesuatu yang tak menyenangkan tentang kita. Aku juga merindukan kita yang baik-baik saja, tidak mudah salah paham dan tentu tidak mudah menaruh curiga. Apa bisa? Tentu seharusnya bisa, bisa jika mau berusaha. Lalu jika kini aku sudah berusaha dan belum terlihat hasilnya, apalagi yang harus aku lakukan? Aku juga tidak ingin menyerah begitu saja. Aku tidak ingin mundur untuk memperjuangkanmu, memperjuangkan tentang kita.

Jika aku menjadi objek yang selalu salah untukmu, itu sudah terlalu biasa. Kata anak sekarang, sudah terlalu mainstreem. Tapi jika aku bisa sekali saja benar, menurutmu, tentu itu suatu keajaiban. Ketahuilah aku juga tidak ingin selalu ada di posisi orang yang kau sudutkan. Aku juga ingin kamu memahami apa yang aku sampaikan. Ah sudahlah. Aku selalu punya banyak kemauan padamu yang belum tentu juga kamu bisa mengerti. Aku lebih baik diam dan menikmati alur yang ada, mungkin setelah aku begini kamu jadi bisa lebih mengerti.

Salam, aku yang kau panggil Putri.

Tuesday, July 22, 2014

Cap 3 jari

Finallyyy!!!
Blanko ijazah yang telah sekian lama aku dan kawan-kawanku tunggu akhirnyaaa tiba :3
Ah tapi tentu tidak terasa rasanya kalau aku, benar-benar resmi meninggalkan bangku SMA :') sejujurnya, sebenarnya juga masih merindukan gedung penuh kenangan ini, tapi apa daya waktu telah mempersilahkan kami untuk segera meninggalkan semuanya... :') huhuhu...

Ijazah ready!



Ini bapak Wahyu Prasetyo yang menjadi petugas cap 3 jari :) he's Math teacher in Smanba.



Karena upload tanda tinta pemilu sudah terlalu mainstream, akhirnya upload tanda tinta cap 3 jari :v

Ini adik-adik petugas yang mendata penerimaan majalah Spectrum, Smanba.

And she's one of my fav teacher! Mrs. Trie Kurniawati, Math teacher :3


Yeay! Pilih 1 atau 2, yang penting 3! Persatuan Indonesia :) hihihi

Semoga ijazah SMA ini akan bermanfaat dan berkah di kemudian hari. Aamiin :)

Friday, July 18, 2014

Swirl Pink

After a long time I ain't hunt for many photos, yet now I come back to post some photos that have taken yesterday. Just a little hunting, but I really love it. And you know this is the first time I write my post in English! haha. Yeah I just wear my barbie black long dress, and jeans jacket for outter. Then I combine with a pink swirl headscarf. Its made a sweet looking, right? Hoho





Okay, I realized that I grew faaattt!! Omg :(( But its okay. I'm still healthy, Alkhamdulillah wkwkwk. Those photos was taken by my cousin as a photographer. Actually we want take them in the town center, but unfortunately, when we take place the mmc was leaved at home --" hhhhffffhhh.... and finally, we came home, and didn't do anything there. So, where these photos taken in? Haha, I take them in the balkon of my house. I think not bad for a simple photoshoot.

Take some photos just my hobby. It isn't mean if I have a passion in modeling. NO. I just love the way I pose and someone take the photos of me, hehehe. I think I'm too fat to be a model --" the most passion that I have is sing a song or writing about something happen around me. And take a photo or pose in front of the camera is my hobby that depends on my mood. Hihi :D but actually, I love all the things I do. Really love them. It just about passion and ambition.

Pray for Gaza O:)

My friends and family there, please stay strong.
Allah never leave you alone.
Allah always stay in your side.
Don't give up for everything.
I'm sorry if I just can do a little thing like this.
But I love you so much,
and I'll always pray for you...
Allah bless you, aamiin..

Thursday, July 17, 2014

Mimpi Indahku

Malam tadi aku memandang langit begitu cantiknya. Paras wajah bintang-bintang yang bersinar rasanya selalu ingin memantulkan cahayanya pada retina mataku. Namun sayang, indahnya bintang malam tadi tidak ditemani oleh paras elok sang bulan. Kira-kira kemana bulan itu? Kenapa tega meninggalkan bintang? Ah tapi ku pikir, bulan tidak pernah meninggalkan bintang. Hanya saja ia sedang pergi sejenak untk menerangi hamparan langit di belahan bumi yang lain.

Aku ingin suatu saat nanti kita berdua bisa memandangi bintang bersama. Mungkin akan lebih romantis jika kita memandang bintang sambil ditemani secangkir teh hangat dan coklat. Kapan ya kita bisa merasakan suasana indah dan damai seperti apa yang aku impikan itu? Menanggalkan segala keegoisan yang ada dalam diri kita. Oh ya, ditemani oleh Cinta Sejati yang dilantunkan oleh BCL, sepertinya akan menambah keromantisan suasana.

Lalu pada saat kita memandangi ribuan bintang bersama, tiba-tiba kamu memberiku puluhan tangkai bunga mawar yang dirangkai menjadi satu. Apa mungkin pada saat itu aku akan menitihkan air mata karena keharuan yang menyeruak dalam diriku? Apa mungkin jika waktunya tiba aku akan menutup wajahku dengan kedua telapak tanganku karena tak ingin menunjukkan warna mukaku yang merah padamu? Apa bibirku akan bergetar hingga tak bisa mengucapkan sepatah kata pun walau hanya untuk berterima kasih padamu?

Ah ini hanya rangkaian mimpiku. Jika Tuhan berbaik hati, tentu suatu saat nanti Tuhan akan menghadiahkannya untukku.

Mimpiku hanya sebuah hiburan dalam kesepian yang menderaku akhir-akhir ini. Aku memang sudah jarang menangisimu, meluangkan waktu untuk memikirkan hal-hal buruk yang menimpamu, atau bahkan mengeluh akan ketidak hadiranmu. Aku merangkai mimpi agar kerinduanku bisa sedikit terobati. Daripada harus mengingat kenangan indah kita, itu malah lebih menyiksaku, sebenarnya. Mengingat mereka menjadikan hatiku meronta karena mereka juga takkan bisa mengulang masanya lagi.

Sudahlah, ayo kita rangkai lagi mimpi apa saja yang kita inginkan terjadi di masa depan.
Bagaimana dengan mimpimu untuk kita? Apa kamu merangkainya juga? Tentu aku akan bahagia jika mengetahui ternyata kamu juga punya mimpi tentang kita yang mungkin lebih spektakuler di masa depan.


Aku merindukanmu.
Di sini, aku ingin merangkai mimpi indah bersamamu.
Kamu mau, kan?

Monday, July 14, 2014

Sejujurnya.

15 hari berlalu...

Umur tidak bertemunya kita sama dengan umur bulan puasa tahun ini.

Sejujurnya, setiap malam aku selalu menunggumu. Menunggu kehadiran ucapan selamat malam darimu seperti biasanya. Ucapan selamat malam yang biasa membangunkanku di kala pagi lalu kemudian mengembangkan senyumku. Namun sayang, ketika ku membuka mata di pagi harinya, kau ternyata tak datang.

Sejujurnya, banyak hal yang aku fikirkan tentangmu, tentang kita. Bagaimana jika pada akhirnya kamu tidak akan kembali untuk waktu yang lama? Bagaimana jika aku di sini terus menerus melepasmu pergi lalu menunggumu pulang? Baru terlintas di pikirianku, hubungan jarak jauh bukanlah hal yang mudah.

Memang sudah tidak ada air mata yang mengalir dari pelupuk mataku, namun ketika aku melihat banyak pasangan di luar sana bisa saling menatap, mempertemukan masing-masing bola mata mereka, rasanya ada rasa iri teramat sangat salam benakku. Aku kapan? Begitu yang ku tanyakan pada diriku sendiri ketika menemui pemandangan yang demikian.

Aku tidak tahu sampai kapan aku akan terus menghibur diriku sendiri tanpa adanya hadirmu di sini. Aku tidak tahu kemana waktu akan membawa rinduku yang sudah menggumpal terlalu besar untukmu ini. Terlalu banyak rasa yang ku rasakan hingga aku tidak dapat menjelaskan satu persatu.

Aku merindukanmu. Itu sudah cukup kan? Cepat pulang ya...

Seandainya jarak tiada berarti
Akan ku arungi ruang dan waktu dalam sekejap saja
Seandainya sang waktu dapat mengerti
Takkan ada rindu yang terus mengganggu
Kau akan kembali bersamaku (Raisa-LDR)

Saturday, July 5, 2014

Kabut

Kabut menyapaku pagi ini. Tidak begitu banyak cahaya sang surya yang masuk dari celah jendela kamarku.

“Nggak biasanya kabut pagi-pagi gini.” kataku.

Ponselku berdering, kamu meneleponku.

“Hai, assalamualaikum.” sapaku.

“Waalaikumsalam. Selamat pagi sayang.” sapanya kepadaku.

Senyumku tersimpul membentuk lekukan di bibirku, sepertinya sudah lama aku tak menerima sapaan hangat seperti ini darinya. Aku sendiri pun sudah lupa kapan terakhir dia menyapaku seperti ini.

“Selamat pagi juga, sayang. Ada apa pagi-pagi begini meneleponku? Kangen ya?” tanyaku.

“Ya memangnya nggak boleh aku telepon pagi-pagi begini? Yasudah, aku tutup saja teleponnya kalau begitu.” katanya pura-pura ngambek.

“Hahaha, kamu ini. Jangan ngambek begitu, nanti kurus loh.” kataku.

“Aamiin. Hahaha. Kamu kok sudah bangun? Tumben?”

“Ya memangnya aku tidak boleh bangun pagi? Hmm?”

“Harusnya kamu tadi masih tidur, jadi aku berhasil bangunin kamu. Eh pas aku telpon suaranya sudah seger begini.” katamu.

“Hahaha, iya iya. Aku minta maaf, ya. Sebenernya ada apa sih kamu telpon aku sepagi ini? Nggak biasanya aja. Dan kali ini aku nanya serius, sayang.” tanyaku untuk kedua kalinya.

“Aku besok harus berangkat ke Jakarta.” jawabnya singkat.

“Apa?”

“Iya, aku besok harus berangkat ke Jakarta.”

“Kenapa harus besok? Kok mendadak? Bukannya katamu kamu akan berangkat setelah pemilu ya?” tanyaku seakan menuntutnya dalam-dalam.

“Iya, daftar ulangnya tanggal 7-8 besok ini. Dan aku harus kesana.”

Aku terdiam sejenak. Kembali ku pejamkan mata. Mencoba menelaah kata demi kata yang ia katakan. Nampaknya kabut pagi ini menandakan pertanda akan kenyataan yang demikian ini. Tasbih yang sedari tadi malam ku bawa terlelap masih ku genggam erat-erat. Aku terlalu merindukanmu, tapi... Ah sudahlah.

“Lalu bagaimana?” tanyaku.

“Nggak tahu. Aku sendiri juga masih bingung. Bahkan bingung banget. Ada perasaan nggak enak yang menggantung di hatiku sekarang. Rasanya beban mental, pikiran, dan perasaan.” jawabnya bercerita.

“Beban? Beban kenapa?” tanyaku heran.

“Biaya untuk tes dan berangkat ke Jakarta itu nggak sedikit. Dan sampai saat ini hasil istikhoroh ku belum menunjukkan tanda-tanda yang baik.” jawabnya.

Oh, rencanaMu yang bagaimana lagi yang ada di balik ini semua Ya Allah? Apa inikah nantinya jalan yang akan membawanya bisa meraih mimpinya? Ya Tuhan, tolong selalu berikan petunjuk untuknya...

“Yasudah, gini ya, sayang. Kamu jangan gegabah, tetap usahakan tenang. Banyak-banyak berdoa dan memohon petunjuk dari yang Maha Kuasa. Diskusikan lagi sama mama kamu. Tenang ya, sabar. Semoga cepat diberi jalan keluar oleh Allah.” kataku mencoba menghibur.

“Iya, sayang. Terimakasih ya. Aku sedikit lebih tenang kali ini.” katamu.

“Alkhamdulillah, kalau begitu. Lagipula sudah tugasku memberi ketenangan untukmu.”

“Yasudah aku tutup dulu telponnya ya, nanti kalau ada waktu yang pas aku telepon kamu lagi. Oke?”

“Oke. Baik-baik ya, sayang. Jangan lupa selalu ingat Allah.”

“Siap! Hehehe. Yasudah, sampai nanti sayang, assalamualaikum.” katamu. Kali ini aku mendengar nada suaramu yang tampak jauh lebih baik daripada sebelumya.

“Iya, waalaikumsalam.” jawabku sambil tersenyum sendiri mendengarkan salam penutup percakapan kita pagi ini.

Love you.” katamu. Tetap seperti biasa. Hangat dan menyenangkan.

Love you too.” jawabku. Dan sesaat kemudian tak terdengar suara apa pun dari seberang telepon. Nampak dia sudah mengakhiri panggilan teleponnya.

Aku menarik nafas berat, kemudian ku hembuskan. Aku mencoba mengingat-ingat lagi apa yang telah terjadi pagi ini. Aku merasakan apa yang orang-orang sebut tentang dilema. Ah, apa tidak terlalu pagi aku merasakan perasaan yang seperti ini? Kabut nampaknya sudah berangsur-angsur pudar. Semoga kegundahanmu juga memudar seiring ribuan detik yang mengiringi langkahmu.



Aku kan tetap di sini, jangan khawatir.
Oke? :)

Friday, July 4, 2014

Baru Kembali, Kemudian Beranjak Lagi.

Baru sebentar saja, kau bergegas meninggalkanku
Rasa rindu padamu kini bersarang di benakku
Cinta itu anugerah yang tak mungkin mudah ku melepaskannya
Walau seribu rintangan tak gentar ku untuk menjalani semua denganmu... - ST12

Well, baru sejenak kau kembali dari kota metropolitan itu ternyata Tuhan memanggilmu kembali untuk mengadu nasibmu di sana.

Selamat atas keberhasilanmu ya, sayang. Aku turut berbahagia, aku bersyukur, aku turut merasakan suka citamu. Sekali lagi, selamat ya. Aku bangga, namun belum sangat bangga. Tunggu, nanti aku akan menjadi sangat bangga ketika kau bisa menjadi salah seorang yang menempuh pendidikan di sana. Semangat!! :D

Sejujurnya, kali ini aku merasa lebih baik untuk menerima kepergianmu daripada yang sebelumnya. Swear! Hehe. Mau bukti? Buktinya sekarang aku tetap tersenyum, tidak merasakan galau yang berlebihan, nafsu makanku tidak hilang; justru aku selalu ingat bahwa tubuhku harus mendapatkan asupan gizi yang sempurna, wkwk; lalu nampaknya aku sudah bisa mengendaikan emosiku, berfikir lebih jernih dan tidak terlalu membuat semuanya rumit.

Entah, aku merasakan pertolongan yang luar biasa dari Tuhan untukku. Hatiku merasakan sejuk luar biasa saat aku berusaha mengendalikan segalanya sendiri. Aku menyandarkan segala gundahku hanya padaNya dan segalanya mendadak menjadi sejuk dan menyegarkan. Apa ini yang disebut berkah bulan Ramadhan? Bisa jadi. Ini berkah yang kau terima dan juga yang ku terima. Bukan begitu kan?

Hingga detik ini saat jemariku mengetikkan beberapa ratus kata ini, bibirku masih memancarkan senyuman yang katamu kau menyukainya. Memang kadang-kadang aku masih mengambil nafas dalam-dalam dan menghembuskannya sedikit berat, tapi bukankah itu wajar? Wajar dong pastinya. Hehehe. Kau tidak usah terlalu memikirkanku, aku sudah jauh lebih baik di sini, sayang. Tidak ada yang perlu kau khawatirkan. Aku juga punya tekad dalam hati jika nanti kamu sudah sampai kembali di sana, aku tidak akan melakukan sesuatu yang membuatmu jengkel, sebal atau bahkan sampai memarahiku. Aku akan berusaha tidak akan bertingkah seperti anak kecil lagi seperti apa yang ku lakukan sebelumnya. Aku pasti bisa, pasti. Hehehe

Sempat timbul pertanyaan dalam hatiku, apakah ini sebuah kebetulan ketika Tuhan memanggilmu kembali ke kota itu ketika aku masih menyimpan rasa kangen yang begitu besar? Rasanya tidak. Ya, tidak ada sesuatu yang kebetulan. Everything happen with a reason. Segalanya, tidak terkecuali hal ini. Kepergianmu bukan karena kebetulan. Tuhan punya rencana yang lebih indah di baliknya. Membiasakan aku dan kamu dalam keadaan yang sedemikian ini, membuat masing-masing dari kita menjadi lebih kuat, kan? Hal ini membuktikan bahwa Allah sangat menyayangi kita. Menyayangiku dan menyayangimu juga.

Jangan terlalu mengkhawatirkan di sini. Aku akan baik-baik saja. Ada Allah yang selalu menjagaku. Pasrahkanlah semua padaNya. Percayakan aku kepadaNya. Selalu sampaikan doamu tentangku padaNya, niscaya insyaallah aku akan tetap baik-baik saja. Sama sepertiku. Aku tak bisa menjagamu dengan ragaku, namun aku selalu berusaha menjagamu dengan lantunan doaku.

Tetap semangat sayang! :)
Semoga apapun yang terbaik selalu diberikanNya untukmu.
Aamiin...

Tuesday, July 1, 2014

Aloha Juli!


Hello Ramadhan! :3
Senang dan bersyukurnya masih diberi kesempatan untuk bertemu bulan istimewa ini. Tentu bersama orang-orang terkasih yang alkhamdulillah masih lengkap O:)

Dan faktanya di bulan Juli ini, sampai detik ini pun entah aku jadi addict dengan salah satu sinetron yang diadaptasi dari sebuah novel Islam karya Asma Nadia. Nah, pasti tahu kan sinetron yang mana yang aku maksud. Singkat cerita, gara-gara sinetron ini ayahku "kalah" karena para ibu-ibu di sini lagi fever banget dengan sinetron yang satu ini.

Well, sebenarnya nggak ada wishlist yang macem-macem di bulan Juli ini. Tapi satu yang pasti, semoga Allah kasih rezeki untuk aku dan keluargaku tentunya. Hanya itu yang paling utama. Dan yang lainnya, aku hanya ingin hubunganku dengan dia, berlangsung baik-baik saja. Selalu baik-baik saja. Aku sepertinya sudah terlalu lelah jika harus selalu beradu kata seperti yang kulakukan dengannya akhir-akhir ini. Jadi, semoga kita sealu baik-baik ya :))

At least, Selamat Menunaikan Ibadah Puasa bagi yang menjalankannya. Semoga Allah selalu memberi kelancaran, kemudahan dan keberkahan di setiap langkah yang kita jalani. Aamiin :))