Saturday, July 5, 2014

Kabut

Kabut menyapaku pagi ini. Tidak begitu banyak cahaya sang surya yang masuk dari celah jendela kamarku.

“Nggak biasanya kabut pagi-pagi gini.” kataku.

Ponselku berdering, kamu meneleponku.

“Hai, assalamualaikum.” sapaku.

“Waalaikumsalam. Selamat pagi sayang.” sapanya kepadaku.

Senyumku tersimpul membentuk lekukan di bibirku, sepertinya sudah lama aku tak menerima sapaan hangat seperti ini darinya. Aku sendiri pun sudah lupa kapan terakhir dia menyapaku seperti ini.

“Selamat pagi juga, sayang. Ada apa pagi-pagi begini meneleponku? Kangen ya?” tanyaku.

“Ya memangnya nggak boleh aku telepon pagi-pagi begini? Yasudah, aku tutup saja teleponnya kalau begitu.” katanya pura-pura ngambek.

“Hahaha, kamu ini. Jangan ngambek begitu, nanti kurus loh.” kataku.

“Aamiin. Hahaha. Kamu kok sudah bangun? Tumben?”

“Ya memangnya aku tidak boleh bangun pagi? Hmm?”

“Harusnya kamu tadi masih tidur, jadi aku berhasil bangunin kamu. Eh pas aku telpon suaranya sudah seger begini.” katamu.

“Hahaha, iya iya. Aku minta maaf, ya. Sebenernya ada apa sih kamu telpon aku sepagi ini? Nggak biasanya aja. Dan kali ini aku nanya serius, sayang.” tanyaku untuk kedua kalinya.

“Aku besok harus berangkat ke Jakarta.” jawabnya singkat.

“Apa?”

“Iya, aku besok harus berangkat ke Jakarta.”

“Kenapa harus besok? Kok mendadak? Bukannya katamu kamu akan berangkat setelah pemilu ya?” tanyaku seakan menuntutnya dalam-dalam.

“Iya, daftar ulangnya tanggal 7-8 besok ini. Dan aku harus kesana.”

Aku terdiam sejenak. Kembali ku pejamkan mata. Mencoba menelaah kata demi kata yang ia katakan. Nampaknya kabut pagi ini menandakan pertanda akan kenyataan yang demikian ini. Tasbih yang sedari tadi malam ku bawa terlelap masih ku genggam erat-erat. Aku terlalu merindukanmu, tapi... Ah sudahlah.

“Lalu bagaimana?” tanyaku.

“Nggak tahu. Aku sendiri juga masih bingung. Bahkan bingung banget. Ada perasaan nggak enak yang menggantung di hatiku sekarang. Rasanya beban mental, pikiran, dan perasaan.” jawabnya bercerita.

“Beban? Beban kenapa?” tanyaku heran.

“Biaya untuk tes dan berangkat ke Jakarta itu nggak sedikit. Dan sampai saat ini hasil istikhoroh ku belum menunjukkan tanda-tanda yang baik.” jawabnya.

Oh, rencanaMu yang bagaimana lagi yang ada di balik ini semua Ya Allah? Apa inikah nantinya jalan yang akan membawanya bisa meraih mimpinya? Ya Tuhan, tolong selalu berikan petunjuk untuknya...

“Yasudah, gini ya, sayang. Kamu jangan gegabah, tetap usahakan tenang. Banyak-banyak berdoa dan memohon petunjuk dari yang Maha Kuasa. Diskusikan lagi sama mama kamu. Tenang ya, sabar. Semoga cepat diberi jalan keluar oleh Allah.” kataku mencoba menghibur.

“Iya, sayang. Terimakasih ya. Aku sedikit lebih tenang kali ini.” katamu.

“Alkhamdulillah, kalau begitu. Lagipula sudah tugasku memberi ketenangan untukmu.”

“Yasudah aku tutup dulu telponnya ya, nanti kalau ada waktu yang pas aku telepon kamu lagi. Oke?”

“Oke. Baik-baik ya, sayang. Jangan lupa selalu ingat Allah.”

“Siap! Hehehe. Yasudah, sampai nanti sayang, assalamualaikum.” katamu. Kali ini aku mendengar nada suaramu yang tampak jauh lebih baik daripada sebelumya.

“Iya, waalaikumsalam.” jawabku sambil tersenyum sendiri mendengarkan salam penutup percakapan kita pagi ini.

Love you.” katamu. Tetap seperti biasa. Hangat dan menyenangkan.

Love you too.” jawabku. Dan sesaat kemudian tak terdengar suara apa pun dari seberang telepon. Nampak dia sudah mengakhiri panggilan teleponnya.

Aku menarik nafas berat, kemudian ku hembuskan. Aku mencoba mengingat-ingat lagi apa yang telah terjadi pagi ini. Aku merasakan apa yang orang-orang sebut tentang dilema. Ah, apa tidak terlalu pagi aku merasakan perasaan yang seperti ini? Kabut nampaknya sudah berangsur-angsur pudar. Semoga kegundahanmu juga memudar seiring ribuan detik yang mengiringi langkahmu.



Aku kan tetap di sini, jangan khawatir.
Oke? :)

No comments:

Post a Comment