Monday, November 3, 2014

Belum Esok, Mungkin Nanti



Aku terbangun dari tidur siang ku yang cukup lama. Ada senyum yang menghiasi bibirku seketika. Aku ingat jika esok malam aku akan bertemu sosokmu dan kita akan pergi jalan-jalan menikmati indahnya kota. Seperti yang kita rencanakan sebelumnya, kita akan pergi makan malam dan ke toko buku. Tampak menyenangkan bukan untuk sekedar dibayangkan walau hanya dalam hitungan detik?

Namun sayangya, apa yang tejadi merupakan kebalikan yang teramat jauh dari apa yang ku bayangkan sore tadi…

Tak kurang dari lima menit kabar yang kamu layangkan padaku membuat otakku beku dan melelehkan air mataku. Aku mengingat kembali bagaimana aku tersenyum saat aku terbangun dari tidurku. Aku mengingat kembali rencana apa saja yang kita susun sebelumnya sebelum datang kabar buruk yang tak ku inginkan ini. Dan aku mengingat-ingat apapun yang mampu ku ingat saat itu.

Baiklah, semuanya bukan keinginanmu, kan?
Semuanya bukan menjadi kemauanmu, kan?

Aku sudah bisa berpikir bahwa ini memang rencana yang dihadirkan Tuhan untuk kita. Buktinya, setelah kamu melayangkan kabar buruk itu, aku juga mendapatka kabar yang sama denganmu. Jadi segalanya impas. Aku membayangkan bagaimana keadaan ini dibalik dan kamu ada di posisi yang ku tempati sekarang. Tentu akan sama menyakitkannya. Jadi, semua ini sudah takdir kita. Takdir yang belum mempertemukan kita.

Tuhan menyusun rencanaNya bukan karena tidak adanya alasan. Kali ini Tuhan tidak mempertemukan kita karena suatu alasan. Rencana kita tidak batal, hanya saja, Tuhan menunda rencana kita. Di lain hari, bisa saja Tuhan mempertemukan kita dengan skenario yang lebih indah.

Jika rinduku tidak terbalas dengan alasan apapun, itu tidak kan jadi masalah bagiku karena aku juga akan tetap masih merindukanmu. Jika doaku belum terkabul dengan alasan apapun, itu tidak akan jadi masalah bagiku karena aku tahu bahwa Tuhan akan megabulkannya di lain waktu dan aku pun akan tetap sama mendoakanmu. Namun jika memang takdir kita belum dipertemukan, aku akan meminta pada Tuhan agar jiwa dan hatiku tak rapuh untuk menerimanya.

Aku tahu bahwa pertemuan esok akan jadi ketidakmungkinan yang selalu ku semogakan…
Tertanda, aku yang–sangat–merindukanmu.

 Senin, 3 November 2014, 15:24.
Lab. Statistik, Fak. Psikologi Universitas Airlangga.

Sunday, November 2, 2014

Memulai Kembali Perjalanan Panjang

Tanpa terasa, hampir tiga bulan aku mendiami kota besar ini. Menyelami dan menikmati bagaimana saat lengang dan hiruk pikuknya kota ini. Bagaimana meresapi suasana romantis yang dapat ku temui secara tidak sengaja saat melintasi sudut-sudut kota. Dan tentunya, menikmati pula setiap proses untuk bertahan di setiap siang dan malam melintasi kota ini.


Tanpa terasa, sudah setengah semester ku selami perjalanan baruku. Perjalanan yang mengajariku banyak hal baru. Perjalanan yang belum pernah ku rasakan sebelumnya. Pelajaran yang takkan tergantikan oleh apa pun. Aku belajar bagaimana mengatur emosiku dengan benar. Belajar bagaimana suatu kesabaran dan keikhlasan bisa diterapkan dengan benar. Dan yang paling penting, aku belajar bagaimana sebuah perjuangan bisa membayar harga mahal sebuah kesuksesan.


Aku jadi mengerti bahwa apapun yang kita lakukan, nantinya itulah yang akan kita terima pada diri kita sendiri. Aku juga jadi mengerti bahwa waktu juga bisa kejam denganku, kapan saja ia mau. Namun, waktu juga tidak akan berlaku kejam, bahkan bisa dikatakan sangat baik padaku saat aku bisa melakukan hal yang baik juga untuknya.


Aku kembali memulai perjuangan yang tidak baru ini. Berusaha untuk memperjuangkan segala kebaikan untuk orang sekitarku yang menyayangiku. Berusaha untuk berjuang untuk mereka secara maksimal. Mengatasi kemalasan dan keegoisanku untuk orang-orang yang saat ini ku rindukan. Dan merindukan mereka, itu berarti sebuah motivasi bagiku untuk membawa oleh-oleh hasil perjuanganku ketika nanti aku pulang.


Tuhan mengerti apa yang aku butuhkan.
Tuhan tidak pernah tidur sehingga selalu mengetahui apa yang aku inginkan.
Tuhan tahu apa yang harus aku lakukan ketika hatiku suka
Tuhan juga selalu tau apa yang harus aku lakukan ketika hatiku gundah


Semua tak pernah terlepas dari rencana indah-Nya.
Aku sebagai hamba-Nya hanya mampu berdoa, memohon dan mengemis kepada-Nya.
Tidak kuinginkan materi yang bergelimpangan,
Yang ku inginkan hanya sebuah hasil dari serangakaian perjuangan yang saat ini tengah kulakukan
Hasil terbaik menurut Allah, agar nantinya bisa ku persembahkan untuk ibu, ayah, adik, keluarga besar dan kekasihku.


Aamiin :)